Wednesday, March 23, 2016

Review - When Best-Friend Becomes Lover


Note : it's not mine but i like ! xD



When Best-Friend Becomes Lover | 1S | by member Kezia Carmelia



Author    : INSPIRIT-KYUramel



Cast      : Kim Sunggyu(24 tahun), Nam Woohyun(22
tahun)



Genre     : Friendship, Bromance, Lemon







Nam Woohyun
dan Kim Sunggyu adalah sepasang sahabat sejak mereka masih kecil. Mereka selalu
melakukan bersama-sama. Mereka menjalani masa-masa kecil mereka bersama-sama,
masa-masa remaja bersama-sama, dan sekarang, mereka menjalani masa-masa dewasa
mereka bersama-sama.



Meski
mereka sudah bersahabat selama lebih dari 15 tahun, tetapi mereka bukanlah
sahabat yang manis seperti orang-orang pikirkan. Mereka tidak seperti
kebanyakan sahabat yang biasanya saling bercanda, ataupun saling
bermanis-manisan bersama. Mereka berdua adalah pasangan sahabat yang paling aneh
yang pernah kalian temui. Bagaimana tidak aneh? Selama bersahabat lebih dari 15 tahun, yang
mereka lakukan hanyalah bertengkar yang kadang disertai dengan beberapa
tindakan kekerasan seperti menendang bokong, mencubit pipi, bokong, puting,
perut, pinggang, dan beberapa kekerasan lainnya yang tidak bisa dituliskan.



Hari ini
hari Minggu. Woohyun datang ke rumah Sunggyu untuk belajar karena besok mereka akan menghadapi
ujian akhir
semester.



Tapi, itu hanyalah akal-akalan dari seorang namja
tampan bernama Nam Woohyun agar dirinya bisa pergi ke rumah Sunggyu tanpa
dimarahi oleh orang tuanya walaupun akan menghadapi ujian. Kedua orang tua Woohyun
sangat percaya dengan Sunggyu. Jadi jika Woohyun mengatakan akan pergi ke rumah
Sunggyu, orang tuanya pasti akan memberikan izin penuh padanya.



“Hyung apa kau punya makanan?” tanya Woohyun saat dia
masuk ke kamar Sunggyu sambil meletakkan tasnya di sebelah tas Sunggyu.



Ya, seperti inilah persahabatan mereka. Woohyun
menganggap rumah Sunggyu seperti rumahnya sendiri. Begitu pun Sunggyu. Dia juga
menganggap rumah Woohyun seperti rumahnya sendiri. Mereka berdua juga
menganggap kedua orang tua masing-masing seperti orang tua mereka sendiri.
Karena itu, tak heran jika mereka berdua bisa seenaknya keluar masuk rumah
masing-masing tanpa harus permisi terlebih dahulu. Itu semua karena mereka
berdua sudah menganggap satu sama lain seperti keluarga sendiri.



“Cari saja sendiri di kulkas!” seru Sunggyu yang masih
tak berkutat dari buku pelajarannya. Sunggyu sangat tahu persis bagaimana sifat
sahabatnya itu. Sahabatnya selalu datang ke rumahnya 1 hari sebelum ujian untuk
memintanya, lebih tepatnya memaksanya untuk mengajari pelajaran yang akan
diujikan besok secara kilat.



Woohyun keluar dari kamar Sunggyu, menuruni tangga dan
berjalan menuju kulkas untuk mencari makanan-makanan kecil sementara Sunggyu
masih di dalam kamarnya menghafal rumus-rumus matematika di buku catatannya.



“Hai eomma!” sapa Woohyun girang saat melihat eomma
Sunggyu yang sedang menonton TV di ruang tamu.



“Ne, Woohyunie..” eomma Sunggyu menyapa balik
sambil tersenyum ke arah Woohyun.



“Eomma aku mau makan.” pinta Woohyun dengan nada
merajuk.



“Ya sudah kau ambil saja sana di kulkas. Eomma baru
saja memotong semangka dan membeli beberapa kue. Kau bawa saja ke atas untuk
camilanmu dan juga Gyuyie.” suruh eomma Sunggyu sambil menunjuk ke arah meja
makan dimana toples-toples kue ditata dengan rapi.



“Wow! Eomma kau yang terbaik!” seru Woohyun senang
sambil memilih kue yang dia sukai. “Eomma saranghae!!~” girang Woohyun sambil
menari-nari lincah.



Setelah mengambil toples-toples berisi kue yang dia
sukai dan juga potongan-potongan semangka dengan nampan, Woohyun kembali ke
kamar Sunggyu dengan menaiki anak tangga.



“Hati-hati, Hyunnie.. Jangan sampai jatuh!” eomma
Sunggyu memperingati Woohyun.



“Ne eomma!” angguk Woohyun seraya menaikki anak tangga
dengan hati-hati.



***



“Yuhuu~~ Lihat apa yang ku bawa!” seru Woohyun
senang sambil meletakkan makanan-makanan itu di hadapan Sunggyu.



Sekedar informasi, Sunggyu belajar di lantai kamarnya
yang dihiasi karpet halus berwarna abu-abu. Kamar Sunggyu sangat sejuk. Dengan
dinding berwarna putih bersih, pengharum ruangan beraroma lemon, dan juga AC
yang sangat dingin membuat suasana belajar terasa enak dan nyaman. Tak heran
jika Sunggyu sangat suka belajar hingga menjadi salah satu mahasiswa terpintar
di universitasnya.



Sunggyu menatap makanan-makanan yang dibawa Woohyun. “Eomma
membelikan makanan untuk kita??” tanya Sunggyu dengan mata membulat.



Woohyun mengangguk senang. “Yup!” tawanya senang. “Eomma
memang baik!” seru Woohyun gembira sambil membuka tutup toples yang berisi kue
putri salju.



“Hey jangan makan dulu!” seru Sunggyu sambil mengambil
toples yang dipegang Woohyun, membuat Woohyun menatapnya dengan tatapan tidak
senang.



