Sunday, December 11, 2016

Review – Longer


Note : ANJEEEEER. WAT DE HELL. GUE NGGA TERIMA !! INI FF TERLALU DAEBAK NJAAAY. SO DAMN !!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Longer | 1S
19 November · WooGyu fanfiction...
Title : Longer
Author : Archie a.k.a @deadeadhean
Genre : yaoi ofc!!!
Length : 1S
Rated : M
Don’t Like?? Don’t read ‘n don’t bash!!! and also…DON’T COPAS!!!!!

Happy Reading!!!!

Sungkyu duduk di tepi tempat tidurnya. Sedikit memutar tubuh dan berusaha mengangkat wajah, membalas tatapan pemuda lain yang dari tadi tidak melepaskan atensi darinya.
Tatapan pemuda itu lembut, -tidak! Itu lebih seperti tatapan penuh rasa bersalah dari seseorang yang mengharap maaf. Dan Sungkyu yang sudah terlanjur jatuh seperti tidak sanggup untuk mengimbanginya.
“Gyu,mianhae...”
Sungkyu benci mendengar kata sialan itu. Dari yang Sungkyu pahami, kata maaf tidak pernah berguna dan hanya untuk membersihkan dosa seseorang. Namun tidak pernah mampu untuk menghapus kepedihan yang diciptakannya.
Mata Sungkyu sudah terlalu sayu. Kelopak indahnya tidak lagi memancarkan sinar, hanya ada asa tak berarti yang terbaca di sana. Mungkin air matanya sudah terlanjur mongering sejak beberapa hari lalu saat Nam Woohyun, sosok yang ia cintai tiba-tiba datang dan melakukan sebuah pengakuan.
“Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan wanita itu,Gyu. Kebersamaan kami membuatku sadar kalau dialah orang yang selama ini ku cari. Maafkan aku sudah mengkhianatimu seperti ini.”
Genggaman Sungkyu pada bantal putih di dekatnya menguat tiap kali kalimat itu tergiang merusak memori indahnya bersama Woohyun.
“Lalu bagaimana dengan 6 tahun kebersamaan kita?”
Sungkyu hanya menjerit dalam hati. Percuma untuk bersuara, apapun yang dikatakannya tidak akan mengubah apapun.
“Aku yakin kau pasti akan mengerti kan,chagi?”
Jangan Nam! Jangan lagi memanggilnya seperti itu.
“Sungkyu-ya,jebal.”
Dengan susah payah pemuda bermarga Kim itu menahan isakannya,”Woohyun-ah, sebelum kau pergi, boleh aku menanyakan sesuatu?”
Woohyun mengernyit namun ia tetap menunggu ucapan Sungkyu selanjutnya.
“Kenapa-“ucapan Sungkyu tersendat karena air matanya yang jatuh tanpa disadari,”-kenapa selama ini diam-diam kau menjalin hubungan dengan seorang wanita?”
“…………”
“-apa kau sungguh mencintainya atau karena kau mau berusaha menyembunyikan semuanya?”
Nada suara Sungkyu meninggi. Seperti hanya dengan itu ia bisa menyembunyikan sisi lemahnya.
“Katakan Hyun,kau hanya memanfatkan wanita itu kan? Hanya untuk mengingkari kenyataan bahwa kau adalah seorang gay!”
“Tidak,Gyu. Aku mencintainya dengan sungguh. Tidak seperti hubungan kita. Aku pikir selama ini kita hanya terjebak dalam sebuah kesalahan.”
Angin malam yang bertiup dari jendela menjeda keduanya. Tanpa suara.
“Kau tidak memikirkanku sama sekali Hyun.”
“………….”
“Kau terlalu egois,Nam Woohyun! Kau-“
‘Grab...’
Pelukan Woohyun seperti memaksa Sungkyu untuk menghentikan makiannya.
“Lepaskan aku,brengsek! Jangan berani menyentuhku lagi!”
Sungkyu bisa merasakan gelengan kepala Woohyun yang kini bersandar di pundaknya. Entah kenapa Tuhan harus menciptakan Sungkyu sebagai laki-laki yang begitu lemah hingga tidak pernah bisa menang saat berhadapan dengan Woohyun.
“Aku mencintaimu Woohyun. Kau tau dengan jelas, tapi kenapa kau melakukan semua ini?”suara itu akhirnya melemah.
“Ini demi kebaikan kita Gyu. Kau dan aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Sudah saatnya kita mencari kebahagiaan masing-masing. Aku yakin kau pasti bisa menemukan seorang wanita yang jauh lebih baik dari kekasihmu yang dulu, yang sudah membuatmu membenci wanita sampai akhirnya terjebak bersamaku dalam hubungan ini. Jebal Gyu,ini yang terbaik.”
Sungkyu percaya kata-kata itu hanyalah omong kosong Woohyun untuk segera melepaskan diri darinya.
Bukankah sejak dulu mereka berdua memahami itu?
Kenapa baru sekarang Woohyun mempermasalahkannya?
Saat ia telah menjadi satu-satunya tempat bagi Sungkyu untuk bersandar.
“Maafkan aku Gyu,ku mohon. Bukankah kita masih bisa berteman?”
Tentu semua akan berbeda,Nam. Kau seperti tidak memahami keadaan ini.
Cukup lama mereka berpelukan sebelum akhirnya Woohyun melonggarkan tautan lengannya pada tubuh Sungkyu. Menghapus air mata yang jatuh di wajah manis pemuda itu.
“Aku harus pergi Gyu. Berjanjilah untuk menemukan seorang wanita setelah kita berpisah nanti. Suatu saat nanti,saat kita bertemu kembali kau dan aku sudah memiliki keluarga yang bahagia. Iya kan,Gyu?”
Sungkyu terdiam, namun semakin mendekatkan wajahnya dengan Woohyun. Menatap paras sempurna yang ada di hadapnnya sebelum beralih pada bibir Woohyun. Ia tersenyum tulus saat mengusap bibir tebal Woohyun.
“Aku pasti akan merindukanmu Nam Woohyun.”
Woohyun bisa merasakan jantungnya berdetak kencang. Tanpa menunggu lebih lama ia menepis jemari Sungkyu dan segera menempelkan bibir mereka. Ciuman perpisahan, mungkin. Dengan penuh perasaan Woohyun mengecap setiap inci bibir cherry Sungkyu yang kini dalam kendalinya. Sementara Sungkyu yang mulai menikmati ciuman Woohyun membuka bibirnya perlahan, membiarkan lidah Woohyun lebih leluasa menggelitik langit-langitnya. Lidah mereka saling melilit, bertukar saliva saat ciuman perpisahan itu kini berubah menjadi lebih menuntut.
Entah sejak kapan, keduanya kini sudah berbaring di atas tempat tidur meluapkan perasaan tak terbendung yang menyergap. Woohyun yang menindih tubuh Sungkyu seperti tidak sabar dan segera menarik lepas kaos putih pemuda itu hingga menampakkan keindahan yang selama ini selalu membuatnya lepas kendali.
“Woohyun-ah,wae? Bukankah kita akan berpisah?”
Woohyun tersenyum tipis,”Aku ingin meninggalkan kenangan yang indah bagi perpisahan kita. Kau tidak keberatan kan?”
Sungkyu ikut tersenyum. Pelukannya semakin mengerat seiring dengan hisapan kuat yang Woohyun berikan pada ceruk lehernya.
“Nikmati malam ini Gyu, karena mungkin ini yang terakhir bagi kita berdua.”
Aku menyayangimu,Nam Woohyun. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu seperti ini?
“Tentu. Ini yang terakhir sebelum kau pergi-”
.....-benar-benar yang terakhir……
.
.
.

1 weeks later

Sungkyu memantapkan diri untuk memasuki pintu gereja yang sudah di depan mata. Menghela nafas sekali saat kakinya berhasil beranjak beberapa langkah membawanya di tengah kerumunan undangan yang tampak mulai bosan. Berbisik satu sama lain, menciptakan kebisingan hingga mengubah suasana pernikahan sakral ini tidak ubahnya seperti sarang lebah.
“Ini mustahil! Mana mungkin Woohyun membatalkan pernikahan kami? Tidak mungkin!”
Semua undangan terfokus pada sosok wanita dengan gaun pengantin berwarna putih yang kini berteriak seperti orang gila di depan altar sana. Raungan tangisnya membuat semua yang ada di situ terdiam, memberikan tatapan miris nan kasihan saat menyaksikan wanita itu harus menelan pil pahit di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya.
“Aku tidak mau,eomma! Woohyun sudah berjanji akan menikahiku hari ini. Kenapa dia tiba-tiba membatalkannya hanya melalui sebuah pesan singkat? Ini tidak mungkin! Apa yang harus ku lakukan? Arrgghh...!”
Wanita itu berteriak, semua undangan menunduk seolah tidak sanggup melihat kondisinya sekarang. Sungkyu mungkin satu-satunya yang masih menegakkan kepala. Memandang wanita itu datar, tanpa ekspresi yang berarti.
“Tidak,eomma. Aku harus menemui Woohyun sekarang. Dia harus menjelaskan semuanya!”
Suasana masih tampak kacau, dan tampaknya Sungkyu tidak ingin berlama-lama menyaksikan drama menyedihkan di depannya. Pemuda itu kemudian beranjak meninggalkan tempat duduknya. Namun kembali menghentikan langkah sebentar, menoleh dengan senyuman sinis sebelum berjalan menuju mobil.
“Apa dia benar-benar membatalkannya?”
Sungkyu memilih mengabaikan sosok tinggi yang duduk di kursi kemudi.
“Sungkyu hyung,tidakkah sebaiknya kau menghubungi Woohyun? Dia harus menjelaskan alasan kenapa ia tiba-tiba membatalkan pernikahannya.”
“Tidak Yeol,mungkin ini yang terbaik.”
Sungyeol mengernyit,”Maksudmu?”
“Mungkin si brengsek Nam baru sadar kalau tidak seharusnya ia menikahi gadis murahan itu.”
Dan akhirnya Sungyeol memilih untuk diam.
.
.
.
“Hyung yakin tidak mau ikut?”
Sungkyu yang baru akan keluar dari mobil hanya menoleh dan menggelengkan kepalanya dua kali untuk menjawab Sungyeol yang sudah berbaik hati mengantarkannya pulang.
“Aku dengar Sungjong mengadakan pesta kecil-kecilan di apartemennya. Kurasa itu bagus untukmu. Untuk saat ini kau harus sering-sering mencari hiburan,hyung.”
“Terima kasih Yeol, tapi sepertinya aku hanya butuh istirahat.”
“Hm...ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu hyung. Sungjong pasti sudah menunggu.”
“Akh, Sungyeol-ah.”
“Nde?”
Sungkyu termenung sesaat sebelum bibir keluhnya berucap lirih,”Ku mohon, jangan pernah menyia-nyiakan Sungjong hanya karena kau lelah dengan tanggapan mereka yang merasa normal.”
Sungyeol yang mengerti ucapan Sungkyu lalu tersenyum,”Aku berjanji,hyung. Aku akan menjaga dan mencintai Sungjong sampai kapanpun.”
Mobil hitam itu kemudian melaju dan berlalu dari hadapan Sungkyu. Sementara Sungkyu masih mematung. Perlahan merasakan hangat yang terasa di pelupuk matanya hingga tanpa sadar kristal bening itu jatuh mengikis keangkuhannya. Saat pandangan Sungkyu teralih ke jendela kamar yang berada di lantai 2 rumahnya.
“Aku pulang.”
Suara datar Sungkyu memecah keheningan mencekam yang menghiasi kamarnya. Tirai merah di sisi jendela menghalangi hingga setitik pun cahaya tidak sanggup menerobos masuk ke ruangan itu. Sungkyu bergerak menuju tempat tidur dan mengambil tempat tepat di samping sosok seorang pemuda yang kini berbaring di atasnya.
“Coba lihat, apa yang kau lakukan di sini? Woohyun-ah,apa kau tidak tau, mempelai wanitamu hampir gila. Dia terlihat marah saat menerima pesan itu.”
Tidak ada sahutan. Namun air mata Sungkyu seperti tidak dapat dihentikan.
“Woohyun-ah, kau mendengarku?”
Percuma. Kesunyian seperti berpesta menikmati aroma pekat liquid merah kental yang tampak sudah mengering di lantai. Sisanya berbaur, menyatu dengan seprai putih Sungkyu yang kini mengubahnya menjadi merah.
“Tenang saja, aku tidak akan memberi tau siapapun kalau berada di sini.”
“……………”
“Aku tau, kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Iya kan, Nam Woohyun?”
.

.

.
Lenguhan panjang Sungkyu menjadi puncak dari permainan kulit mereka malam ini. Nafas Woohyun terdengar memburu, namun ia tetap puas karena sudah memberikan apa yang Sungkyu inginkan sebelum mereka berpisah. Hanya saja, Woohyun tidak tau –ia tidak pernah mengira- bahwa perpisahannya dengan Sungkyu bukan karena ia akan menikah seorang wanita, melainkan...
“Tidurlah Gyu, kau pasti lelah. Aku akan berada di sisimu sampai matahari datang. Setelahnya, aku yakin kita akan menjalin hubungan lain yang tentu lebih baik dari ini.”
Permata berlapis lensa bening Sungkyu tampak berkaca-kaca. “Woohyun-ah,aku ingin kau mengingat ini baik-baik. Apapun yang ku lakukan setelah ini, bukan karena aku membencimu tapi sebaliknya.”
“Gyu, apa yang kau katakan?”
“Maaf tidak mengatakan ini sebelumnya. Tapi kurasa aku sudah menemukan satu jalan terbaik. Tanpa harus ada seorang wanita yang mengusik hubungan kita, dan tanpa mereka yang selalu menyebut kita pendosa.”
“Sungkyu, apa maks-“
‘Crassshhh...’
“Uhkk...Gyu,kau-“
‘Bruukk...!’
“Aku mencintaimu,Nam Woohyun. Selalu dan selamanya.”
.

.

.

Sekali lagi Sungkyu tersenyum dengan wajahnya yang basah. Tetes kristal dari biner indahnya terus jatuh, pun ia mencoba untuk membendungnya. Jemarinya bergerak mengusap tubuh tak bernyawa Woohyun. Sedikit mencondongkan tubuh untuk mencium bibir pucat kekasihnya itu.
“Ini yang terbaik,bukan? Dengan ini tidak akan ada orang lain yang berani mengusik hubungan kita.”
Jasad Woohyun menguarkan aroma memuakkan, namun Sungkyu hanya membiarkan aroma itu tercium oleh organ respirasinya. Toh sejak minggu lalu, besok, maupun seterusnya ia akan terbiasa dengan aroma ini. Aroma itu, satu-satunya yang dapat menjelaskan pilu yang mengiringi kisah cinta dari sepasang ‘pendosa’.
“Aku mungkin akan merindukanmu lebih dari ini . Tapi aku berjanji untuk tidak akan pernah menangis lagi, karena-“
Sungkyu tau mulai saat ini kepedihan akan terus mendekap hari-harinya.
“-kau milikku Nam Woohyun. Selamanya.....”
.
.
I used to have no idea what love was
Then I met you when I was so immature
I only looked at you and I only loved you
And I believed that you were my everything
I gave you everything, but you left me
Maybe I’m gonna miss you longer
But even if I miss you, even I love you a lot
I don’t cry...I won’t.....

END....

Hollaa!!! Ini untuk pertama kalinya saya publish ff secara publik*?* stelah sekian lama hiatus (akhir” ini lebih suka publish tpi dipakein password soalnya). Kemarin sempat coba publish di wattpad tpi ntah kemana ada sdikit ketidak nyamanan saat publish di sana. So, tolong tinggalkan kritik dan saran stelah membaca ff ini, mungkin saja respon dari reader bisa sedikit demi sedikit mengembalikan mood u/ kembali aktif menulis fanfict WooGyu spt sbelum”nya. /njirrr siapa gue coba/ *lol* /tolong ampuni ke-sok-seriusan-saya/ *lol* /harap jangan diamuk/ *lol*
Rasanya tuh bahagia tiada tara pas tau dari tahun ke tahun mommy Gyu trus ngelepehin para cecurut (read: WooGyu shipper) sampe bisa sebanyak sekarang. Sayangnya(?) sebagian besar dri WGS mengikuti watak pervert sang ayah. /abaikan note tidak penting ini/
Btw,trims sudah meluangkan waktu u/ membaca fanfict tidak jelas ini.


No comments: