Intimidation (Part 3)
Part 1 : https://www.facebook.com/groups/woogyu.fanfiction/permalink/469103726633799/
Part 2a : https://www.facebook.com/groups/woogyu.fanfiction/permalink/470054639872041/
Part 2b : https://www.facebook.com/groups/woogyu.fanfiction/permalink/470170793193759/
Part 2a : https://www.facebook.com/groups/woogyu.fanfiction/permalink/470054639872041/
Part 2b : https://www.facebook.com/groups/woogyu.fanfiction/permalink/470170793193759/
Cast :
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
Suasana kantin tampak
ramai, suara ricuh para siswa yang sibuk makan dan berbincang terdengar. Tapi
di keramaian kantin, hoya tampak pendiam. Ia hanya diam dan memainkan
makanannya, wajahnya tampak murung.
“Hey, kau tidak suka makanannya? Biar aku saja yang makan”, ujar Dongwoo lancang dan mengambil sepotong ayam besar. Namun hal itu tidak terjadi karena Myungsoo memukul tangannya. Dongwoo mendapat deathglare dari Myungsoo, dan ia hanya nyengir kuda.
“Hey, kau tidak suka makanannya? Biar aku saja yang makan”, ujar Dongwoo lancang dan mengambil sepotong ayam besar. Namun hal itu tidak terjadi karena Myungsoo memukul tangannya. Dongwoo mendapat deathglare dari Myungsoo, dan ia hanya nyengir kuda.
“Kau tidak makan Hoya?
Apa terjadi sesuatu?”, tanya Woohyun.
“Sunggyu tidak masuk hari ini, aku khawatir dengannya”, ujar Hoya lesu.
“Sudah biarkan saja, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri”, ujar Myungsoo menghibur Hoya.
“Tapi...”
“Sunggyu tidak masuk hari ini, aku khawatir dengannya”, ujar Hoya lesu.
“Sudah biarkan saja, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan diri”, ujar Myungsoo menghibur Hoya.
“Tapi...”
“Kemarin kau tidak mau
dekat dengannya, sekarang ia tak ada kau mencarinya”
“Hyuun...”, kini Woohyun yang diberi deathglare oleh Myungsoo. Kurasa kini dihadapan Myungsoo semua serba salah.
“Hyuun...”, kini Woohyun yang diberi deathglare oleh Myungsoo. Kurasa kini dihadapan Myungsoo semua serba salah.
“Oh iya, besok kan
hari minggu. Bagaimana kita bermain di rumah Woohyun”, Dongwoo tampak
bersemangat. Mereka sudah cukup lama tidak melakukan ini.
“Ide bagus...”
“ANDWAAAEEEE~~!!!”
“Ide bagus...”
“ANDWAAAEEEE~~!!!”
Tak hanya Myungsoo,
Hoya, dan Dongwoo yang heran. Bahkan seisi kantin kini melihat Woohyun.
Woohyun jadi salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya dan tertawa renyah.
“Hahahaha.... Aku ada acara nanti malam. Mianhae...”, tolak Woohyun.
Woohyun jadi salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya dan tertawa renyah.
“Hahahaha.... Aku ada acara nanti malam. Mianhae...”, tolak Woohyun.
“Acara? Acara apa?”,
tanya Myungsoo.
“Acara.... acara apa ya?”, Woohyun tampak berpikir.
“Acara.... acara apa ya?”, Woohyun tampak berpikir.
“Aku mau ke makan
ibuku, hehehe”, cengir Woohyun.
“Kau baru mengunjunginya minggu kemarin”, Ujar Dongwoo.
“Errr~ Itu.... Aku ingin mengunjunginya lagi, aku sedang rindu ibuku”, jelas Woohyun.
“Kau baru mengunjunginya minggu kemarin”, Ujar Dongwoo.
“Errr~ Itu.... Aku ingin mengunjunginya lagi, aku sedang rindu ibuku”, jelas Woohyun.
“Aaah... begitu...
yasudah, lain kali saja”,
“Mian... Aku janji lain kali kita bisa menginap di rumahku”, janji Woohyun.
“Mian... Aku janji lain kali kita bisa menginap di rumahku”, janji Woohyun.
#Intimidation#
Woohyun sedang bersiul sambil membawa motor sport miliknya. Setelah ia menolak untuk bermain game online dengan temannya, ia tampak terburu-buru untuk segera sampai rumah. Tentu hal tersebut membuat teman-temannya merasa heran, Woohyun bukan tipe orang yang langsung pulang saat bel pulang sekolah berbunyi.
Woohyun sedang bersiul sambil membawa motor sport miliknya. Setelah ia menolak untuk bermain game online dengan temannya, ia tampak terburu-buru untuk segera sampai rumah. Tentu hal tersebut membuat teman-temannya merasa heran, Woohyun bukan tipe orang yang langsung pulang saat bel pulang sekolah berbunyi.
Ia mampir ke sebuah
minimarket, lalu ia memilih beberapa makanan ringan dan snack. Tak lupa dengan
es krim ukuran besar dan beberapa minuman soda. Setelah ia rasa cukup, ia
menuju kasir dan membayar.
Krieeeet~
Suara pagar besi terbuka dan Woohyun memasukkan motor miliknya, ia melihat sosok Sunggyu yang sedang memunggunginya di halaman depan rumahnya. Ia mengambil kantong belanjaan dan menuju Sunggyu. Dengan langkah pelan, ia berusaha mengagetkan Sunggyu.
Suara pagar besi terbuka dan Woohyun memasukkan motor miliknya, ia melihat sosok Sunggyu yang sedang memunggunginya di halaman depan rumahnya. Ia mengambil kantong belanjaan dan menuju Sunggyu. Dengan langkah pelan, ia berusaha mengagetkan Sunggyu.
“DOR!!”
“YAK!!”
SPLASH!
“YAK!!”
SPLASH!
Kini, seragam baju
Woohyun basah. Sunggyu kaget terhadap apa yang telah ia lakukan.
“Mianhae... aku tidak bermaksud....”, Sunggyu tampak bingung, ia segera masuk ke dalam dan mengambil handuk. Saat itu Woohyun tertawa, dan ia malah menemukan ide jahil.
“Mianhae... aku tidak bermaksud....”, Sunggyu tampak bingung, ia segera masuk ke dalam dan mengambil handuk. Saat itu Woohyun tertawa, dan ia malah menemukan ide jahil.
“Woohyun, ini
handuknya”, Saat Sunggyu kembali, ia tak menemukan sosok pemilik rumah.
“Woohyun....?”
“Woohyun...?”
SPLASH!!
“HAHAHAHAHAHAHAHA...”
“HAHAHAHAHAHAHAHA...”
Sunggyu terdiam, ia
merasa geram.
“Yak! Apa yang kau lakukan!!”, Sunggyu kesal, ia mendekati Woohyun.
“Yak! Apa yang kau lakukan!!”, Sunggyu kesal, ia mendekati Woohyun.
SPLASH!!
Sialnya, senjata utama ada di tangan Woohyun. Ia kembali menyiram Sunggyu dengan selang di taman tersebut.
Sialnya, senjata utama ada di tangan Woohyun. Ia kembali menyiram Sunggyu dengan selang di taman tersebut.
“AAA~”, Sunggyu
berteriak. Ia sudah sangal kesal, ia bergerak cepat dan merebut selang dari
tangan Woohyun.
Layaknya seorang anak
kecil, mereka bermain basah-basahan dengan selang itu. Tertawa bersama dan
membanjiri sebagian halaman rumah Woohyun.
“Aigoooo~ Apa yang
kalian lakukan? Kalian membanjiri taman”, Tukang kebun datang dan menghentikan
kegiatan mereka. Akhirnya Sunggyu dan Woohyun berhenti saling membasahi satu
sama lain.
“Lihatlah kalian... Sebaiknya segera masuk dan ganti baju. Lain kali, tak ijinkan Sunggyu membantuku menyiram taman”, ngomel tukang kebun.
“Lihatlah kalian... Sebaiknya segera masuk dan ganti baju. Lain kali, tak ijinkan Sunggyu membantuku menyiram taman”, ngomel tukang kebun.
“Maafkan saya, malah
merepotkan bapak”, Sunggyu merasa bersalah. Lalu ia menyikut Woohyun dan
berbisik, “Ini gara-gara kamu!”.
“Tidak apa-apa, sana
ganti baju. Nanti kalian masuk angin”, perintak Pak Kim selaku tukang kebun.
Mereka pun berlari ke dalam rumah. Nyonya Lee menggelengkan kepalanya saat
mereka berlari dan membasahi lantai rumah, tapi ia tersenyum. Ia tak pernah
melihat Woohyun sebahagia ini.
“Aku duluan!”
“Tidak! Aku dulu!”
“Yak! Ini gara-gara kamu, jadi aku yang harus duluan!”
“Aniyaaa~ Aku tidak mau kedinginan! Gimana kalau kita ke kamar mandi berdua?”
“...”
“Tidak! Aku dulu!”
“Yak! Ini gara-gara kamu, jadi aku yang harus duluan!”
“Aniyaaa~ Aku tidak mau kedinginan! Gimana kalau kita ke kamar mandi berdua?”
“...”
Sunggyu terdiam,
tiba-tiba ia merasa gugup.
“Ayolah, apa salahnya? Kita kan sama-sama cowok”, goda Woohyun. Ia menaik-turunkan alisnya.
“Baiklah! Tapi kita hanya membilas tubuh dan mengganti baju kita”, ujar Sunggyu.
“Tentu saja, memang apa yang kamu pikirkan?”, Woohyun tersenyum nakal. Sunggyu mendengus sebal. Ia segera masuk dan menyalakan shower.
“Ayolah, apa salahnya? Kita kan sama-sama cowok”, goda Woohyun. Ia menaik-turunkan alisnya.
“Baiklah! Tapi kita hanya membilas tubuh dan mengganti baju kita”, ujar Sunggyu.
“Tentu saja, memang apa yang kamu pikirkan?”, Woohyun tersenyum nakal. Sunggyu mendengus sebal. Ia segera masuk dan menyalakan shower.
Mereka melepaskan baju
atas mereka, hanya tinggal menyisakan celana mereka.
“STOP!”, Sunggyu berteriak. Woohyun menghentikan kegiatan membuka resleting celana sekolahnya.
“STOP!”, Sunggyu berteriak. Woohyun menghentikan kegiatan membuka resleting celana sekolahnya.
“Jangan membuka
celanamu!”, perintah Woohyun.
“Eeeey~ ini tak enak, biasanya aku telanjang jika mandi”, ujar Woohyun.
“Tapi...”, Sunggyu menggantungkan kalimatnya. Ia tampak resah.
“Kenapa? Kau takut aku menyerangmu?”
“Eeeey~ ini tak enak, biasanya aku telanjang jika mandi”, ujar Woohyun.
“Tapi...”, Sunggyu menggantungkan kalimatnya. Ia tampak resah.
“Kenapa? Kau takut aku menyerangmu?”
Sunggyu langsung
reflek, ia menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Ia bergerak mundur, matanya
berusaha melotot. Padahal tidak bisa upset emoticon
“Aniyaaa~ Aku masih
suka wanita cantik dan seksi!”, ujar Sunggyu khawatir.
“Kamu pikir aku juga tidak suka wanita seksi? Ck!”, Woohyun mengabaikan Sunggyu. Ia membilas tubuhnya, Sunggyu hanya melihat Woohyun dari belakang. Melihat saat dirinya mandi membuat dirinya berpikir macam-macam.
“Kamu pikir aku juga tidak suka wanita seksi? Ck!”, Woohyun mengabaikan Sunggyu. Ia membilas tubuhnya, Sunggyu hanya melihat Woohyun dari belakang. Melihat saat dirinya mandi membuat dirinya berpikir macam-macam.
Sunggyu menggelengkan
kepalanya, membuang pikiran kotor yang barusan ia pikirkan.
“Wae? Apakah Kau baru saja berpikiran mesum?”, Sunggyu membuka matanya. Woohyun sudah memakai handuk.
“T-tidak!”, Ujar Sunggyu gugup.
“Hahahahaha.... Kau lucu Sunggyu”, Woohyun tertawa. Ia keluar kamar mandi dan meninggalkan Sunggyu, ia menuju lemari pakaian dan mengganti pakaiannya.
“Wae? Apakah Kau baru saja berpikiran mesum?”, Sunggyu membuka matanya. Woohyun sudah memakai handuk.
“T-tidak!”, Ujar Sunggyu gugup.
“Hahahahaha.... Kau lucu Sunggyu”, Woohyun tertawa. Ia keluar kamar mandi dan meninggalkan Sunggyu, ia menuju lemari pakaian dan mengganti pakaiannya.
Sunggyu masih
memperhatikan Woohyun, Woohyun pun membalas tatapan Sunggyu.
“Wae? Kau mau melihatku telanjang? Bukankah tadi kau melarangku buat membuka semuanya di kamar mandi”, ujar Woohyun.
“Wae? Kau mau melihatku telanjang? Bukankah tadi kau melarangku buat membuka semuanya di kamar mandi”, ujar Woohyun.
BRAK!
Sunggyu membanting pintu kamar mandi. Ia merasa malu sekarang. Jangan tanyakan bagaimana wajahnya sekarang. Sudah sangat merah seperti buah apel di serial putri salju. Sedangkan woohyun tampah senang menggoda Sunggyu, ia suka melihat teman gemuknya itu marah hingga wajahnya memerah.
Sunggyu membanting pintu kamar mandi. Ia merasa malu sekarang. Jangan tanyakan bagaimana wajahnya sekarang. Sudah sangat merah seperti buah apel di serial putri salju. Sedangkan woohyun tampah senang menggoda Sunggyu, ia suka melihat teman gemuknya itu marah hingga wajahnya memerah.
Sunggyu keluar dari
kamar mandi, ia melihat Woohyun sedang sibuk memainkan handphone miliknya.
Mungkin ia sedang chatting dengan Hoya, Dongwoo, atau Myungsoo.
Dengan terburu-buru,
Sunggyu berlari kecil menuju lemari. Ia segera mengganti lilitan handuknya
dengan baju yang Woohyun miliki. Baju yang ia bawa kemarin sudah habis,
membuatnya harus meminjam baju Woohyun. Dengan asal, ia mengambil lipatan baju
di bagian teratas untuk dia pakai. Kaos merah dengan celana boxer milik Woohyun.
Sunggyu duduk di
sebelah Woohyun dan sedikit mengintip handphone milik Woohyun, sayang sang
pemilik handphone menutupnya dan melihatnya.
“Kau sedang chatting dengan pacarmu?”, Sunggyu menggoda Woohyun.
“Kau memakai bajuku?”, Woohyun mengalihkan pembicaraan. Sunggyu mendengus sebal.
“Kenapa? Bukankah kau sudah pernah mengijinkanku buat memakainya?”,
“Kau sedang chatting dengan pacarmu?”, Sunggyu menggoda Woohyun.
“Kau memakai bajuku?”, Woohyun mengalihkan pembicaraan. Sunggyu mendengus sebal.
“Kenapa? Bukankah kau sudah pernah mengijinkanku buat memakainya?”,
Woohyun tidak
menjawab, ia kembali teralihkan pada handphonenya. Sebenarnya barusan ia
mendapat pesan dari Hoya. Ia mengatakan tak menemukan Sunggyu di rumahnya,
karena orangtuanya sudah mengusirnya beberapa hari yang lalu.
“Woohyun...”
“Hmm?”
“Aku... tadi juga meminjam c-celana dalammu...”, Sunggyu tampak malu-malu mengatakannya.
“Jangan sampai kau nodai celana dalamku dengan pikiran mesumku”
“Yak! Kupikir aku itu sepertimu!”, Sunggyu menyenggol Woohyun. Dan Woohyun tertawa, dengan sedikit mengintip Sunggyu melihat layar handpone Woohyun. Ia bisa melihatnya bahwa kini woohyun sedang membuka aplikasi chatting di handphone miliknya.