“Ya! Berikan padaku!” pekik Woohyun sambil merebut
toples yang sekarang berada di tangan Sunggyu. “Aku mau makan!”



“Belajar dulu baru makan!” seru Sunggyu tidak mau
kalah lalu merebut toplesnya lagi.



“Aku butuh tenaga untuk belajar!” protes Woohyun yang
kembali merebut toplesnya.



“Tidak boleh! Belajar dulu baru makan!” seru Sunggyu
lagi dan merebut kembali toplesnya.



“ANDWAE!!” pekik Woohyun sambil mencubit pipi Sunggyu
keras hingga membuat kedua pipi gembul Sunggyu memerah.



“Apo!!!!” seru Sunggyu kesakitan seraya mengusap kedua
pipinya yang memerah, membuat Woohyun dengan mudah merebut toplesnya kembali.



“Yeee dapat!” ejek Woohyun usil sambil menjulurkan
lidahnya ke arah Sunggyu yang sedang mengusap-usap pipinya.



“Kau menyebalkan!” pekik Sunggyu yang masih
mengusapkan pipinya dengan sebal sambil menunduk, menyembunyikan pipi merahnya
yang terasa sakit dan juga kedua iris kecilnya yang terlihat seperti ingin
menangis.



“Aigo cup cup cup.. Jangan menangis, ne?? Ini, oppa
kasih 1 buat Gyugyu..” goda Woohyun sambil merangkul Sunggyu dari samping dan
mengusap surai caramel halusnya sembari mengambil 1 kue putri salju dan
memberinya pada Sunggyu.



“Andwae..” tolak Sunggyu lirih, masih mengusap pipinya
dengan wajah tertunduk.



“Aigo mianhae Gyugyu!” seru Woohyun sambil menggenggam
kedua tangan Sunggyu yang masih mengusap pipi merahnya. Woohyun menatap kedua
iris mata Sunggyu yang setengah tertutup, lalu tersenyum manis. “Mianhae kalau aku
membuat pipimu memerah lagi. Aku kan hanya bercanda..” ucap Woohyun santai
sambil mengusapkan hidungnya dengan hidung Sunggyu, membuat namja berpipi
chubby itu mendesah sebal.



“Ya sudah kalau begitu belajar sekarang!” sentak
Sunggyu hingga membuat Woohyun ingin sekali lagi mencubit pipi gendut Sunggyu
hingga membuatnya benar-benar menangis, saking gemasnya dengan namja chubby
yang gila belajar itu.



“Tidak mau, ah! Malas!” seru Woohyun sambil melepas
genggamannya dari kedua tangan Sunggyu, lalu memakan kue putri salju yang
dipegangnya tadi.



“Ya! Kalau kau tidak belajar bagaimana kau bisa
mengerjakan soal-soal ujian besok?!” pekik Sunggyu sambil menatap Woohyun
tajam.



Woohyun yang sedang mengunyah kuenya, dengan santai
menjawab, “Kan ada kau, hyung! :P”



“Aku tidak mau memberitahumu!” seru Sunggyu sambil
kembali membaca buku catatannya.



“Ya sudah kalau begitu aku remidi saja~” jawab Woohyun
sangat santai.



“Kalau kau remidi nilaimu hanya akan sebesar nilai
KKM.”



“Peduli?” Woohyun menjulurkan lidahnya. “Yang penting
nilaiku tidak dibawah KKM dan aku bisa naik kelas!” seru Woohyun sambil
terkekeh riang.



“Kau ini benar-benar meremehkan pelajaran!” pekik
Sunggyu sambil menatap Woohyun dengan tatapan tajam. “Seharusnya kau
memperhatikan pelajaranmu juga!”



“Sudahlah hyung tidak perlu pedulikan aku. Aku tidak
apa-apa kok jika mendapat nilai KKM.” ucap Woohyun sambil mengunyah kue putri
salju yang lain. “Yang penting kau dan aku bisa terus bersama-sama, hehe.”
kekeh Woohyun senang.



“Ehh??” Sunggyu mengernyitkan dahinya. “Jangan
bercanda! Cepat belajar sekarang atau aku tidak mau mengajarimu lagi!” ancam
Sunggyu sambil membuka buku pelajaran lain.



“Iya hyung, iya! Aku akan belajar..” ucap Woohyun
malas sambil menutup toples putri saljunya. “Tapi ajari aku pelan-pelan, ne..”
pinta Woohyun sambil merajuk imut.



“Ne.” ucap Sunggyu cepat sambil mengambil catatan
matematikanya yang akan dia gunakan untuk mengajari Woohyun.



“Dengan lembut juga.”



“Ne.” ucap Sunggyu lagi sambil memberikan catatannya
pada Woohyun. “Baca ini dulu.”



“Dengan kasih sayang juga, ne?” pinta Woohyun lagi
tanpa mempedulikan buku catatan yang diberikan Sunggyu.



“Hah?” Sunggyu melongo bingung dengan ucapan Woohyun
sementara Woohyun hanya senyam-senyum tidak jelas seperti orang gila.



Setelah berpikir sejenak dan mengerti maksud ucapan
Woohyun, Sunggyu mengetuk kepala Woohyun dengan keras sambil mengomel. “Ya!
Jangan merayuku dan cepat pelajari catatanku!” omel Sunggyu dengan tatapan
tajamnya.



Woohyun terkekeh geli dan segera membaca catatan
matematika yang Sunggyu berikan padanya. ‘Ya
ampun.. Ini apa?’
 batin Woohyun dalam hati sambil menggaruk tengkuknya.



“Kalau tidak mengerti, tanyakan saja padaku.” ucap
Sunggyu sambil membaca buku pelajaran Matematika
dari sumber yang lain.



“Hyung aku tidak mengerti.” ucap Woohyun sambil memutar-mutar
catatan Sunggyu di udara, mencoba mengerti apa yang ditulis Sunggyu di catatannya.



“Apa yang tidak kau mengerti?” tanya Sunggyu sambil
meletakkan bukunya.



“Semua.” jawab Woohyun cepat, masih memutar-mutar
catatan Sunggyu.



“Ya! Kau bahkan belum membacanya!” omel Sunggyu dengan
nada yang 1 tingkat lebih tinggi dari sebelumnya.



“Ya hyung! Jangan kasar!” seru Woohyun sambil mengusap
telinganya yang panas karena omelan Sunggyu. “Kau seharusnya mengajariku dengan
pelan-pelan, lembut, dan penuh kasih sayang!” protesnya sambil mempoutkan
bibirnya imut.



“Aigo..” Sunggyu menepuk wajahnya sendiri. “Geurae,
geurae.. Sini, aku ajari kau pelan-pelan.” ucap Sunggyu sambil merubah
posisinya agar lebih nyaman untuk mengajari Woohyun.



Woohyun tersenyum senang karena Sunggyu mau
mengajarinya dengan pelan-pelan sehingga dia tidak perlu memaksakan otaknya
untuk berpikir terlalu keras. Woohyun juga merubah posisinya agar lebih nyaman
untuk belajar.



“Pertama-tama kita belajar tentang persamaan linier.
Untuk mencari x, kita harus bla bla bla bla..”



***



Tetes-tetes air hujan mulai turun membasahi Seoul
malam itu. Semakin lama semakin deras, memberikan kesejukan alami untuk semua
makhluk ciptaan Tuhan. Woohyun menatap keluar jendela, melihat hujan yang turun
semakin deras.



Sunggyu ikut menoleh keluar jendela untuk melihat hujan
yang turun dengan derasnya. “Apa kau mau menginap?” tanya Sunggyu pada Woohyun.
“Hujannya deras sekali.”



Woohyun menghela nafas sambil mengangguk pelan. “Ne..
Aku akan menginap.” ucapnya sambil tersenyum. “Tapi, bagaimana besok aku akan kuliah?
Aku tidak membawa baju ganti..” lirih Woohyun sambil menunduk.



Sunggyu memutar manik matanya. “Tidak usah berakting. Ambil
saja baju-bajuku seperti yang biasa kau lakukan setiap menginap dirumahku.” sindir
Sunggyu malas.



Woohyun terkekeh geli. “Kau benar-benar mengerti aku,
hyung!” serunya senang. “Dan sampai saat inipun aku tidak tahu sudah berapa
banyak baju-bajumu yang masih menumpuk di lemariku!” girangnya lalu tertawa
terbahak-bahak.



“Aku pun juga tidak tahu.” ucap Sunggyu datar sambil
bersandar di tempat tidurnya. “Kau tahu, kau selalu membuatku membeli baju baru
setiap kali kau menginap di rumahku!” seru Sunggyu sebal sambil memejamkan
kedua matanya.



“Aigo hyung! Jangan marah-marah ne! Kau jelek kalau
marah!” seru Woohyun sambil ikut duduk di sebelah Sunggyu.



“Aku tidak marah. Hanya sedikit kesal padamu karena
gara-gara kau uangku terbuang sia-sia.” sahut Sunggyu yang masih sebal dengan
Woohyun.



“Mianhae hyung! Kapan-kapan akan kubawa baju-bajumu!”
seru Woohyun sambil menepuk bahu Sunggyu. “Kalau aku ingat! :p”



“Halah kalau kau ingat. Kalau kau tidak ingat, berapa
lama lagi baju-baju kerenku harus terperangkap di lemarimu?” tanya Sunggyu sinis.



“Entahlah. Tapi kau tenang saja, hyung! Aku merawat
baju-bajumu dengan baik! Hehe.” tawa Woohyun senang.





“Baguslah kalau begitu.” ucap Sunggyu datar. Sunggyu
bangkit dari duduknya, lalu berjalan hendak meninggalkan kamar. “Ayo kita makan
malam.” ajak Sunggyu sambil berjalan meninggalkan kamar.



Woohyun bangkit dari duduknya lalu berlari mengikuti
Sunggyu untuk makan malam bersama-sama.



***



Setelah makan malam, Woohyun dan Sunggyu kembali ke
kamarnya. Makanan-makanan yang Woohyun bawa masih sisa setengah. Woohyun
mengambil potongan semangka yang tersisa 3 potong, lalu memakannya dengan
lahap.



“Nyam, nyam, nyam.. Segar!” serunya senang saat
melahap semangka itu.



“Wow.” decak Sunggyu dengan mata yang membulat. “Apa
kau tidak kenyang?”



Woohyun menggeleng pelan. “Semangka ini untuk pencuci
mulut.” jawabnya lalu melahap semangkanya lagi. “Kau tak mau makanan pencuci
mulut?” tawarnya sambil menunjuk 2 potong semangka lagi pada Sunggyu.



“Boleh lah.” ucap Sunggyu lalu ikut melahap semangka
itu. “Nyam, nyam.”



“Semangkanya tinggal 1. Siapa yang mau makan?” tanya
Woohyun sambil menunjuk potongan semangka yang tersisa 1.



“Kau saja yang makan. Aku sudah kenyang.” ucap Sunggyu
sambil menepuk-nepuk perut gembulnya.



“Hmmm ..” Woohyun mengusap dagunya. “Kita bagi 2 saja
hyung. Bagaimana?” tawar Woohyun sambil tersenyum senang.



“Bagi 2?” Sunggyu berpikir sejenak.



“Ne, bagi
2. Aku dagingnya, hyung kulitnya! Haha!” tawa Woohyun geli sambil mencubit pipi
Sunggyu lagi.



“Ya! Kau
curang!” ringis Sunggyu sambil membalas cubitan Woohyun, membuat Woohyun ikut
meringis dan mengusap lengannya yang dicubit Sunggyu.



“Aigo, aku
hanya bercanda hyung, hahah!” Woohyun masih tertawa.



“Gwaenchanha.”
sahut Sunggyu sebal.



“Ya sudah.. Kau makan duluan hyung.” ucap Woohyun
sambil memberikan potongan semangka terakhir pada Sunggyu.



“Kenapa harus aku?” tanya Sunggyu sambil menunjuk
dirinya sendiri.



“Yang tua duluan! :P.” jawab Woohyun sambil terkekeh senang.



“Aigo.. Menghina sekali!” ucap Sunggyu sambil menatap Woohyun
malas. “Oke, aku duluan.”



Sunggyu melahap setengah potongan semangka itu.
Setelah itu, dia memberikannya pada Woohyun. Woohyun menerima potongan semangka
itu lalu melahapnya sampai habis. “Nyam, nyam, nyam.. Semangka yang ini paling
manis.” ucapnya sambil tersenyum senang.



“Apanya yang paling manis? Sama saja bagiku.” ucap
Sunggyu sambil menatap Woohyun heran.



“Ahhh kau ini sama sekali tidak romantis.” sindir Woohyun
sambil mempoutkan bibirnya imut. “Maksudku, semangka ini manis karena kita
berbagi, hyung!” seru Woohyun menjelaskan.



“Oh.” sahut Sunggyu datar sementara Woohyun tersenyum
dengan senyuman yang tak dapat dimengerti.



“Hyung apa kau sudah mengantuk?” tanya Woohyun mengalihkan
pembicaraan.



Sunggyu mengangguk pelan. “Ne.. Aku sudah mengantuk.”
ucap Sunggyu pelan.



“Ya sudah. Kau cuci muka dan gosok gigi dulu. Setelah
itu kau langsung tidur ne?” suruh Woohyun perhatian.



“Huh?” Sunggyu menatap Woohyun heran.



“Wae?”



“Ani. Tumben sekali kau perhatian denganku? Biasanya
aku yang selalu memperhatikanmu.” ucap Sunggyu sambil bangkit dari duduknya.



“Hahhaha. Memang kenapa kalau aku perhatian dengan hyungku
sendiri? Ada yang salah?” goda Woohyun sambil menatap Sunggyu dengan tatapan
usil.



“Tidak ada, sih. Hanya saja, sejak tadi sikapmu aneh
sekali.” ungkap Sunggyu.



“Ahh jinjja?” tanya Woohyun, meminta kepastian
Sunggyu.



Sunggyu mengangguk cepat. “Ne. Kau terlihat lebih
aktif dari biasanya.” ucap Sunggyu. “Ada apa denganmu?”



Woohyun menggeleng. “Ani hyung.. Tidak ada apa-apa.”
jawab Woohyun sambil tersenyum senang. “Ya sudah, kau cepatlah cuci muka dan gosok
gigi. Aku juga sudah sangat mengantuk! Hoaam.” suruh Woohyun sambil menutup
mulutnya yang menguap.



“Hahaha geurae, geurae..” ucap Sunggyu sambil berjalan
menuju kamar mandi.



Sementara Sunggyu berada di dalam kamar mandi, Woohyun
merapikan buku-buku pelajaran Sunggyu. Dia tahu Sunggyu sangat lelah. Karena
itu Woohyun membantu Sunggyu untuk merapikan buku-buku pelajarannya agar
Sunggyu bisa langsung tidur lelap setelah mencuci muka dan menggosok gigi.



“Hyung, kau tak tahu apa-apa tentang
perasaanku.”
 gumam Woohyun sambil duduk bersandar di sandaran tempat tidur Sunggyu
setelah merapikan buku-buku pelajaran Sunggyu.



“Sebenarnya aku menyukaimu..”



“Tapi kau selalu menganggapku sebagai anak
menyebalkan yang suka mencari perhatian.” 
Woohyun menunduk sedih.



“Tapi asal kau tahu, hyung..”



“Sebenarnya..”



“Sebenarnya aku menyebalkan karena aku
ingin mencari perhatianmu.”



“Hanya kau, hyung! Bukan yang lain!”



“Pfffft.”



***



Woohyun keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka
dan juga menggosok giginya. Sunggyu sudah tidur dengan lelap sambil memeluk
guling.



Woohyun merebahkan tubuhnya perlahan di sebelah
Sunggyu agar Sunggyu tidak terbangun. Ditatapnya wajah polos Sunggyu yang
sedang tertidur. “Kau polos seperti anak
kecil.” 
ungkap Woohyun dalam hati sambil memandang kepolosan
wajah sahabatnya yang sudah terlelap. “Tapi sayang, kau galak. =_=”



Woohyun memeluk guling yang saat itu sedang dipeluk
Sunggyu. Bukan, bukan karena tidak ada guling lain, tapi Woohyun sengaja
memeluk guling yang sama dengan guling yang dipeluk Sunggyu sehingga dia bisa
lebih dekat memandang wajah polos Sunggyu yang mungkin saat ini sedang bermimpi
indah.



‘Hyung.. Aku juga ingin dipeluk!’ batin Woohyun sambil memasang wajah
cemburu. Woohyun cemburu dengan guling itu. Guling itu dapat dengan polosnya
dipeluk oleh Sunggyu yang manis itu sementara dirinya yang jauh lebih polos
dari guling itu tidak mendapat pelukan apapun dari Sunggyu. Malah dibilang
menyebalkan oleh si manis Sunggyu.



Woohyun menarik guling itu perlahan ke bawah agar bisa
melihat bibir cherry tipis milik Sunggyu dengan jelas. Setelah berhasil menurunkan guling
itu, Woohyun kembali menatap keindahan karya Tuhan di depannya itu. Woohyun
tersenyum kecil menatap wajah polos Sunggyu yang tertidur dengan damai.



Mata Woohyun kini tertuju pada bibir mungil tipis
berwarna merah cherry milik sahabatnya. Woohyun mendekatkan bibirnya pada bibir
merah Sunggyu. Dia ingin sekali mengecup bibir mungil cherry itu, tapi, dia
urungkan niatnya karena dia tidak mau merusak persahabatannya dengan Sunggyu
hanya karena dia mengecup bibir manis sahabatnya itu.



Woohyun mendekatkan bibirnya pada pipi bulat Sunggyu.
Dia tersenyum sekaligus gemas melihat pipi Sunggyu yang bulat sempurna,
membuatnya ingin sekali mencubit lalu mengecup pipi gendut Sunggyu penuh kasih
sayang. Woohyun mendekatkan bibirnya semakin dekat.



CHUU~



Woohyun mengecup pipi bulat Sunggyu dengan penuh kasih
sayang. Dia tersenyum manis, sambil tangannya membelai lembut surai halus
Sunggyu yang berwarna caramel.



“Umm..” Sunggyu melenguh saat merasa sesuatu yang kenyal
menyentuh pipinya serta tangan seseorang yang membelai lembut surai caramelnya.



Woohyun menghentikan kecupannya, lalu menatap Sunggyu
sambil masih membelai surai halus Sunggyu. “Kau terbangun?” tanya Woohyun
khawatir.



Sunggyu mengangguk pelan. “Ne..” ucapnya lemah.



“Mianhae hyung, aku membuatmu terbangun.” ucap Woohyun
meminta maaf sambil terus membelai surai Sunggyu.



Sunggyu menyentuh pipinya, merasa sesuatu yang tadi
menyentuh pipinya.



“Ada apa?” tanya Woohyun, pura-pura tidak tahu.



“Ada sesuatu yang kenyal mengecup pipiku..” jawab
Sunggyu dengan wajah bingung. “Apa kau mengecupku?” tanya Sunggyu sambil
menatap Woohyun datar.



Woohyun mengangguk pelan. “N-nne.. Aku mengecupmu,
hyung.. Mianhae jika kecupanku membuatmu terbangun..” ucap Woohyun sambil
mencubit pelan pipi gembul Sunggyu.



Sunggyu meringis saat Woohyun mencubit pipinya. “Kenapa
kau mengecupku?” tanya Sunggyu penasaran.



Woohyun terkekeh kecil sambil membawa Sunggyu masuk ke
dalam pelukannya yang hangat. “Memang kenapa jika aku mengecupmu? Bukankah
sejak kecil aku selalu mengecup pipi gendutmu itu?” tanya Woohyun sambil mengecup
pucuk kepala Sunggyu.



Sunggyu menggeleng pelan dalam pelukan Woohyun. “Ani,
tidak apa..” ucap Sunggyu pelan. “Hanya saja, kecupanmu berbeda dari biasanya.”



“Hm? Berbeda?” Woohyun menatap kedua iris kecil
Sunggyu. “Berbeda bagaimana?” tanya Woohyun bingung.



“Kecupanmu lebih lama dari biasanya..” jawab Sunggyu sambil
menatap Woohyun. “Itu lebih dari sebuah kecupan..” lanjut Sunggyu.



“Ehh? L-lebih dari kecupan?? M-maksudmu??!” tanya
Woohyun gugup, bingung dengan ucapan Sunggyu.



“Apa kau.. Woohyunnie, apa kau menciumku?” tanya
Sunggyu dengan wajah polosnya.



Deg!



Woohyun tertegun mendengar pertanyaan Sunggyu.
Bagaimana ini? Apa Woohyun harus jujur? Yang Woohyun lakukan tadi memang bukan
sekedar kecupan. Itu adalah ciuman! Ciuman penuh kasih sayang, ciuman penuh
cinta, dan bukanlah ciuman penuh nafsu.



Woohyun memilih untuk diam. Dia sangat takut untuk
menjawab. Dia takut jika Sunggyu marah dan tidak mau bersahabat dengannya lagi.
Dia takut kehilangan Sunggyu. Baginya, tidak apa jika Sunggyu tidak menjadi
miliknya. Yang penting adalah Sunggyu harus tetap terus bersama-sama dengannya
walaupun status mereka berdua hanyalah sebagai sahabat.



“Woohyunie..” panggil Sunggyu pelan.



“N-ne?” sahut Woohyun gugup sambil menatap Sunggyu
yang masih berada dalam pelukannya.



“Kenapa tidak menjawab?” tanyanya. “Jawab yang jujur.
Aku tidak akan marah.”



“Umm, itu..” Woohyun memeluk Sunggyu semakin erat.



“Itu apa?” tanya Sunggyu datar.



Woohyun menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya
perlahan. Woohyun mendekatkan wajahnya ke leher Sunggyu, menghirup aroma tubuh
dari namja chubby yang merupakan sahabat sekaligus namja yang dia sukai sejak
bertahun-tahun lalu.



“Hyunnie?” panggil Sunggyu pelan, sedikit mendesah
karena tindakan Woohyun yang menghirup di daerah lehernya.



“Ne, Gyugyu.” sahut Woohyun yang masih menghirup aroma
tubuh Sunggyu.



“Apa kau menciumku?” Sunggyu mengulang pertanyaannya.



Woohyun terdiam sejenak. “Aku..” ucapnya menggantung.



“Katakan saja, Hyunnie. Gyugyu tidak akan marah.” ucap
Sunggyu sambil tersenyum polos.



Woohyun melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah
Sunggyu yang tersenyum dengan polosnya. “Gyugyu aku..!!” Woohyun kembali
memeluk Sunggyu semakin erat. Rasanya berat sekali untuk mengatakan yang sesungguhnya.



“Hyunnie tolong jawab jujur. Gyugyu tidak suka jika
Hyunnie berbohong..” pinta Sunggyu manja.



Glek.



Woohyun menelan salivanya. Pelukannya semakin erat,
ketakutannya akan kehilangan Sunggyu semakin bertambah. Woohyun menangis
perlahan dalam diam agar Sunggyu tidak mengetahuinya. Tapi lama kelamaan
Sunggyu mengetahui jika Woohyun menangis sambil memeluknya.



“Hyunnie kau menangis?” tanya Sunggyu sambil
menepuk-nepuk pelan kepala Woohyun.



Woohyun menggeleng pelan. “A-ani!” bohongnya
ditengah-tengah isakannya.



“Mianhae, Hyunnie.. Mianhae jika Gyugyu terlalu
memaksamu.” ucap Sunggyu sambil melepas pelukan Woohyun darinya.



Sunggyu menyeka pelan air mata Woohyun dengan ibu
jarinya. “Kalau kau memang menciumku, bilang saja secara jujur. Aku tidak akan
marah. Karena aku ..” Sunggyu menggantung ucapannya.



“K-karena apa, Gyugyu?” tanya Woohyun penasaran sambil
menyeka kasar air matanya.



Sunggyu menutup wajahnya dengan guling. Woohyun
menarik perlahan guling itu agar tidak menutupi wajah manis Sunggyu. Sunggyu
menarik guling itu lagi, tidak ingin Woohyun melihat wajahnya yang memerah.



“Katakan padaku.. Kau kenpa?” tanya Woohyun ingin tahu
sambil menahan guling agar Sunggyu tidak bisa menariknya.



Sunggyu menggeleng kecil sambil menutup wajahnya
dengan kedua tangannya. “Gyugyu sayang Hyunnie..” ucap Sunggyu pelan, setengah
berbisik namun dapat terdengar oleh Woohyun.



“Hyunnie juga sayang Gyugyu..” ucap Woohyun sambil
tersenyum kecil, kecewa karena sudah pasti Sunggyu sayang padanya hanya sebatas
sahabat, sebatas hyung dan dongsaeng.



“Tapi Hyunnie.. Gyugyu sayang Hyunnie lebih dari yang
Hyunnie tahu..” ucap Sunggyu lagi dengan suara yang lebih kecil.



“Ehhh??!” Woohyun membelalakan matanya. “A-apa maksudnya,
Gyugyu!” seru Woohyun penasaran dengan maksud ucapan Sunggyu.



Sunggyu menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Wajah
Sunggyu memerah seperti kepiting rebus, tetap terlihat walau saat itu sudah
malam dan hanya diterangi dengan lampu tidur. “Gyugyu suka Hyunnie!” seru
Sunggyu malu-malu dan kembali menutupi wajahnya dengan guling.



Woohyun terhenyak mendengar pengakuan Sunggyu. Tapi,
beberapa detik kemudian Woohyun tertawa gembira sambil menyingkirkan guling
yang menutupi wajah Sunggyu dan langsung membawa Sunggyu kembali ke dalam
pelukannya.



“Kalau kau menyukaiku kenapa kau tak bilang sejak
awal, Kim Sunggyu!?” pekik Woohyun senang sambil tak henti-hentinya mengacak
surai halus milik Sunggyu yang berada dalam pelukannya yang hangat itu.



“Kenapa aku harus memberitahumu! Aku bisa saja merusak
persahabatan kita jika aku memberitahumu!” seru Sunggyu tak mau kalah sambil
merangkul leher Woohyun.



“Kim Sunggyu pabo!” ejek Woohyun sambil mengusap
hidungnya dengan hidung Sunggyu.



“Nam Woohyun deo pabo!” Sunggyu mengejek Woohyun balik
sambil tertawa terbahak-bahak.



Woohyun merubah posisinya menjadi posisi duduk, lalu
merebahkan tubuh Sunggyu di pahanya dengan posisi tengkurap.



“Y-ya! Nam Woohyun!” pekik Sunggyu saat Woohyun
menengkurapkan dirinya di pahanya. “Apa yang mau kau lakukan padaku?!” tanyanya
sambil menggeliat hendak kembali ke posisi tidurnya.



“Sudah jangan melawanku! Anak nakal harus dihukum!”
seru Woohyun sambil mengacak rambut Sunggyu lagi dan menepuk-nepuk bokong
Sunggyu dengan keras. “Aset yang bagus untuk dibully.” ucap Woohyun usil sambil
menepuk bokong Sunggyu lebih keras.



“Nam Woohyun sakit!!” rintih Sunggyu sambil berusaha
menyingkirkan tangan Woohyun dari bokongnya.



“Andwae!” tolak Woohyun sambil mengunci kedua tangan
Sunggyu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk menepuk-nepuk
bokong chubby Sunggyu.



Sunggyu menggeliat lebih keras, berusaha agar bisa
terlepas dari Nam Woohyun untuk menyelamatkan bokongnya. Woohyun kasihan pada
Sunggyu yang memohon padanya untuk segera melepasnya.



“Geurae, aku akan melepasmu..” ucap Woohyun sambil
melepas Sunggyu. Sunggyu menarik nafas lega sambil merebahkan tubuhnya di
tempat tidur seperti semula.



Tapi, Woohyun tidak mau melepas Sunggyu begitu saja. Woohyun
menyangga kedua tangannya di sebelah kiri dan kanan Sunggyu. Sunggyu menatap
Woohyun dengan tatapan takut.



“N-Nam Woohyun! Kau mau apa!” pekik Sunggyu ketakutan.



“Aku mau dirimu, hyung..” jawab Woohyun sambil
tersenyum usil.



“Ya! Jangan macam-macam!” seru Sunggyu sambil
mendorong pelan tubuh Woohyun. “Aku masih polos!”



“Justru karena kau polos, karena itulah aku ingin
menggodamu, hehehe.” tawa Woohyun sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sunggyu.



Sunggyu menelan salivanya, takut dengan Woohyun yang
siap memakannya kapan pun dia mau. “Ku mohon, Hyunnie.. biarkan aku tetap polos
seperti biasa!” pinta Sunggyu dengan wajah yang ingin menangis.



Woohyun tersenyum kecil. “Tidak akan sakit, chagiya..”
ucap Woohyun sambil mengecup bibir Sunggyu. “Percayalah padaku. Kalau kau
merasa sakit, ini..” Woohyun menepuk bahunya. “Gigitlah bahuku jika kau merasa
sakit.”



Sunggyu terdiam, lalu menatap Woohyun dengan tatapan
seperti ingin mengatakan ‘Apa kau serius?’. Woohyun mengangguk cepat, seakan
mengerti dengan maksud tatapan Sunggyu.



Woohyun mendekatkan bibirnya dengan bibir Sunggyu,
menciumnya dengan lembut sambil membelai lembut surai halus Sunggyu. Sunggyu
melingkarkan tangannya disekitar pinggang Woohyun, sementara Woohyun memperoleh
control penuh untuk menikmati tubuh
namja yang akan segera menjadi kekasihnya itu.



Woohyun menjilat bibir tipis Sunggyu, meminta agar
Sunggyu membuka sedikit mulutnya untuk memberinya jalan untuk memasukki rongga
hangat Sunggyu. Sunggyu tidak membuka mulutnya. Bibir mungilnya masih terkatup
dan sedikit basah karena jilatan Woohyun.



Woohyun tidak menyerah. Dia sedikit mempercepat
jilatannya, serta mulai memainkan bagian tubuh Sunggyu yang lain. Tangan kanan
Woohyun mulai meremas-remas bagian bawah Sunggyu yang masih tertutup boxer
putih Sunggyu.



“Mmmhh..” Sunggyu mendesah pelan saat juniornya
diremas lembut oleh Woohyun. “Hyunnie, apa kita akan benar-benar melakukan ini?”
tanya Sunggyu polos.



Woohyun menatap Sunggyu sambil tersenyum senang. “Tentu.
Kita akan bersenang-senang untuk yang pertama kalinya, ne?”



Sunggyu mengangguk pelan. “Geurae!” seru Sunggyu
senang.



Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Woohyun segera
melumat bibir bawah Sunggyu dengan sayang sambil tersenyum penuh kemenangan.



“Mmmh ahh H-H-Hyunnie nappeunhhhh mmmhh..” desah
Sunggyu yang hanya bisa pasrah saat Woohyun berhasil mendapat jalan masuk ke
dalam rongga hangat Sunggyu.



Sementara bibir Woohyun mencium bibir Sunggyu, tangan
kanan Woohyun yang nakal mulai mencari junior Sunggyu yang sudah mengeras dan ingin
keluar dari tempatnya. Woohyun mengeluarkan junior Sunggyu, lalu mengocoknya
perlahan.



“Mmhh nhhhh.. Ahhh ppaliiahhhh..” Sunggyu mendesah
saat Woohyun mengocok juniornya.



Woohyun tersenyum mesum, lalu mengocok junior Sunggyu
lebih cepat. Dan, dari sinilah, permainan yang sebenarnya dimulai. Permainan
yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang saling mencintai, permainan yang
akan memberikan sensasi yang luar biasa bagi pemainnya. Dan juga permainan yang
akan membuktikan seberapa tulusnya seseorang mencintai kekasihnya.



***



Keesokan harinya.



Woohyun menatap pantulan dirinya di cermin Sunggyu
setelah mandi. Dia sudah mengenakan kemeja putih Sunggyu dengan celana kain
hitam membuatnya terlihat sangat keren dan berkelas.



Kriek.



Pintu kamar mandi terbuka dan munculah Sunggyu yang
berjalan dengan sedikit mengangkang sambil menahan rasa sakit. Woohyun
tersenyum geli melihat sahabat, hyung, sekaligus kekasih(calon)nya yang
terlihat lucu dengan cara jalan yang seperti kingkong itu.



“Hahahah kau imut sekali dengan cara jalanmu itu!”
ejek Woohyun sambil mentertawai Sunggyu yang berjalan menuju lemarinya sambil menahan
sakit.



“Jangan tertawa!” pekik Sunggyu ketus. “Kau yang
membuatku seperti ini!” serunya sebal.



“Aigo, aigo..” decak Woohyun sambil berjalan mendekati
Sunggyu. “Aku tidak melakukan apa-apa!” godanya sambil memeluk Sunggyu dari
belakang.



“Tidak usah pura-pura tidak tahu!” ketus Sunggyu
sambil mengambil kaos hitam bergambar pria bertopi putih, celana jeansnya, dan
dalamannya.



Sunggyu meletakkan kaos dan celananya di atas tempat
tidurnya dengan Woohyun yang masih memeluknya dari belakang. Sunggyu berjalan
menuju cermin besar di kamarnya, cermin yang digunakan untuk melihat
penampilannya secara jelas. Nampak bekas-bekas
keunguan memenuhi seluruh tubuh putih mulus Sunggyu.



Woohyun
menatap bekas-bekas keunguan itu dengan tatapan senang. Dia tersenyum mesum,
lalu mencium cerucuk leher Sunggyu lagi sambil sedikit menghisapnya. “Mmmh.”



“Nam Woohyun lepaskan aku!” perintah Sunggyu sambil
menarik tangan Woohyun dari pinggangnya dan
menggeliat agar Woohyun berhenti mencium lehernya.



“Andwae!” tolak Woohyun yang semakin mempererat
pelukannya dan mencium leher Sunggyu lagi.



“Kalau kau terus memeluk dan
menciumku, bagaimana
aku bisa memakai dalaman???”tanyanya ketus.



“Ya tinggal pakai saja. Begitu saja repot.” jawab
Woohyun santai, masih memeluk Sunggyu dengan manja dan memberikan kissmarknya lagi.



“Tidak nyaman!” ketus Sunggyu. “Cepatlah kau
menyingkir! Kalau tidak aku akan melaporkan pada semuanya kalau kau telah
merobek selangkanga——”



“YA!!” potong Woohyun cepat sambil membekap mulut
Sunggyu, membuat namja polos itu tersentak kaget. “Hentikan!” pinta Woohyun
sambil melepas bekapannya.



Sunggyu tersenyum penuh kemenangan, lalu melepas
handuk yang melilit pinggangnya perlahan. Tapi sebelum dia melepas handuknya,
dia menoleh ke arah Woohyun, memberi isyarat agar Woohyun menutup matanya.



“Apa?” tanya Woohyun yang bingung saat mendapat
tatapan tajam dari Sunggyu.



“Hadap belakang.”



“Kenapa?”



“Aku mau pakai celana dalam.”



“Ya sudah pakai saja.”



“Tutup mata!”



“Tidak mau. Lagipula untuk apa kau menyuruhku tutup
mata?” tanya Woohyun polos.



“Aku malu pabo.”



“Untuk apa malu? Aku kan sudah melihat juniormu semalam!”
goda Woohyun sambil tertawa geli.



“Sudah tutup saja!” pekik Sunggyu dengan nada yang
lebih tinggi dari sebelumnya.



“Geurae geurae!” Woohyun mengalah, dan menutup matanya
dengan kedua tangannya.



Sunggyu melepas handuknya, hendak memakai dalamannya. Tapi,
saat hendak menaikkan dalamannya, tiba-tiba Woohyun memeluknya dari belakang
dan memainkan junior Sunggyu di depan cermin hingga keduanya bisa melihat apa
yang sedang mereka berdua lakukan.



“Y-ya! Nam Woohyun!” pekik Sunggyu sambil memukul
tangan Woohyun.



“Hahaha hyung! Biarkan aku menggodamu pagi ini!” seru
Woohyun sambil memutar tubuh Sunggyu 90° dan mulai menghisap juniornya. Sunggyu
hanya bisa pasrah saat Woohyun menghisap juniornya. Sampai cairan putih Sunggyu
keluar, Woohyun berhenti menghisap junior Sunggyu sambil menelan setengah cairan
sperma Sunggyu dan setengahnya lagi Woohyun salurkan pada Sunggyu melalui
ciumannya sehingga namja manis itu dapat merasakan spermanya yang manis.



“Ummhh..” desah Woohyun lalu melepas ciumannya dengan
lembut. “Mianhae hyung, hanya sampai sini saja..” kekeh Woohyun sambil
menaikkan dalaman Sunggyu hingga menutupi juniornya.



“Memangnya kau mau sampai mana hah?!” seru Sunggyu
dengan wajah memerah membuat Woohyun terkekeh gemas.



“Sampai seperti kemarin, hyung..” kekeh Woohyun usil lalu mencubit lembut hidung mancung Sunggyu.



“Dasar
mesum!” pekik Sunggyu sambil mengusap hidungnya dan mendapat kekehan geli dari
Woohyun. Sunggyu mengambil jeansnya yang dia letakkan di atas tempat tidurnya,
lalu memakainya. Setelah memakai celananya Sunggyu memakai kaos hitamnya.



“Ayo turun.
Kita sarapan dulu.” ucap Sunggyu sambil meraih tasnya.



Woohyun
menahan tangan Sunggyu sebelum Sunggyu menggendong tasnya, lalu mencium bibir
Sunggyu dengan lembut dan penuh kasih sayang.



“Mmmhhh..”
desah Woohyun lembut sambil mengusap lembut surai halus Sunggyu.



Woohyun
menghentikan ciumannya. “Kim Sunggyu hyung..” ucap Woohyun lembut sambil
mengelus pipi chubby Sunggyu.



“Ne, Nam Woohyun?”
sahut Sunggyu sambil tersenyum manis.



“Naekkeo
haja?”



…………



………………



…………………



“Ehhh????!”
pekik Sunggyu bingung.



“Wae???
Kenapa kau kaget?” tanya Woohyun heran.



“Ani. Aku
pikir kita sudah berpacaran sejak tadi malam. Rupanya belum, eoh?” tutur
Sunggyu dengan senyum malunya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



“Ahh, aku
juga berpikir seperti itu tadi. Tapi tiba-tiba aku sadar jika aku belum
menembakmu. Jadi…” Woohyun menggantungkan ucapannya.



“Ehemmm!”
Woohyun mengecheck suaranya.



“Kim
Sunggyu, maukah kau menjadi milikku hari ini, besok, dan selamanya?” ungkap
Woohyun sambil berlutut dan menggenggam kedua tangan Sunggyu dengan erat.



Sunggyu
tersipu malu, lalu mengangguk cepat. “Ne! Aku mau!” serunya sambil tersenyum
malu.



“Jinjja??
Yes!!” Woohyun melompat dan langsung memeluk Sunggyu. Woohyun memeluk Sunggyu
sangat erat, seperti tidak ingin melepasnya.



Woohyun
menyingkirkan poni lurus Sunggyu yang mengganggu dahinya, lalu mengecup dahinya
dengan sayang. “Aku benar-benar mencintaimu, Gyu!” ungkap Woohyun sambil
menatap Sunggyu lekat-lekat. “Aku mencintaimu sejak lama!”



Sunggyu
tersenyum mendengar ungkapan Woohyun, lalu dia menakup kedua pipi Woohyun dengan
tangannya. “Aku juga mencintaimu sejak lama, Hyunnie. Hanya saja, Gyugyu takut
jika nanti Gyugyu akan merusak persahabatan kita. Karena itu Gyugyu memilih
untuk diam dan menunggu waktu yang tepat.” ucap Sunggyu jujur, membuat pipi gembulnya memerah
lagi.



“Dan sekarang inilah waktu yang tepat.” sahut Woohyun
sambil terkekeh, diikuti oleh Sunggyu yang ikut terkekeh.



“Aku senang kita berdua bisa bersatu sebagai pasangan
kekasih.” ujar Sunggyu senang. “Long last untuk kita berdua, ne!”



“Ne!”



“Ayo kita sarapan!” ajak Sunggyu sambil menggandeng tangan
Woohyun.



“Gyugyu.” panggil Woohyun.



“Ne?”



“Saranghae.”



“Nado saranghae.”



CUP~~~~



Baru pertama kali buat 1 shot ><



Author butuh RCL-nya ya chingu, supaya ke depannya
bisa semakin lebih baik lagi ^^



Maaf ne,
ngga ada Ncnya. Author masih belum berani buat yang sampai hot hot hot gitu
ahhh >//<


No comments: