Intimidation (Part 2b)
Cast :
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
Karena banyak yang request FFnya dipanjanginm untuk part 2. Aku
tambahin lanjutannya. Biar gak bingung aku bikin part 2a dan part 2b.
Oke deh happy reading~
Oke deh happy reading~
“Apa maksudnya ini?”, Sunggyu berbisik. Ia tak percaya.
Sedangkan orang yang Sunggyu tatap tersenyum kemenangan
kepadanya.
Senyum nakal kebanggaannya.
Senyum nakal kebanggaannya.
#Imitation#
“Sunggyu dimana?”, sebuah pertanyaan terlintas saat ia kembali ke kelas setelah makan di kantin. Kursi yang berada di sebelah bangkunya kosong.
“Sunggyu dimana?”, sebuah pertanyaan terlintas saat ia kembali ke kelas setelah makan di kantin. Kursi yang berada di sebelah bangkunya kosong.
“Mungkin dia bolos”, jawab Dongwoo.
“Aniyaa~ dia tidak akan membawa tasnya jika membolos”, jelas Hoya.
“Mungkin dia kabur dari sekolah”, kini, Myungsoo menambahkan.
“Perasaanku tidak enak”, Hoya menatap kursi kosong di sebelahnya. Ia menjadi khawatir pada Sunggyu. Dan ia kini merasa bersalah tidak ada saat Sunggyu membutuhkannya.
“Aniyaa~ dia tidak akan membawa tasnya jika membolos”, jelas Hoya.
“Mungkin dia kabur dari sekolah”, kini, Myungsoo menambahkan.
“Perasaanku tidak enak”, Hoya menatap kursi kosong di sebelahnya. Ia menjadi khawatir pada Sunggyu. Dan ia kini merasa bersalah tidak ada saat Sunggyu membutuhkannya.
“Biarkan saja, dia bukan anak kecil lagi”, Woohyun datang menyusul
mereka. Lalu duduk dengan tenang. Tiga pemuda yang berbincang tadi melihat ke
arah Woohyun. Woohyun yang merasa diperhatikan membalas tatapan mereka.
“Apa?”
“Kenapa kalian tidak pernah akur, aku tidak mengerti masalah kalian”, Mereka yang memang sudah lama melihat mereka bertengkar, kini mulai bertanya pada Woohyun. Bukankah aneh, anak SMA tahun akhir seperti mereka masih bertengkar layaknya anak kecil. Hanya saling beradu mulut, saling mengejek dan menuduh tanpa adanya perkelahian.
“Dia menyebalkan”, jawab Woohyun singkat.
“Kurasa Sunggyu tidak pernah melakukan kesalahan padamu”, kini Dongwoo mulai mengingat-ingat. Apa penyebab masalah mereka bertengkar, tapi nihil. Dia hanya mengingat mereka mulai beradu mulut saat salah satu dari mereka mengejek duluan.
“Dia tidak peka, itu yang buat aku kesal dengannya”.
“Apa?”
“Kenapa kalian tidak pernah akur, aku tidak mengerti masalah kalian”, Mereka yang memang sudah lama melihat mereka bertengkar, kini mulai bertanya pada Woohyun. Bukankah aneh, anak SMA tahun akhir seperti mereka masih bertengkar layaknya anak kecil. Hanya saling beradu mulut, saling mengejek dan menuduh tanpa adanya perkelahian.
“Dia menyebalkan”, jawab Woohyun singkat.
“Kurasa Sunggyu tidak pernah melakukan kesalahan padamu”, kini Dongwoo mulai mengingat-ingat. Apa penyebab masalah mereka bertengkar, tapi nihil. Dia hanya mengingat mereka mulai beradu mulut saat salah satu dari mereka mengejek duluan.
“Dia tidak peka, itu yang buat aku kesal dengannya”.
Jawaban Woohyun membuat mereka sedikit bingung, Woohyun menopang
dagunya, melihat ke arah luar jendela. Matanya menatap langit biru tanpa awan,
seperti warna awan dilangit itu telah mewaliki perasaanna saat ini/
#Imitation#
Langit kini beradu dengan warna jingga dan hitam, bulan mulai menampakkan keindahannya. Seseorang berjalan tanpa arah kini menjadi perhatian beberapa orang yang melihatnya. Namun dirinya tidak peduli dan menulikan telinga saat mereka mulai berbisik dengan teman berjalan mereka.
Langit kini beradu dengan warna jingga dan hitam, bulan mulai menampakkan keindahannya. Seseorang berjalan tanpa arah kini menjadi perhatian beberapa orang yang melihatnya. Namun dirinya tidak peduli dan menulikan telinga saat mereka mulai berbisik dengan teman berjalan mereka.
Sunggyu menghela nafas, ia tak menduga hari ini menjadi hari
sialnya. Dari bertengkar dengan Woohyun, lalu Songsaenimnya yang mesum hingga
ia terkena skors selama seminggu, lalu kini ia dipukul ayahnya dan diusir dari
rumah.
Ia bingung, ia harus lari dan berlindung kemana sekarang. Di
Sekolah pasti teman-teman akan membicarakannya, di rumah... kau sudah tahu kan
jika dirinya baru saja diusir dari rumah.
Dengan berbekal beberapa helai baju dan sisa uang jajan minggu
ini, ia berjalan dengan mendorong tas beroda miliknya.
Ia melihat langit, kini langit gelap tanpa bintang-bintang. Kini
ia teralihkan dengan suara perutnya yang berbunyi. Ia mengeluarkan dompet
miliknya, dan menghitung-hitung sisa uang di dompetnya. Mengira-ngira ia dapat
bertahan berapa lama dengan uang yang tidak terlalu banyak ini.
Akhirnya ia memilih menuju minimarket di depannya, ia
memilah-milah makanan yang termurah namun dapat mengenyangkan perutnya. Mungkin
ia hanya perlu makan ini dan bertahan hingga besok.
Akhirnya ia memilih sebuah mie instan siap saji dan sebotol air
mineral. Setelah ia membayar, ia segera berlari kecil ke kursi terdekat untuk
makan. Ia meniup-niup mienya yang panas. Pipinya terasa nyeri karena pukulan
ayahnya tadi sore, ia meringis pelan dan melanjutkan makan.
Saat ia selesai makan, ia keluar dari mini market.
“Aaaaah~ kenyangnyaa”, ujarnya senang.
“Aaaaah~ kenyangnyaa”, ujarnya senang.
Namun raut bahagianya segera berubah saat hujan turun deras
tiba-tiba. Ia mendengus sebal, lalu ia pun akhirnya pasrah. Menunggu hujan
reda. Ia memilih duduk di sebelah pintu mini market, tangannya memainkan air
hujan karena bosan.
Suara pintu mini market terbuka, muncul seorang pemuda seumuran
Sunggyu. Ia juga menunggu di sebelah Sunggyu, menunggu hujan itu reda. Tak ada
percakapan diantara mereka, mereka sibuk berada di pikiran mereka masing-masing
tanpa memperdulikan orang-orang sekitar.
“Achoooo!!!”, Sunggyu bersin, ia menggaruk hidungnya yang
gatal.
“Apa lagi sekarang? Jangan sampai aku terkena flu”, ujar Sunggyu. Kini, pemuda di sebelah Sunggyu akhirnya memperhatikannya. Mungkin ada untungnya Sunggyu bersin, sehingga pemuda di sebelahnya melihatnya dan mungkin membantunya.
“Apa lagi sekarang? Jangan sampai aku terkena flu”, ujar Sunggyu. Kini, pemuda di sebelah Sunggyu akhirnya memperhatikannya. Mungkin ada untungnya Sunggyu bersin, sehingga pemuda di sebelahnya melihatnya dan mungkin membantunya.
“Sunggyu?”
Sunggyu menoleh ke sumber suara, ia mengerjapkan mata sipitnya. Meyakinkan bahwa orang yang ada di sebelahnya bukan hanya ilusinya.
Sunggyu menoleh ke sumber suara, ia mengerjapkan mata sipitnya. Meyakinkan bahwa orang yang ada di sebelahnya bukan hanya ilusinya.
Pemuda itu berjongkok, mensejajarkan keadaan Sunggyu yang sedang
duduk. Ia memakai jaket abu-abu dan celana training, baju rumahan. Tangannya
terulur untuk menyentuh pipi Sunggyu yang membiru.
“Akh!”
“Kenapa dengan pipimu?”, tanya Woohyun. Yah... dia Woohyun pemirsa. (Pasti reader pada kegirangan kan? Wkwkwkwk)
“Bukan apa-apa”, Sunggyu memilih untuk tidak bercerita pada Woohyun, pasti dia akan menertawakannya setelah ini.
“Akh!”
“Kenapa dengan pipimu?”, tanya Woohyun. Yah... dia Woohyun pemirsa. (Pasti reader pada kegirangan kan? Wkwkwkwk)
“Bukan apa-apa”, Sunggyu memilih untuk tidak bercerita pada Woohyun, pasti dia akan menertawakannya setelah ini.
Sunggyu melihat kearah Woohyun, menunggunya untuk tertawa atau
mengejek padanya. Namun yang ia lihat adalah raut khawatir. Hey... itu hal yang
baru bagi Sunggyu melihatnya seperti itu.
“Kenapa kau kabur dari sekolah? Tas milikmu sudah tidak ada setelah jam istirahat tadi”
“Aku di skorsing”
“Hah? Kenapa?”
“Kenapa kau kabur dari sekolah? Tas milikmu sudah tidak ada setelah jam istirahat tadi”
“Aku di skorsing”
“Hah? Kenapa?”
Sunggyu melirik ke arah Woohyun,
“Seharusnya kudengar omongan teman-teman. Guru itu kurang ajar”, Sunggyu kini kesal, mengingat bagaimana guru muda itu yang menggoda dan menyerangnya. Tapi dia yang malah terkena skorsing dan diusir dari rumah.
“Seharusnya kudengar omongan teman-teman. Guru itu kurang ajar”, Sunggyu kini kesal, mengingat bagaimana guru muda itu yang menggoda dan menyerangnya. Tapi dia yang malah terkena skorsing dan diusir dari rumah.
Ia menggertakkan giginya, namun tak lama setelah itu ia meringis dan
memegang pipinya.
“Apa yang sudah dia lakukan padamu?”, kini suara Woohyun menjadi dingin. Tatapannya menjadi sengit. Meski Sunggyu sering bertengkar dengan Woohyun, tapi ia tak pernah melihatnya seperti itu.
Kini mata Woohyun teralihkan dengar warna ungu di leher Sunggyu, anak SMA sepertinya pasti tahu mengapa leher Sunggyu bisa seperti itu.
“Apa yang sudah dia lakukan padamu?”, kini suara Woohyun menjadi dingin. Tatapannya menjadi sengit. Meski Sunggyu sering bertengkar dengan Woohyun, tapi ia tak pernah melihatnya seperti itu.
Kini mata Woohyun teralihkan dengar warna ungu di leher Sunggyu, anak SMA sepertinya pasti tahu mengapa leher Sunggyu bisa seperti itu.
Hujan mulai reda, hanya rintik-rintik hujan yang sesekali turun.
Woohyun memakai tudung jaketnya, lalu berdiri dan hendak pergi.
“Tunggu!”
“Tunggu!”
Sunggyu menahan Woohyun, namun Woohyun hanya berhenti. Ia tidak
melihat Sunggyu sama sekali, sepertinya keadaannya sedang tidak baik kali
ini.
“Ijinkan aku menginap di rumahmu”, pinta Sunggyu tak enak.
“Ijinkan aku menginap di rumahmu”, pinta Sunggyu tak enak.
Kini Woohyun melihat kearahnya, dia menatap tajam Sunggyu. Si
tangannya ia sedang menggeret tas ukuran sedang. Sepertinya ia paham apa yang
terjadi dengan Sunggyu.
“Aku janji akan melakukan apapun, tapi ijinkan aku menginap di rumahmu. Kumohon...”, baiklah, Sunggyu tidak akan bersikap angkuh kali ini pada Woohyun. Ia hanya butuh tempat tinggal sekarang dan bisa istirahat. Ia sangat lelah berjalan seharian setelah diusir oleh orang tuanya.
“Ikutlah denganku”, ujar Woohyun dingin.
“Aku janji akan melakukan apapun, tapi ijinkan aku menginap di rumahmu. Kumohon...”, baiklah, Sunggyu tidak akan bersikap angkuh kali ini pada Woohyun. Ia hanya butuh tempat tinggal sekarang dan bisa istirahat. Ia sangat lelah berjalan seharian setelah diusir oleh orang tuanya.
“Ikutlah denganku”, ujar Woohyun dingin.
Sunggyu bersyukur, namun perasaannya tidak enak kali ini. Ia tak
mengerti kenapa Woohyun tampak begitu marah kali ini. Ia tampak dingin dan irit
bicara. Itu bukan ciri khas Woohyun sama sekali.
Sunggyu tak tahu sampai kapan ia menumpang di rumah orang seperti ini, tapi setidaknya malam ini ia bisa tinggal di rumah Woohyun. Untuk malam besok biarkan nanti saja ia pikirkan.
Sunggyu tak tahu sampai kapan ia menumpang di rumah orang seperti ini, tapi setidaknya malam ini ia bisa tinggal di rumah Woohyun. Untuk malam besok biarkan nanti saja ia pikirkan.
#Imitation#
Sunggyu menganga saat melihat rumah milik Woohyun, rumahnya seperti sebuah istana. Sangat luas dan terdapat beberapa barang antik disana. Ia kini duduk disalah satu sofa, ia hanya menunggu Woohyun setelah ia mengatakan bahwa ia harus duduk disini sampai dirinya datang kembali.
Sunggyu menganga saat melihat rumah milik Woohyun, rumahnya seperti sebuah istana. Sangat luas dan terdapat beberapa barang antik disana. Ia kini duduk disalah satu sofa, ia hanya menunggu Woohyun setelah ia mengatakan bahwa ia harus duduk disini sampai dirinya datang kembali.
“Silahkan minumnya tuan”, seorang wanita tua mendatangi Sunggyu,
beberapa helai rambutnya sudah memutih. Kerutannya ikut tertarik saat dirinya
tersenyum pada Sunggyu.
“Terimakasih!”, Sunggyu meminum teh hangat yang diberikan wanita itu.
“Terimakasih!”, Sunggyu meminum teh hangat yang diberikan wanita itu.
“Ini pertama kalinya aku melihatmu”, ujarnya.
“Eoh? Y-ya... ini juga pertama kalinya bagiku berada di rumah Woohyun”, jelas Sunggyu.
“Kau temannya?”
“Iya, teman sekelas Woohyun”
“Ooh... Hoya, Dongwo, dan Myungsoo sering main kesini. Kau mengenalnya?”
“Ya, saya mengenalnya. Hoya bahkan teman sebangku saya”, Wajah Sunggyu tampak ceria. Namun senyum itu memudar, saat ia kepikiran bagaimana Hoya menghindarinya akhir-akhir ini.
“Kau mau menginap malam ini?”, pemuda tua itu mengalihkan pembicaraan saat mengetahui raut wajah Sunggyu menjadi agak sedih.
“Iya, tolong ijinkan saya menginap disini”, ujar Sunggyu berdiri dan membungkuk 90 derajat.
“Hahahaha... jangan begitu, saya hanya pembantu di rumah ini”.
“B-benarkah? Lalu dimana orang tua Woohyun?”
“Ibu Woohyun sudah lama meninggal, ayah Woohyun jarang di rumah. Ia tampak sibuk dengan urusan kantornya”. Jelas wanita yang ternyata adalah pembantu rumah tangga di rumah Woohyun. Sunggyu mengangguk mengerti.
“Eoh? Y-ya... ini juga pertama kalinya bagiku berada di rumah Woohyun”, jelas Sunggyu.
“Kau temannya?”
“Iya, teman sekelas Woohyun”
“Ooh... Hoya, Dongwo, dan Myungsoo sering main kesini. Kau mengenalnya?”
“Ya, saya mengenalnya. Hoya bahkan teman sebangku saya”, Wajah Sunggyu tampak ceria. Namun senyum itu memudar, saat ia kepikiran bagaimana Hoya menghindarinya akhir-akhir ini.
“Kau mau menginap malam ini?”, pemuda tua itu mengalihkan pembicaraan saat mengetahui raut wajah Sunggyu menjadi agak sedih.
“Iya, tolong ijinkan saya menginap disini”, ujar Sunggyu berdiri dan membungkuk 90 derajat.
“Hahahaha... jangan begitu, saya hanya pembantu di rumah ini”.
“B-benarkah? Lalu dimana orang tua Woohyun?”
“Ibu Woohyun sudah lama meninggal, ayah Woohyun jarang di rumah. Ia tampak sibuk dengan urusan kantornya”. Jelas wanita yang ternyata adalah pembantu rumah tangga di rumah Woohyun. Sunggyu mengangguk mengerti.
“Sudah selesai bicaranya? Ikut aku”, suara berat menginterupsi
mereka. Sunggyu segera ijin pada wanita tersebut dan mengikuti Woohyun. Ia
kembali mengekori pemuda tampan tersebut.
Sunggyu membaca tulisan pintu yang dibuka oleh Woohyun, tulisan
nama pemuda pemilik kamar ini. Sunggyu ragu ia harus berada dimana, ia memilih
berdiri di depan pintu saat Woohyun sibuk menyalakan AC kamarnya. Yaa... mereka
sekarang ada di kamar Woohyun. Readers pasti senang kali ini.
“Kenapa kau diam disitu?”, Sunggyu terperanjat saat kini ia
ditatap tajam oleh Woohyun.
“A-aku boleh meminjam kamar mandimu?”, kini Sunggyu tampak gugup.
“Tidak boleh”
“A-aku boleh meminjam kamar mandimu?”, kini Sunggyu tampak gugup.
“Tidak boleh”
Sunggyu kembali salah tingkah, entah kenapa tatapan Woohyun yang
seperti itu membuatnya tidak berdaya seperti ini. Sunggyu yang angkuh dan
selalu membantah Woohyun kini hilang seketika. Anehnya, ia serasa terintimidasi
olehnya.
“Mianhae... aku merepotkanmu”, ujar Sunggyu namun ia mengecilkan suaranya.
“Bagus kalau kau mengerti”, ujar Woohyun duduk di atas kasur. Masih mengintimidasi Sunggyu dengan tatapannya.
“Mianhae... aku merepotkanmu”, ujar Sunggyu namun ia mengecilkan suaranya.
“Bagus kalau kau mengerti”, ujar Woohyun duduk di atas kasur. Masih mengintimidasi Sunggyu dengan tatapannya.
Tangannya terulur untuk menarik Sunggyu, lalu mendorong tubuh
Sunggyu hingga terhembas di atas kasur miliknya. Woohyun menatap Sunggyu dalam
diam.
“Woohyun...”, ia berbisik.
“Kau berjanji akan melakukan apapun demi menginap di rumah ini...”, Woohyun menggantungkan kalimatnya. Entah kenapa Sunggyu merasakan hal yang tidak enak kali ini saat berhadapan dengan Woohyun.
“...”
“Woohyun...”, ia berbisik.
“Kau berjanji akan melakukan apapun demi menginap di rumah ini...”, Woohyun menggantungkan kalimatnya. Entah kenapa Sunggyu merasakan hal yang tidak enak kali ini saat berhadapan dengan Woohyun.
“...”
Woohyun menyentuh dagu Sunggyu, membelai bibir tipisnya dengan ibu
jarinya.
“Kau mengerti kan yang aku inginkan sekarang?”, ujarnya.
Jantung Sunggyu berdegup kencang saat Woohyun mendekatinya, pandangan Sunggyu mengabur.
“Kau mengerti kan yang aku inginkan sekarang?”, ujarnya.
Jantung Sunggyu berdegup kencang saat Woohyun mendekatinya, pandangan Sunggyu mengabur.
“Woohyun... andwae~”, Sunggyu membuang mukanya ke arah samping
saat Woohyun hendak mencium bibirnya.
“Wae? Bukankah kau sudah pernah melakukannya dengan kyuhyun Songsaenim?”, sindir Woohyun.
“Wae? Bukankah kau sudah pernah melakukannya dengan kyuhyun Songsaenim?”, sindir Woohyun.
Sunggyu menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa berkata apapun
sekarang, bibirnya bergetar.
“Jangan berbohong Gyu, lalu tanda apa di lehermu itu?”
“I-ini...”
“Wae? Kau tidak bisa menyangkalnya kan?”
“Kau salah paham, hyun.”
“Jangan berbohong Gyu, lalu tanda apa di lehermu itu?”
“I-ini...”
“Wae? Kau tidak bisa menyangkalnya kan?”
“Kau salah paham, hyun.”
Woohyun menjauhi Sunggyu, ia tertawa. Dan itu sangat menakutkan
bagi Sunggyu. Saat mata itu menatapnya tajam setelah ia puas dengan kegiatan
tertawanya.
“Jangan bersikap angkuh seperti itu, ternyata kau gampangan juga”
“Jangan bersikap angkuh seperti itu, ternyata kau gampangan juga”
Woohyun membuka baju Sunggyu, membukanya kasar hingga
kancing-kancing kemejanya terlepas dari jahitannya. Di hadapannya sudah
tempapang tubuh mulus Sunggyu.
“?!!”
Sunggyu kaget, saat tangan itu menggenggam tangannya sangat kencang. Tatapan itu, amarah itu. Apalagi sekarang?
