Intimidation (Part 2a)
Cast :
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
Mianhae... ada sedikit
perubahan judul, Salahkan author yang rada' oon ini karena sempat bingung
sebenarnya yang bener apa judulnya. Inimidati? Intimitasi? Intiditasi?
Wkwkwkwkwk...
Akhirnya membuka kamus dan mencari-cari, ternyata yang bener Intimidasi (abaikan author yang kelewat koplak ini XD)
Terimakasih atas review kalian kemarin, aku suka semangat kalian kiss emoticon
Langsung saja, happy reading~
Akhirnya membuka kamus dan mencari-cari, ternyata yang bener Intimidasi (abaikan author yang kelewat koplak ini XD)
Terimakasih atas review kalian kemarin, aku suka semangat kalian kiss emoticon
Langsung saja, happy reading~
“Woooaah~ Anda hebat
pak!”, puji Sunggyu.
“Ada lagi?”
“Hmmm... kurasa tidak pak, yang lain caranya sama yang bapak ajarkan barusan. Saya biar mencobanya sendiri”, jelas Sunggyu dan kembali fokus ke soalnya.
“Ada lagi?”
“Hmmm... kurasa tidak pak, yang lain caranya sama yang bapak ajarkan barusan. Saya biar mencobanya sendiri”, jelas Sunggyu dan kembali fokus ke soalnya.
Sreeet~
“Bagus kalau kau
mengerti”
Sunggyu menghentikan kegiatannya, menatap sang guru yang kini memegang tangannya.
Sunggyu menghentikan kegiatannya, menatap sang guru yang kini memegang tangannya.
Deg!
Jantungnya berhenti berdetak saat tangan satunya meyentuh paha miliknya. Meraba halus di atas celana sekolah, Sunggyu.
“P-pak?”, Sunggyu gugup. Ia tak tahu apa yang harusnya ia lakukan.
Jantungnya berhenti berdetak saat tangan satunya meyentuh paha miliknya. Meraba halus di atas celana sekolah, Sunggyu.
“P-pak?”, Sunggyu gugup. Ia tak tahu apa yang harusnya ia lakukan.
“Kau tidak gerah
memakai baju seragam ini, seharian pasti sudah bau keringat”. Kini... tangan
yang menggenggam tangan Sunggyu berpindah ke kerah baju Sunggyu, lalu turun dan
menyentuh kancing yang masih tertutup itu, dengan pelan dan hati-hati membuka
kancing tersebut. Sunggyu menelan ludahnya kasar, tubuhnya tidak bisa bergerak
sekarang.
Dering telepon
berbunyi sekarang, Sunggyu dengan tergesa-gesa mengangka telepon
tersebut.
“Hallo?”
“...”
“Iya Eomma... Aku segera pulang”
“Hallo?”
“...”
“Iya Eomma... Aku segera pulang”
Bip!
“Maaf pak, saya ijin
pulang sekarang. Terimakasih atas waktunya”, Sunggyu langsung membereskan
buku-buku dan memasukkan bukunya dengan tergesa. Tak peduli jika catatannya
terlipat, yang penting ia segera pergi dari tempat tersebut.
.
.
.
.
.
Woohyun mengerutkan
keningnya, jarinya mengetuk-ngetuk handphonenya. Ia sedang berpikir, entah
kenapa ia ingin menelpon Sunggyu. Memastikan bagaimana Sunggyu sekang?
Tidak-tidak-tidak.... Itu bukan imagenya.
Eeeer~ bagaimana dengan....
‘Kau tidak meminta maaf? Kau mempermalukanku tadi di depan anak-anak;
‘Hei, apakah kau masih di rumah songsaenim? Kuharap kau masih perawan disana’
‘Sepertinya kau sudah belajar banyak matematika, boleh aku menyontekmu besok?’
‘Sayang sekali, kau tidak melihat motorku. Kau pasti terkagun dan iri denganku’
Setelah berbagai pilihan yang akan dia katakan saat menelpon Sunggyu, ia mulai yakin untuk menelpon Sunggyu. Ia menelpon Sunggyu, dan tak berselang lama sang pemilik segera mengangkatnya.
Eeeer~ bagaimana dengan....
‘Kau tidak meminta maaf? Kau mempermalukanku tadi di depan anak-anak;
‘Hei, apakah kau masih di rumah songsaenim? Kuharap kau masih perawan disana’
‘Sepertinya kau sudah belajar banyak matematika, boleh aku menyontekmu besok?’
‘Sayang sekali, kau tidak melihat motorku. Kau pasti terkagun dan iri denganku’
Setelah berbagai pilihan yang akan dia katakan saat menelpon Sunggyu, ia mulai yakin untuk menelpon Sunggyu. Ia menelpon Sunggyu, dan tak berselang lama sang pemilik segera mengangkatnya.
“Hallo?”
“G-gyu...”, sial! Lidah Woohyun sulit untuk bergerak. Mana kalimat yang dirancangnya barusan.
“Iya Eomma... Aku segera pulang”
‘Huh?’
Tuuut~ Tuuut~ Tuuut~
“G-gyu...”, sial! Lidah Woohyun sulit untuk bergerak. Mana kalimat yang dirancangnya barusan.
“Iya Eomma... Aku segera pulang”
‘Huh?’
Tuuut~ Tuuut~ Tuuut~
Woohyun menaikkan satu
alisnya, bingung? Tentu saja...
Woohyun kembali menelpon Sunggyu, beberapa detik menunggu akhirnya diangkat Sunggyu lagi.
“Yak! Apa maksudmu barusan?!”, ujar Woohyun kesal.
“Mianhae hyun~ Jangan menelponku dulu sekarang”
Setelah mendengar suara Sunggyu yang bergetar, raut wajah namja angkuh itu tampak berubah. Ia hendak menanyakannya lagi, tetapi telepon itu terputus.
Woohyun kembali menelpon Sunggyu, beberapa detik menunggu akhirnya diangkat Sunggyu lagi.
“Yak! Apa maksudmu barusan?!”, ujar Woohyun kesal.
“Mianhae hyun~ Jangan menelponku dulu sekarang”
Setelah mendengar suara Sunggyu yang bergetar, raut wajah namja angkuh itu tampak berubah. Ia hendak menanyakannya lagi, tetapi telepon itu terputus.
“Shit!”, Woohyun
melempar handphonenya asal. Beruntung ia berada di atas kasur, jadi ia tak
perlu berpikir jika handphonenya akan rusak.
@Besoknya.
Sunggyu disambut dengan tatapan tajam beberapa orang saat memasuki lingkungan sekolahnya. Mereka tersenyum sinis dan berbisik-bisik. Perasaan Sunggyu tidak enak, namun ia mengabaikan mereka dan terus berjalan hingga ke kelas.
Sunggyu disambut dengan tatapan tajam beberapa orang saat memasuki lingkungan sekolahnya. Mereka tersenyum sinis dan berbisik-bisik. Perasaan Sunggyu tidak enak, namun ia mengabaikan mereka dan terus berjalan hingga ke kelas.
Sunggyu memasuki
kelasnya, dan saat itu ia merasa seperti diinterogasi. Saat semua mata
menatapnya, yeoja-yeoja menatap sengit padanya, lalu teman-temannya yang
menatapnya tidak percaya, dan Woohyun... ia membuang muka.
Sunggyu berusaha
menetralkan perasaan buruknya dan duduk di bangkunya.
“Selamat pagi Hoya!”, sapa Sunggyu.
“Selamat pagi Hoya!”, sapa Sunggyu.
Hoya langsung membuka
bukunya dan tampak sibuk membacanya, apa hanya sekedar pura-pura agar
menghindar dari Sunggyu.
“Hoya, kenapa denganmu? Kenapa semua sekolah menatap aneh padaku?”, tanya Sunggyu.
“...”
“Hoya, kenapa denganmu? Kenapa semua sekolah menatap aneh padaku?”, tanya Sunggyu.
“...”
Sunggyu menghela
nafas, ia belum menemukan jawabannya. Hingga Kyuhyun datang dan mengalihkan
perhatian seluruh isi kelas.
“Baiklah, hari ini
sesuai janji Bapak akan mengadakan ujian matematika”
Biasanya terdengar
suara eluhan dan suara tidak terima. Namun tidak dengan sekarang, mereka tampak
gaduh dengan berbisik dengan teman terdekat mereka. Dan sesekali menatap
Kyuhyun maupun Sunggyu.
“Lihatlah... dia
berpura-pura tidak terjadi apa-apa”
“Dasar namja murahan, beraninya menggoda Kyuhyun songsaenim”
BRAAK!
“Dasar namja murahan, beraninya menggoda Kyuhyun songsaenim”
BRAAK!
“Maaf Pak, saya ijin
ke UKS.” Ujar Woohyun dingin. Lalu saat itu, Sunggyu merasa tangannya digenggam
sangat erat dan ditarik. Ia tampak bingung, namun lelaki yang lebih pendek
darinya itu masih tetap diam.
Sunggyu melakukan
perlawanan, ia menarik tangannya dan melepasnya dari genggaman Woohyun.
“Kenapa kau mengajakku?”, ujar Sunggyu kesal.
“Kenapa kau mengajakku?”, ujar Sunggyu kesal.
Woohyun tidak berkata
dan kembali menarik tangan Sunggyu, Sunggyu berontak lagi.
“Aku tidak mau!”
“Aku sedang sakit, aku butuh bantuanmu”, ujar Woohyun berbohong, Sunggyu tahu itu.
“Aku sudah belajar keras kemarin, aku tidak mau melewatkan ujian matematika itu! Kalau kau memang butuh ke UKS silahkan lakukan sendiri”, ujar Sunggyu dingin dan segera meninggalkan Woohyun.
“Aku tidak mau!”
“Aku sedang sakit, aku butuh bantuanmu”, ujar Woohyun berbohong, Sunggyu tahu itu.
“Aku sudah belajar keras kemarin, aku tidak mau melewatkan ujian matematika itu! Kalau kau memang butuh ke UKS silahkan lakukan sendiri”, ujar Sunggyu dingin dan segera meninggalkan Woohyun.
Woohyun mengacak surai
hitam miliknya, ia menggeram kesal.
Ulangan matematika
berjalan dengan lancar, setelah Kyuhyun memperingatkan muridnya untuk diam.
Seluruh isi kelas sangat tenang, bahkan hanya terdengar suara kertas soal ujian
yang mereka kerjakan. Semua tampak mengerjakan dengan tertib, tanpa Woohyun tentunya.
Jam pelajaran pertama
pun telah usai, dan itu bertanda bahwa ujian diakhiri. Mereka menyalurkan
kertas jawaban mereka ke depan. Lagi-lagi hanya suara kertas yang terdengar.
Suasana kelas kembali
gaduh saat, Kyuhyun berpamitan dan berjalan keluar kelas. Dan itu kesempatan
Sunggyu untuk berbicara dengan Hoya.
“Hoya, dengarkan
aku!”, Sunggyu memegang kedua pundak Hoya, tidak membiarkan teman sebangkunya
kembali cuek padanya seperti tadi pagi.
Hoya tidak memfokuskan
penglihatannya ke arah Sunggyu, ia berusaha melihat ke arah lain selain
Sunggyu
“You’re still my friend, right?”
“Mianhae... gyu, aku juga tak mengerti denganmu”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Aku tahu kalau kau mendatangi kyuhyun songsaenim kemarin sore untuk belajar, tapi berita yang kudengar tidak seperti itu”.
“Apa yang mereka katakan”
“Aku tidak bisa menceritakannya padamu”.
“...”
“Gyu... bisakah kita menjaga jarak saat ini?”,
“Kau tidak mempercayaiku? Kemarin aku benar-benar hanya belajar”, ujar Sunggyu meyakinkan.
“Aku mempercayaimu.... tapi....”
“You’re still my friend, right?”
“Mianhae... gyu, aku juga tak mengerti denganmu”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Aku tahu kalau kau mendatangi kyuhyun songsaenim kemarin sore untuk belajar, tapi berita yang kudengar tidak seperti itu”.
“Apa yang mereka katakan”
“Aku tidak bisa menceritakannya padamu”.
“...”
“Gyu... bisakah kita menjaga jarak saat ini?”,
“Kau tidak mempercayaiku? Kemarin aku benar-benar hanya belajar”, ujar Sunggyu meyakinkan.
“Aku mempercayaimu.... tapi....”
“HOYA!”
Hoya menoleh, ia melihat Dongwoo memangilnya. Disana ada Woohyun, Myungsoo, dan teman-teman lelaki yang lain.
“Ayo kita ke kantin!”, ajaknya
“Okay”
Hoya menoleh, ia melihat Dongwoo memangilnya. Disana ada Woohyun, Myungsoo, dan teman-teman lelaki yang lain.
“Ayo kita ke kantin!”, ajaknya
“Okay”
“Yak! Hoya... kita
belum selesai...”
Hoya menulikan pendengarannya dan pergi begitu saja setelah membawa beberapa lembar uang won. Sunggyu mendesah kesal, ia melirik seisi kelasnya. Para wanita disana melihatnya dan berbisik-bisik dengan temannya.
“APA YANG KALIAN LIAT, HAH?!”,
BRAK!
Hoya menulikan pendengarannya dan pergi begitu saja setelah membawa beberapa lembar uang won. Sunggyu mendesah kesal, ia melirik seisi kelasnya. Para wanita disana melihatnya dan berbisik-bisik dengan temannya.
“APA YANG KALIAN LIAT, HAH?!”,
BRAK!
Sunggyu memukul
mejanya, sebelum pergi menuju atap sekolah. Mungkin lebih baik ia bolos
pelajaran hari ini.
.
.
.
“Lihat, itu Kim
Sunggyu!”
“Kim Sunggyu dari kelas D?”
“Benar”
“Aaaah... jadi itu orangnya”
“Lihat, dia makan sendiri. Dasar penyendiri, ia diam-diam ternyata begitu”
“Kim Sunggyu dari kelas D?”
“Benar”
“Aaaah... jadi itu orangnya”
“Lihat, dia makan sendiri. Dasar penyendiri, ia diam-diam ternyata begitu”
“Hoya, kau tidak
mengajak Sunggyu?”, tanya Myungsoo
Hoya hanya menggeleng.
“Kenapa?”, kini Dongwoo yang bertanya.
“A-aku tidak tahu”, ujarnya.
Hoya hanya menggeleng.
“Kenapa?”, kini Dongwoo yang bertanya.
“A-aku tidak tahu”, ujarnya.
“Woohyun, kau mau
kemana?”, kini pertanyaan itu berpindah orang. Namun orang bernama Nam Woohyun
itu tidak menggubris mereka dan berjalan menuju bangku Sunggyu.
“Yo!”, Woohyun menyapa
Sunggyu dan duduk di depannya. Mereka berhadap-hadapan sekarang.
“Ada apa kau kesini?”
“Eeeey~ kenapa galak begitu? Kau tidak mau kutemani?”, ujar Woohyun.
“Ada apa kau kesini?”
“Eeeey~ kenapa galak begitu? Kau tidak mau kutemani?”, ujar Woohyun.
“Lihat, sepertinya
Sunggyu menggoda Woohyun sekarang!”
“Oh tidak, jangan Woohyun...”
“Oh tidak, jangan Woohyun...”
Mereka tampak canggung
setelah mendengar pembicaraan para yeoja bermulut besar di dekat mereka.
“Kalau kau risih
sebaiknya kau kembali saja bersama teman-temanmu”, ujar Sunggyu cuek.
Woohyun bingung, ia tak tahu harus membalas ucapan Sunggyu seperti apa. Ia hanya berdehem sebentar dan meminum minumannya.
Woohyun bingung, ia tak tahu harus membalas ucapan Sunggyu seperti apa. Ia hanya berdehem sebentar dan meminum minumannya.
“Kau baik-baik saja?”
“Tentu saja, kau lihat kan aku tidak apa-apa”, ujar Sunggyu cuek.
“Hmmm....”, Woohyun tampak berpikir, mencari pembicaraan yang lain.
“Tentu saja, kau lihat kan aku tidak apa-apa”, ujar Sunggyu cuek.
“Hmmm....”, Woohyun tampak berpikir, mencari pembicaraan yang lain.
“Apa maksudmu telepon
yang waktu itu”
“Huh?”
“Kau bilang ‘Iya Eomma... aku akan pulang’ Apa maksudnya?”
“Kenapa kau perlu menelponku saat itu?”
“Hei, aku bertanya padamu. Kenapa kau malah melempari pertanyaan kepadaku?”
“Kenapa kau memaksaku menemanimu ke UKS waktu itu?”
“Aaaissshh~”, Woohyun mengacai rambutnya.
“Huh?”
“Kau bilang ‘Iya Eomma... aku akan pulang’ Apa maksudnya?”
“Kenapa kau perlu menelponku saat itu?”
“Hei, aku bertanya padamu. Kenapa kau malah melempari pertanyaan kepadaku?”
“Kenapa kau memaksaku menemanimu ke UKS waktu itu?”
“Aaaissshh~”, Woohyun mengacai rambutnya.
“Hei sipit, aku sudah
berbaik hati padamu akhir-akhir ini. Tapi kenapa kau masih sempat berlaku
menyebalkan?”
“Aku tidak memintamu berbuat baik padaku”
“Arraseo! Aku mengerti!! Aku tidak akan membantumu setelah ini!! Kalau kau memohon padaku, ingat! Itu tidak gratis!!”
“Cih, memangnya aku butuh apa denganmu?”.
“Aku tidak memintamu berbuat baik padaku”
“Arraseo! Aku mengerti!! Aku tidak akan membantumu setelah ini!! Kalau kau memohon padaku, ingat! Itu tidak gratis!!”
“Cih, memangnya aku butuh apa denganmu?”.
BRAK!
“Oke jika itu maumu! Aku akan pergi!”, ujar Woohyun. Ia pun pergi meninggalkan Sunggyu begitu saja.
“Oke jika itu maumu! Aku akan pergi!”, ujar Woohyun. Ia pun pergi meninggalkan Sunggyu begitu saja.
.
.
.
“Sunggyu-ya?”
Sunggyu memberhentikan langkahnya, ia melihat Kyuhyun berada di ruangannya dan mengajak Sunggyu untuk kesana.
Sunggyu menunjuk dirinya, menanyakan apakah benar dia yang dipanggil. Ia melihat di sekitanya, memang hanya dirinya disana. Ia pun dengan ragu mendatangi Pak Kyuhyun.
“Ada apa, pak?”
“Ulangan matematika waktu itu sudah saya koreksi”, jelas Kyuhyun dan mempersilahkan Sunggyu masuk. Sunggyu duduk di pojok sofa panjang, menunggu guru matematika itu mengambil jawaban siswa-siswa.
Sunggyu memberhentikan langkahnya, ia melihat Kyuhyun berada di ruangannya dan mengajak Sunggyu untuk kesana.
Sunggyu menunjuk dirinya, menanyakan apakah benar dia yang dipanggil. Ia melihat di sekitanya, memang hanya dirinya disana. Ia pun dengan ragu mendatangi Pak Kyuhyun.
“Ada apa, pak?”
“Ulangan matematika waktu itu sudah saya koreksi”, jelas Kyuhyun dan mempersilahkan Sunggyu masuk. Sunggyu duduk di pojok sofa panjang, menunggu guru matematika itu mengambil jawaban siswa-siswa.
Saat beberapa kerta itu
berada di tangan Sunggyu, Sunggyu segera mencari lembar jawaban miliknya. Ia
melihat angka 70 disana. Senyum terkembang di bibir tipisnya, matanya membentuk
sebuah garis lurus.
‘Akhirnya aku dapat juga nilai bagus, aku bisa pamer ke Woohyun...”
‘Akhirnya aku dapat juga nilai bagus, aku bisa pamer ke Woohyun...”
Saat Sunggyu menikmati
nilai yang dia peroleh, Kyuhyun telah duduk disampingnya.
“Kau telah berusaha Sunggyu-ah”
“Iya pak”
“Kau telah berusaha Sunggyu-ah”
“Iya pak”
Sreeet~
Deg!
Lagi-lagi, kini tangan Kyuhyun melingkar di pundak Sunggyu. Badan Sunggyu kembali menegang. Kyuhyun tersenyum nakal, ia membisikkan sesuatu ke telinga Sunggyu.
Deg!
Lagi-lagi, kini tangan Kyuhyun melingkar di pundak Sunggyu. Badan Sunggyu kembali menegang. Kyuhyun tersenyum nakal, ia membisikkan sesuatu ke telinga Sunggyu.
“Kalau kau mau nilai
lebih, aku bisa memberikannya padamu”
Setelah membisikkan kata-kata itu, Ia melihat leher jenjang Sunggyu. Ingin rasanya ia menggigit leher putih itu.
Setelah membisikkan kata-kata itu, Ia melihat leher jenjang Sunggyu. Ingin rasanya ia menggigit leher putih itu.
Ia mengeratkan
rangkulannya saat Sunggyu berontak untuk segera lepas. Kedua tangannya kini di
genggam erat dengan satu tangan guru matematikanya. Ia tidak bisa bergerak
sekarang.
“Akh! Pak...”, Sunggyu
merutuki bibirnya saat ia mendapat sengatan di lehernya.
Pemuda tinggi itu
mendorong tubuh Sunggyu, kini ia melepas dasi miliknya. Dan ia mengikat kedua
tangan Sunggyu.
“Bagaimana kalau kita lanjutkan kegiatan kita yang kemarin?”
“Bagaimana kalau kita lanjutkan kegiatan kita yang kemarin?”
Sunggyu merasa
situasinya terjepit. Dengan sekuat tenaga, ia bangun dan mendorong pemuda
tinggi tersebut. Beruntung, ia dapat berlari sekarang sebelum....
Clek!
Gawat! Yuri songsaenim melihat mereka. Sunggyu menelan air liurnya dengan berat. Ia melihat ke arah Kyuhyun. Ia tersenyum evil, dengan keadaan yang sekarang seakan-akan bahwa Sunggyu yang menyerang guru mudanya tersebut. Kini Sunggyu berada di atas Kyuhyun. Ia segera menarik kedua tangannya yang sebelumnya menyentuh dada gurunya.
Gawat! Yuri songsaenim melihat mereka. Sunggyu menelan air liurnya dengan berat. Ia melihat ke arah Kyuhyun. Ia tersenyum evil, dengan keadaan yang sekarang seakan-akan bahwa Sunggyu yang menyerang guru mudanya tersebut. Kini Sunggyu berada di atas Kyuhyun. Ia segera menarik kedua tangannya yang sebelumnya menyentuh dada gurunya.
.
.
.
“Aku tidak benar-benar
melakukannya, Bu. Sungguh!”, Sunggyu berusaha meyakinkan seorang wanita
langsing berkulit gelap di depannya. Tapi Yuri tidak percaya sama sekali dengan
apa yang dikatakan oleh Sunggyu.
“Ibu tidak akan segan-segan mengeluarkan kamu dari sekolah ini Kim Sunggyu, mengakulah!”
“Ibu tidak akan segan-segan mengeluarkan kamu dari sekolah ini Kim Sunggyu, mengakulah!”
Wajah Sunggyu memelas,
dengan beberapa guru di ruangan tersebut. Ia merasa seperti diinterogasi dan
dipaksa berkata yang mereka harapkan. Rasanya sunggyu mau menangis
sekarang.
“Sungguh, demi Tuhan saya tidak melakukannya”, suara Sunggyu bergetar.
“Maafkan saya, ini karena kelalaian saya. Seharusnya saya bisa bersikap tegas agar kejadian ini tidak terulang”, Kini... Kyuhyun membuka suara.
“Sungguh, demi Tuhan saya tidak melakukannya”, suara Sunggyu bergetar.
“Maafkan saya, ini karena kelalaian saya. Seharusnya saya bisa bersikap tegas agar kejadian ini tidak terulang”, Kini... Kyuhyun membuka suara.
Sunggyu menatap sengit
guru tersebut, jelas-jelas jika beliau yang melakukannya duluan.
“Apa maksudnya ini?”, Sunggyu berbisik. Ia tak percaya.
“Apa maksudnya ini?”, Sunggyu berbisik. Ia tak percaya.
Sedangkan orang yang
Sunggyu tatap tersenyum kemenangan kepadanya.
Senyum nakal dan penuh dengan kelicikan.
Senyum nakal dan penuh dengan kelicikan.
TBC
Huwaaaa~ Gimana nih?
Mohon reviewnya yaaa? Meski ini FF gak seberapa menarik, tapi sungguh... komentar kalianlah yang membuat aku semangat melanjutkan FF ini. Kurasa aku mengerti kenapa aku gak pernah selesai-selesai buat FF. Karena aku kekurangan vitamin kalian. #gombal
Terimakasih semuanya, kuharap part selanjutnya bisa terus berlanjut
Huwaaaa~ Gimana nih?
Mohon reviewnya yaaa? Meski ini FF gak seberapa menarik, tapi sungguh... komentar kalianlah yang membuat aku semangat melanjutkan FF ini. Kurasa aku mengerti kenapa aku gak pernah selesai-selesai buat FF. Karena aku kekurangan vitamin kalian. #gombal
Terimakasih semuanya, kuharap part selanjutnya bisa terus berlanjut
No comments:
Post a Comment