“Hmm?”
“Aku... tadi juga meminjam c-celana dalammu...”, Sunggyu tampak malu-malu mengatakannya.
“Jangan sampai kau nodai celana dalamku dengan pikiran mesumku”
“Yak! Kupikir aku itu sepertimu!”, Sunggyu menyenggol Woohyun. Dan Woohyun tertawa, dengan sedikit mengintip Sunggyu melihat layar handpone Woohyun. Ia bisa melihatnya bahwa kini woohyun sedang membuka aplikasi chatting di handphone miliknya.
“Apa Hoya membicarakan
sesuatu tentangku di sekolah?”, tanya Sunggyu.
“Iya”
“Benarkah? Apa yang ia katakan?”, Sunggyu tampak antusias. Ia merasa senang bahwa Hoya tidak mengabaikannya.
“Iya”
“Benarkah? Apa yang ia katakan?”, Sunggyu tampak antusias. Ia merasa senang bahwa Hoya tidak mengabaikannya.
Woohyun melirik kearah
Sunggyu, ia terdiam sebentar.
“Rahasia!”
“Rahasia!”
“Yak!”
Sunggyu kesal, ia memukul Woohyun. Dengan kekuatan standart. Lalu ia cemberut. Tak mengajak sang tuan rumah berbicara lagi.
Sunggyu kesal, ia memukul Woohyun. Dengan kekuatan standart. Lalu ia cemberut. Tak mengajak sang tuan rumah berbicara lagi.
“Aku ingin tidur!”,
Sunggyu bersiap-siap untuk tidur. Dengan mengambil guling sebagai pembatas
mereka.
“Tunggu!”
“Apa?”
“Kerjakan tugasku”
“Tunggu!”
“Apa?”
“Kerjakan tugasku”
“Mwo?”
“Kau sudah berjanji untuk membantuku mengerjakan Prku selama seminggu”, ujar Woohyun. Ia beranjak mengambil buku di dalam tasnya, lalu ia memberikannya kepada Sunggyu.
“Aissh... dasar pemalas!”, ujar Sunggyu sebal. Ia membuka buku tugas Woohyun dengan kasar sambil ngedumel tidak jelas.
“Kau sudah berjanji untuk membantuku mengerjakan Prku selama seminggu”, ujar Woohyun. Ia beranjak mengambil buku di dalam tasnya, lalu ia memberikannya kepada Sunggyu.
“Aissh... dasar pemalas!”, ujar Sunggyu sebal. Ia membuka buku tugas Woohyun dengan kasar sambil ngedumel tidak jelas.
“Kau tidak tahu cara
mengerjakannya?”, ujar Sunggyu saat ia mengetahui apa tugas yang telah
diberikan Songsaenim tersebut. Pelajaran kimia, materi kelarutan. Woohyun hanya
menggeleng dan tersenyum bodoh. Sunggyu pun sedikit kesal.
Tanpa diminta Woohyun,
Sunggyu menjelaskan caranya sambil mengerjakan soal-soal tersebut. Woohyun
mendekat ke arah Sunggyu, mengamati saat pena itu bergerak menulis penyelesaian
soal tugas tersebut.
Sesekali Woohyun
mencuri pandang ke arah Sunggyu, melihat bagaimana bibirnya maju-maju karena
semangat untuk menjelaskan. Woohyun sempat salah fokus, dia pun kembali melihat
tugasnya dan melupakan bibir itu. -_-‘
“Kau sudah mengerti?”,
Sunggyu memandang Woohyun, menanyakan apakah dirinya sudah mengerti apa tidak.
“Sepertinya begitu”, ujar Woohyun.
“Sepertinya begitu”, ujar Woohyun.
“Kalau begitu... aku
akan mengambil jawaban tugas ini. Kau kerjakan sendiri milikmu”, Ujar Sunggyu
dan menyimpan kertas jawaban miliknya. Woohyun memasang wajah sedih.
“Aku tidak akan tersentuh dengan wajah sedih itu Nam, cepat kerjakan dan nanti aku koreksi”, ujar Sunggyu.
“Aku tidak akan tersentuh dengan wajah sedih itu Nam, cepat kerjakan dan nanti aku koreksi”, ujar Sunggyu.
Kini berganti Woohyun
yang kesal, ia menggerutu sambil mencoba mengerjakan soal tersebut.
“Seharusnya aku tidak menyuruhnya tinggal disini”, Woohyun menyindir Sunggyu.
“Seharusnya kau dapat mengerjakan tugasmu jika aku ada”, Ujar Sunggyu bangga.
“Seharusnya aku tidak menyuruhnya tinggal disini”, Woohyun menyindir Sunggyu.
“Seharusnya kau dapat mengerjakan tugasmu jika aku ada”, Ujar Sunggyu bangga.
Untuk pertamakalinya
Woohyun masih bingung, ia masih bertanya apa tahapan yang harus ia lakukan
dahulu. Meski Sunggyu cerewet dan mudah marah, tapi ia sangat sabar membimbing
temannya itu saat mengerjakan tugasnya. Hingga Woohyun mulai mengerti dan dapat
mengerjakannya sendiri.
“Akhirnya selesai
juga”, Woohyun tampak senang. Ia hendak pamer kepada Sunggyu, namun sang empu
sudah tertidur di sampingnya.
Kesempatan Woohyun
mengamati wajah Sunggyu tanpa mendapat omel olehnya.
Woohyun merasa sangat
beruntung, bagaimana hal ini bisa terjadi hingga ia bisa tinggal bersama
Sunggyu. Sebuah hal yang tidak terduga dan Woohyun menyukai itu.
Dengan perlahan ia
merebahkan tubuhnya agar tidak membangunkan Sunggyu. Mereka tidur
berhadap-hadapan sekarang. Woohyun benar-benar kehilangan kesadarannya,
tangannya bergerak untuk menyentuh surai Sunggyu yang halus. Dengan sangat
hati-hati dan pelan, ia memainkan rambut Sunggyu dan mengelusnya perlahan.
Sunggyu bergerak, ia
merasa sedikit terusik. Dan Woohyun langsung menghentikan kegiatannya,
jantungnya mendadak berpacu dengan cepat, takut sunggyu akan bangun.
Beruntungnya Woohyun
bahwa dia hanya terusik dan melanjutkan tidurnya.
Berharap Sunggyu tidak
akan terusik, ia memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke arah Sunggyu.
Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang, semakin dekat dengan Sunggyu
membuatnya dadanya sesak. Ia takut, tapi ia ingin melakukannya.
Woohyun menahan
nafasnya, takut membangunkan Sunggyu. Dia bisa merasakan terpaan nafas halus
milik Sunggyu. Ia sudah terkuasai oleh Sunggyu sekarang.
Chuup~
Bibir Woohyun benar-benar menyentuh bibir Sunggyu sekarang. Ia terdiam cukup lama.
Woohyun benar-benar diluar batas sadar.
Mungkin Woohyun benar-benar gila sekarang.
Bibir Woohyun benar-benar menyentuh bibir Sunggyu sekarang. Ia terdiam cukup lama.
Woohyun benar-benar diluar batas sadar.
Mungkin Woohyun benar-benar gila sekarang.
Ia menggerakkan
bibirnya dan melumat pelan bibir Sunggyu, lidahnya bergerak untuk merasakan
bagaimana bibir tipis dan lembut itu.
‘Manis’
‘Manis’
TBC
Aku yakin pasti kalian pada protes karena ini FF pendek, wkwwkkwkwkw... tapi setidaknya aku sudah buat Woogyu momentnya banyak lhooo.... kedipin mata.
Jangan lupa RCL yaaaa, review kalian bagaikan vitamin bagiku! ^^
#gombal_ala_Woohyun
Aku yakin pasti kalian pada protes karena ini FF pendek, wkwwkkwkwkw... tapi setidaknya aku sudah buat Woogyu momentnya banyak lhooo.... kedipin mata.
Jangan lupa RCL yaaaa, review kalian bagaikan vitamin bagiku! ^^
#gombal_ala_Woohyun
No comments:
Post a Comment