Sunggyu kaget, saat tangan itu menggenggam tangannya sangat kencang. Tatapan itu, amarah itu. Apalagi sekarang?
Tubuh Sunggyu bergetar, ia menangis dalam diam.
“Hiks...”
“Hiks...”
Ia menggigit bibirnya, menyembunyikan isakannya agar tidak keluar
lagi.
Woohyun melepaskan dirinya, Sunggyu menutup wajahnya dan
terisak.
“Cih! Dengan cara apapun, berapa lama pun menunggu. Semua sia-sia”.
“...”
Sunggyu sebenarnya tak begitu mengerti apa yang Woohyun bicarakan kepadanya, ia sedang sibuk menahan isakannya sekarang.
“Cih! Dengan cara apapun, berapa lama pun menunggu. Semua sia-sia”.
“...”
Sunggyu sebenarnya tak begitu mengerti apa yang Woohyun bicarakan kepadanya, ia sedang sibuk menahan isakannya sekarang.
“Mandilah, kalau kau butuh pakaian kau boleh mengambilnya di dalam
lemari”
Setelah suara itu, Woohyun melangkah keluar kamar. Ia menutup pintu dan meninggalkan Sunggyu.
Setelah suara itu, Woohyun melangkah keluar kamar. Ia menutup pintu dan meninggalkan Sunggyu.
.
.
.
.
.
“Kenapa tuan tidur disini?”, nyonya Lee menatap heran Woohyun.
Kini dirinya sedang tidur dan menutup matanya dengan salah satu
lengannya.
Sebenarnya Woohyun tidak dalam keadaan mengantuk sekarang, ia sedang malas berbicara sekarang. Bagus kalau nyonya Lee menganggapnya sedang tertidur. Ia tak mengerti, bagaimana ia bisa marah dan lepas kendali seperti ini. Apa yang harus dia katakan jika ia kembali menemui Sunggyu nanti.
Sebenarnya Woohyun tidak dalam keadaan mengantuk sekarang, ia sedang malas berbicara sekarang. Bagus kalau nyonya Lee menganggapnya sedang tertidur. Ia tak mengerti, bagaimana ia bisa marah dan lepas kendali seperti ini. Apa yang harus dia katakan jika ia kembali menemui Sunggyu nanti.
Nyonya Lee merasa bingung, ia pun menghampiri Sunggyu. Diketuknya
pintu itu, menunggu agak lama akhirnya Sunggyu membuka pintu juga.
“Kau tidak apa-apa? Kenapa kau tampak berantakan?”, tanya nyonya Lee.
“Aku baik-baik saja”, jawab Sunggyu dengan suara serak. Menangis tadi membuat tenggorokannya tak baik.
“Kau tidak apa-apa? Kenapa kau tampak berantakan?”, tanya nyonya Lee.
“Aku baik-baik saja”, jawab Sunggyu dengan suara serak. Menangis tadi membuat tenggorokannya tak baik.
“Maaf Bi, barusan saya mandi dan tidak mendengar Bibi memanggil.
Apa bibi sudah lama menunggu?”
“Tidak, hahaha”, Nyonya Lee tertawa renyah. Lalu wajahnya berubah sedikit khawatir.
“Tidak, hahaha”, Nyonya Lee tertawa renyah. Lalu wajahnya berubah sedikit khawatir.
“Woohyun tertidur di ruang tamu, kau tidak usah menunggunya
Sunggyu. Aku sudah berkali-kali membangunkannya tetapi ia tak bangun
juga”.
Kini Sunggyu diliputi rasa bersalah, bagaimana mungkin pemilik rumah tidur di sofa ruang tamu sedangkan ia malah tidur di tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman ini.
Kini Sunggyu diliputi rasa bersalah, bagaimana mungkin pemilik rumah tidur di sofa ruang tamu sedangkan ia malah tidur di tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman ini.
Sunggyu membawakan selimut dari kamar, dan ia menyelimuti Woohyun.
Ia melihat lelaki tampan itu cukup lama. Sepertinya ia sedikit mengerti, saat
ia membersihkan diri. Ia melihat dirinya di pantuan kaca, sebuah tanda keunguan
terlihat kontras di kulit lehernya. Mungkin Woohyun malu mempunyai teman
sepertinya, dan ia berpikir macam-macam terhadapnya.
Tak hanya selimut, ia juga membawa bantal dari kamarnya. Dengan
hati-hati ia mengangkat kepala pemilik rumah itu dan memberinya bantal di
bawahnya. Woohyun bergerak dan kini menghadap kesamping. Membuat posisi
senyaman mungkin.
Sunggyu tersenyum, Woohyun tampak sangat manis dan penurut saat
tidur. Berbeda saat ia selalu beradu argumen dengan dirinya saat
disekolah.
Sunggyu menguap, ia duduk di lantai samping sofa panjang yang ditiduri oleh Woohyun. Dengan sandaran sofa tersebut ia pun menutup mata sipitnya dan menyusul sang pemilik rumah ke alam mimpi.
Sunggyu menguap, ia duduk di lantai samping sofa panjang yang ditiduri oleh Woohyun. Dengan sandaran sofa tersebut ia pun menutup mata sipitnya dan menyusul sang pemilik rumah ke alam mimpi.
#Intimidation#
Woohyun terbangun, dan mendapati dirinya tertidur dengan bantal dan selimut. Merasa aneh, ia terbangun dan memikirkannya sejenak. Namun ia teralihkan sosok lelaki yang kemarin memintanya untuk menginap di rumahnya, melihatnya tertidur dalam keadaan seperti itu dia mengerti bahwa Sunggyulah yang memberinya kemarin malam.
Woohyun terbangun, dan mendapati dirinya tertidur dengan bantal dan selimut. Merasa aneh, ia terbangun dan memikirkannya sejenak. Namun ia teralihkan sosok lelaki yang kemarin memintanya untuk menginap di rumahnya, melihatnya tertidur dalam keadaan seperti itu dia mengerti bahwa Sunggyulah yang memberinya kemarin malam.
“Ugh!”, Sunggyu terbangun, ia mengucek matanya dan melihat ke arah
Woohyun. Mereka saling lihat sekarang.
“...”
“...”
Tak ada yang berbicara diantara mereka. Sunggyu sebagai tamu di
rumah ini tak ingin jika tuan pemilik rumah merasa tidak nyaman.
“Mandilah, kau sekolah hari ini. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu”, ujar Sunggyu dan berjalan menjauhinya. Ia menguap dan masih sedikit mengantuk, tapi ia tidak boleh sebagai parasit di rumah ini. Setidaknya ia harus membantu sebagai balas budi.
“Mandilah, kau sekolah hari ini. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu”, ujar Sunggyu dan berjalan menjauhinya. Ia menguap dan masih sedikit mengantuk, tapi ia tidak boleh sebagai parasit di rumah ini. Setidaknya ia harus membantu sebagai balas budi.
Sunggyu menuju dapur, disana sudah ada nyonya Lee sedang
bersiap-siap membuat sarapan.
“Bi, biarkan aku membantumu”.
“Kau sebaiknya siap-siap sekolah”, ujarnya.
“Eeeer~ aku tidak sekolah, Bi”, jawab Sunggyu ragu.
“Kau mau membolos? Dasar anak jaman sekarang...”, sindir nyonya Lee.
“Aniyaa~ bukan begitu, aku diskorsing seminggu ini”, jelas Sunggyu.
“Ada apa? Tampaknya sangat serius”, ujar nyonya lee.
Sunggyu tersenyum canggung, ia ragu mau menceritakannya apa tidak.
“Bi, biarkan aku membantumu”.
“Kau sebaiknya siap-siap sekolah”, ujarnya.
“Eeeer~ aku tidak sekolah, Bi”, jawab Sunggyu ragu.
“Kau mau membolos? Dasar anak jaman sekarang...”, sindir nyonya Lee.
“Aniyaa~ bukan begitu, aku diskorsing seminggu ini”, jelas Sunggyu.
“Ada apa? Tampaknya sangat serius”, ujar nyonya lee.
Sunggyu tersenyum canggung, ia ragu mau menceritakannya apa tidak.
“Tak apa jika kau tidak ingin menceritakannya. Bibi akan menunggu,
jika kau sudah siap”, ujarnya sambil tersenyum. Ia pun melanjutkan memotong
sayuran hijau dan wortel.
“Biar aku yang melakukannya!”, Sunggyu tampak semangat. Ia pun berakhir dengan membantu memotong-motong sayuran. Meski sebenarnya ia tak seberapa ahli, ia tak pernah menyentuh dapur selama ini.
“Biar aku yang melakukannya!”, Sunggyu tampak semangat. Ia pun berakhir dengan membantu memotong-motong sayuran. Meski sebenarnya ia tak seberapa ahli, ia tak pernah menyentuh dapur selama ini.
“Potongan sayurnya jelek”, ujar Woohyun saat mengambil sup
sayur.
“M-mianhae~”, hanya itu yang keluar dari ucapan Sunggyu.
Woohyun melihat ke arah Sunggyu, ia sedang berdiri di sebelah nyonya Lee. Ia tampak seperti budak, dengan kaos lusuh dan wajah yang ditekuk.
“M-mianhae~”, hanya itu yang keluar dari ucapan Sunggyu.
Woohyun melihat ke arah Sunggyu, ia sedang berdiri di sebelah nyonya Lee. Ia tampak seperti budak, dengan kaos lusuh dan wajah yang ditekuk.
Hey, Woohyun tidak menyuruhnya untuk berlaku seperti itu.
“Sunggyu, sini!”, Woohyun mengajak Sunggyu mendekatinya.
‘Apa dia akan memarahiku?’, ucap Sunggyu dalam hati.
“Nyonya Lee, kau bisa meninggalkanku sekarang”
“Baik tuan”
‘Apa dia akan memarahiku?’, ucap Sunggyu dalam hati.
“Nyonya Lee, kau bisa meninggalkanku sekarang”
“Baik tuan”
Grab~
Sret~
Woohyun mengajak pemuda manis itu duduk di sebelahnya.
“Hei, jangan menunduk seperti itu”, suara Woohyun melembut. Sunggyu dengan perlahan mengangkat kepalanya saat ia merasa tenang.
Sret~
Woohyun mengajak pemuda manis itu duduk di sebelahnya.
“Hei, jangan menunduk seperti itu”, suara Woohyun melembut. Sunggyu dengan perlahan mengangkat kepalanya saat ia merasa tenang.
Woohyun mengambilkan piring dan nasi, lalu memberikannya kepada
Sunggyu.
“Aku tidak memintamu menjadi pesuruh, jadi cepat makan denganku. Kau harus tahu berapa buruknya sop ini karena kau yang memasaknya”.
“Aku tidak memintamu menjadi pesuruh, jadi cepat makan denganku. Kau harus tahu berapa buruknya sop ini karena kau yang memasaknya”.
Sunggyu tersenyum, Woohyun tampak seperti biasanya. Ia bisa tenang
sekarang.
“Terimakasih, apa yang harus aku lakukan untuk membayar semua ini?”, tanya Sunggyu.
“Terimakasih, apa yang harus aku lakukan untuk membayar semua ini?”, tanya Sunggyu.
Glek!
Sunggyu menelan ludahnya, bukankah sudah jelas apa yang diinginkan Woohyun?
Apa dia sudah lupa dengan kejadian tadi malam?
Sunggyu menelan ludahnya, bukankah sudah jelas apa yang diinginkan Woohyun?
Apa dia sudah lupa dengan kejadian tadi malam?
Woohyun telah selesai makan. Ia mengelap bibirnya dengan
tisu.
“Kerjakan tugasku!”
“Huh?”
“Kerjakan tugasku selama seminggu ini, kau boleh menginap sesukamu”, ujar Woohyun singkat dan segera memakai tas ranselnya dan berangkat sekolah. Sunggyu tersenyum senang, ia tak menyangka setelah hari sialnya berlangsung. Ia mendapatkan keberuntungan.
“Kerjakan tugasku!”
“Huh?”
“Kerjakan tugasku selama seminggu ini, kau boleh menginap sesukamu”, ujar Woohyun singkat dan segera memakai tas ranselnya dan berangkat sekolah. Sunggyu tersenyum senang, ia tak menyangka setelah hari sialnya berlangsung. Ia mendapatkan keberuntungan.
Tanpa sepengetahuan Sunggyu, sang pemilik rumah tersenyum.
Jantungnya berdegup kencang saking senangnya.
TBC
Oke deh, sekian part 2 untuk hari ini. Aku gak jamin part 3 bakal selesai cepat karena aku kehabisan stok buat cerita selanjutnya. Kuharap review kalian buat aku semangat buat selanjutnya.
Seperti biasa, review juseyooo~
Oke deh, sekian part 2 untuk hari ini. Aku gak jamin part 3 bakal selesai cepat karena aku kehabisan stok buat cerita selanjutnya. Kuharap review kalian buat aku semangat buat selanjutnya.
Seperti biasa, review juseyooo~
No comments:
Post a Comment