Sunday, December 11, 2016

Review – I’egoisme (Chapter 3)


Note : WANJEEEEEEEEEER T_T T_T T_T T_T T_T WAT DE HELL, GUE HAMPIR NANGIS DI KAMPUS GARA2 NI FF SIALAN. OMGT, GILA DAEBAK BANGEEEEEEEEEET T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T HELL, DAMN AUTHORNIM !!!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

l'égoïsme (keegoisan) 3/3 | Ashley Hwang
27 Juli 2013 pukul 5:55           

l'égoïsme (keegoisan) 3/3

Cast:

- Kim Sunggyu

- Nam Woohyun

- Kim Ki Bum (Key)

- MBLAQ GO (Jio)

Rate: PG-15

Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.

Chap 1:


Chap 2:



Kim Sunggyu POV


“aigoo mereka sangat serasi bukan??”, aku tersenyum simpul mendengar kometar-komentar itu ketika Key berjalan menuju altar dengan gaun mewahnya.

Perlahan kupalingkan pandanganku kearah namja tampan yang berdiri tegap dengan tuxedo hitam yang membalut tubuh atletisnya. Helaan nafas pelan lolos dari bibirku.

Dengan berat kupalingkan pandanganku kearah hal-hal yang menurutku tidak penting untuk diperhatikan, seperti eommaku yang menangis terharu di barisan terdepan.

Barisan terdepan?

Benar seharusnya disanalah aku berada sebagai kakak kandung Key. Tapi, sayangnya hatiku tidak sekuat itu untuk berada disitu. Melihat Key dan Woohyun berciuman, menyalurkan kebahagiian dengan jarak lebih dekat bias saja membuat ku menangis lagi kan?

Jadi disinilah aku sekarang.

Di barisan belakang ditemani oleh Jio hyung yang selalu berada di sampingku sejak kejadian akuarium pecah itu.

Well, omong-omong soal kejadian itu, aku harus pindak ke ruangan kerja yang baru –dengan akuarium raksasa lain di dalamnya. Baiklah aku memang bukan pecinta ikan atau apa, hanya saja ayahku selalu saja menginginkan akuarium di ruangan kerja dengan alasan agar aku bisa rileks setelah mengurus banyak dokumen. Dan yah kurasa beliau benar. Aku sealu tersenyum melihat ikan-ikan itu berkejar-kejaran atau berenang dengan bebas seolah hidup mereka adalah bersenang-senang tiap harinya.

(contoh aquariumnya semacam inihttp://st.houzz.com/fimgs/22b1e19f002f56d4_9702-w406-h406-b0-p0--tropical-bedroom.jpg tapi bedanya itu kamar ini ruang kerja xD mari berimajinasi)

Tidak seperti hidupku yang sepertinya tidak pernah bahagia, baiklah mungkin aku berlebihan. Aku memiliki segalanya, semua yang aku inginkan akan langsung ada di tanganku tanpa menunggu lama. Tapi hanya satu hal yang tidak kumiliki. Keputusanku sendiri. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui semua masalah yang membelitku selama ini kan?

“Gyu ya, gwaechana?”, aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam erat tanganku. Membuatku kembali ke dunia tempatku berpijak. Kutolehkan kepalaku pelan dan mendapati Jio hyung menatap khawatir kearahku. Kuhembuskan nafas perlahan dan mengangguk pelan

“gwaechana Byungie ya”, senyum tipis mengembang di bibirku. Jio hyung mengangguk dan menatap kearah altar dan kembali menatapku lagi setelah beberapa saat.

“waeyo byungie?”, ujarku berbisik. Aku melihat kesekeliling dan semua orang yang ada di gereja ini terdiam dan focus kearah Woohyun dan Key.

“ikut aku”, perlahan Jio hyung berdiri dan menarik tanganku.

“kemana? Pernikahannya akan dimulai”, ujarku pelan. Jio hyung tersenyum penuh arti dan menarikku meninggalkan gereja. Entah ini baik atau tidak, tapi aku berterimakasih pada Jio hyung karena aku tidak harus menahan emosiku ketika melihat mereka berciuman nanti. Kakiku dengan pelan mengikuti langkah Jio hyung.

“byungie kita kemana eoh?”, tanyaku lagi, lelah dengan kehenigan yang menyelimuti kami.

“ikut aku puffy cheeks”, Jio hyung terkekeh pelan dan terus menarikku ke Ferrari hitamnya yang terparkir di pelataran gereja. Ku majukan bibirku pelan sambil menggembungkan pipiku.

“puffy cheeks??”, ujarku kesal. Alih-alih mendapatkan respon, aku justru didorong pelan masuk kedalam mobil sebelum akhirnya Jio hyung masuk dan duduk di kursi pengemudi.

“ya ya JUNG BYUNGHEE ahjussi, ini pernikahan adikku dan kau malah menculikku seperti ini??”, kusilangkan kedua tanganku kesal sambil menggembungkan pipiku. Jio hyung terkekeh pelan dan mendekatiku lalu memasangkan sabuk pengamanku. Kurasakan tangan besarnya mengusap lembut pipiku sebelum menciumnya.

“tidak bisakah sekali saja kau menurut dengan calon suamimu tanpa memberontak puffy cheeks?”, Jio hyung tersenyum lembut kearahku. Kurasakan pipiku memanas dan perlahan kupalingkan wajahku dari wajah Jio hyung yang hampir menempel.

“arasseo, dan jangan panggil aku puffy cheeks”, ujarku kesal.

“arraseo, chubby”, Jio hyung tertawa pelan dan mulai menyalakan mesin mobil.

“itu sama saja”, kumajukan bibirku pelan dan Jio hyung masih saja tertawa tanpa dosa disampingku.

Kusandarkan punggungku dan mulai menatap keluar jendela. Yah, ini yang terbaik. Aku tidak harus semakin terluka dengan memaksakan diri disana dan juga, calon suami ku bukan orang yang jahat. Dia tidak mungkin membuangku di tengah laut begitu saja kan.

Kurasa ini bukanlah ide yang buruk.

Entah kenapa namja disampingku ini sangat mengerti perasaanku meskipun aku tidak pernah memberitahukan padanya. Selalu saja membuatku nyaman dengan perlakuan lembutnya. Membuatku tercengang dengan semua kejutan yang diberikannya padaku.

Jujur, dalam hatiku yang terdalam aku sangat ingin mencintainya. Apakah aku egois mengharapkan cinta seseorang lain dan mengkhianati janjiku pada Nam Woohyun? Well, kurasa aku ingin menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku, aku ingin bahagia tanpa keegoisan orang lain yang memenuhi hati dan perasaanku. Jujur, aku masih sangat mencintai Woohyun dan akan menjadi suatu yang mustahil jika aku bisa melupakannya dengan cepat.

Tapi Jio hyung,

tidakkah dia juga seseorang yang pantas mendapatkan sebuah cinta karena ketulusannya?

Karena kebaikan hatinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya?

Di suatu tempat di hatiku yang terdalam, aku sangat ingin mencintai Jio hyung.

Bahagia bersamanya tanpa mengingat Woohyun yang lebih dahulu membuangku dan membiarkanku terluka dalam diam tanpa bisa berbuat apapun. Sampai Jio hyung datang dengan senyum lembutnya yang seolah menghipnotisku agar aku selalu tenang dan merasa nyaman disekitarnya.

Yah aku tau, sangat jelas bahwa saat ini aku belum siap untuk memberikan hatiku pada orang lain tapi di lubuk hatiku yang terdalam, Jio hyung sudah memiliki tempatnya sendiri. Terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Dan aku berjanji, 

meskipun saat ini aku belum mencintainya, tapi aku berjanji aku akan mencintainya suatu saat nanti. Helaan nafas pelan keluar dari bibirku.

Kupejamkan mataku pelan dan mendengarkan suara mesin mobil yang sedari tadi menjadi satu-satunya suara yang ditangkap indera pendengaraku. Well, sungguh. Hari ini tidak terlalu buruk. Kukira hari ini akan menjadi hari kiamat nasional bagiku. Tapi entahlah, dengan adanya namja disampingku ini semuanya terasa.. lebih ringan untuk dilalui.

Byungie, Gomawo..


------------------------------------------------------------------------


“sunggyu hyung eotte? Apakah menurutmu villa ini bagus untukku dan Woohyun?”, Key tersenyum senang sambil bergelayut manja di lengan Woohyun.

Woohyun tersenyum lembut melihat sikap manja istrinya sambil sesekali mencium kepala Key tanpa menghiraukan keberadaan ku disini sebagai orang yang pernah menantinya selama 12 tahun.

“bagus, kalian akan betah disini aku jamin”, ujarku pelan sebelum mengeluarkan iphone ku dan mulai mengutak-atiknya.

“hyung 3 hari lagi kau juga akan resmi seperti kami, benar kan hyunnie?”, Key menatap Woohyun dengan ceria dan Woohyun hanya mengangguk pelan sambil mencium pipinya, membuat namja bermata kucing itu mengeluarkan semburat merah di pipinya.

“hyunnie tidak di depan hyungku!”, Tangan key memukul pelan dada Woohyun dan Woohyun lagi hanya tertawa senang dan menggenggam tangan Key lalu menciuminya berkali-kali.

“sunggyu hyung tidak akan keberatan sayang, benarkan hyung?”, Mata Woohyun menatap kedalam mataku dengan lembut. Kutatap mata itu dengan tajam sebelum mengalihkan pandanganku.

“aku ada urusan setelah ini. Selamat bersenang-senang”, ujarku pelan sambil berlalu meninggalkan Villa mewah ini. Bahkan, Nam Woohyun brengsek itu tidak memikirkan perasaanku sedikitpun.

Entahlah, kurasa dia memang sudah menghapusku dari otaknya. Sudah menggantikannya dengan Key yang polos ceria dan menyenangkan. Yah aku tau itu, sangat jelas malah. Tapi apakah dia tidak berusaha menjaga perasaanku? Dia tau kalau aku masih sangat mencintainya. Dia tau itu, tapi bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun. Seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita dan bersikap layaknya kakak dan adik ipar. Yah, dia pernah mengatakan itu kan padaku sebelumnya? Dan harusnya aku paham bukan?

Kuhempaskan tubuhku di pasir dan menatap ke lautan luas yang terhampar di hadapanku.

Andai saja aku bukan Kim Sunggyu, apakah hidupku bahagia?

Andai saja aku orang lain, apakah aku juga tetap merasakan rasa sakit yang menderaku tiap harinya?

Apakah hal ini hanya terjadi pada ku?

Pada Kim Sunggyu?

Perlahan buliran air mata jatuh menuruni pipiku.

Aku merindukan Woohyun yang dulu.

Woohyun yang berlarian dalam hujan untuk menjemputku.

Woohyun yang semalaman menemaniku tertidur karena tubuhku yang lemah membutuhkannya.

Woohyun yang terbangun tengah malam dan berlari ke rumahku hanya karena aku mimpi buruk,

Woohyun yang 12 tahun lalu berjanji akan kembali dari America dan menikah denganku.

Woohyun yang mengerti perasaanku, 

dan

Woohyun yang mencintaiku.

Tanpa sadar air mata mengalir deras menuruni pipiku.

Kupejamkan pelan mataku dan membiarkan sakit hati ini mengalir keseluruh tubuhku. Membawaku kedalam jurang keputus asaan yang dalam. Yah biarkan semuanya seperti ini. Hanya untuk saat ini, hanya untuk diriku sendiri. Kuhembuskan nafasku perlahan bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Membuatku merasa sedikit lebih tenang.

“Sunggyu hyung”, suara itu. Suara Woohyun. Perlahan kubuka mataku pelan dan mendapati Woohyun duduk disampingku sambil tersenyum.

Kupalingkan wajahku pelan dan menatap ke lautan lepas yang ada di hadapanku.

“gomawo, sudah melepaskanku untuk Key” ujarnya.

Kupejamkan mataku perlahan dan membiarkan kata-kata Woohyun memenuhi pendengaranku.

“kau mau apa? Aku mengacaukan pernikahanmu? Aku punya hati Nam Woohyun, aku tdak akan menyakiti hati adikku. Seperti kau menyakiti hatiku”, suaraku terdengar dingin bahkan di telingaku sendiri.

Benar, karena memang itulah yang sebenarnya kurasakan.

“haha aku tau Hyung, gomawo. Kau adalah namja terbaik yang pernah kutemui. Kau tau? Kau sangat murah hati dan kadang terlihat mudah ditindas”, Woohyun tertawa pelan bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.

Dia bercanda?

Dengan kata-kata semacam itu?

12 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merubah seseorang ternyata.

“kau, bagaimana kau bisa bercanda dengan perasaan orang lain?”, ujarku pelan, mataku dengan tajam menatap kedalam matanya.

“aku menyesal karena mencintaimu Woohyun, aku menyesal karena menghabiskan 12 tahun hidupku demi seorang namja yang bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku menyesal aku bertemu denganmu Nam Woohyun. Kau, hiduplah bahagia dengan Key tanpa mengganggu hidupku. Kau hiduplah dengan tenang bersama Key tanpa harus menganggapku sebagai kakak iparmu. Karena aku bersumpah. Seumur hidupku aku tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai adik iparku.”

Tatapan Woohyun menajam, seolah menyalurkan sakit hati yang begitu dalam atas kata-kataku. Woohyun menatapku tajam dan kekecewaan terpancar jelas disana. Kupalingkan wajahku dan membiarkan air mata mengalir menuruni pipiku.

“hyung, tidakkah kau terlalu pendendam?”, suara Woohyun terdengar sinis. 

“bukankah ini hakku untuk mencintai siapapun yang aku mau? Bukankah ini semua hakku untuk mencintai Key? Kau jangan egois dengan perasanmu sendiri hyung. Aku menyesal karena mengira kau namja yang baik dan dewasa, nyatanya. Kau hanya namja besar dengan keegoisan dan kekanakan yang memenuhi otakmu”, setiap kata yang meluncur dari mulut Woohyun seolah menusukku.

Kutatap tajam wajah tampan itu dan tanpa kusadari tanganku melayang pelan dan menampar wajah tampannya.

“jahat..”, air mata mengalir deras menuruni pipiku.

Well, aku tidak peduli apakah Woohyun melihatnya dan menganggapku cengeng lemah memalukan atau apapun. Aku hanya ingin, dia tidak seenaknya berbicara tentang orang lain seperti itu.

“kau berubah Nam Woohyun, 12 tahun waktu yang cukup untuk mengubah sifat seseorang ne.. kau bahkan tidak sadar tiap detiknya aku melewati hidupku dengan luka kronis di hatiku karena menyerahkanmu kepada adikku. Menyerahkan orang yang sangat berharga dalam hidupku demi adikku. Neo, haruskah kau berada di posisiku untuk merasakan yang aku rasakan? Kemana Nam Woohyun yang mengerti perasaan orang lain? Kemana Nam Woohyun yang mencintaiku? Kemana Nam Woohyun yang bersikap lembut kepadaku? Woohyun ah, setidak berguna itukah aku dimatamu? Serendah itukah arti dari perasaanku terhadapmu selama ini? Semenjijikkan itukah aku dimatamu jika dibandingkan dengan Key? Woohyun ah neo, aku tidak menyangka kau berubah menjadi seperti ini”, perlahan kuhapus air mataku dan berdiri.

Kulangkahkan kakiku menjauhi Woohyun sebelum sebuah kata yang meluncur dari bibirnya menghentikan langkahku.

“mianhae”.

Kutundukkan kepalaku pelan dan berjalan menjauh. Sakit, kuremas perlahan dadaku. Merasakan sakit hati yang seolah membunuhku tiap detiknya. Air mata terus mengalir deras menuruni pipiku.

Tuhan kumohon, ambil nyawaku. Aku tidak kuat lagi menahan semua ini.

Kubanting pintu kamar hotelku dan tubuhku merosot ke lantai dengan pelan seolah kakiku sudah tidak mampu menahan beban sakit hatiku yang semakin menganga karena tiap kata tajam Woohyun yang terdengar langsung di telingaku. Kusandarkan punggungku di tembok dan menangis tanpa suara sampai kurasakan tubuhku lemas dan aku tertidur.

-------------------------------------------------------------------

“hyung”,

kurasakan sebuah tangan menepuk pipiku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan dan mendapati Sungyeol, Myungsoo, Key, Taeyeon, dan Woohyun berdiri di sekelilingku. Aku tidak ingat kalau aku sudah berda di kasur ketika aku tertidur tadi.

“hyung gwaechana??”, Sungyeol langsung memeluk tubuh lemahku dengan erat dan menangis di pelukanku. Senyum simpul terukir di bibirku.

“gwaechana yeol”, ujarku pelan.

Sungyeol mengangguk pelan sebelum Taeyeon menghambur dan memelukku erat.

Kulingkarkan lenganku dan memeluk pinggang kembaranku yang cantik ini. Well, aku tau dia sangat khawatir dan gelisah. Saat itulah mata kecilku menangkap Woohyun yang sedang memeluk Key.

Woohyun memalingkan wajah datarnya dan menatap kearah lantai.

Dia terlihat sedih.

Haha hanya perasaan bersalah mungkin?

“kau tidurlah, kau harus segera sehat agar pernikahanmu berjalan lancar ne?”, Taeyeon mengusap rambutku pelan dan aku hanya mengangguk.

“jja tidurlah hamster baby”, Taeyeon mencium keningku dan menyelimutiku. Kuhembuskan nafas pelan dan mengangguk. Kupejamkan mataku perlahan. Dan lagi, alam mimpi membawaku pergi dari dunia tempatku berpijak.


Hari ini adalah hari yang besar untukku.

Aku akan menikah dengan Jio Hyung.

Aku menatap pantulan diriku di kaca dengan gaun yang membalit tubuhku. Gaun? Yah setelah berdebat dengan lama dan alot akhirnya aku menyerah dengan keputusan memakai gaun dan rambut panjang yang berwarna hitam yang di bentuk sedemikian rupa.

Cantik

Itu yang semua orang bilang ketika melihatku tadi.

Benarkah?

Senyum simpul terukir di bibirku. Pernikahanku akan dimulai 15 menit lagi. Dan itu tandanya aku akan dengan resmi menjadi milik Jio hyung dan saat itulah, aku akan membuang Nam Woohyun dari hati dan otakku. Aku harus melupakannya.

Perlahan aku bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pelan menuju meja. Gaun panjang ini menyusahkan ruang gerakku. 

Kuraih iphoneku dengan pelan dan mendial nomor seseorang yang bertengkar hebat denganku 2 hari yang lalu. Kuhembuskan nafas pelan dan menempelkan benda kotak panjang itu ditelingaku.

Kekecewaan menghantam hatiku begitu mengetajui nomor woohyun tidak aktif. Mungkin dia sibuk diluar sana.

Well, aku belum melihatnya seharian ini. Aku hanya bertemu Key yang keluar masuk ruangan riasku untuk membantuku.

Perlahan jariku mengetik pesan untuk Woohyun. Kutahan air mataku agar tidak merusak dandanan wajahku.

‘aku mencintaimu’

tanganku bergetar dan mengirimkan pesan itu.

Kuletakkan iphone ku kembali dan menatap kaca.

Kim Sunggyu, berbahagialah, ujarku pada diri sendiri.

Kupejamkan mataku dan saat itulah Ayahku masuk dan tersenyum.

“sudah waktunya”, aku tersenyum dan mengangguk. Ayahku berjalan mendekatiku dan memelukku dengan erat.

“ayah menyayangimu, maafkan ayah”, kurasakan suara ayahku bergetar. Kutatap wajah beliau dan tanganku menghapus air mata yang mengaliri pipiku.

“aku bahagia jika appa dan eomma bahagia”, ujarku pelan. Ayahku mengangguk dan menggandeng tanganku perlahan.

Yah inilah saatnya..


Aku berjalan dengan ayahku mnuju altar dengan pelan. Semua mata tertuju padaku. Gugup, yah aku sangat gugup. Decak kagum beberapa orang sampai di indera pendengaranku. Membuat senyum terpancar di bibirku dan mengucapkan terimakasih dalam hatiku.

Dan sedikit lagi. Kulihat Punggung Jio hyung yang terbalut tuxedo putih.

Jio hyung membelakangiku.

Dan entahlah,

kurasa Jio hyung sedikit lebih pendek dari biasanya. Ayahku berhenti dan Jio hyung berbalik..

aku tercekat melihat wajah itu.

Wajah itu..

itu bukan jio hyung..

dia..

“w..woohyun”, ujarku pelan.

Woohyun tersenyum dan menggenggam tanganku dengan erat.

“t..tunggu, apa maksudnya ini, mana calon suamiku?”, aku memberontak pelan dan menarik tanganku dari genggaman tangan Woohyun.

Otakku sungguh tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Pendeta yang ada di hadapanku tersenyum seolah mengerti apa yang terjadi disini.

“dia calon suamimu Sunggyu ssi”, ujarnya berwibawa.

“n..ne?? aniyo!! Dia suami adikku”, dan kata-kataku barusan mmbuat gelak tawa seluruh orang yang ada di gereja.

Aku berbalik dan melihat Jio hyung duduk disebelah Key dengan Key yang bergelayut manja di lengannya apa ini mimpi?

Eomma, appa, Myungsoo,Taeyeon, Sungyeol semuanya tersenyum lebar seolah sesuatu baru saja terjadi. Kurasakan tangan Woohyun menggenggam tanganku lembut.

“bisakah kita menikah sekarang dan aku akan menjelaskan semuanya?”, ujarnya lembut.

Kutatap wajahnya tidak mengerti. Woohyun tersenyum dan mengangguk kearah pendeta.

“t..tapi ini mimpi kan?”, ujarku pelan.

“sunggyu ssi, focus”, ujar pendeta itu berwibawa. Kuhembuskan nafas perlahan. Sungguh otakku tidak bisa menangkap apa yang terjadi.


Setelah mengucapkan janji, aku dan well, Woohyun resmi menjadi suami istri.

Suami istri dengan Woohyun sebabagai suami Key? 

Perlahan Woohyun menarik pinggangku dengan pelan dan mengusap pipiku dengan lembut.

“demi tuhan, aku mencintaimu Kim Sunggyu.. sangat mencintaimu”, itu yang dia ucapkan sebelum bibirku menyatu dengan bibirnya.

Kupejamkan mataku pelan dan mendengar sorak sorai orang-orang dibelakang kami. Tuhan, ini mimpi yang sangat indah.


------------------------------------------------------

Disinilah aku sekarang, duduk di tepi tempat tidurku dengan Woohyun yang masih berada di kamar mandi. Seharian ini aku tidak berhenti mengacuhkan orang-orang yang terlibat dalam rencana ini.

Benar, RENCANA INI!

Woohyun dan Key tidak pernah menikah, itu hanya acara palsu. Mereka bahkan tidak mengucapkan janji saat itu.

Benar, aku tidak tahu karena Jio Hyung mengajakku keluar dari gereja tepat sebelum Woohyun dan Key mengucapkan janji sebagai suami istri.

Aish dan ternyata jio hyung adalah CALON SUAMI KEY.

Astaga mereka tega sekali mengkhianatiku seperti ini.

Dan tentu saja, semua kemesraan Key dan Woohyun itu palsu. Hanya untuk menjebakku. Aish kenapa aku merasa sangat bodoh saat ini?

Apalagi saat Sungyeol dan Taeyeon tertawa puas ketika membantuku berganti baju untuk pesta tadi.

Sedangkan Myungsoo dan Key, jangan Tanya. Mereka saling membahas taruhan siapa yang menang dan siapa yang tidak dengan Key memegang ‘sunggyu hyung akan tertipu’. Mereka benar-benar keterlaluan. Dan ketika aku bertanya apa tujuan mereka, mereka mengatakan padaku semua jawaban ada pada suamiku.

Otak dari rencana jahat dan sadis ini.

Kuhembuskan nafasku perlahan dan merebahkan tubuhku di kasur. Kudengar suara pintu terbuka dan kurasakan Woohyun berjalan kearahku. Kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya. Tangan nya dengan lembut memeluk pinggangku dan mencium pundakku.

“jangan sentuh aku”, ujarku dingin. Woohyun terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.

“kalau kau marah aku tidak akan cerita”, bisiknya tepat ditelingaku. Membuatku bergidik.

“baiklah katakan padaku sekarang sebelum aku berubah pikiran”, kubalikkan badanku menghadapnya dan senyum lembut terkembang di bibirnya.

Woohyun mencium lembut keningku dan tersenyum. 

“kau mengacuhkanku selama kau di Paris”, ujarnya pelan.

“m..mwo?”, kuatatap matanya, mencari kejelasan di dalamnya.

“aku satu kelas denganmu tapi kau tidak mengenaliku”, ujarnya lembut.

“t..tunggu, kau Nam Woohyun itu?? Nam Woohyun yang misterius dengan kaca mata itu??”, tanyaku langsung.

Woohyun mengangguk dan tersenyum.

Yah, aku memang pernah memiliki teman sekelas bernama Woohyun ketika kuliah dulu. Dia jarang berbicara dan tatapan tajamnya membuat semua orang takut, bahkan ada gossip bahwa Woohyun adalah pembunuh berdarah dingin. Yah, bagaimana mungkin aku bisa mengenalinya. Melihatnya saja aku takut.

“aku menyamar, karena ingin mengawasimu.. calon istriku”, ujarnya lembut.

Kurasakan pipiku memerah. Kutundukkan wajahku dan Woohyun mengusap pipiku dengan hidungnya dengan lembut. Kudongakkan wajahku lagi dan Woohyun tersenyum.

“tapi aku kecwa bagaimana kau bisa tidak mengenaliku.. maka itu, aku menemui ayahmu dan ibumu, berkata bahwa aku akan menikahimu dengan cara yang tidak biasa. Lalu seteletahnya semuanya berkumpul untuk saling memberikan ide dan sukses. Semuanya berjalan dengan baik. Kami menyewa seorang actor untuk berpura-pura menjadi pendeta saat pernikahanku dan Key lalu meminjam calon suami Key untuk berpura-pura menjadi calon suamimu.. aku cemburu melihatnya dengan begitu mudah mendapat perhatianmu”, ujar Woohyun lembut.

Kulingkarkan lenganku di lehernya dan memeluknya erat. Menyalurkan perasaan yang selalu terpendam dalam diriku.

“maafkan aku sudah menamparmu”, ujarku pelan.

“andai kau tau apa yang terjadi saat itu”, ujar Woohyun pelan.

Kuusap pipi Woohyun pelan dan Woohyun tersenyum penuh arti.


Flashback (Woohyun POV)


Kutatap punggung Sunggyu yang mulai berjalan menjauh dengan lemah. Air mataku mengalir menuruni pipiku. 

Maafkan aku Gyu Maafkan aku Gyu..

Kuhembuskan nafas perlahan dan melemparkan kerang-kerang disekitarku kembali ke laut.

“kau bisa mengatasinya?”, sebuah suara mengiterupsiku dari lamunanku. Kulihat Myungsoo berdiri di sampingku.

“hyung, bertahanlah. Dua hari lagi”, ujar Myungsoo, tangannya menepuk pundakku.

“aku melukainya lagi”, ujar ku.

Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“aku mengerti, gwaechana.. kau harus berjanji untuk menjaga hyungku seumur hidupmu dan bersumpah tidak akan menyakitinya lagi sebagai permintaan maafmu”, kuanggukkan kepalaku.

Well, Myungsoo terlihat dingin dan tidak serius, tapi sebenarnya dia sangat dewasa dan penuh perasaan. Bahkan lebih dari yang aku tau.

“SUNGGYU HYUNG PINGSAN!”,

suara lumba-lumba sungyeol membuyarkan kami dan aku segera berlari menuju kamar Sunggyu. Kulihat Taeyeon ada disana dan duduk di samping tubuh Sunggyu yang tergeletak di lantai. Aku berlari dan merengkuh tubuh calon istri sahku dan menggendongnya. Kupapah tubuh lemah itu dan kuletakkan di kasur sebelum menyelimutinya.

“mianhae.. mianhae”, kuhapus pelan sisa air mata yang menempel di pipi dan sekitar matanya. “gyu hyung, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu..”, bisikku lembut sebelum mencium keningnya dan bibir merahnya dengan lembut.

Perlahan tangan Taeyeon menginterupsiku dan Taeyeon mulai membersihkan wajah dan leher Sunggyu dengan handuk dan air hangat. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya erat. Sesekali kuusap pipinya lembut dan mencium wajah manisnya.

Maafkan aku gyu, maafkan aku.. tidak seharusnya aku berkata begitu. Tapi kau mengatakan kau menyesal mencintaiku.. aku sakit mendengarnya..

kuhembuskan nafasku perlahan dan tanpa kusadari aku tertidur sambil memeluk hamster besarku dengan erat.


End of flashback (Sunggyu POV)


Kurasakan air mataku menetes mendengar cerita Woohyun.

Well, aku bersalah karena menyakiti hatinya dengan kata-kataku. Kupeluk tubuh kekar itu dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada bidangnya. Kurasakan Woohyun tersenyum dan mengusap pipiku lembut sambil sesekali mencium keningku.

“aku mencintaimu”, ujarnya pelan. Aku terisak dan mengangguk.

“aku juga mencintaimu”, kurasakan Woohyun mengangkat daguku lembut dan menempelkan bibirnya di bibirku sebelum menjelajahi bibirku semakin dalam.

Kueratkan pelukan ku dan Woohyun semakin mengintenskan ciumannya. Perlahan Woohyun melepaskan ciumannya dengan nafas yang tidak teratur. Woohyun menatapku nakal dan aku menangkap aura kemesuman disana.

“gyu, ini malam pertama kita”, ujarnya pelan.

“MWO?!! SETELAH MENGERJAIKU HABIS-HABISAN KAU MASIH BERANI MEMINTA MALAM PERTAMAA?”, suaraku meninggi dan mencubit abs Woohyun dengan pelan lau berlari keluar kamar.

Woohyun mendecak sebal dan kudengar dia mulai mengerjarku. Aku tersenyum sambil berlari. Senyum yang nyata. Senyum kebahagiaan.

Nam Woohyun gomawo.. dan beginilah akhirnya. Tuhan mendegarkan doaku. Tuhan memberikan Woohyunku kembali.

Aku tersenyum dan berhenti di balkon kamar hotel ku. Kurasakan Woohyun memeluk pinggangku dengan erat.

“aku mencintaimu.. jangan pergi dariku, jangan pernah”, ujarnya berbisik lembut di telingaku.

Aku tersenyum dan mengangguk. Perlahan Woohyun menarikku kembali kedalam sebuah ciuman hangat dan intens yang menyalurkan semua hasrat dan cinta yang selama ini terpendam dalam diri kami.


------------------------------------------------------


“YAK KIM MYUNGSOO SUDAH KUBILANG KALAU MENGINTIP JANGAN DISINI! BANYAK NYAMUK KAU TAHU!”, Sungyeol berteriak dengan kesal kearah kekasihnya.

“sudah kubilang ini tempat yang bagus untuk mengintip mereka. Lihatlah mereka melakukannya di balkon”, Myungsoo kembali mendekatkan teropong jarak jauhnya dan menyaksikan kedua hyungnya sedang melakukan sesuatu di balkon kamar hotel mereka yang terletak di lantai 15.

Senyum jahil terkembang di bibirnya.

“tapi banyak nyamuk”, ujar Sungyeol kesal menatap kekasihnya.

Bagaimana tidak, ia terpaksa diseret menuju tempat ini di tengah malam untuk mengintip seseorang melakukan ini dan itu.

“YAK KALIAN SEDANG APA?”, sampai tangan seseorang melayang dengan mulus di kepala Myungsoo.

“aa..appaa”, k..kami sedang melihat bintang”, ujar Myungsoo dengan wajah super cutenya.

“bintang? Di lantai 15?”, Jio yang berada di samping calon mertuanya hanya bisa tersenyum jahil.

“aa..abeonim kami ke kamar sekarang”, Sungyeol yang gugup dengan kejam langsung menarik kekasihnya menjauh.

Meninggalkan teropong jarah jauhnya yang tergeletak di rerumputan .

Jio menatap ayah mertuanya penuh arti sebelum akhirnya mereka mengambil teropong itu dan berbagi satu sama lain melihat bintang di lantai 15 yang dimaksud Myungsoo tadi sambil tertawa jail satu sama lain.


THE END

Annyeonggg  sudah tamat nih xD hahaha maaf kalau jelek aneh dan kata-katanya ancur. Semoga enjoy bacanya  dan jangan lupa RCL nee J dengan ini saya mengundurkan diri sebagai penulis dan turun jabatan menjadi pembaca *curhat* soalnya saya ngerasa ga bisa nulis cerita yg emejing dan Lain-Lain  gomawo yang udah mau baca dan comment ff saya selama ini. Dan ff yang terkahir ini juga jangan lupa RCL ne J semoga saya bisa kembali menjadi penulis suatu hari lagi. *eaaaa* babayyy see youuuuuuuuuu *chuu

 Note : WANJEEEEEEEEEER T_T T_T T_T T_T T_T WAT DE HELL, GUE HAMPIR NANGIS DI KAMPUS GARA2 NI FF SIALAN. OMGT, GILA DAEBAK BANGEEEEEEEEEET T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T HELL, DAMN AUTHORNIM !!!
------------------------------------------------------------------------------------
l'égoïsme (keegoisan) 3/3 | Ashley Hwang
27 Juli 2013 pukul 5:55           

l'égoïsme (keegoisan) 3/3

Cast:

- Kim Sunggyu

- Nam Woohyun

- Kim Ki Bum (Key)

- MBLAQ GO (Jio)

Rate: PG-15

Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.

Chap 1:


Chap 2:



Kim Sunggyu POV


“aigoo mereka sangat serasi bukan??”, aku tersenyum simpul mendengar kometar-komentar itu ketika Key berjalan menuju altar dengan gaun mewahnya.

Perlahan kupalingkan pandanganku kearah namja tampan yang berdiri tegap dengan tuxedo hitam yang membalut tubuh atletisnya. Helaan nafas pelan lolos dari bibirku.

Dengan berat kupalingkan pandanganku kearah hal-hal yang menurutku tidak penting untuk diperhatikan, seperti eommaku yang menangis terharu di barisan terdepan.

Barisan terdepan?

Benar seharusnya disanalah aku berada sebagai kakak kandung Key. Tapi, sayangnya hatiku tidak sekuat itu untuk berada disitu. Melihat Key dan Woohyun berciuman, menyalurkan kebahagiian dengan jarak lebih dekat bias saja membuat ku menangis lagi kan?

Jadi disinilah aku sekarang.

Di barisan belakang ditemani oleh Jio hyung yang selalu berada di sampingku sejak kejadian akuarium pecah itu.

Well, omong-omong soal kejadian itu, aku harus pindak ke ruangan kerja yang baru –dengan akuarium raksasa lain di dalamnya. Baiklah aku memang bukan pecinta ikan atau apa, hanya saja ayahku selalu saja menginginkan akuarium di ruangan kerja dengan alasan agar aku bisa rileks setelah mengurus banyak dokumen. Dan yah kurasa beliau benar. Aku sealu tersenyum melihat ikan-ikan itu berkejar-kejaran atau berenang dengan bebas seolah hidup mereka adalah bersenang-senang tiap harinya.

(contoh aquariumnya semacam inihttp://st.houzz.com/fimgs/22b1e19f002f56d4_9702-w406-h406-b0-p0--tropical-bedroom.jpg tapi bedanya itu kamar ini ruang kerja xD mari berimajinasi)

Tidak seperti hidupku yang sepertinya tidak pernah bahagia, baiklah mungkin aku berlebihan. Aku memiliki segalanya, semua yang aku inginkan akan langsung ada di tanganku tanpa menunggu lama. Tapi hanya satu hal yang tidak kumiliki. Keputusanku sendiri. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui semua masalah yang membelitku selama ini kan?

“Gyu ya, gwaechana?”, aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam erat tanganku. Membuatku kembali ke dunia tempatku berpijak. Kutolehkan kepalaku pelan dan mendapati Jio hyung menatap khawatir kearahku. Kuhembuskan nafas perlahan dan mengangguk pelan

“gwaechana Byungie ya”, senyum tipis mengembang di bibirku. Jio hyung mengangguk dan menatap kearah altar dan kembali menatapku lagi setelah beberapa saat.

“waeyo byungie?”, ujarku berbisik. Aku melihat kesekeliling dan semua orang yang ada di gereja ini terdiam dan focus kearah Woohyun dan Key.

“ikut aku”, perlahan Jio hyung berdiri dan menarik tanganku.

“kemana? Pernikahannya akan dimulai”, ujarku pelan. Jio hyung tersenyum penuh arti dan menarikku meninggalkan gereja. Entah ini baik atau tidak, tapi aku berterimakasih pada Jio hyung karena aku tidak harus menahan emosiku ketika melihat mereka berciuman nanti. Kakiku dengan pelan mengikuti langkah Jio hyung.

“byungie kita kemana eoh?”, tanyaku lagi, lelah dengan kehenigan yang menyelimuti kami.

“ikut aku puffy cheeks”, Jio hyung terkekeh pelan dan terus menarikku ke Ferrari hitamnya yang terparkir di pelataran gereja. Ku majukan bibirku pelan sambil menggembungkan pipiku.

“puffy cheeks??”, ujarku kesal. Alih-alih mendapatkan respon, aku justru didorong pelan masuk kedalam mobil sebelum akhirnya Jio hyung masuk dan duduk di kursi pengemudi.

“ya ya JUNG BYUNGHEE ahjussi, ini pernikahan adikku dan kau malah menculikku seperti ini??”, kusilangkan kedua tanganku kesal sambil menggembungkan pipiku. Jio hyung terkekeh pelan dan mendekatiku lalu memasangkan sabuk pengamanku. Kurasakan tangan besarnya mengusap lembut pipiku sebelum menciumnya.

“tidak bisakah sekali saja kau menurut dengan calon suamimu tanpa memberontak puffy cheeks?”, Jio hyung tersenyum lembut kearahku. Kurasakan pipiku memanas dan perlahan kupalingkan wajahku dari wajah Jio hyung yang hampir menempel.

“arasseo, dan jangan panggil aku puffy cheeks”, ujarku kesal.

“arraseo, chubby”, Jio hyung tertawa pelan dan mulai menyalakan mesin mobil.

“itu sama saja”, kumajukan bibirku pelan dan Jio hyung masih saja tertawa tanpa dosa disampingku.

Kusandarkan punggungku dan mulai menatap keluar jendela. Yah, ini yang terbaik. Aku tidak harus semakin terluka dengan memaksakan diri disana dan juga, calon suami ku bukan orang yang jahat. Dia tidak mungkin membuangku di tengah laut begitu saja kan.

Kurasa ini bukanlah ide yang buruk.

Entah kenapa namja disampingku ini sangat mengerti perasaanku meskipun aku tidak pernah memberitahukan padanya. Selalu saja membuatku nyaman dengan perlakuan lembutnya. Membuatku tercengang dengan semua kejutan yang diberikannya padaku.

Jujur, dalam hatiku yang terdalam aku sangat ingin mencintainya. Apakah aku egois mengharapkan cinta seseorang lain dan mengkhianati janjiku pada Nam Woohyun? Well, kurasa aku ingin menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku, aku ingin bahagia tanpa keegoisan orang lain yang memenuhi hati dan perasaanku. Jujur, aku masih sangat mencintai Woohyun dan akan menjadi suatu yang mustahil jika aku bisa melupakannya dengan cepat.

Tapi Jio hyung,

tidakkah dia juga seseorang yang pantas mendapatkan sebuah cinta karena ketulusannya?

Karena kebaikan hatinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya?

Di suatu tempat di hatiku yang terdalam, aku sangat ingin mencintai Jio hyung.

Bahagia bersamanya tanpa mengingat Woohyun yang lebih dahulu membuangku dan membiarkanku terluka dalam diam tanpa bisa berbuat apapun. Sampai Jio hyung datang dengan senyum lembutnya yang seolah menghipnotisku agar aku selalu tenang dan merasa nyaman disekitarnya.

Yah aku tau, sangat jelas bahwa saat ini aku belum siap untuk memberikan hatiku pada orang lain tapi di lubuk hatiku yang terdalam, Jio hyung sudah memiliki tempatnya sendiri. Terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Dan aku berjanji, 

meskipun saat ini aku belum mencintainya, tapi aku berjanji aku akan mencintainya suatu saat nanti. Helaan nafas pelan keluar dari bibirku.

Kupejamkan mataku pelan dan mendengarkan suara mesin mobil yang sedari tadi menjadi satu-satunya suara yang ditangkap indera pendengaraku. Well, sungguh. Hari ini tidak terlalu buruk. Kukira hari ini akan menjadi hari kiamat nasional bagiku. Tapi entahlah, dengan adanya namja disampingku ini semuanya terasa.. lebih ringan untuk dilalui.

Byungie, Gomawo..


------------------------------------------------------------------------


“sunggyu hyung eotte? Apakah menurutmu villa ini bagus untukku dan Woohyun?”, Key tersenyum senang sambil bergelayut manja di lengan Woohyun.

Woohyun tersenyum lembut melihat sikap manja istrinya sambil sesekali mencium kepala Key tanpa menghiraukan keberadaan ku disini sebagai orang yang pernah menantinya selama 12 tahun.

“bagus, kalian akan betah disini aku jamin”, ujarku pelan sebelum mengeluarkan iphone ku dan mulai mengutak-atiknya.

“hyung 3 hari lagi kau juga akan resmi seperti kami, benar kan hyunnie?”, Key menatap Woohyun dengan ceria dan Woohyun hanya mengangguk pelan sambil mencium pipinya, membuat namja bermata kucing itu mengeluarkan semburat merah di pipinya.

“hyunnie tidak di depan hyungku!”, Tangan key memukul pelan dada Woohyun dan Woohyun lagi hanya tertawa senang dan menggenggam tangan Key lalu menciuminya berkali-kali.

“sunggyu hyung tidak akan keberatan sayang, benarkan hyung?”, Mata Woohyun menatap kedalam mataku dengan lembut. Kutatap mata itu dengan tajam sebelum mengalihkan pandanganku.

“aku ada urusan setelah ini. Selamat bersenang-senang”, ujarku pelan sambil berlalu meninggalkan Villa mewah ini. Bahkan, Nam Woohyun brengsek itu tidak memikirkan perasaanku sedikitpun.

Entahlah, kurasa dia memang sudah menghapusku dari otaknya. Sudah menggantikannya dengan Key yang polos ceria dan menyenangkan. Yah aku tau itu, sangat jelas malah. Tapi apakah dia tidak berusaha menjaga perasaanku? Dia tau kalau aku masih sangat mencintainya. Dia tau itu, tapi bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun. Seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita dan bersikap layaknya kakak dan adik ipar. Yah, dia pernah mengatakan itu kan padaku sebelumnya? Dan harusnya aku paham bukan?

Kuhempaskan tubuhku di pasir dan menatap ke lautan luas yang terhampar di hadapanku.

Andai saja aku bukan Kim Sunggyu, apakah hidupku bahagia?

Andai saja aku orang lain, apakah aku juga tetap merasakan rasa sakit yang menderaku tiap harinya?

Apakah hal ini hanya terjadi pada ku?

Pada Kim Sunggyu?

Perlahan buliran air mata jatuh menuruni pipiku.

Aku merindukan Woohyun yang dulu.

Woohyun yang berlarian dalam hujan untuk menjemputku.

Woohyun yang semalaman menemaniku tertidur karena tubuhku yang lemah membutuhkannya.

Woohyun yang terbangun tengah malam dan berlari ke rumahku hanya karena aku mimpi buruk,

Woohyun yang 12 tahun lalu berjanji akan kembali dari America dan menikah denganku.

Woohyun yang mengerti perasaanku, 

dan

Woohyun yang mencintaiku.

Tanpa sadar air mata mengalir deras menuruni pipiku.

Kupejamkan pelan mataku dan membiarkan sakit hati ini mengalir keseluruh tubuhku. Membawaku kedalam jurang keputus asaan yang dalam. Yah biarkan semuanya seperti ini. Hanya untuk saat ini, hanya untuk diriku sendiri. Kuhembuskan nafasku perlahan bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Membuatku merasa sedikit lebih tenang.

“Sunggyu hyung”, suara itu. Suara Woohyun. Perlahan kubuka mataku pelan dan mendapati Woohyun duduk disampingku sambil tersenyum.

Kupalingkan wajahku pelan dan menatap ke lautan lepas yang ada di hadapanku.

“gomawo, sudah melepaskanku untuk Key” ujarnya.

Kupejamkan mataku perlahan dan membiarkan kata-kata Woohyun memenuhi pendengaranku.

“kau mau apa? Aku mengacaukan pernikahanmu? Aku punya hati Nam Woohyun, aku tdak akan menyakiti hati adikku. Seperti kau menyakiti hatiku”, suaraku terdengar dingin bahkan di telingaku sendiri.

Benar, karena memang itulah yang sebenarnya kurasakan.

“haha aku tau Hyung, gomawo. Kau adalah namja terbaik yang pernah kutemui. Kau tau? Kau sangat murah hati dan kadang terlihat mudah ditindas”, Woohyun tertawa pelan bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.

Dia bercanda?

Dengan kata-kata semacam itu?

12 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merubah seseorang ternyata.

“kau, bagaimana kau bisa bercanda dengan perasaan orang lain?”, ujarku pelan, mataku dengan tajam menatap kedalam matanya.

“aku menyesal karena mencintaimu Woohyun, aku menyesal karena menghabiskan 12 tahun hidupku demi seorang namja yang bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku menyesal aku bertemu denganmu Nam Woohyun. Kau, hiduplah bahagia dengan Key tanpa mengganggu hidupku. Kau hiduplah dengan tenang bersama Key tanpa harus menganggapku sebagai kakak iparmu. Karena aku bersumpah. Seumur hidupku aku tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai adik iparku.”

Tatapan Woohyun menajam, seolah menyalurkan sakit hati yang begitu dalam atas kata-kataku. Woohyun menatapku tajam dan kekecewaan terpancar jelas disana. Kupalingkan wajahku dan membiarkan air mata mengalir menuruni pipiku.

“hyung, tidakkah kau terlalu pendendam?”, suara Woohyun terdengar sinis. 

“bukankah ini hakku untuk mencintai siapapun yang aku mau? Bukankah ini semua hakku untuk mencintai Key? Kau jangan egois dengan perasanmu sendiri hyung. Aku menyesal karena mengira kau namja yang baik dan dewasa, nyatanya. Kau hanya namja besar dengan keegoisan dan kekanakan yang memenuhi otakmu”, setiap kata yang meluncur dari mulut Woohyun seolah menusukku.

Kutatap tajam wajah tampan itu dan tanpa kusadari tanganku melayang pelan dan menampar wajah tampannya.

“jahat..”, air mata mengalir deras menuruni pipiku.

Well, aku tidak peduli apakah Woohyun melihatnya dan menganggapku cengeng lemah memalukan atau apapun. Aku hanya ingin, dia tidak seenaknya berbicara tentang orang lain seperti itu.

“kau berubah Nam Woohyun, 12 tahun waktu yang cukup untuk mengubah sifat seseorang ne.. kau bahkan tidak sadar tiap detiknya aku melewati hidupku dengan luka kronis di hatiku karena menyerahkanmu kepada adikku. Menyerahkan orang yang sangat berharga dalam hidupku demi adikku. Neo, haruskah kau berada di posisiku untuk merasakan yang aku rasakan? Kemana Nam Woohyun yang mengerti perasaan orang lain? Kemana Nam Woohyun yang mencintaiku? Kemana Nam Woohyun yang bersikap lembut kepadaku? Woohyun ah, setidak berguna itukah aku dimatamu? Serendah itukah arti dari perasaanku terhadapmu selama ini? Semenjijikkan itukah aku dimatamu jika dibandingkan dengan Key? Woohyun ah neo, aku tidak menyangka kau berubah menjadi seperti ini”, perlahan kuhapus air mataku dan berdiri.

Kulangkahkan kakiku menjauhi Woohyun sebelum sebuah kata yang meluncur dari bibirnya menghentikan langkahku.

“mianhae”.

Kutundukkan kepalaku pelan dan berjalan menjauh. Sakit, kuremas perlahan dadaku. Merasakan sakit hati yang seolah membunuhku tiap detiknya. Air mata terus mengalir deras menuruni pipiku.

Tuhan kumohon, ambil nyawaku. Aku tidak kuat lagi menahan semua ini.

Kubanting pintu kamar hotelku dan tubuhku merosot ke lantai dengan pelan seolah kakiku sudah tidak mampu menahan beban sakit hatiku yang semakin menganga karena tiap kata tajam Woohyun yang terdengar langsung di telingaku. Kusandarkan punggungku di tembok dan menangis tanpa suara sampai kurasakan tubuhku lemas dan aku tertidur.

-------------------------------------------------------------------

“hyung”,

kurasakan sebuah tangan menepuk pipiku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan dan mendapati Sungyeol, Myungsoo, Key, Taeyeon, dan Woohyun berdiri di sekelilingku. Aku tidak ingat kalau aku sudah berda di kasur ketika aku tertidur tadi.

“hyung gwaechana??”, Sungyeol langsung memeluk tubuh lemahku dengan erat dan menangis di pelukanku. Senyum simpul terukir di bibirku.

“gwaechana yeol”, ujarku pelan.

Sungyeol mengangguk pelan sebelum Taeyeon menghambur dan memelukku erat.

Kulingkarkan lenganku dan memeluk pinggang kembaranku yang cantik ini. Well, aku tau dia sangat khawatir dan gelisah. Saat itulah mata kecilku menangkap Woohyun yang sedang memeluk Key.

Woohyun memalingkan wajah datarnya dan menatap kearah lantai.

Dia terlihat sedih.

Haha hanya perasaan bersalah mungkin?

“kau tidurlah, kau harus segera sehat agar pernikahanmu berjalan lancar ne?”, Taeyeon mengusap rambutku pelan dan aku hanya mengangguk.

“jja tidurlah hamster baby”, Taeyeon mencium keningku dan menyelimutiku. Kuhembuskan nafas pelan dan mengangguk. Kupejamkan mataku perlahan. Dan lagi, alam mimpi membawaku pergi dari dunia tempatku berpijak.


Hari ini adalah hari yang besar untukku.

Aku akan menikah dengan Jio Hyung.

Aku menatap pantulan diriku di kaca dengan gaun yang membalit tubuhku. Gaun? Yah setelah berdebat dengan lama dan alot akhirnya aku menyerah dengan keputusan memakai gaun dan rambut panjang yang berwarna hitam yang di bentuk sedemikian rupa.

Cantik

Itu yang semua orang bilang ketika melihatku tadi.

Benarkah?

Senyum simpul terukir di bibirku. Pernikahanku akan dimulai 15 menit lagi. Dan itu tandanya aku akan dengan resmi menjadi milik Jio hyung dan saat itulah, aku akan membuang Nam Woohyun dari hati dan otakku. Aku harus melupakannya.

Perlahan aku bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pelan menuju meja. Gaun panjang ini menyusahkan ruang gerakku. 

Kuraih iphoneku dengan pelan dan mendial nomor seseorang yang bertengkar hebat denganku 2 hari yang lalu. Kuhembuskan nafas pelan dan menempelkan benda kotak panjang itu ditelingaku.

Kekecewaan menghantam hatiku begitu mengetajui nomor woohyun tidak aktif. Mungkin dia sibuk diluar sana.

Well, aku belum melihatnya seharian ini. Aku hanya bertemu Key yang keluar masuk ruangan riasku untuk membantuku.

Perlahan jariku mengetik pesan untuk Woohyun. Kutahan air mataku agar tidak merusak dandanan wajahku.

‘aku mencintaimu’

tanganku bergetar dan mengirimkan pesan itu.

Kuletakkan iphone ku kembali dan menatap kaca.

Kim Sunggyu, berbahagialah, ujarku pada diri sendiri.

Kupejamkan mataku dan saat itulah Ayahku masuk dan tersenyum.

“sudah waktunya”, aku tersenyum dan mengangguk. Ayahku berjalan mendekatiku dan memelukku dengan erat.

“ayah menyayangimu, maafkan ayah”, kurasakan suara ayahku bergetar. Kutatap wajah beliau dan tanganku menghapus air mata yang mengaliri pipiku.

“aku bahagia jika appa dan eomma bahagia”, ujarku pelan. Ayahku mengangguk dan menggandeng tanganku perlahan.

Yah inilah saatnya..


Aku berjalan dengan ayahku mnuju altar dengan pelan. Semua mata tertuju padaku. Gugup, yah aku sangat gugup. Decak kagum beberapa orang sampai di indera pendengaranku. Membuat senyum terpancar di bibirku dan mengucapkan terimakasih dalam hatiku.

Dan sedikit lagi. Kulihat Punggung Jio hyung yang terbalut tuxedo putih.

Jio hyung membelakangiku.

Dan entahlah,

kurasa Jio hyung sedikit lebih pendek dari biasanya. Ayahku berhenti dan Jio hyung berbalik..

aku tercekat melihat wajah itu.

Wajah itu..

itu bukan jio hyung..

dia..

“w..woohyun”, ujarku pelan.

Woohyun tersenyum dan menggenggam tanganku dengan erat.

“t..tunggu, apa maksudnya ini, mana calon suamiku?”, aku memberontak pelan dan menarik tanganku dari genggaman tangan Woohyun.

Otakku sungguh tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Pendeta yang ada di hadapanku tersenyum seolah mengerti apa yang terjadi disini.

“dia calon suamimu Sunggyu ssi”, ujarnya berwibawa.

“n..ne?? aniyo!! Dia suami adikku”, dan kata-kataku barusan mmbuat gelak tawa seluruh orang yang ada di gereja.

Aku berbalik dan melihat Jio hyung duduk disebelah Key dengan Key yang bergelayut manja di lengannya apa ini mimpi?

Eomma, appa, Myungsoo,Taeyeon, Sungyeol semuanya tersenyum lebar seolah sesuatu baru saja terjadi. Kurasakan tangan Woohyun menggenggam tanganku lembut.

“bisakah kita menikah sekarang dan aku akan menjelaskan semuanya?”, ujarnya lembut.

Kutatap wajahnya tidak mengerti. Woohyun tersenyum dan mengangguk kearah pendeta.

“t..tapi ini mimpi kan?”, ujarku pelan.

“sunggyu ssi, focus”, ujar pendeta itu berwibawa. Kuhembuskan nafas perlahan. Sungguh otakku tidak bisa menangkap apa yang terjadi.


Setelah mengucapkan janji, aku dan well, Woohyun resmi menjadi suami istri.

Suami istri dengan Woohyun sebabagai suami Key? 

Perlahan Woohyun menarik pinggangku dengan pelan dan mengusap pipiku dengan lembut.

“demi tuhan, aku mencintaimu Kim Sunggyu.. sangat mencintaimu”, itu yang dia ucapkan sebelum bibirku menyatu dengan bibirnya.

Kupejamkan mataku pelan dan mendengar sorak sorai orang-orang dibelakang kami. Tuhan, ini mimpi yang sangat indah.


------------------------------------------------------

Disinilah aku sekarang, duduk di tepi tempat tidurku dengan Woohyun yang masih berada di kamar mandi. Seharian ini aku tidak berhenti mengacuhkan orang-orang yang terlibat dalam rencana ini.

Benar, RENCANA INI!

Woohyun dan Key tidak pernah menikah, itu hanya acara palsu. Mereka bahkan tidak mengucapkan janji saat itu.

Benar, aku tidak tahu karena Jio Hyung mengajakku keluar dari gereja tepat sebelum Woohyun dan Key mengucapkan janji sebagai suami istri.

Aish dan ternyata jio hyung adalah CALON SUAMI KEY.

Astaga mereka tega sekali mengkhianatiku seperti ini.

Dan tentu saja, semua kemesraan Key dan Woohyun itu palsu. Hanya untuk menjebakku. Aish kenapa aku merasa sangat bodoh saat ini?

Apalagi saat Sungyeol dan Taeyeon tertawa puas ketika membantuku berganti baju untuk pesta tadi.

Sedangkan Myungsoo dan Key, jangan Tanya. Mereka saling membahas taruhan siapa yang menang dan siapa yang tidak dengan Key memegang ‘sunggyu hyung akan tertipu’. Mereka benar-benar keterlaluan. Dan ketika aku bertanya apa tujuan mereka, mereka mengatakan padaku semua jawaban ada pada suamiku.

Otak dari rencana jahat dan sadis ini.

Kuhembuskan nafasku perlahan dan merebahkan tubuhku di kasur. Kudengar suara pintu terbuka dan kurasakan Woohyun berjalan kearahku. Kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya. Tangan nya dengan lembut memeluk pinggangku dan mencium pundakku.

“jangan sentuh aku”, ujarku dingin. Woohyun terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.

“kalau kau marah aku tidak akan cerita”, bisiknya tepat ditelingaku. Membuatku bergidik.

“baiklah katakan padaku sekarang sebelum aku berubah pikiran”, kubalikkan badanku menghadapnya dan senyum lembut terkembang di bibirnya.

Woohyun mencium lembut keningku dan tersenyum. 

“kau mengacuhkanku selama kau di Paris”, ujarnya pelan.

“m..mwo?”, kuatatap matanya, mencari kejelasan di dalamnya.

“aku satu kelas denganmu tapi kau tidak mengenaliku”, ujarnya lembut.

“t..tunggu, kau Nam Woohyun itu?? Nam Woohyun yang misterius dengan kaca mata itu??”, tanyaku langsung.

Woohyun mengangguk dan tersenyum.

Yah, aku memang pernah memiliki teman sekelas bernama Woohyun ketika kuliah dulu. Dia jarang berbicara dan tatapan tajamnya membuat semua orang takut, bahkan ada gossip bahwa Woohyun adalah pembunuh berdarah dingin. Yah, bagaimana mungkin aku bisa mengenalinya. Melihatnya saja aku takut.

“aku menyamar, karena ingin mengawasimu.. calon istriku”, ujarnya lembut.

Kurasakan pipiku memerah. Kutundukkan wajahku dan Woohyun mengusap pipiku dengan hidungnya dengan lembut. Kudongakkan wajahku lagi dan Woohyun tersenyum.

“tapi aku kecwa bagaimana kau bisa tidak mengenaliku.. maka itu, aku menemui ayahmu dan ibumu, berkata bahwa aku akan menikahimu dengan cara yang tidak biasa. Lalu seteletahnya semuanya berkumpul untuk saling memberikan ide dan sukses. Semuanya berjalan dengan baik. Kami menyewa seorang actor untuk berpura-pura menjadi pendeta saat pernikahanku dan Key lalu meminjam calon suami Key untuk berpura-pura menjadi calon suamimu.. aku cemburu melihatnya dengan begitu mudah mendapat perhatianmu”, ujar Woohyun lembut.

Kulingkarkan lenganku di lehernya dan memeluknya erat. Menyalurkan perasaan yang selalu terpendam dalam diriku.

“maafkan aku sudah menamparmu”, ujarku pelan.

“andai kau tau apa yang terjadi saat itu”, ujar Woohyun pelan.

Kuusap pipi Woohyun pelan dan Woohyun tersenyum penuh arti.


Flashback (Woohyun POV)


Kutatap punggung Sunggyu yang mulai berjalan menjauh dengan lemah. Air mataku mengalir menuruni pipiku. 

Maafkan aku Gyu Maafkan aku Gyu..

Kuhembuskan nafas perlahan dan melemparkan kerang-kerang disekitarku kembali ke laut.

“kau bisa mengatasinya?”, sebuah suara mengiterupsiku dari lamunanku. Kulihat Myungsoo berdiri di sampingku.

“hyung, bertahanlah. Dua hari lagi”, ujar Myungsoo, tangannya menepuk pundakku.

“aku melukainya lagi”, ujar ku.

Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“aku mengerti, gwaechana.. kau harus berjanji untuk menjaga hyungku seumur hidupmu dan bersumpah tidak akan menyakitinya lagi sebagai permintaan maafmu”, kuanggukkan kepalaku.

Well, Myungsoo terlihat dingin dan tidak serius, tapi sebenarnya dia sangat dewasa dan penuh perasaan. Bahkan lebih dari yang aku tau.

“SUNGGYU HYUNG PINGSAN!”,

suara lumba-lumba sungyeol membuyarkan kami dan aku segera berlari menuju kamar Sunggyu. Kulihat Taeyeon ada disana dan duduk di samping tubuh Sunggyu yang tergeletak di lantai. Aku berlari dan merengkuh tubuh calon istri sahku dan menggendongnya. Kupapah tubuh lemah itu dan kuletakkan di kasur sebelum menyelimutinya.

“mianhae.. mianhae”, kuhapus pelan sisa air mata yang menempel di pipi dan sekitar matanya. “gyu hyung, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu..”, bisikku lembut sebelum mencium keningnya dan bibir merahnya dengan lembut.

Perlahan tangan Taeyeon menginterupsiku dan Taeyeon mulai membersihkan wajah dan leher Sunggyu dengan handuk dan air hangat. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya erat. Sesekali kuusap pipinya lembut dan mencium wajah manisnya.

Maafkan aku gyu, maafkan aku.. tidak seharusnya aku berkata begitu. Tapi kau mengatakan kau menyesal mencintaiku.. aku sakit mendengarnya..

kuhembuskan nafasku perlahan dan tanpa kusadari aku tertidur sambil memeluk hamster besarku dengan erat.


End of flashback (Sunggyu POV)


Kurasakan air mataku menetes mendengar cerita Woohyun.

Well, aku bersalah karena menyakiti hatinya dengan kata-kataku. Kupeluk tubuh kekar itu dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada bidangnya. Kurasakan Woohyun tersenyum dan mengusap pipiku lembut sambil sesekali mencium keningku.

“aku mencintaimu”, ujarnya pelan. Aku terisak dan mengangguk.

“aku juga mencintaimu”, kurasakan Woohyun mengangkat daguku lembut dan menempelkan bibirnya di bibirku sebelum menjelajahi bibirku semakin dalam.

Kueratkan pelukan ku dan Woohyun semakin mengintenskan ciumannya. Perlahan Woohyun melepaskan ciumannya dengan nafas yang tidak teratur. Woohyun menatapku nakal dan aku menangkap aura kemesuman disana.

“gyu, ini malam pertama kita”, ujarnya pelan.

“MWO?!! SETELAH MENGERJAIKU HABIS-HABISAN KAU MASIH BERANI MEMINTA MALAM PERTAMAA?”, suaraku meninggi dan mencubit abs Woohyun dengan pelan lau berlari keluar kamar.

Woohyun mendecak sebal dan kudengar dia mulai mengerjarku. Aku tersenyum sambil berlari. Senyum yang nyata. Senyum kebahagiaan.

Nam Woohyun gomawo.. dan beginilah akhirnya. Tuhan mendegarkan doaku. Tuhan memberikan Woohyunku kembali.

Aku tersenyum dan berhenti di balkon kamar hotel ku. Kurasakan Woohyun memeluk pinggangku dengan erat.

“aku mencintaimu.. jangan pergi dariku, jangan pernah”, ujarnya berbisik lembut di telingaku.

Aku tersenyum dan mengangguk. Perlahan Woohyun menarikku kembali kedalam sebuah ciuman hangat dan intens yang menyalurkan semua hasrat dan cinta yang selama ini terpendam dalam diri kami.


------------------------------------------------------


“YAK KIM MYUNGSOO SUDAH KUBILANG KALAU MENGINTIP JANGAN DISINI! BANYAK NYAMUK KAU TAHU!”, Sungyeol berteriak dengan kesal kearah kekasihnya.

“sudah kubilang ini tempat yang bagus untuk mengintip mereka. Lihatlah mereka melakukannya di balkon”, Myungsoo kembali mendekatkan teropong jarak jauhnya dan menyaksikan kedua hyungnya sedang melakukan sesuatu di balkon kamar hotel mereka yang terletak di lantai 15.

Senyum jahil terkembang di bibirnya.

“tapi banyak nyamuk”, ujar Sungyeol kesal menatap kekasihnya.

Bagaimana tidak, ia terpaksa diseret menuju tempat ini di tengah malam untuk mengintip seseorang melakukan ini dan itu.

“YAK KALIAN SEDANG APA?”, sampai tangan seseorang melayang dengan mulus di kepala Myungsoo.

“aa..appaa”, k..kami sedang melihat bintang”, ujar Myungsoo dengan wajah super cutenya.

“bintang? Di lantai 15?”, Jio yang berada di samping calon mertuanya hanya bisa tersenyum jahil.

“aa..abeonim kami ke kamar sekarang”, Sungyeol yang gugup dengan kejam langsung menarik kekasihnya menjauh.

Meninggalkan teropong jarah jauhnya yang tergeletak di rerumputan .

Jio menatap ayah mertuanya penuh arti sebelum akhirnya mereka mengambil teropong itu dan berbagi satu sama lain melihat bintang di lantai 15 yang dimaksud Myungsoo tadi sambil tertawa jail satu sama lain.


THE END

Annyeonggg  sudah tamat nih xD hahaha maaf kalau jelek aneh dan kata-katanya ancur. Semoga enjoy bacanya  dan jangan lupa RCL nee J dengan ini saya mengundurkan diri sebagai penulis dan turun jabatan menjadi pembaca *curhat* soalnya saya ngerasa ga bisa nulis cerita yg emejing dan Lain-Lain  gomawo yang udah mau baca dan comment ff saya selama ini. Dan ff yang terkahir ini juga jangan lupa RCL ne J semoga saya bisa kembali menjadi penulis suatu hari lagi. *eaaaa* babayyy see youuuuuuuuuu *chuu
 Note : WANJEEEEEEEEEER T_T T_T T_T T_T T_T WAT DE HELL, GUE HAMPIR NANGIS DI KAMPUS GARA2 NI FF SIALAN. OMGT, GILA DAEBAK BANGEEEEEEEEEET T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T HELL, DAMN AUTHORNIM !!!
------------------------------------------------------------------------------------
l'égoïsme (keegoisan) 3/3 | Ashley Hwang
27 Juli 2013 pukul 5:55           

l'égoïsme (keegoisan) 3/3

Cast:

- Kim Sunggyu

- Nam Woohyun

- Kim Ki Bum (Key)

- MBLAQ GO (Jio)

Rate: PG-15

Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.

Chap 1:


Chap 2:



Kim Sunggyu POV


“aigoo mereka sangat serasi bukan??”, aku tersenyum simpul mendengar kometar-komentar itu ketika Key berjalan menuju altar dengan gaun mewahnya.

Perlahan kupalingkan pandanganku kearah namja tampan yang berdiri tegap dengan tuxedo hitam yang membalut tubuh atletisnya. Helaan nafas pelan lolos dari bibirku.

Dengan berat kupalingkan pandanganku kearah hal-hal yang menurutku tidak penting untuk diperhatikan, seperti eommaku yang menangis terharu di barisan terdepan.

Barisan terdepan?

Benar seharusnya disanalah aku berada sebagai kakak kandung Key. Tapi, sayangnya hatiku tidak sekuat itu untuk berada disitu. Melihat Key dan Woohyun berciuman, menyalurkan kebahagiian dengan jarak lebih dekat bias saja membuat ku menangis lagi kan?

Jadi disinilah aku sekarang.

Di barisan belakang ditemani oleh Jio hyung yang selalu berada di sampingku sejak kejadian akuarium pecah itu.

Well, omong-omong soal kejadian itu, aku harus pindak ke ruangan kerja yang baru –dengan akuarium raksasa lain di dalamnya. Baiklah aku memang bukan pecinta ikan atau apa, hanya saja ayahku selalu saja menginginkan akuarium di ruangan kerja dengan alasan agar aku bisa rileks setelah mengurus banyak dokumen. Dan yah kurasa beliau benar. Aku sealu tersenyum melihat ikan-ikan itu berkejar-kejaran atau berenang dengan bebas seolah hidup mereka adalah bersenang-senang tiap harinya.

(contoh aquariumnya semacam inihttp://st.houzz.com/fimgs/22b1e19f002f56d4_9702-w406-h406-b0-p0--tropical-bedroom.jpg tapi bedanya itu kamar ini ruang kerja xD mari berimajinasi)

Tidak seperti hidupku yang sepertinya tidak pernah bahagia, baiklah mungkin aku berlebihan. Aku memiliki segalanya, semua yang aku inginkan akan langsung ada di tanganku tanpa menunggu lama. Tapi hanya satu hal yang tidak kumiliki. Keputusanku sendiri. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui semua masalah yang membelitku selama ini kan?

“Gyu ya, gwaechana?”, aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam erat tanganku. Membuatku kembali ke dunia tempatku berpijak. Kutolehkan kepalaku pelan dan mendapati Jio hyung menatap khawatir kearahku. Kuhembuskan nafas perlahan dan mengangguk pelan

“gwaechana Byungie ya”, senyum tipis mengembang di bibirku. Jio hyung mengangguk dan menatap kearah altar dan kembali menatapku lagi setelah beberapa saat.

“waeyo byungie?”, ujarku berbisik. Aku melihat kesekeliling dan semua orang yang ada di gereja ini terdiam dan focus kearah Woohyun dan Key.

“ikut aku”, perlahan Jio hyung berdiri dan menarik tanganku.

“kemana? Pernikahannya akan dimulai”, ujarku pelan. Jio hyung tersenyum penuh arti dan menarikku meninggalkan gereja. Entah ini baik atau tidak, tapi aku berterimakasih pada Jio hyung karena aku tidak harus menahan emosiku ketika melihat mereka berciuman nanti. Kakiku dengan pelan mengikuti langkah Jio hyung.

“byungie kita kemana eoh?”, tanyaku lagi, lelah dengan kehenigan yang menyelimuti kami.

“ikut aku puffy cheeks”, Jio hyung terkekeh pelan dan terus menarikku ke Ferrari hitamnya yang terparkir di pelataran gereja. Ku majukan bibirku pelan sambil menggembungkan pipiku.

“puffy cheeks??”, ujarku kesal. Alih-alih mendapatkan respon, aku justru didorong pelan masuk kedalam mobil sebelum akhirnya Jio hyung masuk dan duduk di kursi pengemudi.

“ya ya JUNG BYUNGHEE ahjussi, ini pernikahan adikku dan kau malah menculikku seperti ini??”, kusilangkan kedua tanganku kesal sambil menggembungkan pipiku. Jio hyung terkekeh pelan dan mendekatiku lalu memasangkan sabuk pengamanku. Kurasakan tangan besarnya mengusap lembut pipiku sebelum menciumnya.

“tidak bisakah sekali saja kau menurut dengan calon suamimu tanpa memberontak puffy cheeks?”, Jio hyung tersenyum lembut kearahku. Kurasakan pipiku memanas dan perlahan kupalingkan wajahku dari wajah Jio hyung yang hampir menempel.

“arasseo, dan jangan panggil aku puffy cheeks”, ujarku kesal.

“arraseo, chubby”, Jio hyung tertawa pelan dan mulai menyalakan mesin mobil.

“itu sama saja”, kumajukan bibirku pelan dan Jio hyung masih saja tertawa tanpa dosa disampingku.

Kusandarkan punggungku dan mulai menatap keluar jendela. Yah, ini yang terbaik. Aku tidak harus semakin terluka dengan memaksakan diri disana dan juga, calon suami ku bukan orang yang jahat. Dia tidak mungkin membuangku di tengah laut begitu saja kan.

Kurasa ini bukanlah ide yang buruk.

Entah kenapa namja disampingku ini sangat mengerti perasaanku meskipun aku tidak pernah memberitahukan padanya. Selalu saja membuatku nyaman dengan perlakuan lembutnya. Membuatku tercengang dengan semua kejutan yang diberikannya padaku.

Jujur, dalam hatiku yang terdalam aku sangat ingin mencintainya. Apakah aku egois mengharapkan cinta seseorang lain dan mengkhianati janjiku pada Nam Woohyun? Well, kurasa aku ingin menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku, aku ingin bahagia tanpa keegoisan orang lain yang memenuhi hati dan perasaanku. Jujur, aku masih sangat mencintai Woohyun dan akan menjadi suatu yang mustahil jika aku bisa melupakannya dengan cepat.

Tapi Jio hyung,

tidakkah dia juga seseorang yang pantas mendapatkan sebuah cinta karena ketulusannya?

Karena kebaikan hatinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya?

Di suatu tempat di hatiku yang terdalam, aku sangat ingin mencintai Jio hyung.

Bahagia bersamanya tanpa mengingat Woohyun yang lebih dahulu membuangku dan membiarkanku terluka dalam diam tanpa bisa berbuat apapun. Sampai Jio hyung datang dengan senyum lembutnya yang seolah menghipnotisku agar aku selalu tenang dan merasa nyaman disekitarnya.

Yah aku tau, sangat jelas bahwa saat ini aku belum siap untuk memberikan hatiku pada orang lain tapi di lubuk hatiku yang terdalam, Jio hyung sudah memiliki tempatnya sendiri. Terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Dan aku berjanji, 

meskipun saat ini aku belum mencintainya, tapi aku berjanji aku akan mencintainya suatu saat nanti. Helaan nafas pelan keluar dari bibirku.

Kupejamkan mataku pelan dan mendengarkan suara mesin mobil yang sedari tadi menjadi satu-satunya suara yang ditangkap indera pendengaraku. Well, sungguh. Hari ini tidak terlalu buruk. Kukira hari ini akan menjadi hari kiamat nasional bagiku. Tapi entahlah, dengan adanya namja disampingku ini semuanya terasa.. lebih ringan untuk dilalui.

Byungie, Gomawo..


------------------------------------------------------------------------


“sunggyu hyung eotte? Apakah menurutmu villa ini bagus untukku dan Woohyun?”, Key tersenyum senang sambil bergelayut manja di lengan Woohyun.

Woohyun tersenyum lembut melihat sikap manja istrinya sambil sesekali mencium kepala Key tanpa menghiraukan keberadaan ku disini sebagai orang yang pernah menantinya selama 12 tahun.

“bagus, kalian akan betah disini aku jamin”, ujarku pelan sebelum mengeluarkan iphone ku dan mulai mengutak-atiknya.

“hyung 3 hari lagi kau juga akan resmi seperti kami, benar kan hyunnie?”, Key menatap Woohyun dengan ceria dan Woohyun hanya mengangguk pelan sambil mencium pipinya, membuat namja bermata kucing itu mengeluarkan semburat merah di pipinya.

“hyunnie tidak di depan hyungku!”, Tangan key memukul pelan dada Woohyun dan Woohyun lagi hanya tertawa senang dan menggenggam tangan Key lalu menciuminya berkali-kali.

“sunggyu hyung tidak akan keberatan sayang, benarkan hyung?”, Mata Woohyun menatap kedalam mataku dengan lembut. Kutatap mata itu dengan tajam sebelum mengalihkan pandanganku.

“aku ada urusan setelah ini. Selamat bersenang-senang”, ujarku pelan sambil berlalu meninggalkan Villa mewah ini. Bahkan, Nam Woohyun brengsek itu tidak memikirkan perasaanku sedikitpun.

Entahlah, kurasa dia memang sudah menghapusku dari otaknya. Sudah menggantikannya dengan Key yang polos ceria dan menyenangkan. Yah aku tau itu, sangat jelas malah. Tapi apakah dia tidak berusaha menjaga perasaanku? Dia tau kalau aku masih sangat mencintainya. Dia tau itu, tapi bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun. Seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita dan bersikap layaknya kakak dan adik ipar. Yah, dia pernah mengatakan itu kan padaku sebelumnya? Dan harusnya aku paham bukan?

Kuhempaskan tubuhku di pasir dan menatap ke lautan luas yang terhampar di hadapanku.

Andai saja aku bukan Kim Sunggyu, apakah hidupku bahagia?

Andai saja aku orang lain, apakah aku juga tetap merasakan rasa sakit yang menderaku tiap harinya?

Apakah hal ini hanya terjadi pada ku?

Pada Kim Sunggyu?

Perlahan buliran air mata jatuh menuruni pipiku.

Aku merindukan Woohyun yang dulu.

Woohyun yang berlarian dalam hujan untuk menjemputku.

Woohyun yang semalaman menemaniku tertidur karena tubuhku yang lemah membutuhkannya.

Woohyun yang terbangun tengah malam dan berlari ke rumahku hanya karena aku mimpi buruk,

Woohyun yang 12 tahun lalu berjanji akan kembali dari America dan menikah denganku.

Woohyun yang mengerti perasaanku, 

dan

Woohyun yang mencintaiku.

Tanpa sadar air mata mengalir deras menuruni pipiku.

Kupejamkan pelan mataku dan membiarkan sakit hati ini mengalir keseluruh tubuhku. Membawaku kedalam jurang keputus asaan yang dalam. Yah biarkan semuanya seperti ini. Hanya untuk saat ini, hanya untuk diriku sendiri. Kuhembuskan nafasku perlahan bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Membuatku merasa sedikit lebih tenang.

“Sunggyu hyung”, suara itu. Suara Woohyun. Perlahan kubuka mataku pelan dan mendapati Woohyun duduk disampingku sambil tersenyum.

Kupalingkan wajahku pelan dan menatap ke lautan lepas yang ada di hadapanku.

“gomawo, sudah melepaskanku untuk Key” ujarnya.

Kupejamkan mataku perlahan dan membiarkan kata-kata Woohyun memenuhi pendengaranku.

“kau mau apa? Aku mengacaukan pernikahanmu? Aku punya hati Nam Woohyun, aku tdak akan menyakiti hati adikku. Seperti kau menyakiti hatiku”, suaraku terdengar dingin bahkan di telingaku sendiri.

Benar, karena memang itulah yang sebenarnya kurasakan.

“haha aku tau Hyung, gomawo. Kau adalah namja terbaik yang pernah kutemui. Kau tau? Kau sangat murah hati dan kadang terlihat mudah ditindas”, Woohyun tertawa pelan bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.

Dia bercanda?

Dengan kata-kata semacam itu?

12 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merubah seseorang ternyata.

“kau, bagaimana kau bisa bercanda dengan perasaan orang lain?”, ujarku pelan, mataku dengan tajam menatap kedalam matanya.

“aku menyesal karena mencintaimu Woohyun, aku menyesal karena menghabiskan 12 tahun hidupku demi seorang namja yang bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku menyesal aku bertemu denganmu Nam Woohyun. Kau, hiduplah bahagia dengan Key tanpa mengganggu hidupku. Kau hiduplah dengan tenang bersama Key tanpa harus menganggapku sebagai kakak iparmu. Karena aku bersumpah. Seumur hidupku aku tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai adik iparku.”

Tatapan Woohyun menajam, seolah menyalurkan sakit hati yang begitu dalam atas kata-kataku. Woohyun menatapku tajam dan kekecewaan terpancar jelas disana. Kupalingkan wajahku dan membiarkan air mata mengalir menuruni pipiku.

“hyung, tidakkah kau terlalu pendendam?”, suara Woohyun terdengar sinis. 

“bukankah ini hakku untuk mencintai siapapun yang aku mau? Bukankah ini semua hakku untuk mencintai Key? Kau jangan egois dengan perasanmu sendiri hyung. Aku menyesal karena mengira kau namja yang baik dan dewasa, nyatanya. Kau hanya namja besar dengan keegoisan dan kekanakan yang memenuhi otakmu”, setiap kata yang meluncur dari mulut Woohyun seolah menusukku.

Kutatap tajam wajah tampan itu dan tanpa kusadari tanganku melayang pelan dan menampar wajah tampannya.

“jahat..”, air mata mengalir deras menuruni pipiku.

Well, aku tidak peduli apakah Woohyun melihatnya dan menganggapku cengeng lemah memalukan atau apapun. Aku hanya ingin, dia tidak seenaknya berbicara tentang orang lain seperti itu.

“kau berubah Nam Woohyun, 12 tahun waktu yang cukup untuk mengubah sifat seseorang ne.. kau bahkan tidak sadar tiap detiknya aku melewati hidupku dengan luka kronis di hatiku karena menyerahkanmu kepada adikku. Menyerahkan orang yang sangat berharga dalam hidupku demi adikku. Neo, haruskah kau berada di posisiku untuk merasakan yang aku rasakan? Kemana Nam Woohyun yang mengerti perasaan orang lain? Kemana Nam Woohyun yang mencintaiku? Kemana Nam Woohyun yang bersikap lembut kepadaku? Woohyun ah, setidak berguna itukah aku dimatamu? Serendah itukah arti dari perasaanku terhadapmu selama ini? Semenjijikkan itukah aku dimatamu jika dibandingkan dengan Key? Woohyun ah neo, aku tidak menyangka kau berubah menjadi seperti ini”, perlahan kuhapus air mataku dan berdiri.

Kulangkahkan kakiku menjauhi Woohyun sebelum sebuah kata yang meluncur dari bibirnya menghentikan langkahku.

“mianhae”.

Kutundukkan kepalaku pelan dan berjalan menjauh. Sakit, kuremas perlahan dadaku. Merasakan sakit hati yang seolah membunuhku tiap detiknya. Air mata terus mengalir deras menuruni pipiku.

Tuhan kumohon, ambil nyawaku. Aku tidak kuat lagi menahan semua ini.

Kubanting pintu kamar hotelku dan tubuhku merosot ke lantai dengan pelan seolah kakiku sudah tidak mampu menahan beban sakit hatiku yang semakin menganga karena tiap kata tajam Woohyun yang terdengar langsung di telingaku. Kusandarkan punggungku di tembok dan menangis tanpa suara sampai kurasakan tubuhku lemas dan aku tertidur.

-------------------------------------------------------------------

“hyung”,

kurasakan sebuah tangan menepuk pipiku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan dan mendapati Sungyeol, Myungsoo, Key, Taeyeon, dan Woohyun berdiri di sekelilingku. Aku tidak ingat kalau aku sudah berda di kasur ketika aku tertidur tadi.

“hyung gwaechana??”, Sungyeol langsung memeluk tubuh lemahku dengan erat dan menangis di pelukanku. Senyum simpul terukir di bibirku.

“gwaechana yeol”, ujarku pelan.

Sungyeol mengangguk pelan sebelum Taeyeon menghambur dan memelukku erat.

Kulingkarkan lenganku dan memeluk pinggang kembaranku yang cantik ini. Well, aku tau dia sangat khawatir dan gelisah. Saat itulah mata kecilku menangkap Woohyun yang sedang memeluk Key.

Woohyun memalingkan wajah datarnya dan menatap kearah lantai.

Dia terlihat sedih.

Haha hanya perasaan bersalah mungkin?

“kau tidurlah, kau harus segera sehat agar pernikahanmu berjalan lancar ne?”, Taeyeon mengusap rambutku pelan dan aku hanya mengangguk.

“jja tidurlah hamster baby”, Taeyeon mencium keningku dan menyelimutiku. Kuhembuskan nafas pelan dan mengangguk. Kupejamkan mataku perlahan. Dan lagi, alam mimpi membawaku pergi dari dunia tempatku berpijak.


Hari ini adalah hari yang besar untukku.

Aku akan menikah dengan Jio Hyung.

Aku menatap pantulan diriku di kaca dengan gaun yang membalit tubuhku. Gaun? Yah setelah berdebat dengan lama dan alot akhirnya aku menyerah dengan keputusan memakai gaun dan rambut panjang yang berwarna hitam yang di bentuk sedemikian rupa.

Cantik

Itu yang semua orang bilang ketika melihatku tadi.

Benarkah?

Senyum simpul terukir di bibirku. Pernikahanku akan dimulai 15 menit lagi. Dan itu tandanya aku akan dengan resmi menjadi milik Jio hyung dan saat itulah, aku akan membuang Nam Woohyun dari hati dan otakku. Aku harus melupakannya.

Perlahan aku bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pelan menuju meja. Gaun panjang ini menyusahkan ruang gerakku. 

Kuraih iphoneku dengan pelan dan mendial nomor seseorang yang bertengkar hebat denganku 2 hari yang lalu. Kuhembuskan nafas pelan dan menempelkan benda kotak panjang itu ditelingaku.

Kekecewaan menghantam hatiku begitu mengetajui nomor woohyun tidak aktif. Mungkin dia sibuk diluar sana.

Well, aku belum melihatnya seharian ini. Aku hanya bertemu Key yang keluar masuk ruangan riasku untuk membantuku.

Perlahan jariku mengetik pesan untuk Woohyun. Kutahan air mataku agar tidak merusak dandanan wajahku.

‘aku mencintaimu’

tanganku bergetar dan mengirimkan pesan itu.

Kuletakkan iphone ku kembali dan menatap kaca.

Kim Sunggyu, berbahagialah, ujarku pada diri sendiri.

Kupejamkan mataku dan saat itulah Ayahku masuk dan tersenyum.

“sudah waktunya”, aku tersenyum dan mengangguk. Ayahku berjalan mendekatiku dan memelukku dengan erat.

“ayah menyayangimu, maafkan ayah”, kurasakan suara ayahku bergetar. Kutatap wajah beliau dan tanganku menghapus air mata yang mengaliri pipiku.

“aku bahagia jika appa dan eomma bahagia”, ujarku pelan. Ayahku mengangguk dan menggandeng tanganku perlahan.

Yah inilah saatnya..


Aku berjalan dengan ayahku mnuju altar dengan pelan. Semua mata tertuju padaku. Gugup, yah aku sangat gugup. Decak kagum beberapa orang sampai di indera pendengaranku. Membuat senyum terpancar di bibirku dan mengucapkan terimakasih dalam hatiku.

Dan sedikit lagi. Kulihat Punggung Jio hyung yang terbalut tuxedo putih.

Jio hyung membelakangiku.

Dan entahlah,

kurasa Jio hyung sedikit lebih pendek dari biasanya. Ayahku berhenti dan Jio hyung berbalik..

aku tercekat melihat wajah itu.

Wajah itu..

itu bukan jio hyung..

dia..

“w..woohyun”, ujarku pelan.

Woohyun tersenyum dan menggenggam tanganku dengan erat.

“t..tunggu, apa maksudnya ini, mana calon suamiku?”, aku memberontak pelan dan menarik tanganku dari genggaman tangan Woohyun.

Otakku sungguh tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Pendeta yang ada di hadapanku tersenyum seolah mengerti apa yang terjadi disini.

“dia calon suamimu Sunggyu ssi”, ujarnya berwibawa.

“n..ne?? aniyo!! Dia suami adikku”, dan kata-kataku barusan mmbuat gelak tawa seluruh orang yang ada di gereja.

Aku berbalik dan melihat Jio hyung duduk disebelah Key dengan Key yang bergelayut manja di lengannya apa ini mimpi?

Eomma, appa, Myungsoo,Taeyeon, Sungyeol semuanya tersenyum lebar seolah sesuatu baru saja terjadi. Kurasakan tangan Woohyun menggenggam tanganku lembut.

“bisakah kita menikah sekarang dan aku akan menjelaskan semuanya?”, ujarnya lembut.

Kutatap wajahnya tidak mengerti. Woohyun tersenyum dan mengangguk kearah pendeta.

“t..tapi ini mimpi kan?”, ujarku pelan.

“sunggyu ssi, focus”, ujar pendeta itu berwibawa. Kuhembuskan nafas perlahan. Sungguh otakku tidak bisa menangkap apa yang terjadi.


Setelah mengucapkan janji, aku dan well, Woohyun resmi menjadi suami istri.

Suami istri dengan Woohyun sebabagai suami Key? 

Perlahan Woohyun menarik pinggangku dengan pelan dan mengusap pipiku dengan lembut.

“demi tuhan, aku mencintaimu Kim Sunggyu.. sangat mencintaimu”, itu yang dia ucapkan sebelum bibirku menyatu dengan bibirnya.

Kupejamkan mataku pelan dan mendengar sorak sorai orang-orang dibelakang kami. Tuhan, ini mimpi yang sangat indah.


------------------------------------------------------

Disinilah aku sekarang, duduk di tepi tempat tidurku dengan Woohyun yang masih berada di kamar mandi. Seharian ini aku tidak berhenti mengacuhkan orang-orang yang terlibat dalam rencana ini.

Benar, RENCANA INI!

Woohyun dan Key tidak pernah menikah, itu hanya acara palsu. Mereka bahkan tidak mengucapkan janji saat itu.

Benar, aku tidak tahu karena Jio Hyung mengajakku keluar dari gereja tepat sebelum Woohyun dan Key mengucapkan janji sebagai suami istri.

Aish dan ternyata jio hyung adalah CALON SUAMI KEY.

Astaga mereka tega sekali mengkhianatiku seperti ini.

Dan tentu saja, semua kemesraan Key dan Woohyun itu palsu. Hanya untuk menjebakku. Aish kenapa aku merasa sangat bodoh saat ini?

Apalagi saat Sungyeol dan Taeyeon tertawa puas ketika membantuku berganti baju untuk pesta tadi.

Sedangkan Myungsoo dan Key, jangan Tanya. Mereka saling membahas taruhan siapa yang menang dan siapa yang tidak dengan Key memegang ‘sunggyu hyung akan tertipu’. Mereka benar-benar keterlaluan. Dan ketika aku bertanya apa tujuan mereka, mereka mengatakan padaku semua jawaban ada pada suamiku.

Otak dari rencana jahat dan sadis ini.

Kuhembuskan nafasku perlahan dan merebahkan tubuhku di kasur. Kudengar suara pintu terbuka dan kurasakan Woohyun berjalan kearahku. Kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya. Tangan nya dengan lembut memeluk pinggangku dan mencium pundakku.

“jangan sentuh aku”, ujarku dingin. Woohyun terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.

“kalau kau marah aku tidak akan cerita”, bisiknya tepat ditelingaku. Membuatku bergidik.

“baiklah katakan padaku sekarang sebelum aku berubah pikiran”, kubalikkan badanku menghadapnya dan senyum lembut terkembang di bibirnya.

Woohyun mencium lembut keningku dan tersenyum. 

“kau mengacuhkanku selama kau di Paris”, ujarnya pelan.

“m..mwo?”, kuatatap matanya, mencari kejelasan di dalamnya.

“aku satu kelas denganmu tapi kau tidak mengenaliku”, ujarnya lembut.

“t..tunggu, kau Nam Woohyun itu?? Nam Woohyun yang misterius dengan kaca mata itu??”, tanyaku langsung.

Woohyun mengangguk dan tersenyum.

Yah, aku memang pernah memiliki teman sekelas bernama Woohyun ketika kuliah dulu. Dia jarang berbicara dan tatapan tajamnya membuat semua orang takut, bahkan ada gossip bahwa Woohyun adalah pembunuh berdarah dingin. Yah, bagaimana mungkin aku bisa mengenalinya. Melihatnya saja aku takut.

“aku menyamar, karena ingin mengawasimu.. calon istriku”, ujarnya lembut.

Kurasakan pipiku memerah. Kutundukkan wajahku dan Woohyun mengusap pipiku dengan hidungnya dengan lembut. Kudongakkan wajahku lagi dan Woohyun tersenyum.

“tapi aku kecwa bagaimana kau bisa tidak mengenaliku.. maka itu, aku menemui ayahmu dan ibumu, berkata bahwa aku akan menikahimu dengan cara yang tidak biasa. Lalu seteletahnya semuanya berkumpul untuk saling memberikan ide dan sukses. Semuanya berjalan dengan baik. Kami menyewa seorang actor untuk berpura-pura menjadi pendeta saat pernikahanku dan Key lalu meminjam calon suami Key untuk berpura-pura menjadi calon suamimu.. aku cemburu melihatnya dengan begitu mudah mendapat perhatianmu”, ujar Woohyun lembut.

Kulingkarkan lenganku di lehernya dan memeluknya erat. Menyalurkan perasaan yang selalu terpendam dalam diriku.

“maafkan aku sudah menamparmu”, ujarku pelan.

“andai kau tau apa yang terjadi saat itu”, ujar Woohyun pelan.

Kuusap pipi Woohyun pelan dan Woohyun tersenyum penuh arti.


Flashback (Woohyun POV)


Kutatap punggung Sunggyu yang mulai berjalan menjauh dengan lemah. Air mataku mengalir menuruni pipiku. 

Maafkan aku Gyu Maafkan aku Gyu..

Kuhembuskan nafas perlahan dan melemparkan kerang-kerang disekitarku kembali ke laut.

“kau bisa mengatasinya?”, sebuah suara mengiterupsiku dari lamunanku. Kulihat Myungsoo berdiri di sampingku.

“hyung, bertahanlah. Dua hari lagi”, ujar Myungsoo, tangannya menepuk pundakku.

“aku melukainya lagi”, ujar ku.

Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“aku mengerti, gwaechana.. kau harus berjanji untuk menjaga hyungku seumur hidupmu dan bersumpah tidak akan menyakitinya lagi sebagai permintaan maafmu”, kuanggukkan kepalaku.

Well, Myungsoo terlihat dingin dan tidak serius, tapi sebenarnya dia sangat dewasa dan penuh perasaan. Bahkan lebih dari yang aku tau.

“SUNGGYU HYUNG PINGSAN!”,

suara lumba-lumba sungyeol membuyarkan kami dan aku segera berlari menuju kamar Sunggyu. Kulihat Taeyeon ada disana dan duduk di samping tubuh Sunggyu yang tergeletak di lantai. Aku berlari dan merengkuh tubuh calon istri sahku dan menggendongnya. Kupapah tubuh lemah itu dan kuletakkan di kasur sebelum menyelimutinya.

“mianhae.. mianhae”, kuhapus pelan sisa air mata yang menempel di pipi dan sekitar matanya. “gyu hyung, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu..”, bisikku lembut sebelum mencium keningnya dan bibir merahnya dengan lembut.

Perlahan tangan Taeyeon menginterupsiku dan Taeyeon mulai membersihkan wajah dan leher Sunggyu dengan handuk dan air hangat. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya erat. Sesekali kuusap pipinya lembut dan mencium wajah manisnya.

Maafkan aku gyu, maafkan aku.. tidak seharusnya aku berkata begitu. Tapi kau mengatakan kau menyesal mencintaiku.. aku sakit mendengarnya..

kuhembuskan nafasku perlahan dan tanpa kusadari aku tertidur sambil memeluk hamster besarku dengan erat.


End of flashback (Sunggyu POV)


Kurasakan air mataku menetes mendengar cerita Woohyun.

Well, aku bersalah karena menyakiti hatinya dengan kata-kataku. Kupeluk tubuh kekar itu dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada bidangnya. Kurasakan Woohyun tersenyum dan mengusap pipiku lembut sambil sesekali mencium keningku.

“aku mencintaimu”, ujarnya pelan. Aku terisak dan mengangguk.

“aku juga mencintaimu”, kurasakan Woohyun mengangkat daguku lembut dan menempelkan bibirnya di bibirku sebelum menjelajahi bibirku semakin dalam.

Kueratkan pelukan ku dan Woohyun semakin mengintenskan ciumannya. Perlahan Woohyun melepaskan ciumannya dengan nafas yang tidak teratur. Woohyun menatapku nakal dan aku menangkap aura kemesuman disana.

“gyu, ini malam pertama kita”, ujarnya pelan.

“MWO?!! SETELAH MENGERJAIKU HABIS-HABISAN KAU MASIH BERANI MEMINTA MALAM PERTAMAA?”, suaraku meninggi dan mencubit abs Woohyun dengan pelan lau berlari keluar kamar.

Woohyun mendecak sebal dan kudengar dia mulai mengerjarku. Aku tersenyum sambil berlari. Senyum yang nyata. Senyum kebahagiaan.

Nam Woohyun gomawo.. dan beginilah akhirnya. Tuhan mendegarkan doaku. Tuhan memberikan Woohyunku kembali.

Aku tersenyum dan berhenti di balkon kamar hotel ku. Kurasakan Woohyun memeluk pinggangku dengan erat.

“aku mencintaimu.. jangan pergi dariku, jangan pernah”, ujarnya berbisik lembut di telingaku.

Aku tersenyum dan mengangguk. Perlahan Woohyun menarikku kembali kedalam sebuah ciuman hangat dan intens yang menyalurkan semua hasrat dan cinta yang selama ini terpendam dalam diri kami.


------------------------------------------------------


“YAK KIM MYUNGSOO SUDAH KUBILANG KALAU MENGINTIP JANGAN DISINI! BANYAK NYAMUK KAU TAHU!”, Sungyeol berteriak dengan kesal kearah kekasihnya.

“sudah kubilang ini tempat yang bagus untuk mengintip mereka. Lihatlah mereka melakukannya di balkon”, Myungsoo kembali mendekatkan teropong jarak jauhnya dan menyaksikan kedua hyungnya sedang melakukan sesuatu di balkon kamar hotel mereka yang terletak di lantai 15.

Senyum jahil terkembang di bibirnya.

“tapi banyak nyamuk”, ujar Sungyeol kesal menatap kekasihnya.

Bagaimana tidak, ia terpaksa diseret menuju tempat ini di tengah malam untuk mengintip seseorang melakukan ini dan itu.

“YAK KALIAN SEDANG APA?”, sampai tangan seseorang melayang dengan mulus di kepala Myungsoo.

“aa..appaa”, k..kami sedang melihat bintang”, ujar Myungsoo dengan wajah super cutenya.

“bintang? Di lantai 15?”, Jio yang berada di samping calon mertuanya hanya bisa tersenyum jahil.

“aa..abeonim kami ke kamar sekarang”, Sungyeol yang gugup dengan kejam langsung menarik kekasihnya menjauh.

Meninggalkan teropong jarah jauhnya yang tergeletak di rerumputan .

Jio menatap ayah mertuanya penuh arti sebelum akhirnya mereka mengambil teropong itu dan berbagi satu sama lain melihat bintang di lantai 15 yang dimaksud Myungsoo tadi sambil tertawa jail satu sama lain.


THE END

Annyeonggg  sudah tamat nih xD hahaha maaf kalau jelek aneh dan kata-katanya ancur. Semoga enjoy bacanya  dan jangan lupa RCL nee J dengan ini saya mengundurkan diri sebagai penulis dan turun jabatan menjadi pembaca *curhat* soalnya saya ngerasa ga bisa nulis cerita yg emejing dan Lain-Lain  gomawo yang udah mau baca dan comment ff saya selama ini. Dan ff yang terkahir ini juga jangan lupa RCL ne J semoga saya bisa kembali menjadi penulis suatu hari lagi. *eaaaa* babayyy see youuuuuuuuuu *chuu
.

No comments: