Note : ANJEEEEER. WAT DE HELL. GUE NGGA TERIMA !! INI FF TERLALU DAEBAK NJAAAY. SO DAMN !!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Longer | 1S
19 November ·
WooGyu fanfiction...
Title : Longer
Author : Archie
a.k.a @deadeadhean
Genre : yaoi
ofc!!!
Length : 1S
Rated : M
Don’t Like??
Don’t read ‘n don’t bash!!! and also…DON’T COPAS!!!!!
Happy Reading!!!!
Sungkyu duduk di
tepi tempat tidurnya. Sedikit memutar tubuh dan berusaha mengangkat wajah,
membalas tatapan pemuda lain yang dari tadi tidak melepaskan atensi darinya.
Tatapan pemuda
itu lembut, -tidak! Itu lebih seperti tatapan penuh rasa bersalah dari
seseorang yang mengharap maaf. Dan Sungkyu yang sudah terlanjur jatuh seperti
tidak sanggup untuk mengimbanginya.
“Gyu,mianhae...”
Sungkyu benci
mendengar kata sialan itu. Dari yang Sungkyu pahami, kata maaf tidak pernah
berguna dan hanya untuk membersihkan dosa seseorang. Namun tidak pernah mampu
untuk menghapus kepedihan yang diciptakannya.
Mata Sungkyu
sudah terlalu sayu. Kelopak indahnya tidak lagi memancarkan sinar, hanya ada
asa tak berarti yang terbaca di sana. Mungkin air matanya sudah terlanjur
mongering sejak beberapa hari lalu saat Nam Woohyun, sosok yang ia cintai
tiba-tiba datang dan melakukan sebuah pengakuan.
“Aku benar-benar
tidak bisa meninggalkan wanita itu,Gyu. Kebersamaan kami membuatku sadar kalau
dialah orang yang selama ini ku cari. Maafkan aku sudah mengkhianatimu seperti
ini.”
Genggaman Sungkyu
pada bantal putih di dekatnya menguat tiap kali kalimat itu tergiang merusak
memori indahnya bersama Woohyun.
“Lalu bagaimana
dengan 6 tahun kebersamaan kita?”
Sungkyu hanya
menjerit dalam hati. Percuma untuk bersuara, apapun yang dikatakannya tidak
akan mengubah apapun.
“Aku yakin kau
pasti akan mengerti kan,chagi?”
Jangan Nam!
Jangan lagi memanggilnya seperti itu.
“Sungkyu-ya,jebal.”
Dengan susah
payah pemuda bermarga Kim itu menahan isakannya,”Woohyun-ah, sebelum kau pergi,
boleh aku menanyakan sesuatu?”
Woohyun mengernyit
namun ia tetap menunggu ucapan Sungkyu selanjutnya.
“Kenapa-“ucapan
Sungkyu tersendat karena air matanya yang jatuh tanpa disadari,”-kenapa selama
ini diam-diam kau menjalin hubungan dengan seorang wanita?”
“…………”
“-apa kau sungguh
mencintainya atau karena kau mau berusaha menyembunyikan semuanya?”
Nada suara
Sungkyu meninggi. Seperti hanya dengan itu ia bisa menyembunyikan sisi
lemahnya.
“Katakan Hyun,kau
hanya memanfatkan wanita itu kan? Hanya untuk mengingkari kenyataan bahwa kau
adalah seorang gay!”
“Tidak,Gyu. Aku
mencintainya dengan sungguh. Tidak seperti hubungan kita. Aku pikir selama ini
kita hanya terjebak dalam sebuah kesalahan.”
Angin malam yang
bertiup dari jendela menjeda keduanya. Tanpa suara.
“Kau tidak
memikirkanku sama sekali Hyun.”
“………….”
“Kau terlalu
egois,Nam Woohyun! Kau-“
‘Grab...’
Pelukan Woohyun
seperti memaksa Sungkyu untuk menghentikan makiannya.
“Lepaskan
aku,brengsek! Jangan berani menyentuhku lagi!”
Sungkyu bisa
merasakan gelengan kepala Woohyun yang kini bersandar di pundaknya. Entah
kenapa Tuhan harus menciptakan Sungkyu sebagai laki-laki yang begitu lemah
hingga tidak pernah bisa menang saat berhadapan dengan Woohyun.
“Aku mencintaimu
Woohyun. Kau tau dengan jelas, tapi kenapa kau melakukan semua ini?”suara itu
akhirnya melemah.
“Ini demi
kebaikan kita Gyu. Kau dan aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Sudah
saatnya kita mencari kebahagiaan masing-masing. Aku yakin kau pasti bisa
menemukan seorang wanita yang jauh lebih baik dari kekasihmu yang dulu, yang
sudah membuatmu membenci wanita sampai akhirnya terjebak bersamaku dalam
hubungan ini. Jebal Gyu,ini yang terbaik.”
Sungkyu percaya
kata-kata itu hanyalah omong kosong Woohyun untuk segera melepaskan diri
darinya.
Bukankah sejak
dulu mereka berdua memahami itu?
Kenapa baru
sekarang Woohyun mempermasalahkannya?
Saat ia telah
menjadi satu-satunya tempat bagi Sungkyu untuk bersandar.
“Maafkan aku
Gyu,ku mohon. Bukankah kita masih bisa berteman?”
Tentu semua akan
berbeda,Nam. Kau seperti tidak memahami keadaan ini.
Cukup lama mereka
berpelukan sebelum akhirnya Woohyun melonggarkan tautan lengannya pada tubuh
Sungkyu. Menghapus air mata yang jatuh di wajah manis pemuda itu.
“Aku harus pergi
Gyu. Berjanjilah untuk menemukan seorang wanita setelah kita berpisah nanti.
Suatu saat nanti,saat kita bertemu kembali kau dan aku sudah memiliki keluarga
yang bahagia. Iya kan,Gyu?”
Sungkyu terdiam,
namun semakin mendekatkan wajahnya dengan Woohyun. Menatap paras sempurna yang
ada di hadapnnya sebelum beralih pada bibir Woohyun. Ia tersenyum tulus saat
mengusap bibir tebal Woohyun.
“Aku pasti akan
merindukanmu Nam Woohyun.”
Woohyun bisa
merasakan jantungnya berdetak kencang. Tanpa menunggu lebih lama ia menepis
jemari Sungkyu dan segera menempelkan bibir mereka. Ciuman perpisahan, mungkin.
Dengan penuh perasaan Woohyun mengecap setiap inci bibir cherry Sungkyu yang
kini dalam kendalinya. Sementara Sungkyu yang mulai menikmati ciuman Woohyun
membuka bibirnya perlahan, membiarkan lidah Woohyun lebih leluasa menggelitik
langit-langitnya. Lidah mereka saling melilit, bertukar saliva saat ciuman
perpisahan itu kini berubah menjadi lebih menuntut.
Entah sejak
kapan, keduanya kini sudah berbaring di atas tempat tidur meluapkan perasaan
tak terbendung yang menyergap. Woohyun yang menindih tubuh Sungkyu seperti
tidak sabar dan segera menarik lepas kaos putih pemuda itu hingga menampakkan
keindahan yang selama ini selalu membuatnya lepas kendali.
“Woohyun-ah,wae?
Bukankah kita akan berpisah?”
Woohyun tersenyum
tipis,”Aku ingin meninggalkan kenangan yang indah bagi perpisahan kita. Kau
tidak keberatan kan?”
Sungkyu ikut
tersenyum. Pelukannya semakin mengerat seiring dengan hisapan kuat yang Woohyun
berikan pada ceruk lehernya.
“Nikmati malam
ini Gyu, karena mungkin ini yang terakhir bagi kita berdua.”
Aku
menyayangimu,Nam Woohyun. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu seperti ini?
“Tentu. Ini yang
terakhir sebelum kau pergi-”
.....-benar-benar
yang terakhir……
.
.
.
1 weeks later
Sungkyu
memantapkan diri untuk memasuki pintu gereja yang sudah di depan mata. Menghela
nafas sekali saat kakinya berhasil beranjak beberapa langkah membawanya di
tengah kerumunan undangan yang tampak mulai bosan. Berbisik satu sama lain,
menciptakan kebisingan hingga mengubah suasana pernikahan sakral ini tidak
ubahnya seperti sarang lebah.
“Ini mustahil!
Mana mungkin Woohyun membatalkan pernikahan kami? Tidak mungkin!”
Semua undangan
terfokus pada sosok wanita dengan gaun pengantin berwarna putih yang kini
berteriak seperti orang gila di depan altar sana. Raungan tangisnya membuat
semua yang ada di situ terdiam, memberikan tatapan miris nan kasihan saat
menyaksikan wanita itu harus menelan pil pahit di hari yang seharusnya menjadi
hari bahagianya.
“Aku tidak
mau,eomma! Woohyun sudah berjanji akan menikahiku hari ini. Kenapa dia
tiba-tiba membatalkannya hanya melalui sebuah pesan singkat? Ini tidak mungkin!
Apa yang harus ku lakukan? Arrgghh...!”
Wanita itu
berteriak, semua undangan menunduk seolah tidak sanggup melihat kondisinya
sekarang. Sungkyu mungkin satu-satunya yang masih menegakkan kepala. Memandang
wanita itu datar, tanpa ekspresi yang berarti.
“Tidak,eomma. Aku
harus menemui Woohyun sekarang. Dia harus menjelaskan semuanya!”
Suasana masih
tampak kacau, dan tampaknya Sungkyu tidak ingin berlama-lama menyaksikan drama
menyedihkan di depannya. Pemuda itu kemudian beranjak meninggalkan tempat duduknya.
Namun kembali menghentikan langkah sebentar, menoleh dengan senyuman sinis
sebelum berjalan menuju mobil.
“Apa dia
benar-benar membatalkannya?”
Sungkyu memilih
mengabaikan sosok tinggi yang duduk di kursi kemudi.
“Sungkyu
hyung,tidakkah sebaiknya kau menghubungi Woohyun? Dia harus menjelaskan alasan
kenapa ia tiba-tiba membatalkan pernikahannya.”
“Tidak
Yeol,mungkin ini yang terbaik.”
Sungyeol
mengernyit,”Maksudmu?”
“Mungkin si
brengsek Nam baru sadar kalau tidak seharusnya ia menikahi gadis murahan itu.”
Dan akhirnya
Sungyeol memilih untuk diam.
.
.
.
“Hyung yakin
tidak mau ikut?”
Sungkyu yang baru
akan keluar dari mobil hanya menoleh dan menggelengkan kepalanya dua kali untuk
menjawab Sungyeol yang sudah berbaik hati mengantarkannya pulang.
“Aku dengar
Sungjong mengadakan pesta kecil-kecilan di apartemennya. Kurasa itu bagus
untukmu. Untuk saat ini kau harus sering-sering mencari hiburan,hyung.”
“Terima kasih Yeol,
tapi sepertinya aku hanya butuh istirahat.”
“Hm...ya sudah
kalau begitu. Aku pergi dulu hyung. Sungjong pasti sudah menunggu.”
“Akh,
Sungyeol-ah.”
“Nde?”
Sungkyu termenung
sesaat sebelum bibir keluhnya berucap lirih,”Ku mohon, jangan pernah
menyia-nyiakan Sungjong hanya karena kau lelah dengan tanggapan mereka yang
merasa normal.”
Sungyeol yang
mengerti ucapan Sungkyu lalu tersenyum,”Aku berjanji,hyung. Aku akan menjaga
dan mencintai Sungjong sampai kapanpun.”
Mobil hitam itu
kemudian melaju dan berlalu dari hadapan Sungkyu. Sementara Sungkyu masih
mematung. Perlahan merasakan hangat yang terasa di pelupuk matanya hingga tanpa
sadar kristal bening itu jatuh mengikis keangkuhannya. Saat pandangan Sungkyu
teralih ke jendela kamar yang berada di lantai 2 rumahnya.
“Aku pulang.”
Suara datar
Sungkyu memecah keheningan mencekam yang menghiasi kamarnya. Tirai merah di
sisi jendela menghalangi hingga setitik pun cahaya tidak sanggup menerobos
masuk ke ruangan itu. Sungkyu bergerak menuju tempat tidur dan mengambil tempat
tepat di samping sosok seorang pemuda yang kini berbaring di atasnya.
“Coba lihat, apa
yang kau lakukan di sini? Woohyun-ah,apa kau tidak tau, mempelai wanitamu
hampir gila. Dia terlihat marah saat menerima pesan itu.”
Tidak ada
sahutan. Namun air mata Sungkyu seperti tidak dapat dihentikan.
“Woohyun-ah, kau
mendengarku?”
Percuma.
Kesunyian seperti berpesta menikmati aroma pekat liquid merah kental yang
tampak sudah mengering di lantai. Sisanya berbaur, menyatu dengan seprai putih
Sungkyu yang kini mengubahnya menjadi merah.
“Tenang saja, aku
tidak akan memberi tau siapapun kalau berada di sini.”
“……………”
“Aku tau, kau
tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Iya kan, Nam Woohyun?”
.
.
.
Lenguhan panjang
Sungkyu menjadi puncak dari permainan kulit mereka malam ini. Nafas Woohyun
terdengar memburu, namun ia tetap puas karena sudah memberikan apa yang Sungkyu
inginkan sebelum mereka berpisah. Hanya saja, Woohyun tidak tau –ia tidak
pernah mengira- bahwa perpisahannya dengan Sungkyu bukan karena ia akan menikah
seorang wanita, melainkan...
“Tidurlah Gyu,
kau pasti lelah. Aku akan berada di sisimu sampai matahari datang. Setelahnya,
aku yakin kita akan menjalin hubungan lain yang tentu lebih baik dari ini.”
Permata berlapis
lensa bening Sungkyu tampak berkaca-kaca. “Woohyun-ah,aku ingin kau mengingat
ini baik-baik. Apapun yang ku lakukan setelah ini, bukan karena aku membencimu
tapi sebaliknya.”
“Gyu, apa yang
kau katakan?”
“Maaf tidak
mengatakan ini sebelumnya. Tapi kurasa aku sudah menemukan satu jalan terbaik.
Tanpa harus ada seorang wanita yang mengusik hubungan kita, dan tanpa mereka
yang selalu menyebut kita pendosa.”
“Sungkyu, apa
maks-“
‘Crassshhh...’
“Uhkk...Gyu,kau-“
‘Bruukk...!’
“Aku
mencintaimu,Nam Woohyun. Selalu dan selamanya.”
.
.
.
Sekali lagi
Sungkyu tersenyum dengan wajahnya yang basah. Tetes kristal dari biner indahnya
terus jatuh, pun ia mencoba untuk membendungnya. Jemarinya bergerak mengusap
tubuh tak bernyawa Woohyun. Sedikit mencondongkan tubuh untuk mencium bibir
pucat kekasihnya itu.
“Ini yang
terbaik,bukan? Dengan ini tidak akan ada orang lain yang berani mengusik
hubungan kita.”
Jasad Woohyun
menguarkan aroma memuakkan, namun Sungkyu hanya membiarkan aroma itu tercium
oleh organ respirasinya. Toh sejak minggu lalu, besok, maupun seterusnya ia
akan terbiasa dengan aroma ini. Aroma itu, satu-satunya yang dapat menjelaskan
pilu yang mengiringi kisah cinta dari sepasang ‘pendosa’.
“Aku mungkin akan
merindukanmu lebih dari ini . Tapi aku berjanji untuk tidak akan pernah
menangis lagi, karena-“
Sungkyu tau mulai
saat ini kepedihan akan terus mendekap hari-harinya.
“-kau milikku Nam
Woohyun. Selamanya.....”
.
.
I used to have no
idea what love was
Then I met you when
I was so immature
I only looked at
you and I only loved you
And I believed
that you were my everything
I gave you
everything, but you left me
Maybe I’m gonna
miss you longer
But even if I
miss you, even I love you a lot
I don’t cry...I
won’t.....
END....
Hollaa!!! Ini
untuk pertama kalinya saya publish ff secara publik*?* stelah sekian lama
hiatus (akhir” ini lebih suka publish tpi dipakein password soalnya). Kemarin
sempat coba publish di wattpad tpi ntah kemana ada sdikit ketidak nyamanan saat
publish di sana. So, tolong tinggalkan kritik dan saran stelah membaca ff ini,
mungkin saja respon dari reader bisa sedikit demi sedikit mengembalikan mood u/
kembali aktif menulis fanfict WooGyu spt sbelum”nya. /njirrr siapa gue coba/
*lol* /tolong ampuni ke-sok-seriusan-saya/ *lol* /harap jangan diamuk/ *lol*
Rasanya tuh
bahagia tiada tara pas tau dari tahun ke tahun mommy Gyu trus ngelepehin para
cecurut (read: WooGyu shipper) sampe bisa sebanyak sekarang. Sayangnya(?)
sebagian besar dri WGS mengikuti watak pervert sang ayah. /abaikan note tidak
penting ini/
Btw,trims sudah
meluangkan waktu u/ membaca fanfict tidak jelas ini.
No comments:
Post a Comment