Intimidation part 5
Cast :
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
Awalnya Sunggyu ragu
untuk kembali menginjakkan kakinya ke rumahnya. Tapi sebelum ia masuk, ia
melihat Ibunya sedang sibuk merapikan dagangan ayam miliknya. Dan, saat menutup
toko miliknya, ia melihat sosok anaknya dari jarak beberapa meter darinya
berdiri di hadapannya.
Naluri seorang Ibu
sangatlah kuat, Tak mungkin seorang ibu salah menemukan anaknya yang sudah 5
hari tidak ia lihat. Dengan tergesa, sang ibu mendatangi Sunggyu dan memukul
Sunggyu sambil menangis. Sebagai anak, Sunggyu merasa sedih telah membuat
ibunya menangis.
“Maafkan aku, Eomma.
Aku sungguh tidak melakukannya saat itu di sekolah”
Sang Ibu memeluk
Sunggyu sangat erat, takut jika anaknya kembali menghilang. Namun suasana haru
itu kembali tegang saat sang Appa melihat mereka berdua.
“Kau berani pulang ternyata!”, dengan bentakan dan nada tinggi. Sang Appa masih sama seperti saat terakhir Sunggyu lihat.
“Kau berani pulang ternyata!”, dengan bentakan dan nada tinggi. Sang Appa masih sama seperti saat terakhir Sunggyu lihat.
“Maafkan aku, Appa.
Aku benar-benar tidak melakukannya waktu itu.”
Sang Appa mendatangi
Sunggyu, matanya yang tajam menatap Sunggyu dengan sangat kuat. Saat jaraknya
sudah cukup dekat, ia mengangkat tangannya. Sunggyu memejamkan matanya takut.
Puk!
Sebuah tepukan hangat
di pungungnya membuat Sunggyu membuka matanya.
“Appa percaya padamu, Nak. Tapi kau tidak boleh lengah seperti itu, jangan sampai hal itu kembali terjadi.”
“Appa percaya padamu, Nak. Tapi kau tidak boleh lengah seperti itu, jangan sampai hal itu kembali terjadi.”
Sunggyu bernafas
lega.
“Terimakasih Appa”
“Terimakasih Appa”
#INTIMIDATION#
Sudah sekitar 1 jam Sunggyu tetap kukuh berada di tempatnya, ia kini ada di atas tempat tidur miliknya. Di depan wajahnya terpampang kontak Woohyun yang dari tadi hanya ia lihat saja. Sunggyu ragu, apakah ia harus menelponya atau menunggu Woohyun untuk menelpon.
Sudah sekitar 1 jam Sunggyu tetap kukuh berada di tempatnya, ia kini ada di atas tempat tidur miliknya. Di depan wajahnya terpampang kontak Woohyun yang dari tadi hanya ia lihat saja. Sunggyu ragu, apakah ia harus menelponya atau menunggu Woohyun untuk menelpon.
Sunggyu ingat bahwa ia
yang berjanji akan menghubungi Woohyun jika sudah sampai.
Akhirnya ia menekan
tombol hijau sebagai menyambung telpon dengan Woohyun.
Bunyi nada tunggu sudah berhenti, menandakan orang disana sudah mengangkatnya.
Bunyi nada tunggu sudah berhenti, menandakan orang disana sudah mengangkatnya.
“H-halo Woohyun?”
“...”
“Hallo?”
“...”
“Kau disana Woohyun?”
“hmm...”, sebuah deheman kecil terdengar di telinga Sunggyu. Entah kenapa Sunggyu merasa agak janggal dengan sikap Woohyun.
“Aku mau memberitahumu bahwa aku sudah sampai rumah, appa dan eommaku sudah tidak marah lagi padaku”
“Ooo... itu bagus gyu”
“Iya...”, Sunggyu tersenyum.
“...”
“...”
“Hallo?”
“...”
“Kau disana Woohyun?”
“hmm...”, sebuah deheman kecil terdengar di telinga Sunggyu. Entah kenapa Sunggyu merasa agak janggal dengan sikap Woohyun.
“Aku mau memberitahumu bahwa aku sudah sampai rumah, appa dan eommaku sudah tidak marah lagi padaku”
“Ooo... itu bagus gyu”
“Iya...”, Sunggyu tersenyum.
“...”
Suasana kembali
hening, ini bukan seperti Woohyun. Mereka bahkan tidak pernah berhenti bicara
saat bertemu.
“K-kau sedang apa Woohyun?”
“Tidak melakukan apa-apa”
“Oooo... begitu”
“...”
“K-kau sedang apa Woohyun?”
“Tidak melakukan apa-apa”
“Oooo... begitu”
“...”
Lagi, Sunggyu bingung
apa yang harus ia katakan selanjutnya.
“Kau sudah mau tidur?”
“Mungkin”
“Baiklah, kututup teleponnya. Selamat malam, Hyun”
“Kau sudah mau tidur?”
“Mungkin”
“Baiklah, kututup teleponnya. Selamat malam, Hyun”
Tuut~ tuut~ tuut~
Hei, bahkan Woohyun
duluan yang memutuskan sambugan telepon miliknya.
#INTIMIDATION#
Setelah 2 hari berlalu, Sunggyu akhirnya bisa kembali ke sekolah. Selama 2 hari itu ia membantu ibunya menjaga toko dan belajar. Sebuah gosip tentangnya sudah tidak terdengar lagi, mungkin mereka sudah bosan dan punya hal lain yang lebih menarik untuk dibicarakan.
Setelah 2 hari berlalu, Sunggyu akhirnya bisa kembali ke sekolah. Selama 2 hari itu ia membantu ibunya menjaga toko dan belajar. Sebuah gosip tentangnya sudah tidak terdengar lagi, mungkin mereka sudah bosan dan punya hal lain yang lebih menarik untuk dibicarakan.
“Wooooah~ Kim Sunggyu
akhirnya masuk!!!”, Dongwoo bersuara lantang saat Sunggyu memasuki kelas,
Dongwoo memang tidak pernah berubah, selalu semangat.
“Welcome, Gyu!”, ujar Myungsoo.
“Aku kangen kamu Gyuuu~”, kini Hoya yang bersikap selalu berlebihan.
“Welcome, Gyu!”, ujar Myungsoo.
“Aku kangen kamu Gyuuu~”, kini Hoya yang bersikap selalu berlebihan.
Semuanya tetap
sama,
“...”
Sunggyu melihat ke arah Woohyun. Ia sedang melihatnya sekarang. Namun Woohyun lebih dulu melepas pandang darinya.
“...”
Sunggyu melihat ke arah Woohyun. Ia sedang melihatnya sekarang. Namun Woohyun lebih dulu melepas pandang darinya.
“Kau tahu? Sepertinya
Woohyun sedang ada masalah”, kini Dongwoo berbisik pada Sunggyu. Mereka semua
juga menyadari perubahan Woohyun.
“Benarkah? Kenapa?”, Sunggyu tampak penasaran.
“Aku tak tahu pasti, tetapi semenjak beberapa hari ini ia sering diam.”, jelas Hoya
“Mungkin sedang patah hati”, tebak Myungsoo.
“Benarkah? Kenapa?”, Sunggyu tampak penasaran.
“Aku tak tahu pasti, tetapi semenjak beberapa hari ini ia sering diam.”, jelas Hoya
“Mungkin sedang patah hati”, tebak Myungsoo.
Sunggyu menyenggol
Myungsoo, ia tertawa. “Itu tidak mungkin”
Tapi Myungsoo maupun
lainnya tidak tertawa, membuat Sunggyu menghentikan tawanya.
“Hubungan kalian baik-baik saja kan?”
“Tentu saja, haha... apa yang kau maksud Myungsoo”, Sunggyu tertawa. Meski tampak adanya paksaan.
“Mungkin karena Orang tuanya lagi”, tebak Dongwoo.
“Benar juga”
“Hubungan kalian baik-baik saja kan?”
“Tentu saja, haha... apa yang kau maksud Myungsoo”, Sunggyu tertawa. Meski tampak adanya paksaan.
“Mungkin karena Orang tuanya lagi”, tebak Dongwoo.
“Benar juga”
“Kenapa Woohyun dengan
Orangtuanya?”, lagi... Sunggyu tampak penasaran dengan Woohyun. Entah kenapa ia
kini sangat tertarik mengenai Woohyun.
“Sebenarnya Woohyun
selalu dibujuk untuk ikut orang tuanya ke China. Tapi Woohyun selalu tidak
mau”, jelas Dongwoo.
“Kenapa? Bukankah itu menyenangkan?”, tanya Sunggyu.
“Kurasa ada alasan tersendiri kenapa ia tak mau pindah. Aku pernah menanyakannya, tetapi ia tak mau menjawabnya”.
“Kenapa? Bukankah itu menyenangkan?”, tanya Sunggyu.
“Kurasa ada alasan tersendiri kenapa ia tak mau pindah. Aku pernah menanyakannya, tetapi ia tak mau menjawabnya”.
Sunggyu terdiam. Dan
saat itu Dongwoo mengganti topik pembicaraannya dengan acara televisi komedi
semalam. Sunggyu melirik ke belakang, tepatnya ia melihat ke arah Woohyun.
Disana ia sedang terlelap.
#INTIMIDATION#
“Selamat siang”
“Siang paaaak!!”
“Oh Sunggyu, kau sudah masuk kembali. Bagaimana liburanmu?”
“Selamat siang”
“Siang paaaak!!”
“Oh Sunggyu, kau sudah masuk kembali. Bagaimana liburanmu?”
Seluruh isi kelas
melihat ke arah Sunggyu. Sunggyu menatap tak suka guru matematikanya tersebut,
yaa... dia adalah Cho Kyuhyun songsaenim.
Dihari pertamanya menginjakkan kaki di sekolahnya, ia sudah bertemu dengan guru brengsek itu. Sungguh hari yang buruk bagi Sunggyu.
Dihari pertamanya menginjakkan kaki di sekolahnya, ia sudah bertemu dengan guru brengsek itu. Sungguh hari yang buruk bagi Sunggyu.
“Sangat menyenangkan
pak, karena aku tidak bertemu seseorang yang membuat hidupku sangat buruk”.
Seisi kelas mulai berbisik, Sunggyu tampak cuek. Sebelum hari skorsingnya, ia sudah dapat perhatian lebih buruk dari teman-temannya. Jadi ini tidak sebanding.
Seisi kelas mulai berbisik, Sunggyu tampak cuek. Sebelum hari skorsingnya, ia sudah dapat perhatian lebih buruk dari teman-temannya. Jadi ini tidak sebanding.
Kyuhyun tersenyum,
seakan tidak terjadi apa-apa.
“Aigoo... Kau tidak boleh membenci orang begitu berlebihan, Sunggyu”. Ujarnya ramah menasehati.
“Aigoo... Kau tidak boleh membenci orang begitu berlebihan, Sunggyu”. Ujarnya ramah menasehati.
Sunggyu tersenyum
sinis.
“Aku bukan orang yang suka membenci begitu saja, pak. Aku adalah orang yang hangat dan ramah”.
“Aku bukan orang yang suka membenci begitu saja, pak. Aku adalah orang yang hangat dan ramah”.
Dan setelah itu,
Kyuhyun mengalihkan pembicaraannya dengan materi pembelajarannya hari
ini.
“Kau hebat Sunggyu!”, puji Hoya sambil berbisik.
“Aku tahu itu”, Sunggyu tersenyum.
“Kau hebat Sunggyu!”, puji Hoya sambil berbisik.
“Aku tahu itu”, Sunggyu tersenyum.
.
.
.
.
.
“Ayo kita ke kantin,
Gyu!”, Ujar Hoya semangat sambil merengganggkan tangannya, pelajaran matematika
ditambah sejarah membuat seluruh badannya kaku.
Sunggyu mengiyakan
ajakan Hoya, lalu ia menoleh ke bangku belakang kelasnya. Melihatnya sedang
menopang dagunya dan melihat keluar jendela.
“Hyun, kau ikut ke kantin?”, Untuk pertama kalinya, mereka tampak aku di depan teman-teman mereka.
Woohyun menoleh, terdiam sebentar.
“Hyun, kau ikut ke kantin?”, Untuk pertama kalinya, mereka tampak aku di depan teman-teman mereka.
Woohyun menoleh, terdiam sebentar.
“Aku tidak lapar”
“...”
“...”
Sunggyu bingung harus
berkata apa lagi, mereka terdiam cukup lama.
“Eeem... baiklah kalau begitu. Aku kekantin duluan, kau tidak menitip sesuatu. Roti?”
“Tidak terimakasih”
“Eeem... baiklah kalau begitu. Aku kekantin duluan, kau tidak menitip sesuatu. Roti?”
“Tidak terimakasih”
“Gyu ayo!”
“Iyaaa”
“Iyaaa”
Sunggyu meninggalkan
Woohyun dan keluar kelas sambil dirangkul oleh Hoya. Dongwoo dan Myungsoo udah
terlebih dulu ke kantin karena sangat lapar.
Sebelum meninggalkan kelas, Sunggyu melirik kearah Woohyun. Sedangkan orang yang dilihat Sunggyu sedang memakai headsetnya, lalu tidur beralaskan lengannya yang terlipat.
Sebelum meninggalkan kelas, Sunggyu melirik kearah Woohyun. Sedangkan orang yang dilihat Sunggyu sedang memakai headsetnya, lalu tidur beralaskan lengannya yang terlipat.
.
.
.
.
.
“Kau benar-benar tidak
ingin makan, Gyu?”, ujar Dongwoo dengan mulut yang belepotan nasi. Kebiasaan
buruk Dongwoo saat makan.
“Aku tidak begitu lapar, aku makan roti saja”, ujar Sunggyu.
“Tapi kulihat kau membeli burger 2, tampaknya kau begitu lapar”, opini Hoya.
“Hahaha... aku sedang malas makan nasi”, ujar Sunggyu. Kebohongan yang jelas.
“Aku tidak begitu lapar, aku makan roti saja”, ujar Sunggyu.
“Tapi kulihat kau membeli burger 2, tampaknya kau begitu lapar”, opini Hoya.
“Hahaha... aku sedang malas makan nasi”, ujar Sunggyu. Kebohongan yang jelas.
Myungsoo sangat
menikmati makanannya, diantara mereka semua. Hanya Myungsoo yang terdiam, ia
tampak sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan mengabaikan ucapan mereka
semua. Serasa dunia hanya milik Myungsoo dan makanannya. -____-
“Aku kembali ke kelas
dulu”, pamit Sunggyu.
“Lho tumben, Gyu”
Sunggyu hanya tersenyum, ia juga tidak pintar mencari alasan. Lalu ia pamit kepada teman-temannya
“Lho tumben, Gyu”
Sunggyu hanya tersenyum, ia juga tidak pintar mencari alasan. Lalu ia pamit kepada teman-temannya
@class
“Hyun...”
Orang yang Sunggyu panggil tidak menggubrisnya. Ia masih berada di tempatnya. Tiduran dan memandang langit biru yang tampak cerah.
“Hyun...”
Orang yang Sunggyu panggil tidak menggubrisnya. Ia masih berada di tempatnya. Tiduran dan memandang langit biru yang tampak cerah.
‘Mungkin ia tak
mendengarnya’, pikir Sunggyu saat melihat kabel headset menjulur dari telinga
ke handphone milik Woohyun di atas meja.
Sunggyu memilih duduk
di depan Woohyun, dengan menghadap di depannya.
Pandangan Woohyun
terganggu saat melihat hamburger di hadapannya. Ia akhirnya menyadari bahwa
Sunggyu ada di dekatnya. Ia pun melepas headset miliknya.
“Ada apa, Gyu?”, tanya Woohyun.
“Makanlah, aku tadi membeli 2. Ternyata aku tidak dapat menghabiskannya”, ujar Sunggyu beralasan.
“Ada apa, Gyu?”, tanya Woohyun.
“Makanlah, aku tadi membeli 2. Ternyata aku tidak dapat menghabiskannya”, ujar Sunggyu beralasan.
Woohyun terdiam,
Sunggyu kesal.
“Tanganku sudah pegal, cepa ambil!”
“Tanganku sudah pegal, cepa ambil!”
Woohyun mengambilnya
lalu menyimpannya.
“Terimakasih”
“Terimakasih”
Sunggyu memandang
Woohyun, cukup lama. Membuat Woohyun merasa tidak nyaman, jantungnya tidak
tenang sekarang.
“K-kenapa?!”, Woohyun tampak berbicara sedikit ketus. Menutup dirinya bahwa ia goyah oleh Sunggyu.
“K-kenapa?!”, Woohyun tampak berbicara sedikit ketus. Menutup dirinya bahwa ia goyah oleh Sunggyu.
Sunggyu memegang dahi
Woohyun, dan juga mengecek dahinya.
“Kau sedikit demam” , ujar sunggyu.
“Kau sedikit demam” , ujar sunggyu.
“Sudah minum obat?”
“Belum”
“Mau ke uks?”
“Tidak usah”
“Belum”
“Mau ke uks?”
“Tidak usah”
Sunggyu mengeluh,
menghembuskan nafas berat.
“Baiklah, sebaiknya
kau makan burger itu. Aku yakin kau sedang tidak nafsu makan kali ini”, ujar
Sunggyu cerewet.
Woohyun
tersenyum.
“W-wae?”
“W-wae?”
“Aniya...”
“Kau mengejekku?!”
“Kau seperti ibuku
saja. Bahkan ibuku tidak secerewet dirimu”
“Terserah!”
“Terserah!”
Sunggyu meninggalkan
Woohyun, ia kembali ke bangkunya dan membuka bukunya asal.
Woohyun terdiam,
memandangi burger itu. Lalu membukanya perlahan dan memakannya.
Ia merasa senang diperhatikan Sunggyu.
Ia merasa senang diperhatikan Sunggyu.
‘Tidak-tidak-tidak,
kau harus menghentikan perasaan ini, Woohyun’, Ujar Woohyun dalam hati.
TBC