NOTE : 1 kata, DAEBAKK !! XD
Mungkin latar emang cuman sekolahan yang kebanyakan authors bikin,
tapi ini ada sensasi cethar membahananya duhh ~ WooGyu banget dah !! xD
Biar alay, CIO ~~
Authornya Lia Nwh Inspirit (facebook) >>
Intimidation
Cast :
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Cho Kyuhyun
4. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst.
Rated : 17+
“Woohyun, sehabis ini ayo kita main sepak bola!”, Dongwoo
berteriak sangat keras sedetik setelah bel pulang sekolah berbunyi. Ia tampak
tidak sabar untuk bermain bersama teman-temannya.
“Cool! Ide bagus, aku ikut!”, Ujar Woohyun setuju. Ia memasang pose tangan menembak Dongwoo dengan cengiran lebar khas miliknya.
“Hoya, bagaimana denganmu?”, ajak Dongwoo dan melihat Hoya tampak bingung.
“Sunggyu-ssi, maukah kau ikut bermain denganku?”, tanya Hoya lembut.
“Cool! Ide bagus, aku ikut!”, Ujar Woohyun setuju. Ia memasang pose tangan menembak Dongwoo dengan cengiran lebar khas miliknya.
“Hoya, bagaimana denganmu?”, ajak Dongwoo dan melihat Hoya tampak bingung.
“Sunggyu-ssi, maukah kau ikut bermain denganku?”, tanya Hoya lembut.
Namja bermata sipit yang dipanggil Hoya tampak sibuk merapikan
buku miliknya. Ia terdiam sebentar hingga tugas membereskan bukunya selesai.
Lalu ia menatap Hoya, teman sebangkunya.
“Mian Hoya-ssi, besok adalah pelajaran matematika, aku ingin segera pulang dan belajar. Aku berharap bisa mendapat nilai bagus kali ini”, jelas Sunggyu.
“Sunggyu-ssi, kuharap kau bisa bermain lain kali denganku.”, ujar Hoya agak kecewa.
“Kau tidak perlu mengajaknya, Hoya”, Hoya langsung merasakan beban berat di pundaknya, saat sebuah lengan yang berotot merangkulnya.
“Tapi...”
“Lihatlah, dia selalu menolakmu setiap kau ajak bermain.”, Sindir Dongwoo.
“Mian Hoya-ssi, besok adalah pelajaran matematika, aku ingin segera pulang dan belajar. Aku berharap bisa mendapat nilai bagus kali ini”, jelas Sunggyu.
“Sunggyu-ssi, kuharap kau bisa bermain lain kali denganku.”, ujar Hoya agak kecewa.
“Kau tidak perlu mengajaknya, Hoya”, Hoya langsung merasakan beban berat di pundaknya, saat sebuah lengan yang berotot merangkulnya.
“Tapi...”
“Lihatlah, dia selalu menolakmu setiap kau ajak bermain.”, Sindir Dongwoo.
“Mian... Hoya, aku tidak ingin membuatmu kecewa. Tetapi kita
sekarang sudah di tingkat akhir SMA, aku ingin masuk Universitas yang aku
inginkan”, jelas Sunggyu.
“Cih! Obsesimu terlalu tinggi sipit!”, ejek dari suara bass mendatangi mereka.
“Aku tidak sepertimu Nam, yang bisa santai dengan nilai berbentuk kursimu itu”, ejek Sunggyu balik.
“Matematika pelajaran yang sulit, kau juga mendapatkan nilai kursi saat itu. Kau tahu, Sifat sok pintarmu itu sangat menyebalkan.”
“...”
“Cih! Obsesimu terlalu tinggi sipit!”, ejek dari suara bass mendatangi mereka.
“Aku tidak sepertimu Nam, yang bisa santai dengan nilai berbentuk kursimu itu”, ejek Sunggyu balik.
“Matematika pelajaran yang sulit, kau juga mendapatkan nilai kursi saat itu. Kau tahu, Sifat sok pintarmu itu sangat menyebalkan.”
“...”
Sunggyu terdiam, ia merasa kalah kali ini. Ia menggertakkan gigi
kelincinya. Memang benar, ia bisa mendapat nilai baik saat pelajaran, namun
hanya matematika yang membuat dirinya berjuang sia-sia. Merasa gemas dengan
pelajaran berhitung tersebut, ia malah tetap berusaha agar bisa mendapat nilai
bagus.
“Ck! Dasar orang membosankan, ayo kita pergi Dongwoo-Hoya!”, ajak
Woohyun dan ia melangkah duluan meninggalkan mereka. Sambil membawa tas samping
miliknya, ia berjalan ke pintu kelas dan keluar.
“Aku duluan Gyu”, pamit Hoya. Dongwoo hanya memberi isyarat pamit dengan menggerakkan telapak tangannya. Lalu ia kembali merangkul Hoya seperti tadi. Sunggyu menurunkan tangannya setelah membalas lambaian tangan Dongwoo dan tersenyum.
“Aku duluan Gyu”, pamit Hoya. Dongwoo hanya memberi isyarat pamit dengan menggerakkan telapak tangannya. Lalu ia kembali merangkul Hoya seperti tadi. Sunggyu menurunkan tangannya setelah membalas lambaian tangan Dongwoo dan tersenyum.
Sunggyu tiba-tiba berubah pikiran, ia tak ingin segera pulang ke
rumah kali ini. Ia tersenyum puas, ia berpikir bahwa idenya kali ini sangat
cemerlang.
.
.
@perpustakaan
Suasana sepi, tempat yang nyaman, AC ruangan yang dingin....
Kau sangat pintar Sunggyu.
Suasana sepi, tempat yang nyaman, AC ruangan yang dingin....
Kau sangat pintar Sunggyu.
Puji Sunggyu pada dirinya sendiri, setelah mencari-cari buku
matematika. Ia duduk dan mulai membacanya.
Menit demi menit berlalu
Menit berganti jam
Menit berganti jam
Sunggyu tampak menikmati dunianya sendiri
Hingga....
“Aaaarrggghhh... Kenapa aku tidak mengerti soal ini?! Dari tadi
aku mencobanya namun tidak menemukan hasilnya!”, kesal Sunggyu.
Sunggyu mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Dari lantai 2 dia bisa melihat teman-temannya sedang bermain sepakbola. Ia cekikikan saat melihat Woohyun bermain curang dengan memasukkan bola ke dalam bajunya dan membawanya hingga ke gawang. Membuat teman-temannya kesal dan menimpuknya dengan tubuh mereka semua, bagai kue lapis.
Sunggyu mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Dari lantai 2 dia bisa melihat teman-temannya sedang bermain sepakbola. Ia cekikikan saat melihat Woohyun bermain curang dengan memasukkan bola ke dalam bajunya dan membawanya hingga ke gawang. Membuat teman-temannya kesal dan menimpuknya dengan tubuh mereka semua, bagai kue lapis.
“Kyuhyun songsaenim, anda datang”, sebuah suara hangat dan
bersahabat terdengar oleh pemilik perpustakaan yang terkenal galak itu, Sunggyu
mendengus sebal. Ini Sungguh tidak adil, melihat bagaimana jahat dan kejam
petugas perpustakaan terhadap Sunggyu. Tetapi ia bisa sangat ramah pada Kyuhyun
songsaenim.
“Pak Kyuhyun!”, Sunggyu memanggil guru pelajaran yang sedang
ditekuninya sekarang. Ia membungkuk hormat.
“Ada apa Sunggyu-ssi?”
“Bisakah kau membantuku, ada beberapa soal yang tidak aku mengerti disini”, jelas Sunggyu dan membuka kasar buku yang dipegangnya.
“Ada apa Sunggyu-ssi?”
“Bisakah kau membantuku, ada beberapa soal yang tidak aku mengerti disini”, jelas Sunggyu dan membuka kasar buku yang dipegangnya.
“EHEM!!!”, Sebuah interupsi mengganggu kegiatan mencari soal
Sunggyu. Sunggyu menolah ke wanita berbadan besar yang suka mengomel itu.
“Mian... aku akan pelan-pelan”, ujar Sunggyu tersenyum. Meski di dalam hati ia terus mengumpat wanita besar ini.
“Mian... aku akan pelan-pelan”, ujar Sunggyu tersenyum. Meski di dalam hati ia terus mengumpat wanita besar ini.
“Untuk materi tentang integral tak tentu, bisakah bapak
mengulangnya kembali? Saat aku mencoba mengerjakan soalnya, selalu tidak
menemukan jawabannya”, jelas Sunggyu.
Guru tampan itu tersenyum, “Maaf Sunggyu-ssi, tapi sekarang aku ada urusan. Bagaimana jika kau ke rumahku nanti sore?”. Ajaknya.
Guru tampan itu tersenyum, “Maaf Sunggyu-ssi, tapi sekarang aku ada urusan. Bagaimana jika kau ke rumahku nanti sore?”. Ajaknya.
“Baik pak, dengan senang hati saya akan ke rumah bapak nanti
sore.”, jelas Sunggyu senang.
Sreeet~
Sunggyu langsung melepas genggaman tangan guru matematika saat beliau tiba-tiba berlaku aneh. Entah kenapa Sunggyu merasa gurunya melakukan hal yang tidak wajar. Namun disisi lain ia juga merasa bersalah telah berlaku kasar kepada gurunya tersebut.
Sunggyu langsung melepas genggaman tangan guru matematika saat beliau tiba-tiba berlaku aneh. Entah kenapa Sunggyu merasa gurunya melakukan hal yang tidak wajar. Namun disisi lain ia juga merasa bersalah telah berlaku kasar kepada gurunya tersebut.
“Maafkan saya pak, saya tidak bermaksud...”, ucapan Sunggyu
terhenti saat melihat guru matematikanya tersenyum nakal ke arahnya, apa hanya
perasaannya saja.
“Tak apa, kutunggu nanti sore Sunggyu-ssi”, ujarnya ramah dan segera pergi.
“Tak apa, kutunggu nanti sore Sunggyu-ssi”, ujarnya ramah dan segera pergi.
‘Mungkin hanya perasaanku saja’
.
.
.
Sunggyu mengirim pesan ke orang tuanya bahwa ia akan pulang saat
petang, karena sehabis dari perpustakaan ia menuju rumah guru matematikanya
tersebut. Ia malas untuk pulang ke rumah, lebih baik ia menunggu di
perpustakaan hingga sore dan ke rumah beliau.
Saat Sunggyu keluar, ia melihat teman-temannya duduk di pinggir
lapangan. Mereka sibuk mengelap keringat, mendinginkan badan dan juga rebutan
minuman.
“Hai Gyu, sudah selesai belajarnya?”, sapa Hoya. Dan Sunggyu hanya mengangguk.
“Kau akan pulang? Mau pulang bareng denganku?”, ajak Woohyun. Sunggyu mendesis.
“Ck! Sejak kapan kau mau mengantarku? Katakan, apakah kau punya motor baru dan hendak pamer kepadaku?”
“Hai Gyu, sudah selesai belajarnya?”, sapa Hoya. Dan Sunggyu hanya mengangguk.
“Kau akan pulang? Mau pulang bareng denganku?”, ajak Woohyun. Sunggyu mendesis.
“Ck! Sejak kapan kau mau mengantarku? Katakan, apakah kau punya motor baru dan hendak pamer kepadaku?”
“Eeeeeeyyy~”, semua orang disana menggoda mereka berdua. Woohyun
menggaruk tengkuknya.
“Baiklah, aku berubah pikiran! Aku malas mengantarmu!”, ujar Woohyun kesal.
“Meskipun kau memaksaku, aku akan menolak. Aku akan mengunjungi Kyuhyun Songsaenim sore ini”, jelas Sunggyu.
“Ada perlu apa?”, Nada Woohyun tiba-tiba berubah, ia menatap Sunggyu dengan wajah yang tampak serius. Entah kenapa, Sunggyu merasa takut terhadap Woohyun.
“B-belajar matematika....”, Sunggyu mengumpat dalam hati saat ia ketahuan gugup
“Baiklah, aku berubah pikiran! Aku malas mengantarmu!”, ujar Woohyun kesal.
“Meskipun kau memaksaku, aku akan menolak. Aku akan mengunjungi Kyuhyun Songsaenim sore ini”, jelas Sunggyu.
“Ada perlu apa?”, Nada Woohyun tiba-tiba berubah, ia menatap Sunggyu dengan wajah yang tampak serius. Entah kenapa, Sunggyu merasa takut terhadap Woohyun.
“B-belajar matematika....”, Sunggyu mengumpat dalam hati saat ia ketahuan gugup
“Ada soal yang tidak kumengerti, aku menanyakannya kepada beliau
dan ia mengatakan sibuk. Jadi ia bisa sore ini, aku akan mendatangi rumahnya.
Kenapa? Kau cemburu??”, Sunggyu berucap dengan sangat panjang. Namun
kelihaiannya dalam berbicara membuatnya berkata hal yang membuat keadaan
menjadi canggung.
Ia melirik ke arah Woohyun, arah tatapannya semakin tajam.
“Aku ingin pulang”, ujarnya dan segera pergi membawa tas miliknya. Semua orang terdiam disana.
“Aku ingin pulang”, ujarnya dan segera pergi membawa tas miliknya. Semua orang terdiam disana.
“Gyu...”
“Apa?”
“Berhati-hatilah, kau tahu kan Min-ah dari kelas B. Ia pindah sekolah karena berurusan dengan Kyuhyun songsaenim. Katanya Min-ah yang menggodanya, tapi aku tidak tahu lebih jelasnya”, jelas Hoya pelan.
“Apa?”
“Berhati-hatilah, kau tahu kan Min-ah dari kelas B. Ia pindah sekolah karena berurusan dengan Kyuhyun songsaenim. Katanya Min-ah yang menggodanya, tapi aku tidak tahu lebih jelasnya”, jelas Hoya pelan.
Sunggyu tertawa, “Hey, aku ini laki-laki. Aku bisa menjaga diriku
sendiri”.
“Tapi kau cantik dalam ukuran pria”, tambah Dongwoo membuat Sunggyu tiba-tiba menjadi kesal.
“Tapi kau cantik dalam ukuran pria”, tambah Dongwoo membuat Sunggyu tiba-tiba menjadi kesal.
Pletak!
Sunggyu memukul kepala Dongwoo, suasana mencair saat semua orang disana tertawa melihat Dongwoo yang kesakitan. Sunggyu menoleh ke arah dimana Woohyun tadi pergi, ia menghela nafas.
Sunggyu memukul kepala Dongwoo, suasana mencair saat semua orang disana tertawa melihat Dongwoo yang kesakitan. Sunggyu menoleh ke arah dimana Woohyun tadi pergi, ia menghela nafas.
“Cih, kalian semakin mengada-ada. Lebih baik aku segera pergi dari
sini”. Ujar Sunggyu sebelum menyapa mereka semua dan melambaikan tangan.
Siapa tahu bahwa itu adalah raut wajah bahagia terakhir Sunggyu.
@Cho Kyuhyun’s house
Sunggyu tampak serius mengerjakan soal yang dapat ia kerjakan ketika sang guru keluar untuk mengambil minuman untuknya. Tak berselang lama, guru berawakan kurus tinggi itu kembali dengan 2 gelas jus jeruk di tangannya.
Sunggyu tampak serius mengerjakan soal yang dapat ia kerjakan ketika sang guru keluar untuk mengambil minuman untuknya. Tak berselang lama, guru berawakan kurus tinggi itu kembali dengan 2 gelas jus jeruk di tangannya.
“Makasih pak”, ujar Sunggyu langsung meminum setengah dari isi
gelas tersebut.
“Ah... ini menyegarkan pak”, ujar Sunggyu sekedar berbasa-basi. Ia
meletakkan gelas tersebut dan kembali fokus ke buku miliknya.
“Jadi, pak... bagaimana soal nomer dua ini?”
Guru tersebut segera mengambil bulpen yang ada di tangan Sunggyu dan mengerjakannya, Sunggyu mengikutin arah goresan bulpen itu di buku miliknya. Bibir tipisnya membentuk huruf ‘O’ tanda mengerti.
Guru tersebut segera mengambil bulpen yang ada di tangan Sunggyu dan mengerjakannya, Sunggyu mengikutin arah goresan bulpen itu di buku miliknya. Bibir tipisnya membentuk huruf ‘O’ tanda mengerti.
“Sudah mengerti?”
Sunggyu tersenyum, matanya yang sipit membentuk sebuah garis lurus. Ia mengangguk.
Sunggyu tersenyum, matanya yang sipit membentuk sebuah garis lurus. Ia mengangguk.
“Ada lagi?”
“Ini...”, tunjuk Sunggyu di nomer 7, seperti tadi. Guru muda itu mengerjakannya lagi. Sunggyu berdecak kagum.
“Ini...”, tunjuk Sunggyu di nomer 7, seperti tadi. Guru muda itu mengerjakannya lagi. Sunggyu berdecak kagum.
“Woooaah~ Anda hebat pak!”, puji Sunggyu.
“Ada lagi?”
“Hmmm... kurasa tidak pak, yang lain caranya sama yang bapak ajarkan barusan. Saya biar mencobanya sendiri”, jelas Sunggyu dan kembali fokus ke soalnya.
“Ada lagi?”
“Hmmm... kurasa tidak pak, yang lain caranya sama yang bapak ajarkan barusan. Saya biar mencobanya sendiri”, jelas Sunggyu dan kembali fokus ke soalnya.
Sreeet~
“Bagus kalau kau mengerti”
Sunggyu menghentikan kegiatannya, menatap sang guru yang kini memegang tangannya.
Sunggyu menghentikan kegiatannya, menatap sang guru yang kini memegang tangannya.
Deg!
Jantungnya berhenti berdetak saat tangan satunya meyentuh paha miliknya. Meraba halus di atas celana sekolah, Sunggyu.
“P-pak?”, Sunggyu gugup. Ia tak tahu apa yang harusnya ia lakukan.
Jantungnya berhenti berdetak saat tangan satunya meyentuh paha miliknya. Meraba halus di atas celana sekolah, Sunggyu.
“P-pak?”, Sunggyu gugup. Ia tak tahu apa yang harusnya ia lakukan.
“Kau tidak gerah memakai baju seragam ini, seharian pasti sudah
bau keringat”. Kini... tangan yang menggenggam tangan Sunggyu berpindah ke
kerah baju Sunggyu, lalu turun dan menyentuh kancing yang masih tertutup itu,
dengan pelan dan hati-hati membuka kancing tersebut. Sunggyu menelan ludahnya
kasar, tubuhnya tidak bisa bergerak sekarang.
TBC
Aku post dulu yang udah aku tulis. Mungkin setelah melihat komenan
kalian membangkitkan semangat buat menulis. #modus hehehehe
Review Juseyooo~
Review Juseyooo~
No comments:
Post a Comment