l'égoïsme (keegoisan) 1/2 FF Member Ashley Hwang
l'égoïsme (keegoisan) 1/2
Cast:
- Kim Sunggyu
- Nam Woohyun
- Kim Ki Bum (Key)
Rate: PG-15
Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.
Kim Sunggyu’s POV
PRANGG!!!!!!
Suara pecahan kaca membaha di seluruh rumah. Mata sipitku perlahan menatap ayahku dengan tajam. Ini sudah kesekian kalinya beliau melemparkan benda-benda keramik mahalnya dihadapanku yang –meskipun tidak mengenaiku, tapi tetap menyayat hatiku. Ini pertama kalinya dalam hidupku, ayahku membentakku dan memarahiku seperti ini. Memang, ini semua adalah kesalahanku. Memang, aku adalah penyebab semua kekacauan ini. Aku adalah penyebab jatuhnya air mata ibuku saat ini. Benar, ini semua karena aku. Karena aku yang menolak perintah mereka untuk menikahi seorang laki-laki pilihan mereka. Selama 25 tahun hidupku, aku selalu menjadi anak yang baik untuk orang tuaku. Aku selalu melakukan apapun yang mereka minta. Otakku, hatiku, keegoisanku, semuanya aku tekan untuk mereka. Semua yang mereka minta, mereka inginkan, tidak pernah sekalipun kubantah. Tapi kali ini, keegoisanku menang. Bukankah egois memang sifat dasar manusia? Bukankah manusia memang dilahirkan untuk sebuah keegoisan? Oh ayolah, orang munafik mana di dunia ini yang masih mengatakan ‘kumohon, jangan egois, pikirkan orang lain’ –meskipun memang benar adanya, tapi coba fikirkan lagi. Apakah kita akan selamanya hidup untuk selalu tertunduk pada perintah orang lain –bahkan orang tua kita sekalipun? Apakah kita akan selamanya menuruti keinginan orang lain? Tidak bukan? Itu, yang kusebut keegoisan. Dan saat ini, itulah yang kurasakan. Aku lelah menjalani hidupku hanya menjadi sebuah robot yang bisa di kontrol jarak jauh oleh remote orang tuaku. Hatiku, sudah memberontak sekian lama karena ini semua. Ayolah, aku sudah berumur 25 tahun –jika aku masih ada di Perancis umurku masih 24 tahun, apakah aku harus terus menuruti kata-kata orang tuaku? Baiklah jika ini memang berhubungan dengan perkerjaan, pendidikan, atau dimana aku tinggal, aku masih dapat menoleransinya. Tapi ini, ini merupakan urusan paling pribadi dalam hidupku. Aku tidak bisa tinggal selamanya dengan orang yang tidak aku cintai. Baiklah memang banyak orang mengatakan, ‘cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu’ tapi menurutku, itu tidak benar. Cinta adalah sebuah ketulusan. Saling mencintai adalah sebuah ketulusan hati dimana kita rela membuang keegoisan kita. Benar, disaat kita membuang ‘sifat dasar’ kita sebagai manusia, saat itulah kita merasakan cinta sejati. Dan juga, bagaimana bisa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu? Awal dari cinta adalah sebuah ketertarikan bukan? Lalu bagaimana kita bisa merasakan cinta jika kita tidak merasakan ketertarikan itu? Tidak, waktu tidak akan pernah bisa ikut campur dalam cinta. Waktu hanya menunjukkan, waktu hanya memberi ketepatan akan suatu hal. Bukan untuk mempengaruhi apapun dalam hal tersebut –dalam hal ini cinta. Bahkan dalam 1000 tahun pun aku bersama dengan calon suamiku nanti, jika aku –dan hatiku, sama sekali tidak tertarik dan tidak ingin mencintainya, maka tidak akan ada satu pun perubahan dengan saat ini. Mungkin, aku hanya akan terbiasanya dengan kehadirannya. Hanya terbiasa, terbiasa bukan berarti mencintai. Kau terbiasa dengan keberadaan kucing manis mu disekitarmu, bukan berarti kau mencintainya kan? Mencintai itu, lebih dalam dari yang pernah semua orang kira. Bukan hanya karena jantung mu berdegub kencang ketika kau bersamanya, maka itu berarti kau mencintainya, jika memang iya, suatu saat jika jantungmu tidak berdegub kencang lagi ketika bersamanya, maka saat itu kau tidak akan mencintainya lagi. Tidak, cinta adalah, ketika kau bersamanya –meskipun jantungmu tidak berdegub kencang, kau tetap yakin bahwa kau mencintainya. Aku, Kim Sunggyu, tidak akan pernah, sekalipun dalam hidupku, melepaskan cintaku.. Cinta pertamaku, hanya untuk keegoisan orang tuaku.
Dengan perlahan aku berdiri dan menggenggam erat tangan ayahku. Kemarahan masih jelas terpancar di mata tajamnya. Kutatap mata ayahku dengan tajam dan senyuman pahit terukir di bibirku –yang manis, “appa, let me do this with my own”, ujarku pelan namun yakin. Benar, aku adalah pria dewasa berumur 25 tahun. Aku, bisa memutuskan ini semua sendiri. “KIM SUNGGYU! Tau apa kau soal cinta?! Kau tidak tahu apa-apa soal orang-orang di sini! Aku tidak mau kau mendapatkan namja yang hanya akan bermain-main dengan perasaanmu dan mengincar jabatanmu Kim Sunggyu!!”, perlahan tangan ayahku mencengkram kedua bahuku dengan erat. Lagi, bibirku hanya bisa mengulaskan sebuah senyuman, “je sais (aku tahu), appa.. Keegoisan”, perlahan kulepaskan cengkraman tangan ayahku dan tersenyum simpul. “Mwo?”, mata ayahku menatap tajam kedalam mataku seolah menusukknya hingga ke bagian terdalam di hatiku. “humaine, est l'égoïsme.. comme toi, abeoji.. (manusia, adalah keegoisan.. sepertimu, ayah)”, perlahan kumasukkan kedua tanganku kedalam saku celanaku dan berbalik berjalan menuju kamarku. “vous êtes stupide KIM SUNGGYU!! (kau bodoh kim sunggyu)”, kuacuhkan makian dari ayahku dan terus berjalan menuju kamarku. Jika semuanya menjadi seperti ini, aku lebih memilih terus tinggal di Perancis dan melanjutkan hidupku disana, tanpa kedua orang tuaku.
---------------
“hyung, ireona!”, perlahan kurasakan tangan seseorang mengguncang-guncang tubuhku dengan membabi buta. Perlahan kubuka mataku dan kembali menyipit saat menyadari sinar matahari yang tiba-tiba menyerang mataku. Sudah pagi ternyata. “hyung kau sudah bangun?”, lagi, aku mendengar suara menyebalkan itu menusuk telingaku. Hh, Kim Ki Bum adikku. “mwo? Apa yang kau inginkan pagi-pagi begini?”, kutatap Key dengan pandangan tajam ku. Aish bocah ini, jika mengingat dia bukan adikku, mungkin –jika aku bisa, aku akan membuangnya ke sungai Han. “hyung, kau tahu kau akan menikah tepat di hari ulang tahunmu yang ke 25, itu berarti seminggu lagi! Aigoo aku tidak sabar melihat mu memakai gaun, jinjja! Kau pasti cantik sekali”, seketika itu juga mataku membelalak lebar selebar-lebarnya. Gaun? Seminggu lagi? Menikah? Apa mereka gila?!
“wae? Hyung masih menunggu cinta pertama hyung yang bernama pohon itu? cih, hyung dia mungkin sekarang sudah menikah, dan juga seperti yang Hoya hyung katakan, kau itu seorang maniak! Sudahlah, kau juga harus move on hyung”, dengan pedenya, namja cantik yang berstatus sebagai adikku ini terus saja mengoceh dan menceramahiku seolah-olah aku lebih muda darinya. Baiklah, aku harus membunuhnya sekarang juga. Dengan cepat kutarik Key sampai tertidur di kasur dan langsung menindihnya sambil membekap mulutnya. Tawa puas keluar dari bibirku. Haha rasakan kau anak manja. “mwo? Mwo? Masih mau bicara lagi hmm?”, bibirku terus tertawa tanpa henti dan membiarkan Key yang terus meronta-ronta di bawahku.
“apa yang kalian lakukan?”, sampai sebuah suara menghentikan tawaku.
Perlahan kutolehkan wajahku dan mendapati Myungsoo, adik tertuaku –kakak Key, berdiri di depan pintu dengan kaca mata hitam yang sudah terpasang di wajah tampannya. Kurasa dia mau pergi sebentar lagi. “mwo? Kau juga ingin kutindih seperti Key?”, tanyaku sarkastik. “aku bisa mati jika ditindih hamster gendut sepertimu hyung”, Myungsoo memeletkan lidahnya dan tertawa puas. “HAMSTER GENDUT KATAMU??”, kulepaskan bekapan tanganku pada bibir Key dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aish mereka berdua memang tidak ada bedanya. “ne! Padahal aku kira kau akan sedikit langsing jika tinggal di Perancis selam lima tahun. Ternyata sama saja”, Myungsoo menyenderkan punggungnya di pintu kamarku yang terbuka lebar dan tertawa santai. “Myungsoo Hyung tolong aku”, Perlahan Key mulai bersuara lagi. “Mwo?!”, tanpa menghiraukan Key, suara tinggi mulai keluar lagi dari mulutku. Baiklah Myungsoo memang tidak manja dan cerewet seperti Key, tapi kalian harus tau, dia sangat jahil –dan menyebalkan. “hyung, lepaskan dia”, Myungsoo tertawa pelan dan menunjuk-nunjuk Key yang sudah tidak berdaya. Dengan amat sangat kesal –dan menahan semua kekesalanku, akhirnya aku berdiri dan menatap Key datar. “lihat saja hyung! Aku akan mengadukanmu kepada kekasihku!”, Key mengerucutkan bibirnya dan membenarkan rambutnya yang berantakan. Lagi, Myungsoo tertawa santai sambil menurunkan kacamatanya sedikit dan menatap Key. “cih, gâté (manja)”, Myungsoo memeletkan lidahnya dan berjalan santai keluar dari kamarku. Aku tertawa pelan mendengar kata-kata Myungsoo dan menatap Key yang masih setia mengerucutkan bibirnya. “KIM SUNGGYU KIM MYUNGSOO stupide!! Suce (menyebalkan)!! Mal (jahat)!! Aaaarrhh!!”, Key berteriak frustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya dan menatapku kesal sambil berlari keluar dari kamar. Hahah, meskipun aku sudah berpisah dengan mereka karena melanjutkan studiku selama lima tahun ini, tapi semuanya tetap sama. Tidak ada yang berubah kecuali Aku, Myungsoo dan Key sudah pintar berbahasa Perancis seperti ibuku. Benar, ibuku adalah orang perancis, dan ayahku adalah orang korea. Maka itu saat di perancis dulu, aku tinggal dengan anak dari adik ibuku. Namanya Hoya, ayahnya adalah adik ibuku, dan ibu Hoya –adik ayahku, juga orang Korea. Haha kebetulan bukan?
Aku sedang sibuk berkutat dengan surat-surat yang harus kutandatangani saat sekertarisku perlahan membuka pintu ruanganku dan menginterupsiku. “tuan muda, adik anda datang”, kudongakkan kepalaku perlahan dan menatap sekertarisku dengan malas. Adikku?
“nugu?”
“Tuan muda Key”,
Aish bocah itu..
“baiklah suruh dia masuk”, perlahan kuraih kertas-kertas yang ada di hadapanku dan mulai membacanya dengan seksama lagi. Key.. Ah, pasti hal yang tidak penting lagi.
“HYUUUNGGGG”, Key berteriak dengan semangat dan langsung memeluk leherku. Gumaman singkat keluar dari bibirku untuk merespon panggilannya. “hyuuung, aku ingin mengenalkan kekasihku padamu! Kau tau kan kami akan menikah sebelum kau??”, perlahan kuangkat wajahku dan menatap Key datar. Memang benar, Key akan menikah lebih dulu dengan namja pilihannya sendiri. Bagaimana? Tidak adil bukan? Bahkan Key diijinkan menikah dengan lelaki pilihannya. Sedangkan aku? Dengan segala alasan bahwa pewaris avancé Corp harus memiliki pendamping hidup yang benar dan jelas asal-usulnya. Kalau memang itu alasannya, bukankah Key nantinya juga akan menjadi pimpinan avancé corp ketika aku dan Myungsoo tua nanti kan? Lalu apa bedanya dengan aku sekarang? Apa karena aku masih belum memiliki kekasih dan masih menantikan cinta pertama ku –yang mustahil kutemukan, lagi? Jadi karena semua itu ayah dan ibu menjodohkanku? Bukankah ini sangat tidak adil? Jika memang harus seperti ini, aku tidak akan mau menjadi anak tertua di Keluarga Kim. “jinjja?”, aku tersenyum simpul dan menatap Key. Key mengangguk dengan bersemangat dan perlahan menunjukkan tangannya. Mataku dengan hati-hati mengikuti arah tangan Key.
Dia.. Namja itu..
Seketika itu juga aku terdiam. Mataku membelalak kaget dan tanganku bergetar perlahan.
Dia.. Nam woohyun..
“namanya Nam Woohyun hyung.. dia sangat tampan kan, tidak sepertimu!”, Key tertawa senang dan menepuk-nepuk pundakku pelan. Saat itu juga, aku merasakan kiamat terjadi di sekitarku. Mataku panas seolah ada api dari dalam tubuhku yang membakar semua organ di dalam tubuhku. Namja itu, dia hanya mematung dan menatapku tanpa ada sedikitpun niatan untuk mendekatiku dan menyapaku. Namja itu, setelah 7 tahun aku menunggu nya, dan dia tidak pernah kembali.. sekarang dia kembali sebagai calon suami adikku. Tuhan, ini mimpi kan? Kalau iya, kenapa kau memberiku mimpi yang seburuk ini tuhan? Apa salahku? dengan sekuat tenaga kutahan air mataku dan tersenyum kearahnya. “jinjjaya? Benar Key ah, kalian sangat serasi”, dengan perlahan aku berdiri dan melangkahkan kakiku mendekati nya. Mataku dengan tajam menatap ke manik matanya dan terus melangkahkan kaki mendekatinya. Woohyun –yang kuketahui itulah namanya, juga menatap manik mataku. Perlahan tangannya terulur kearahku. “Nam Woohyun, senang berkenalan denganmu hyung”, senyum sinis terukir di bibirku mendengar kata-katanya. “kau banyak berubah Nam Woohyun”, aku berbisik, dengan pelan sangat pelan. Dan kupastikan hanya aku dan Woohyun yang mendengarnya. Kusambut uluran tangan Woohyun dan menjabatnya singkat sambil tersenyum, senyum yang kutunjukkan untuk menjaga perasaan adikku. “senang mengenalmu Nam Woohyun ssi”.
----------------
Langit malam ini cerah, tidak ada sedikitpun awan yang menutupinya. Benar-benar cuaca yang baik. Tapi tidak, bagi namja yang hatinya baru saja dirobek-robek dan dibuang begitu saja oleh seorang namja yang 7 tahun ini selalu berada di dalam hatinya. Namja yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya. Seperti aku. Kalian tahu, aku merasa menjadi seorang namja yang paling bodoh di dunia ini. Aku sudah berali-kali mencampakkan yeoja-yeoja yang tulus mencintaiku hanya karena dia, hanya karena Nam woohyun –yang aku tidak tahu kenapa, kembali dan menjadi calon suami dari adik kesayanganku. Kalau malam ini tuhan memberiku satu saja permintaan, maka aku meminta agar aku bisa secepatnya pergi dari dunia yang menyakitkan ini. Semua orang di dunia ini, tidak satupun –bahkan orang tuaku, sama sekali tidak ada yang bisa mengerti perasaanku. Hanya dia harapanku, satu-satunya. Tapi pagi ini, dia melukai hatiku. Lebih dalam dari luka-luka yang pernah orang lain berikan padaku. “waah bukankah hari ini sangat cerah”, kurasakan seseorang duduk di sampingku. Suara itu, suara yang sangat aku kenal. Perlahan kutolehkan wajahku dan mendapati dia.. Namja yang seolah tanpa dosa datang kehadapanku sebagai calon adik iparku. Kupalingkan kembali wajahku dan hendak beranjak dari kursiku sebelum tangan hangat menggenggam erat tanganku.
“mianhae, mianhada..” , suara lembut itu seketika membuat hatiku seperti tertusuk sebuah besi runcing yang panas. Air mata itu tidak dapat kutahan lagi. Perlahan cairan bening itu meleleh menuruni pipiku.
“mianhada.. aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu.. ", kurasakan lengan kekar itu memelukku dengan erat dari belakang.
“Sunggyu ah, maafkan aku.. tapi itu sudah sangat lama..”,
“apa kau tahu bahwa aku selalu menunggu mu setiap hari selama 7 tahun ini? Apa kau tahu aku setiap malam menangis karena merindukanmu?”, perlahan aku berontak dan berusaha melepaskan pelukannya, tapi nihil. Tenaganya terlalu besar.
“aku mengira, kau sudah lupa padaku.. kau lupa dengan tempat ini.. karena itu aku tidak pernah datang”, kurasakan cairan bening membasahi kemeja putihku. Dia.. menangis?
“dan kau memilih menikahi adikku, adik kandungku”
“demi tuhan.. aku bahkan tidak tahu kalau Key adalah adikmu Kim Sunggyu!”, Woohyun mencengkram tanganku kuat dan aku hanya bisa terisak dalam diam. Kau jahat Nam Woohyun, kau jahat
!
“lagipula, kudengar dari adikmu, kau juga akan menikah dengan seorang namja pilihan ayahmu kan? Mianhada Sunggyu ah..”,
perlahan Woohyun melonggarkan pelukannya dan membalikkan badanku. Air mata terus mengalir menuruni pipiku. Jari-jari Woohyun dengan sangat lembut mengusap pipiku dan menghapus air mataku.
“aku mencintaimu.. tapi cinta tidak harus bersama kan? Aku harus menikah dengan Key, apapun yang terjadi”, mata Woohyun menatapku lembut.
Sekali lagi, kupalingkan wajahku dan menghindari tatapannya. Dengan kuat, kedua tangan Woohyun menangkup wajahku dan dengan cepat menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibirku. Lagi, air mata mengalir menuruni pipiku merasakan sentuhan bibirnya yang lembut. Kupejamkan mataku dan pasrah dengan semua yang terjadi saat ini. Cinta, bukan sebuah keegoisan.. tapi ketulusan. Benar, aku akan melepaskan Woohyun dari hidupku, selamanya. Biar hatiku, otakku, dan jiwaku yang merasakan perasaanku padanya. Biarkan hanya aku, yang mencintainya dan melihatnya bahagia bersama adikku dari jauh..
TBC
Annyeongg im back ^^ hehehe maaf ya ff nya aneh dan alurnya juga ga rapi.. lagi galau gara2 Key sering menempel sama didy dan mimy sering terabaikan T__T makanya ff ini terbentuk (?) mian ya kalau ga bagus u,u next chap? Comment please.. hehe dan ff ini kado buat dongsaeng saya Lini Putri Inspirit yang habis UN kemarin. Hahaha maaf kalau jelek u,u sekali lagi thanks buat yang mau bacaa *ngilang*
Cast:
- Kim Sunggyu
- Nam Woohyun
- Kim Ki Bum (Key)
Rate: PG-15
Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.
Kim Sunggyu’s POV
PRANGG!!!!!!
Suara pecahan kaca membaha di seluruh rumah. Mata sipitku perlahan menatap ayahku dengan tajam. Ini sudah kesekian kalinya beliau melemparkan benda-benda keramik mahalnya dihadapanku yang –meskipun tidak mengenaiku, tapi tetap menyayat hatiku. Ini pertama kalinya dalam hidupku, ayahku membentakku dan memarahiku seperti ini. Memang, ini semua adalah kesalahanku. Memang, aku adalah penyebab semua kekacauan ini. Aku adalah penyebab jatuhnya air mata ibuku saat ini. Benar, ini semua karena aku. Karena aku yang menolak perintah mereka untuk menikahi seorang laki-laki pilihan mereka. Selama 25 tahun hidupku, aku selalu menjadi anak yang baik untuk orang tuaku. Aku selalu melakukan apapun yang mereka minta. Otakku, hatiku, keegoisanku, semuanya aku tekan untuk mereka. Semua yang mereka minta, mereka inginkan, tidak pernah sekalipun kubantah. Tapi kali ini, keegoisanku menang. Bukankah egois memang sifat dasar manusia? Bukankah manusia memang dilahirkan untuk sebuah keegoisan? Oh ayolah, orang munafik mana di dunia ini yang masih mengatakan ‘kumohon, jangan egois, pikirkan orang lain’ –meskipun memang benar adanya, tapi coba fikirkan lagi. Apakah kita akan selamanya hidup untuk selalu tertunduk pada perintah orang lain –bahkan orang tua kita sekalipun? Apakah kita akan selamanya menuruti keinginan orang lain? Tidak bukan? Itu, yang kusebut keegoisan. Dan saat ini, itulah yang kurasakan. Aku lelah menjalani hidupku hanya menjadi sebuah robot yang bisa di kontrol jarak jauh oleh remote orang tuaku. Hatiku, sudah memberontak sekian lama karena ini semua. Ayolah, aku sudah berumur 25 tahun –jika aku masih ada di Perancis umurku masih 24 tahun, apakah aku harus terus menuruti kata-kata orang tuaku? Baiklah jika ini memang berhubungan dengan perkerjaan, pendidikan, atau dimana aku tinggal, aku masih dapat menoleransinya. Tapi ini, ini merupakan urusan paling pribadi dalam hidupku. Aku tidak bisa tinggal selamanya dengan orang yang tidak aku cintai. Baiklah memang banyak orang mengatakan, ‘cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu’ tapi menurutku, itu tidak benar. Cinta adalah sebuah ketulusan. Saling mencintai adalah sebuah ketulusan hati dimana kita rela membuang keegoisan kita. Benar, disaat kita membuang ‘sifat dasar’ kita sebagai manusia, saat itulah kita merasakan cinta sejati. Dan juga, bagaimana bisa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu? Awal dari cinta adalah sebuah ketertarikan bukan? Lalu bagaimana kita bisa merasakan cinta jika kita tidak merasakan ketertarikan itu? Tidak, waktu tidak akan pernah bisa ikut campur dalam cinta. Waktu hanya menunjukkan, waktu hanya memberi ketepatan akan suatu hal. Bukan untuk mempengaruhi apapun dalam hal tersebut –dalam hal ini cinta. Bahkan dalam 1000 tahun pun aku bersama dengan calon suamiku nanti, jika aku –dan hatiku, sama sekali tidak tertarik dan tidak ingin mencintainya, maka tidak akan ada satu pun perubahan dengan saat ini. Mungkin, aku hanya akan terbiasanya dengan kehadirannya. Hanya terbiasa, terbiasa bukan berarti mencintai. Kau terbiasa dengan keberadaan kucing manis mu disekitarmu, bukan berarti kau mencintainya kan? Mencintai itu, lebih dalam dari yang pernah semua orang kira. Bukan hanya karena jantung mu berdegub kencang ketika kau bersamanya, maka itu berarti kau mencintainya, jika memang iya, suatu saat jika jantungmu tidak berdegub kencang lagi ketika bersamanya, maka saat itu kau tidak akan mencintainya lagi. Tidak, cinta adalah, ketika kau bersamanya –meskipun jantungmu tidak berdegub kencang, kau tetap yakin bahwa kau mencintainya. Aku, Kim Sunggyu, tidak akan pernah, sekalipun dalam hidupku, melepaskan cintaku.. Cinta pertamaku, hanya untuk keegoisan orang tuaku.
Dengan perlahan aku berdiri dan menggenggam erat tangan ayahku. Kemarahan masih jelas terpancar di mata tajamnya. Kutatap mata ayahku dengan tajam dan senyuman pahit terukir di bibirku –yang manis, “appa, let me do this with my own”, ujarku pelan namun yakin. Benar, aku adalah pria dewasa berumur 25 tahun. Aku, bisa memutuskan ini semua sendiri. “KIM SUNGGYU! Tau apa kau soal cinta?! Kau tidak tahu apa-apa soal orang-orang di sini! Aku tidak mau kau mendapatkan namja yang hanya akan bermain-main dengan perasaanmu dan mengincar jabatanmu Kim Sunggyu!!”, perlahan tangan ayahku mencengkram kedua bahuku dengan erat. Lagi, bibirku hanya bisa mengulaskan sebuah senyuman, “je sais (aku tahu), appa.. Keegoisan”, perlahan kulepaskan cengkraman tangan ayahku dan tersenyum simpul. “Mwo?”, mata ayahku menatap tajam kedalam mataku seolah menusukknya hingga ke bagian terdalam di hatiku. “humaine, est l'égoïsme.. comme toi, abeoji.. (manusia, adalah keegoisan.. sepertimu, ayah)”, perlahan kumasukkan kedua tanganku kedalam saku celanaku dan berbalik berjalan menuju kamarku. “vous êtes stupide KIM SUNGGYU!! (kau bodoh kim sunggyu)”, kuacuhkan makian dari ayahku dan terus berjalan menuju kamarku. Jika semuanya menjadi seperti ini, aku lebih memilih terus tinggal di Perancis dan melanjutkan hidupku disana, tanpa kedua orang tuaku.
---------------
“hyung, ireona!”, perlahan kurasakan tangan seseorang mengguncang-guncang tubuhku dengan membabi buta. Perlahan kubuka mataku dan kembali menyipit saat menyadari sinar matahari yang tiba-tiba menyerang mataku. Sudah pagi ternyata. “hyung kau sudah bangun?”, lagi, aku mendengar suara menyebalkan itu menusuk telingaku. Hh, Kim Ki Bum adikku. “mwo? Apa yang kau inginkan pagi-pagi begini?”, kutatap Key dengan pandangan tajam ku. Aish bocah ini, jika mengingat dia bukan adikku, mungkin –jika aku bisa, aku akan membuangnya ke sungai Han. “hyung, kau tahu kau akan menikah tepat di hari ulang tahunmu yang ke 25, itu berarti seminggu lagi! Aigoo aku tidak sabar melihat mu memakai gaun, jinjja! Kau pasti cantik sekali”, seketika itu juga mataku membelalak lebar selebar-lebarnya. Gaun? Seminggu lagi? Menikah? Apa mereka gila?!
“wae? Hyung masih menunggu cinta pertama hyung yang bernama pohon itu? cih, hyung dia mungkin sekarang sudah menikah, dan juga seperti yang Hoya hyung katakan, kau itu seorang maniak! Sudahlah, kau juga harus move on hyung”, dengan pedenya, namja cantik yang berstatus sebagai adikku ini terus saja mengoceh dan menceramahiku seolah-olah aku lebih muda darinya. Baiklah, aku harus membunuhnya sekarang juga. Dengan cepat kutarik Key sampai tertidur di kasur dan langsung menindihnya sambil membekap mulutnya. Tawa puas keluar dari bibirku. Haha rasakan kau anak manja. “mwo? Mwo? Masih mau bicara lagi hmm?”, bibirku terus tertawa tanpa henti dan membiarkan Key yang terus meronta-ronta di bawahku.
“apa yang kalian lakukan?”, sampai sebuah suara menghentikan tawaku.
Perlahan kutolehkan wajahku dan mendapati Myungsoo, adik tertuaku –kakak Key, berdiri di depan pintu dengan kaca mata hitam yang sudah terpasang di wajah tampannya. Kurasa dia mau pergi sebentar lagi. “mwo? Kau juga ingin kutindih seperti Key?”, tanyaku sarkastik. “aku bisa mati jika ditindih hamster gendut sepertimu hyung”, Myungsoo memeletkan lidahnya dan tertawa puas. “HAMSTER GENDUT KATAMU??”, kulepaskan bekapan tanganku pada bibir Key dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aish mereka berdua memang tidak ada bedanya. “ne! Padahal aku kira kau akan sedikit langsing jika tinggal di Perancis selam lima tahun. Ternyata sama saja”, Myungsoo menyenderkan punggungnya di pintu kamarku yang terbuka lebar dan tertawa santai. “Myungsoo Hyung tolong aku”, Perlahan Key mulai bersuara lagi. “Mwo?!”, tanpa menghiraukan Key, suara tinggi mulai keluar lagi dari mulutku. Baiklah Myungsoo memang tidak manja dan cerewet seperti Key, tapi kalian harus tau, dia sangat jahil –dan menyebalkan. “hyung, lepaskan dia”, Myungsoo tertawa pelan dan menunjuk-nunjuk Key yang sudah tidak berdaya. Dengan amat sangat kesal –dan menahan semua kekesalanku, akhirnya aku berdiri dan menatap Key datar. “lihat saja hyung! Aku akan mengadukanmu kepada kekasihku!”, Key mengerucutkan bibirnya dan membenarkan rambutnya yang berantakan. Lagi, Myungsoo tertawa santai sambil menurunkan kacamatanya sedikit dan menatap Key. “cih, gâté (manja)”, Myungsoo memeletkan lidahnya dan berjalan santai keluar dari kamarku. Aku tertawa pelan mendengar kata-kata Myungsoo dan menatap Key yang masih setia mengerucutkan bibirnya. “KIM SUNGGYU KIM MYUNGSOO stupide!! Suce (menyebalkan)!! Mal (jahat)!! Aaaarrhh!!”, Key berteriak frustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya dan menatapku kesal sambil berlari keluar dari kamar. Hahah, meskipun aku sudah berpisah dengan mereka karena melanjutkan studiku selama lima tahun ini, tapi semuanya tetap sama. Tidak ada yang berubah kecuali Aku, Myungsoo dan Key sudah pintar berbahasa Perancis seperti ibuku. Benar, ibuku adalah orang perancis, dan ayahku adalah orang korea. Maka itu saat di perancis dulu, aku tinggal dengan anak dari adik ibuku. Namanya Hoya, ayahnya adalah adik ibuku, dan ibu Hoya –adik ayahku, juga orang Korea. Haha kebetulan bukan?
Aku sedang sibuk berkutat dengan surat-surat yang harus kutandatangani saat sekertarisku perlahan membuka pintu ruanganku dan menginterupsiku. “tuan muda, adik anda datang”, kudongakkan kepalaku perlahan dan menatap sekertarisku dengan malas. Adikku?
“nugu?”
“Tuan muda Key”,
Aish bocah itu..
“baiklah suruh dia masuk”, perlahan kuraih kertas-kertas yang ada di hadapanku dan mulai membacanya dengan seksama lagi. Key.. Ah, pasti hal yang tidak penting lagi.
“HYUUUNGGGG”, Key berteriak dengan semangat dan langsung memeluk leherku. Gumaman singkat keluar dari bibirku untuk merespon panggilannya. “hyuuung, aku ingin mengenalkan kekasihku padamu! Kau tau kan kami akan menikah sebelum kau??”, perlahan kuangkat wajahku dan menatap Key datar. Memang benar, Key akan menikah lebih dulu dengan namja pilihannya sendiri. Bagaimana? Tidak adil bukan? Bahkan Key diijinkan menikah dengan lelaki pilihannya. Sedangkan aku? Dengan segala alasan bahwa pewaris avancé Corp harus memiliki pendamping hidup yang benar dan jelas asal-usulnya. Kalau memang itu alasannya, bukankah Key nantinya juga akan menjadi pimpinan avancé corp ketika aku dan Myungsoo tua nanti kan? Lalu apa bedanya dengan aku sekarang? Apa karena aku masih belum memiliki kekasih dan masih menantikan cinta pertama ku –yang mustahil kutemukan, lagi? Jadi karena semua itu ayah dan ibu menjodohkanku? Bukankah ini sangat tidak adil? Jika memang harus seperti ini, aku tidak akan mau menjadi anak tertua di Keluarga Kim. “jinjja?”, aku tersenyum simpul dan menatap Key. Key mengangguk dengan bersemangat dan perlahan menunjukkan tangannya. Mataku dengan hati-hati mengikuti arah tangan Key.
Dia.. Namja itu..
Seketika itu juga aku terdiam. Mataku membelalak kaget dan tanganku bergetar perlahan.
Dia.. Nam woohyun..
“namanya Nam Woohyun hyung.. dia sangat tampan kan, tidak sepertimu!”, Key tertawa senang dan menepuk-nepuk pundakku pelan. Saat itu juga, aku merasakan kiamat terjadi di sekitarku. Mataku panas seolah ada api dari dalam tubuhku yang membakar semua organ di dalam tubuhku. Namja itu, dia hanya mematung dan menatapku tanpa ada sedikitpun niatan untuk mendekatiku dan menyapaku. Namja itu, setelah 7 tahun aku menunggu nya, dan dia tidak pernah kembali.. sekarang dia kembali sebagai calon suami adikku. Tuhan, ini mimpi kan? Kalau iya, kenapa kau memberiku mimpi yang seburuk ini tuhan? Apa salahku? dengan sekuat tenaga kutahan air mataku dan tersenyum kearahnya. “jinjjaya? Benar Key ah, kalian sangat serasi”, dengan perlahan aku berdiri dan melangkahkan kakiku mendekati nya. Mataku dengan tajam menatap ke manik matanya dan terus melangkahkan kaki mendekatinya. Woohyun –yang kuketahui itulah namanya, juga menatap manik mataku. Perlahan tangannya terulur kearahku. “Nam Woohyun, senang berkenalan denganmu hyung”, senyum sinis terukir di bibirku mendengar kata-katanya. “kau banyak berubah Nam Woohyun”, aku berbisik, dengan pelan sangat pelan. Dan kupastikan hanya aku dan Woohyun yang mendengarnya. Kusambut uluran tangan Woohyun dan menjabatnya singkat sambil tersenyum, senyum yang kutunjukkan untuk menjaga perasaan adikku. “senang mengenalmu Nam Woohyun ssi”.
----------------
Langit malam ini cerah, tidak ada sedikitpun awan yang menutupinya. Benar-benar cuaca yang baik. Tapi tidak, bagi namja yang hatinya baru saja dirobek-robek dan dibuang begitu saja oleh seorang namja yang 7 tahun ini selalu berada di dalam hatinya. Namja yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya. Seperti aku. Kalian tahu, aku merasa menjadi seorang namja yang paling bodoh di dunia ini. Aku sudah berali-kali mencampakkan yeoja-yeoja yang tulus mencintaiku hanya karena dia, hanya karena Nam woohyun –yang aku tidak tahu kenapa, kembali dan menjadi calon suami dari adik kesayanganku. Kalau malam ini tuhan memberiku satu saja permintaan, maka aku meminta agar aku bisa secepatnya pergi dari dunia yang menyakitkan ini. Semua orang di dunia ini, tidak satupun –bahkan orang tuaku, sama sekali tidak ada yang bisa mengerti perasaanku. Hanya dia harapanku, satu-satunya. Tapi pagi ini, dia melukai hatiku. Lebih dalam dari luka-luka yang pernah orang lain berikan padaku. “waah bukankah hari ini sangat cerah”, kurasakan seseorang duduk di sampingku. Suara itu, suara yang sangat aku kenal. Perlahan kutolehkan wajahku dan mendapati dia.. Namja yang seolah tanpa dosa datang kehadapanku sebagai calon adik iparku. Kupalingkan kembali wajahku dan hendak beranjak dari kursiku sebelum tangan hangat menggenggam erat tanganku.
“mianhae, mianhada..” , suara lembut itu seketika membuat hatiku seperti tertusuk sebuah besi runcing yang panas. Air mata itu tidak dapat kutahan lagi. Perlahan cairan bening itu meleleh menuruni pipiku.
“mianhada.. aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu.. ", kurasakan lengan kekar itu memelukku dengan erat dari belakang.
“Sunggyu ah, maafkan aku.. tapi itu sudah sangat lama..”,
“apa kau tahu bahwa aku selalu menunggu mu setiap hari selama 7 tahun ini? Apa kau tahu aku setiap malam menangis karena merindukanmu?”, perlahan aku berontak dan berusaha melepaskan pelukannya, tapi nihil. Tenaganya terlalu besar.
“aku mengira, kau sudah lupa padaku.. kau lupa dengan tempat ini.. karena itu aku tidak pernah datang”, kurasakan cairan bening membasahi kemeja putihku. Dia.. menangis?
“dan kau memilih menikahi adikku, adik kandungku”
“demi tuhan.. aku bahkan tidak tahu kalau Key adalah adikmu Kim Sunggyu!”, Woohyun mencengkram tanganku kuat dan aku hanya bisa terisak dalam diam. Kau jahat Nam Woohyun, kau jahat
!
“lagipula, kudengar dari adikmu, kau juga akan menikah dengan seorang namja pilihan ayahmu kan? Mianhada Sunggyu ah..”,
perlahan Woohyun melonggarkan pelukannya dan membalikkan badanku. Air mata terus mengalir menuruni pipiku. Jari-jari Woohyun dengan sangat lembut mengusap pipiku dan menghapus air mataku.
“aku mencintaimu.. tapi cinta tidak harus bersama kan? Aku harus menikah dengan Key, apapun yang terjadi”, mata Woohyun menatapku lembut.
Sekali lagi, kupalingkan wajahku dan menghindari tatapannya. Dengan kuat, kedua tangan Woohyun menangkup wajahku dan dengan cepat menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibirku. Lagi, air mata mengalir menuruni pipiku merasakan sentuhan bibirnya yang lembut. Kupejamkan mataku dan pasrah dengan semua yang terjadi saat ini. Cinta, bukan sebuah keegoisan.. tapi ketulusan. Benar, aku akan melepaskan Woohyun dari hidupku, selamanya. Biar hatiku, otakku, dan jiwaku yang merasakan perasaanku padanya. Biarkan hanya aku, yang mencintainya dan melihatnya bahagia bersama adikku dari jauh..
TBC
Annyeongg im back ^^ hehehe maaf ya ff nya aneh dan alurnya juga ga rapi.. lagi galau gara2 Key sering menempel sama didy dan mimy sering terabaikan T__T makanya ff ini terbentuk (?) mian ya kalau ga bagus u,u next chap? Comment please.. hehe dan ff ini kado buat dongsaeng saya Lini Putri Inspirit yang habis UN kemarin. Hahaha maaf kalau jelek u,u sekali lagi thanks buat yang mau bacaa *ngilang*
No comments:
Post a Comment