Saturday, March 26, 2016

Review - My Lovely Fiance (Chapter 2)

My Lovely Fiance | part 2 | by member Initial R

Sunggyu melirik ke arah jiae dan woohyun, sunggyu
membulatkan matanya saat melihat jiae yang sengaja menggenggam tangan kanan
woohyun. ‘Benar-benar tak bisa dibiarkan!’ umpat sunggyu dalam hati. sunggyu
benar-benar berang kali ini, ia siap menyemprot perempuan tak tahu diri itu
sebelum ponselnya kembali bergetar. Dengan kesal ia melihat pesan masuk disana.

From : Jongie

“Tahan emosimu dan jangan permalukan dirimu dihadapan
teman-teman woohyun”

                                                

Sunggyu merengut tak suka dan menghempaskan tangan
woohyun yang sedari tadi menggenggam tangannya di balik meja. Meski lelaki itu
sempat kaget namun sunggyu tak ambil pusing dan malah berdiri dengan acuh.

“aku akan pulang
duluan. Kajja jongie-ah, park sonsaengnim memberi kita PR yang banyak bukan?”

Ujarnya cepat lalu menarik tas nya yang di slempangkan
woohyun di sisi kursinya. Sungjong dengan cepat mengejar sunggyu sebelum gadis
itu benar-benar menangis disepanjang jalan.



~oOo~

TITLE                         : MY LOVELY FIANCE  (CHAP 2)

CAST                          : NAM WOOHYUN (N) KIM
SUNGGYU (Y) KIM KIBUM (Y) LEE HOWON (N) LE SUNGJONG (Y) JANG DONGWOO (N)

RATED                       : T+

GENRE                       : ROMANCE,SAD,GS

WARNING                  : INI ADALAH  REMAKE DARI FF KYUMIN DENGAN JUDUL YANG SAMA
KARYA AUTHOR “CHO OCEAN” DI FFN. JADI KALAUPUN ADA YANG PERNAH BACA VERSI
KYUMINNYA, JANGAN MENGHUJAT SAYA SEORANG PLAGIAT YA. SAYA SUDAH MEMINTA IJIN KE  AUTHORNYA
UNTUK MEREMAKE INI MENJADI VERSI WOOGYU KOK. SATU LAGI INI MASIH SAH
ATAS HAK CIPTANYA AUTHOR ‘CHO OCEAN’ SAYA HANYA MEMINJAM CERITANYA UNTUK
DIGANTI CAST WOOGYU.

~oOo~



Sepeninggal sunggyu dan sungjong woohyun berpamitan sebentar
ke teman-temannya untuk menemui sunggyu.

“Oppa!” woohyun berbalik dan melihat
sungjong yang memangdangnya dengan pandangan kalut.

“Dimana
sunggyu?”

tanyanya to the point.

“Dia Menunggumu
Di Parkiran. Oppa, Sunggyu Menangis Bagaimana Ini?”

“Baiklah aku
mengerti, bisakah kau mengajaknya pulang? Maksudku Aku ada janji dengan jiae
untuk mengantarkannya ke rumah sakit karena ibunya sakit. aku tidak bisa
mengantar sunggyu pulang, jadi bisakah kau menolongku?”  
woohyun memegang kedua bahu sungjong, saat gadis itu tak
bersuara untuk mengiyakan permohonannya.



“Tidak perlu
woohyun-ssi, aku sudah mendengar semuanya. Geurae, seperti yang kau minta, aku
akan pulang dengan sungjong” 
sungjong
dan woohyun cepat menolehkan kepalanya saat mendengar suara sunggyu di balik
tubuh ramping sungjong. “kajja
sungjong-ah. Aku rasa aku akan menginap di rumahmu malam ini. karena sepertinya
aku sangat merepotkan tunanganku selama ini”
 sindirnya sarkastik, woohyun
melirik sunggyu sekilas, ia tak bisa berkomentar banyak selain menatap sendu
kearah sunggyu. sedangkan sunggyu sendiri, seperti dirinya sudah sangat kebas
merasakan sakit hati dengan woohyun sedari kemarin. Ia ingin menghindari
bertemu ataupun berbicara dengan woohyun.

Dirinya sudah sangat sakit mendengar pernyataan langsung
dari tunangannya tersebut yang tak bisa mengantarkannya pulang –hanya- karena
sebuah janji dengan wanita pengganggu itu. sebenarnya siapa disini yang
berstatus sebagai tunangan dan teman woohyun?

“Jja, pulanglah
dengan sungjong eum? Hati-hati dijalan. Aku akan menjemputmu setelah urusanku
selesai”

“Tidak perlu!”

“Tidak apa-apa
aku akan menjemputmu”

“Kubilang tidak
perlu! Apa kau tak dengar?!”

“Terserah,
pulanglah sekarang. Hari sebentar lagi akan gelap”
 sunggyu menggeram namun tak membalas
perkataan woohyun lagi. dengan langkah kesal ia meninggalkan pelataran parkir.

“Oppa! Apa yang
kau lakukan?! Kau membuatnya marah!”
 maki sungjong, tak terima sahabatnya diperlakukan tak
adil oleh tunangannya sendiri. “Kau
keterlaluan! Pantas saja sunggyu selalu menangis saat disekolah! Tidak kau,
tidak sungyeol semuanya sama saja! Kenapa kalian suka sekali menyakitinya?!” 
dengan
berapi-api sungjong memuntahkan semua kata-katanya. Sementara woohyun hanya
diam tak berniat membalas ataupun menyanggah kata-kata kasar sungjong.

Bagi lelaki dewasa sepertinya, hal seperti ini bukanlah
masalah yang perlu di besar-besarkan.



~oOo~

Woohyun bersiap pulang ke rumahnya setelah selesai
menandatangani berkas pentingnya untuk rapat besok. Ia merogoh saku celananya
untuk mengambil benda persegi empat miliknya lalu mengetikkan sebuah pesan
singkat disana.

To : lee sungjong

“apa sunggyu masih disana?” woohyun menimang-nimang sebentar
ponselnya, sambil menunggu sebuah balasan dari sungjong. Tak berapa lama
ponselnya bergetar.

From : lee sungjong

“biarkan dia disini! dia sudah tidur!” woohyun mencium nada
kemarahan dari pesan balasan sungjong. Ia terkekeh sebentar lalu kembali
menuliskan pesan balasan ke sungjong.

To: lee sungjong

“aku akan menjemputnya sebentar lagi, tolong bereskan
barang-barangnya”

Setelah memencet send, woohyun cepat menyambar tas,jas
dan kuci mobilnya. Ia menginjak pedal gas nya setelah memasuki mobilnya dan
pergi ke rumah sungjong untuk menjemput sunggyu disana.



~oOo~

TINGTONG! TINGTONG!

“Iya sebentar!” terdengar suara sungjong dari
dalam.

CKLEK!

“Dimana dia?” sungjong memutar bola matanya
malas.

“Dia tidur
dikamarku, kelelahan sehabis menangis” 
woohyun tersenyum getir lalu membawa
langkahnya memasuki rumah sungjong dan menaiki anak tangga yang akan membawanya
bertemu sunggyu.

Sungjong mengikuti woohyun dari belakang, jujur saja ia
masih sangat sakit hati mengingat kejadian siang tadi. Untuk kali ini ia berada
di pihak sunggyu.

 Dilihatnya woohyun
yang masih memandangi wajah terlelap sunggyu.

“Ehem!” woohyun membalikan badannya,
dan tersenyum kearah sungjong.

“Terima kasih
sudah menjaganya, aku akan membawanya pulang”

“Cih, terima
kasih? Setidaknya aku masih mempunyai hati yang masih mau menampung seorang
gadis yang di sakiti tunangannya sendiri”

“Geurae, kami
pulang dulu” 
woohyun
membopong tubuh mungil sunggyu dan membawa tas sunggyu di tangan bawahnya yang
menahan beban berat badan sunggyu.

“Tunggu!” sungjong menahan pergerakan
woohyun. “jangan membuatnya menangis
lagi, kali ini aku maafkan kesalahanmu padanya tetapi lain kali aku tidak akan
segan-segan membuatmu menderita jika menyakitinya”

“Aku mengerti,
baiklah kami pulang dulu”

Selama perjalanan pulang woohyun terus saja memperhatikan
sunggyu yang tertidur pulas disampingnya, woohyun mengelus pipi dan kepala
sunggyu dengan sayang.

“Maafkan aku
sayang” 
lirih
woohyun kemudian menaruh fokusnya kembali pada menyetirnya.

 Jam menunjukkan
pukul 10 malam dan jalanan sudah sangat sepi sehingga woohyun bisa cepat sampai
di rumahnya. Ia mematikan mesin mobilnya kemudian keluar dan menggendong
sunggyu ala bridal style untuk sampai di lift yang akan membawanya ke lantai 14
tepat dimana apartemennya berada.

Setelah menekan digit kode apartemennya, ia segera
membawa tubuh lelap sunggyu kedalam kamarnya (kamar sunggyu). direbahkannya
badan mungil itu dengan hati-hati diatas kasur, woohyun kemudian menaruh tas
sunggyu diatas meja belajarnya.

Lalu ia berjalan kearah lemari putih polos didalam sana,
mengambil beberapa potong piyama untuk ia pakaian ke sunggyu. dengan telaten
dan hati-hati woohyun membuka semua kain yang melekat di tubuh sunggyu selain
pakaian dalam gadis itu. ia sudah sering melakukannya jadi ia sudah terbiasa
kalau-kalau harus melakukannya tanpa canggung.

Sunggyu memang sering lupa mengganti bajunya dengan
piyamanya ketika tidur, itulah mengapa woohyun sudah sangat terbiasa dengan hal
seperti ini. tak sedikitpun woohyun bernafsu atas ini, ia melakukannya karena
sunggyu dan tidak akan berbuat macam-macam pada gadis itu.

Bukan karena tidak mencintainya,  justru karena woohyun sangat mencintai
sunggyu dan menjaga sunggyu dengan hati-hati maka dari itu ia menekan semua
nafsunya saat bersama dengan sunggyu. sampai ia
bisa mengendalikan nafsunya akan sunggyu. dan lagi-lagi karena woohyun
sangat mencintai sunggyu.

Setelah selesai memakaikan piyamanya, woohyun memandang
wajah polos sunggyu saat tertidur, guratan kesedihan terlihat jelas dari wajah
manis gadisnya meski mata sipit itu terpejam.
Woohyun menyibakkan poni di dahi sunggyu lalu mencium kening itu lama.
Mengecupnya dengan penuh perasaan sebelum melepas kecupan itu dan bangkit dari
duduknya. Menyelimuti sunggyu sampai sebatas dada dan membawa langkahnya
menjauh dari ranjang sunggyu untuk membawa pakaian kotor itu kedalam ranjang
khusus pakaian-pakaian kotor milik sunggyu yang terdapat disisi depan pintu
kamar mandi.

Setelah memastikan keadaan dikamar sunggyu, woohyun
mematikan saklar lampu kamar itu. dan membawa dirinya untuk memasuki kamarnya
sendiri.



~oOo~

Sinar mentari sudah mulai naik dari peraduannya, sinarnya
yang menyilaukan membuat gadis sipit itu terbangun dari tidurnya. Sunggyu
menggeliatkan badannya, merentangkan otot-ototnya. Ia membuka matanya perlahan
dan  memastikan keadaan di sekeliling. Ia
terkejut saat tahu-tahu ia sudah berada di kamarnya sendiri.

“kapan aku
pulang?” 
sunggyu
menengok kesana kemari mencari tasnya. Ia langsung beranjak dari tidurnya dan
mengambil sesuatu dari dalam sana.

Ia mencari ponselnya dan setelah menemukannya ia langsung
melihat ada pesan dari sungjong yang masuk.

From : jongie

“tadi malam woohyun menjemputmu dan membawamu pulang.”

Sunggyu meletakkan ponselnya diatas meja belajar tanpa
minat untuk membalas pesan dari sungjong. Sekarang sunggyu bingung apa yang
harus ia lakukan. Sungguh ia masih belum siap bertemu dengan woohyun, tak tahu
harus bagaimana.

Sunggyu melangkah kedalam kamar mandinya setelah
mengambil beberapa pakaian ganti dan handuknya. Ia berniat untuk memikirkan hal
itu nanti setelah ia selesai mandi.



Setelah selesai mandi, sunggyu duduk bersila diatas
ranjangnya. Sebenarnya dia lapar tapi jika dia keluar pasti dia akan bertemu
dengan woohyun. dan dia belum mau untuk melihat wajah menyebalkan milik
tunangannya itu.

Sunggyu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Yeoboseo”

“jongie, kau
sedang apa?”

“aku sedang bersantai dan kau menggangguku!” sunggyu mengerucutkan
bibirnya sebentar.

“Jongie-ah
kesinilah dan temani aku”

“kan ada woohyun”

“issh! Kau lupa
kemarin kan aku marah padanya. Aku tidak mau melihat mukanya apalagi
berinteraksi dengannya, makanya kau kesinilah” 
rengek sunggyu kelewat manja nya yang
terdengar menyebalkan bagi sungjong di sebrang sana.

“mulai lagi sifat kekanakanmu, masalah itu harus dihadapi
bukan dihindari!”
 sunggyu merengut tak suka dan
meremas-remas gulingnya. Ayolah untuk kali ini saja ia butuh sungjong untuk
menemaninya dan membawanya pergi dari sini.

“Jongie! Kau
tega padaku!” 
terdengar
helaan nafas dari sebrang sana.

“kau lebih tega jika membuatku harus bercapek-capek
meninggalkan masa bersantaiku demi menemuimu sekarang”

“kau memang
menyebalkan! Teman macam apa kau! Aku lapar tauuu!” 
adu sunggyu yang keceplosan.

“apa? Jadi kau sengaja menyuruhku kesana supaya aku
membawakanmu makanan?”

“tidak usah
dibahas, kau kan tidak mau!”

rajuk sunggyu dan menekankan setiap kalimatnya.

“memang aku tidak mau, lagipula apa woohyun tidak memasak
untukmu? Katamu masakannya selalu enak dan cocok di lidahmu. Kenapa kau tak
meminta saja kepadanya untuk membuatkanmu sebuah ramen yang sangat enak”
 goda sungjong terdengar
cekikikan di sebrang sana. Sunggyu mendnegus sebal dan melempar gulingnya ke
lantai.

“ Kau
menyebalkan! Aku membencimu! Aku marah!!!”

PIP!

Sunggyu mematikan panggilannya secara sepihak.
Benar-benar menyebalkan mempunyai teman seperti sungjong, kata-kata yang keluar
dari mulutnya selalu menyebalkan dan panas di pendengaran.

Kruuuk~ Krruuuk~

Sunggyu memegangi perutnya yang berbunyi dan nyeri karena
belum makan apa-apa setelah pulang dari cafe kemarin. Lagipula kenapa kemarin
saat ia ditawari makan siang yang enak oleh woohyun ia menolak? Ah kau
benar-benar bodoh gyu! Runtuknya sendiri dalam hati.

Sunggyu pov

Aku harus bagaimana sekarang? Aku lapaaar tapi aku tidak
mungkin keluar sekarang. Bisa-bisa aku bertemu dengan woohyun. andwe! Tapi aku
tidak mungkin menunggu disini sampai ia tidak ada di luar. Itu mustahil, memang
akan kemana lagi ia hari libur begini jika tidak di rumah mengerjakan
pekerjaannya? Ah menyebalkan sekali mempunyai tunangan sepertinya. Sudah tidak
peka dan bersikap semaunya. Kalau ia merasa bersalah seharusnya ia datang ke
kamarku dan membawakanku makanan. Meskipun nantinya aku menolak, dia harus
berusaha membujukku untuk makan. Tapi apa yang sampai saat ini ia lakukan?

Bahkan sekarang sudah jam 10 pagi, aku benar-benar
laparrr.

Ck! Kalau aku tak terlalu mencitainya mungkin aku sudah
menyusul orang tua ku di china.

Aku sudah tak tahan lagi! aku bangkit dari dudukku dan
memutar gagang pintu kamarku dengan hati-hati. Waspada jika-jika woohyun
mendengar semua pergerakanku.

CKLEK~

Ku geser pintu kamarku dengan sangat pelan. Saat pintu
kamar terbuka ku lihat ke sekeliling.

“kenapa sepi?
Apa woohyun pergi?” 
bukankah
ini kesempatan? Woohyun tidak ada di rumah itu artinya aku bisa makan
sepuasnya.

Tanpa pikir panjang aku segera berlari kearah meja makan.
Namun langkahku terhenti saat melihat  woohyun sudah duduk di kursi yang berjarak 5
langkah di depanku. Dengan muka memerah ku palingkan wajahku. Pasti dia
menertawanku yang berlari mengira ia tak ada di rumah. Menyebalkan sekali,
kenapa dia harus disitu sih? Aku kan jadi tak melihatnya tadi! Menyebalkan!

“kau sudah
bangun?” 
kudengar
ia bertanya sambil memakan makanannya.

heum” jawabku
singkat.

 Kulihat woohyun
yang berjalan kearah kulkas. Mungkin dia akan mengambil minuman dari sana. Dan
benar saja, saat kulihat lagi dia duduk ke kursinya dengan air mineral di
tangannya.

 “kenapa masih disana? Kau tak mau makan?” woohyun menghentikan acara
makannya dan menatapku.

“tidak lapar!” jawabku sangsi dan membuang
tatapanku. Kenapa dia harus menatapku seperti itu sih? Membuatku ingin
memeluknya saja! Ihh!

“yasudah kalau
begitu”
 apa?
Dia masih bisa makan sedangkan aku disini kelaparan karenanya?! Kenapa dia tak
menawariku lagi? meskipun aku mengatakan tak lapar setidaknya ia memaksaku
untuk tetap makan. Bagaimana jika aku pingsan karena kelaparan? Apa ia tak
memikirkan sampai kesana?

Ini menyebalkan! Meminta maaf karena kejadian kemarin
saja tidak! Menyebalkan! Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Baiklah lebih
baik aku pergi ke kamarku daripada kepergok menangis disini.

Aku membalikkan badanku dan berjalan dengan cepat kearah
kamarku. Aku berharap dia memanggilku dan mengajakku makan bersama. Tapi
setelah 3 langkah aku berjalan dia tak juga memanggilku, aku membalikkan
badanku untuk melihatnya lagi dan saat aku melihatnya ternyata dia sedang makan
dengan lahapnya.

Benar-benar! Dasar namja tak peka! Apa benar ia
mencintaiku? Kenapa sikapnya seakan tak peduli
padaku? Dasar menyebalkan!

Aku memasuki kamar dan membanting pintu dengan keras.

BRAAAKK!

Aku sengaja melakukannya biar dia mendengarnya dan sadar
jika aku marah dengannya. Kesal sekali rasanya diperlakukan seperti itu oleh
tunanganmu sendiri. Jika sedari awal ia tak mencintaiku buat apa ia mengajakku
bertunangan?

Aku menenggelamkan wajahku di bantal. aku menangis
memikirkannya. Perasaanku hancur dan kesal ditambah lagi rasa lapar yang
membuatku ingin marah-marah. Ini memuakkan!

Sunggyu pov end



BRAAAKK!

Woohyun berjengit kaget saat mendengar suara pintu kamar
sunggyu yang terbanting keras. “ada apa
lagi dengannya?”
 gumam woohyun. namun woohyun tak mengambil pusing, ia
tetap melanjutkan makannya namun tiba-tiba ponsel di atas meja makan itu
bergetar. Mau tak mau ia menghentikan aktivitas makannya dan mengangkat telpon
yang ternyata dari dongwoo.

“Hmm” sapanya malas

“Hyun, apa kau dirumah?”
balas dongwoo
di sebrang sana. Woohyun mengelap permukaan bibirnya dengan tissue sebelum
mengambil sebotol air mineral dan meminumnya.

“ada apa?” ujarnya setelah selesai
minum.

“aku, soeryong hyung dan jiae sedang dalam perjalanan ke
rumahmu!”
 woohyun terkejut karena dongwoo
memberitahunya secara tiba-tiba.

“apa? Kenapa
mendadak sekali?”

“sudah jangan frustasi begitu, ya sudah ku tutup
telponnya. Sampai bertemu lagi di apartemenmu”

PIP!

Woohyun mencibir saat mendengar dongwoo mengakhiri
pembicaraan mereka secara sepihak.

Woohyun membawa piring kotor bekas makannya ke bak cuci
piring. Setelah selesai ia berniat untuk mengganti pakaiannya, namun saat
melewati kamar sunggyu. ia kembali teringat oleh sunggyu yang membanting
pintunya dengan keras tadi.

Woohyun meraih knop pintu itu berniat membuka pintu kamar
sunggyu .

CEK CEK CEK

“kenapa
dikunci?”

woohyun mengetok-ngetok pintu kamar sunggyu namun tak ada jawaban.

“sudahlah
mungkin dia sedang tidur. Tapi bukankah dia sudah bangun tadi?” 
woohyun mengedikkan bahunya
dan melanjutkan lagi langkahnya ke kamar.

~oOo~



“eunghhh” sunggyu melenguh setelah
tertidur di ranjangnya. Ia mengerjapkan matanya pelan dan menguceknya sambil
mendudukkan tubuhnya. Sedikit pusing karena lelah menangis tadi, setelah
pusingnya berkurang ia melihat ke jam dindingnya.

“jam 1? Apa aku
tertidur selama itu?”

Sunggyu bangkit dan membawa langkahnya ke kamar mandi.
Membasuh wajah kusutnya dan kembali ke atas tempat tidurnya. Berniat tidur lagi
namun.

KRRUUUKK~ KRUUUKK~

Bunyi nyaring yang berasal dari perutnya sama sekali tak
tertolong. Sunggyu meremas perutnya yang terasa semakin perih.

“Eommmaa!! Aku
laparrr” 
ia
berdiri dari duduknya dan memandangi wajahnya di cermin. Ia cemberut melihat
matanya yang sembab dan terlihat jelek jika dilihat. “aku menyeramkan sekali” lirihnya dan menekuk wajahnya “ini semua gara-gara namja tak peka itu!
menyebalkan!”

Karena rasa lapar yang tak tertahankan lagi, akhirnya
sunggyu memberanikan diri untuk keluar kamarnya.

Saat sunggyu berjalan menuju dapur dia berpas-pasan
dengan jiae dan itu cukup membuatnya terkejut setengah mati. Sedangkan jiae
sendiri hanya menatap sunggyu dari atas sampai bawah tanpa minat. Ia berdecih
memandang sunggyu dan berlalu begitu saja.

“untuk apa
wanita itu kemari?” 
umpat
sunggyu dongkol.

Sebenarnya ia ingin mencari tahu namun sekarang bukan itu
urusan utamanya. Ia ingin  makan sebelum
mencari tahu kebenaran mengapa jiae bisa ada disini. Saat sunggyu melihat meja
makan ternyata yang tersisa hanya sisa-sisa piring kotor bekas makanan. Sunggyu
semakin kesal melihat itu. ia berjalan menuju ruang TV dan dilihatnya woohyun
yang sedang mengobrol-ngobrol dengan dongwoo, soeryong dan jiae yang duduk
menempel dengan woohyun.

“Oh, kau sudah
bangun?”

woohyun melihat sunggyu yang sudah berdiri di depan mereka dengan tatapan
menakutkan.

“siapa yang
menghabiskan makanannya?” 
tanya
sunggyu dengan dingin.

“Oh tadi aku
makan berdua dengan dongwoo oppa, wae?” 
jawab jiae tanpa beban dan menatap
menantang ke arah sunggyu.

“kenapa sayang?”
tanya woohyun
sambil berdiri dari duduknya mencoba mendekati sunggyu namun sunggyu menjauhkan
badannya dengan mata berkaca-kaca membuat woohyun,dongwoo dan seoryong bingung
sedangkan jiae hanya bersikap acuh.

“aku laaapppaar!
Aku belum makan apapun sejak kemarin! Aku hampir mati menahan lapar! Kau
menyebalkan! Hiks!

Sunggyu berlari ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan keras.

BRAAKKK!

“Omo, anak itu
kasar sekali menutup pintu. Apa kau tak salah memilih tunangan hyun?”
 ucap jiae dengan nada
mengejek, sedangkan dongwoo yang merasa bersalah karena ikut-ikutan
menghabiskan makanan pun ikut membuka suara.

“sebaiknya kau
bujuk sunggyu, hyun. Aku akan memesan makanan cepat saji untuknya” 
soeryong sendiri hanya diam
seraya memperhatikan ketiga orang di sebelahnya. Woohyun melangkahkan kakinya
menuju kamar sunggyu.

CEKLEK

“sayang~”woohyun menghampiri sunggyu
yang duduk di atas ranjangnya sambil menangis.

“sudah jangan
menangis lagi, hanya masalah makanan, dongwoo hyung sedang memesankanmu
makanan” 
sunggyu
bungkam tanpa niat membalas ucapan woohyun. dengan perlahan woohyun menggendong
sunggyu agar duduk diatas pangkuannya dan menenggelamkan wajah berurai air mata
itu jatuh kedalam pelukannya. kalau orang lain melihat maka mereka persis
seperti ayah yang sedang menenangkan bayi nya yang sedang menangis.

“uljima, hanya
masalah makanan kenapa sekesal ini Hmm?” 
woohyun menghapus sisa-sisa air mata
sunggyu dengan kedua belah ibu jarinya. Sunggyu memukul-mukul dada woohyun,
namun woohyun tetap diam. Biarlah sunggyu menyalurkan kekesalannya lewat
pukulan-pukulan kecil miliknya.

“Hikks dasar tak
peka! Menyebalkan!” 
sunggyu
menghentikan pukulannya dan sedikit demi sedikit tangisnya reda. Setelah
berhenti menangis, woohyun mengelus surai kelam milik sunggyu dengan sayang.

“mau mengeluhkan
kekesalanmu padaku, eum?”

tanya woohyun dengan nada lembut.

“Aku kesal! Kau
menyakitiku kemarin! Membawaku pulang dari rumah jongie seenakmu! Tak meminta
maaf karena sudah menyakitiku! Dan kau membiarkanku kelaparan disini! Kau menyebalkan!
Kenapa harus mengundang wanita itu kemari! Kau mencintaiku tidak! Sekarang saat
aku menangis dan menahan perih diperutku kau mengakatakan ‘hanya makanan?’
kenapa kau menyebalkan sekali?! Aku
membencimu!” 
woohyun
memeluk sunggyu erat.



“aku kemarin
salah bicara, tak perlu kau masukkan kedalam hati. Aku juga sudah meminta maaf
semalam saat kau tertidur. Tadi aku sudah menanyaimu soal makanan dan kau
bilang kau tidak lapar, dan jiae datang kesini bukan karena aku mengundangnya,
dia datang bersama teman-temanku yang lain untuk mengunjungi tempat kita saja,
lalu dimana letak kesalahanku?” 
sunggyu melepaskan pelukan woohyun dan menatap woohyun
dengan frustasi.

TOK TOK TOK!

Woohyun dan sunggyu menengok kearah pintu secara
bersamaan, sunggyu menghapus air matanya lalu bangkit dari pangkuan woohyun dan
berjalan kearah pintu namun woohyun menahan tangannya tapi saat itu juga
sunggyu menghempaskan tangannya kasar dan berjalan kembali ke arah pintu untuk
membukakan pintu kamarnya, setelah pintu terbuka muncullah dongwoo sambil
menyodorkan plastik berisi makanan kearah sunggyu.

“maaf karena
sudah menghabiskan makananmu, ini aku memesankan makanan untukmu. Makanlah
sebelum dingin” 
sunggyu
melihat plastik berisi makanan itu lalu tersenyum kearah dongwoo.

“gomaweo” dongwoo membalas dengan senyuman setelah itu
dongwoo berniat untuk pergi namun sunggyu menahan pergelangan tangan kanannya.

GREPP

Dongwoo membalikkan badannya dan melihat tangannya yang
di genggam oleh sunggyu dengan tatapan bingung. Lalu dongwoo tak sengaja
melihat woohyun yang menatapnya dengan tatapan tak suka membuat dongwoo salah
tingkah dan kemudian pelan-pelan melepaskan genggaman sunggyu ditangannya.

“wa-wae?”  tanya dongwoo terbata-bata, ia gugup saat
melihat woohyun yang masih saja menatapnya intens menguatkan rasa ketidak
sukaannya pada dongwoo setelah insiden pegangan tangan tadi.

“Oppa, mau tidak
menemaniku makan? Aku benci makan sendiri, paling tidak meski oppa tak makan
aku kan ada yang menemani makan, eotthae?” 
sunggyu melakukan aegyo dan
menarik-narik ujung kemeja dongwoo. Dongwoo menelan salivanya dengan berat
karena melihat kilatan api cemburu dari woohyun yang menguar dari diri woohyun.

“kan ada
woohyun, biar woohyun saja yang menemanimu makan”
 sunggyu menggeleng keras lalu
menengokkan kepalanya kearah woohyun dan menatap woohyun dengan sinis.

“aku tidak suka
ditemani dengan orang yang tak peka terhadapku, tak mencemaskanku dan tak
sebaik oppa yang bersedia memesankan makanan untukku ketika aku kelaparan, aku
lebih suka dengan Oppa, lebih baik aku makan dengan oppa saja, kajja!”
 sunggyu menarik tangan dongwo
untuk pergi ke meja makan menyisahkan woohyun yang mengepalkan tangannya
menahan amarah.













TBC





No comments: