Note : WANJEEEEEEEEEER T_T T_T T_T T_T T_T WAT DE HELL, GUE HAMPIR NANGIS DI KAMPUS GARA2 NI FF SIALAN. OMGT, GILA DAEBAK BANGEEEEEEEEEET T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T HELL, DAMN AUTHORNIM !!!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
l'égoïsme
(keegoisan) 3/3 | Ashley Hwang
l'égoïsme (keegoisan) 3/3
Cast:
- Kim Sunggyu
- Nam Woohyun
- Kim Ki Bum
(Key)
- MBLAQ GO (Jio)
Rate: PG-15
Summary : Cinta
butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan
tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.
Chap 1:
Chap 2:
Kim Sunggyu POV
“aigoo mereka
sangat serasi bukan??”, aku tersenyum simpul mendengar kometar-komentar itu
ketika Key berjalan menuju altar dengan gaun mewahnya.
Perlahan
kupalingkan pandanganku kearah namja tampan yang berdiri tegap dengan tuxedo
hitam yang membalut tubuh atletisnya. Helaan nafas pelan lolos dari bibirku.
Dengan berat
kupalingkan pandanganku kearah hal-hal yang menurutku tidak penting untuk
diperhatikan, seperti eommaku yang menangis terharu di barisan terdepan.
Barisan terdepan?
Benar seharusnya
disanalah aku berada sebagai kakak kandung Key. Tapi, sayangnya hatiku tidak
sekuat itu untuk berada disitu. Melihat Key dan Woohyun berciuman, menyalurkan
kebahagiian dengan jarak lebih dekat bias saja membuat ku menangis lagi kan?
Jadi disinilah
aku sekarang.
Di barisan
belakang ditemani oleh Jio hyung yang selalu berada di sampingku sejak kejadian
akuarium pecah itu.
Well, omong-omong
soal kejadian itu, aku harus pindak ke ruangan kerja yang baru –dengan akuarium
raksasa lain di dalamnya. Baiklah aku memang bukan pecinta ikan atau apa, hanya
saja ayahku selalu saja menginginkan akuarium di ruangan kerja dengan alasan agar
aku bisa rileks setelah mengurus banyak dokumen. Dan yah kurasa beliau benar.
Aku sealu tersenyum melihat ikan-ikan itu berkejar-kejaran atau berenang dengan
bebas seolah hidup mereka adalah bersenang-senang tiap harinya.
(contoh
aquariumnya semacam inihttp://st.houzz.com/fimgs/22b1e19f002f56d4_9702-w406-h406-b0-p0--tropical-bedroom.jpg tapi
bedanya itu kamar ini ruang kerja xD mari berimajinasi)
Tidak seperti
hidupku yang sepertinya tidak pernah bahagia, baiklah mungkin aku berlebihan.
Aku memiliki segalanya, semua yang aku inginkan akan langsung ada di tanganku
tanpa menunggu lama. Tapi hanya satu hal yang tidak kumiliki. Keputusanku
sendiri. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui semua masalah yang membelitku
selama ini kan?
“Gyu ya,
gwaechana?”, aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam erat tanganku.
Membuatku kembali ke dunia tempatku berpijak. Kutolehkan kepalaku pelan dan
mendapati Jio hyung menatap khawatir kearahku. Kuhembuskan nafas perlahan dan
mengangguk pelan
“gwaechana
Byungie ya”, senyum tipis mengembang di bibirku. Jio hyung mengangguk dan
menatap kearah altar dan kembali menatapku lagi setelah beberapa saat.
“waeyo byungie?”,
ujarku berbisik. Aku melihat kesekeliling dan semua orang yang ada di gereja
ini terdiam dan focus kearah Woohyun dan Key.
“ikut aku”,
perlahan Jio hyung berdiri dan menarik tanganku.
“kemana?
Pernikahannya akan dimulai”, ujarku pelan. Jio hyung tersenyum penuh arti dan
menarikku meninggalkan gereja. Entah ini baik atau tidak, tapi aku
berterimakasih pada Jio hyung karena aku tidak harus menahan emosiku ketika
melihat mereka berciuman nanti. Kakiku dengan pelan mengikuti langkah Jio
hyung.
“byungie kita
kemana eoh?”, tanyaku lagi, lelah dengan kehenigan yang menyelimuti kami.
“ikut aku puffy
cheeks”, Jio hyung terkekeh pelan dan terus menarikku ke Ferrari hitamnya yang
terparkir di pelataran gereja. Ku majukan bibirku pelan sambil menggembungkan
pipiku.
“puffy cheeks??”,
ujarku kesal. Alih-alih mendapatkan respon, aku justru didorong pelan masuk kedalam
mobil sebelum akhirnya Jio hyung masuk dan duduk di kursi pengemudi.
“ya ya JUNG
BYUNGHEE ahjussi, ini pernikahan adikku dan kau malah menculikku seperti
ini??”, kusilangkan kedua tanganku kesal sambil menggembungkan pipiku. Jio
hyung terkekeh pelan dan mendekatiku lalu memasangkan sabuk pengamanku.
Kurasakan tangan besarnya mengusap lembut pipiku sebelum menciumnya.
“tidak bisakah
sekali saja kau menurut dengan calon suamimu tanpa memberontak puffy cheeks?”,
Jio hyung tersenyum lembut kearahku. Kurasakan pipiku memanas dan perlahan
kupalingkan wajahku dari wajah Jio hyung yang hampir menempel.
“arasseo, dan
jangan panggil aku puffy cheeks”, ujarku kesal.
“arraseo,
chubby”, Jio hyung tertawa pelan dan mulai menyalakan mesin mobil.
“itu sama saja”,
kumajukan bibirku pelan dan Jio hyung masih saja tertawa tanpa dosa
disampingku.
Kusandarkan
punggungku dan mulai menatap keluar jendela. Yah, ini yang terbaik. Aku tidak
harus semakin terluka dengan memaksakan diri disana dan juga, calon suami ku
bukan orang yang jahat. Dia tidak mungkin membuangku di tengah laut begitu saja
kan.
Kurasa ini
bukanlah ide yang buruk.
Entah kenapa
namja disampingku ini sangat mengerti perasaanku meskipun aku tidak pernah
memberitahukan padanya. Selalu saja membuatku nyaman dengan perlakuan
lembutnya. Membuatku tercengang dengan semua kejutan yang diberikannya padaku.
Jujur, dalam
hatiku yang terdalam aku sangat ingin mencintainya. Apakah aku egois
mengharapkan cinta seseorang lain dan mengkhianati janjiku pada Nam Woohyun?
Well, kurasa aku ingin menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku ingin mencintai
seseorang yang juga mencintaiku, aku ingin bahagia tanpa keegoisan orang lain
yang memenuhi hati dan perasaanku. Jujur, aku masih sangat mencintai Woohyun
dan akan menjadi suatu yang mustahil jika aku bisa melupakannya dengan cepat.
Tapi Jio hyung,
tidakkah dia juga
seseorang yang pantas mendapatkan sebuah cinta karena ketulusannya?
Karena kebaikan
hatinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya?
Di suatu tempat
di hatiku yang terdalam, aku sangat ingin mencintai Jio hyung.
Bahagia
bersamanya tanpa mengingat Woohyun yang lebih dahulu membuangku dan
membiarkanku terluka dalam diam tanpa bisa berbuat apapun. Sampai Jio hyung
datang dengan senyum lembutnya yang seolah menghipnotisku agar aku selalu
tenang dan merasa nyaman disekitarnya.
Yah aku tau,
sangat jelas bahwa saat ini aku belum siap untuk memberikan hatiku pada orang
lain tapi di lubuk hatiku yang terdalam, Jio hyung sudah memiliki tempatnya
sendiri. Terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Dan aku
berjanji,
meskipun saat ini
aku belum mencintainya, tapi aku berjanji aku akan mencintainya suatu saat
nanti. Helaan nafas pelan keluar dari bibirku.
Kupejamkan mataku
pelan dan mendengarkan suara mesin mobil yang sedari tadi menjadi satu-satunya
suara yang ditangkap indera pendengaraku. Well, sungguh. Hari ini tidak terlalu
buruk. Kukira hari ini akan menjadi hari kiamat nasional bagiku. Tapi entahlah,
dengan adanya namja disampingku ini semuanya terasa.. lebih ringan untuk
dilalui.
Byungie, Gomawo..
------------------------------------------------------------------------
“sunggyu hyung
eotte? Apakah menurutmu villa ini bagus untukku dan Woohyun?”, Key tersenyum
senang sambil bergelayut manja di lengan Woohyun.
Woohyun tersenyum
lembut melihat sikap manja istrinya sambil sesekali mencium kepala Key tanpa
menghiraukan keberadaan ku disini sebagai orang yang pernah menantinya selama
12 tahun.
“bagus, kalian
akan betah disini aku jamin”, ujarku pelan sebelum mengeluarkan iphone ku dan
mulai mengutak-atiknya.
“hyung 3 hari
lagi kau juga akan resmi seperti kami, benar kan hyunnie?”, Key menatap Woohyun
dengan ceria dan Woohyun hanya mengangguk pelan sambil mencium pipinya, membuat
namja bermata kucing itu mengeluarkan semburat merah di pipinya.
“hyunnie tidak di
depan hyungku!”, Tangan key memukul pelan dada Woohyun dan Woohyun lagi hanya
tertawa senang dan menggenggam tangan Key lalu menciuminya berkali-kali.
“sunggyu hyung
tidak akan keberatan sayang, benarkan hyung?”, Mata Woohyun menatap kedalam
mataku dengan lembut. Kutatap mata itu dengan tajam sebelum mengalihkan
pandanganku.
“aku ada urusan
setelah ini. Selamat bersenang-senang”, ujarku pelan sambil berlalu
meninggalkan Villa mewah ini. Bahkan, Nam Woohyun brengsek itu tidak memikirkan
perasaanku sedikitpun.
Entahlah, kurasa
dia memang sudah menghapusku dari otaknya. Sudah menggantikannya dengan Key
yang polos ceria dan menyenangkan. Yah aku tau itu, sangat jelas malah. Tapi
apakah dia tidak berusaha menjaga perasaanku? Dia tau kalau aku masih sangat
mencintainya. Dia tau itu, tapi bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun.
Seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita dan bersikap layaknya kakak
dan adik ipar. Yah, dia pernah mengatakan itu kan padaku sebelumnya? Dan
harusnya aku paham bukan?
Kuhempaskan
tubuhku di pasir dan menatap ke lautan luas yang terhampar di hadapanku.
Andai saja aku
bukan Kim Sunggyu, apakah hidupku bahagia?
Andai saja aku
orang lain, apakah aku juga tetap merasakan rasa sakit yang menderaku tiap
harinya?
Apakah hal ini
hanya terjadi pada ku?
Pada Kim Sunggyu?
Perlahan buliran
air mata jatuh menuruni pipiku.
Aku merindukan
Woohyun yang dulu.
Woohyun yang
berlarian dalam hujan untuk menjemputku.
Woohyun yang
semalaman menemaniku tertidur karena tubuhku yang lemah membutuhkannya.
Woohyun yang
terbangun tengah malam dan berlari ke rumahku hanya karena aku mimpi buruk,
Woohyun yang 12
tahun lalu berjanji akan kembali dari America dan menikah denganku.
Woohyun yang
mengerti perasaanku,
dan
Woohyun yang
mencintaiku.
Tanpa sadar air
mata mengalir deras menuruni pipiku.
Kupejamkan pelan
mataku dan membiarkan sakit hati ini mengalir keseluruh tubuhku. Membawaku
kedalam jurang keputus asaan yang dalam. Yah biarkan semuanya seperti ini.
Hanya untuk saat ini, hanya untuk diriku sendiri. Kuhembuskan nafasku perlahan
bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Membuatku merasa sedikit
lebih tenang.
“Sunggyu hyung”,
suara itu. Suara Woohyun. Perlahan kubuka mataku pelan dan mendapati Woohyun
duduk disampingku sambil tersenyum.
Kupalingkan
wajahku pelan dan menatap ke lautan lepas yang ada di hadapanku.
“gomawo, sudah
melepaskanku untuk Key” ujarnya.
Kupejamkan mataku
perlahan dan membiarkan kata-kata Woohyun memenuhi pendengaranku.
“kau mau apa? Aku
mengacaukan pernikahanmu? Aku punya hati Nam Woohyun, aku tdak akan menyakiti
hati adikku. Seperti kau menyakiti hatiku”, suaraku terdengar dingin bahkan di
telingaku sendiri.
Benar, karena
memang itulah yang sebenarnya kurasakan.
“haha aku tau
Hyung, gomawo. Kau adalah namja terbaik yang pernah kutemui. Kau tau? Kau
sangat murah hati dan kadang terlihat mudah ditindas”, Woohyun tertawa pelan
bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
Dia bercanda?
Dengan kata-kata semacam
itu?
12 tahun adalah
waktu yang cukup lama untuk merubah seseorang ternyata.
“kau, bagaimana
kau bisa bercanda dengan perasaan orang lain?”, ujarku pelan, mataku dengan
tajam menatap kedalam matanya.
“aku menyesal
karena mencintaimu Woohyun, aku menyesal karena menghabiskan 12 tahun hidupku
demi seorang namja yang bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku
menyesal aku bertemu denganmu Nam Woohyun. Kau, hiduplah bahagia dengan Key
tanpa mengganggu hidupku. Kau hiduplah dengan tenang bersama Key tanpa harus
menganggapku sebagai kakak iparmu. Karena aku bersumpah. Seumur hidupku aku
tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai adik iparku.”
Tatapan Woohyun
menajam, seolah menyalurkan sakit hati yang begitu dalam atas kata-kataku.
Woohyun menatapku tajam dan kekecewaan terpancar jelas disana. Kupalingkan
wajahku dan membiarkan air mata mengalir menuruni pipiku.
“hyung, tidakkah
kau terlalu pendendam?”, suara Woohyun terdengar sinis.
“bukankah ini
hakku untuk mencintai siapapun yang aku mau? Bukankah ini semua hakku untuk
mencintai Key? Kau jangan egois dengan perasanmu sendiri hyung. Aku menyesal
karena mengira kau namja yang baik dan dewasa, nyatanya. Kau hanya namja besar
dengan keegoisan dan kekanakan yang memenuhi otakmu”, setiap kata yang meluncur
dari mulut Woohyun seolah menusukku.
Kutatap tajam
wajah tampan itu dan tanpa kusadari tanganku melayang pelan dan menampar wajah
tampannya.
“jahat..”, air
mata mengalir deras menuruni pipiku.
Well, aku tidak
peduli apakah Woohyun melihatnya dan menganggapku cengeng lemah memalukan atau
apapun. Aku hanya ingin, dia tidak seenaknya berbicara tentang orang lain
seperti itu.
“kau berubah Nam
Woohyun, 12 tahun waktu yang cukup untuk mengubah sifat seseorang ne.. kau
bahkan tidak sadar tiap detiknya aku melewati hidupku dengan luka kronis di
hatiku karena menyerahkanmu kepada adikku. Menyerahkan orang yang sangat
berharga dalam hidupku demi adikku. Neo, haruskah kau berada di posisiku untuk
merasakan yang aku rasakan? Kemana Nam Woohyun yang mengerti perasaan orang
lain? Kemana Nam Woohyun yang mencintaiku? Kemana Nam Woohyun yang bersikap
lembut kepadaku? Woohyun ah, setidak berguna itukah aku dimatamu? Serendah
itukah arti dari perasaanku terhadapmu selama ini? Semenjijikkan itukah aku dimatamu
jika dibandingkan dengan Key? Woohyun ah neo, aku tidak menyangka kau berubah
menjadi seperti ini”, perlahan kuhapus air mataku dan berdiri.
Kulangkahkan
kakiku menjauhi Woohyun sebelum sebuah kata yang meluncur dari bibirnya
menghentikan langkahku.
“mianhae”.
Kutundukkan
kepalaku pelan dan berjalan menjauh. Sakit, kuremas perlahan dadaku. Merasakan
sakit hati yang seolah membunuhku tiap detiknya. Air mata terus mengalir deras
menuruni pipiku.
Tuhan kumohon,
ambil nyawaku. Aku tidak kuat lagi menahan semua ini.
Kubanting pintu
kamar hotelku dan tubuhku merosot ke lantai dengan pelan seolah kakiku sudah
tidak mampu menahan beban sakit hatiku yang semakin menganga karena tiap kata
tajam Woohyun yang terdengar langsung di telingaku. Kusandarkan punggungku di
tembok dan menangis tanpa suara sampai kurasakan tubuhku lemas dan aku
tertidur.
-------------------------------------------------------------------
“hyung”,
kurasakan sebuah
tangan menepuk pipiku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan dan mendapati
Sungyeol, Myungsoo, Key, Taeyeon, dan Woohyun berdiri di sekelilingku. Aku
tidak ingat kalau aku sudah berda di kasur ketika aku tertidur tadi.
“hyung
gwaechana??”, Sungyeol langsung memeluk tubuh lemahku dengan erat dan menangis
di pelukanku. Senyum simpul terukir di bibirku.
“gwaechana yeol”,
ujarku pelan.
Sungyeol
mengangguk pelan sebelum Taeyeon menghambur dan memelukku erat.
Kulingkarkan
lenganku dan memeluk pinggang kembaranku yang cantik ini. Well, aku tau dia
sangat khawatir dan gelisah. Saat itulah mata kecilku menangkap Woohyun yang
sedang memeluk Key.
Woohyun
memalingkan wajah datarnya dan menatap kearah lantai.
Dia terlihat
sedih.
Haha hanya
perasaan bersalah mungkin?
“kau tidurlah,
kau harus segera sehat agar pernikahanmu berjalan lancar ne?”, Taeyeon mengusap
rambutku pelan dan aku hanya mengangguk.
“jja tidurlah
hamster baby”, Taeyeon mencium keningku dan menyelimutiku. Kuhembuskan nafas
pelan dan mengangguk. Kupejamkan mataku perlahan. Dan lagi, alam mimpi
membawaku pergi dari dunia tempatku berpijak.
Hari ini adalah
hari yang besar untukku.
Aku akan menikah
dengan Jio Hyung.
Aku menatap
pantulan diriku di kaca dengan gaun yang membalit tubuhku. Gaun? Yah setelah
berdebat dengan lama dan alot akhirnya aku menyerah dengan keputusan memakai
gaun dan rambut panjang yang berwarna hitam yang di bentuk sedemikian rupa.
Cantik
Itu yang semua
orang bilang ketika melihatku tadi.
Benarkah?
Senyum simpul
terukir di bibirku. Pernikahanku akan dimulai 15 menit lagi. Dan itu tandanya
aku akan dengan resmi menjadi milik Jio hyung dan saat itulah, aku akan
membuang Nam Woohyun dari hati dan otakku. Aku harus melupakannya.
Perlahan aku
bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pelan menuju meja. Gaun panjang ini
menyusahkan ruang gerakku.
Kuraih iphoneku
dengan pelan dan mendial nomor seseorang yang bertengkar hebat denganku 2 hari
yang lalu. Kuhembuskan nafas pelan dan menempelkan benda kotak panjang itu
ditelingaku.
Kekecewaan
menghantam hatiku begitu mengetajui nomor woohyun tidak aktif. Mungkin dia
sibuk diluar sana.
Well, aku belum
melihatnya seharian ini. Aku hanya bertemu Key yang keluar masuk ruangan riasku
untuk membantuku.
Perlahan jariku
mengetik pesan untuk Woohyun. Kutahan air mataku agar tidak merusak dandanan
wajahku.
‘aku mencintaimu’
tanganku bergetar
dan mengirimkan pesan itu.
Kuletakkan iphone
ku kembali dan menatap kaca.
Kim Sunggyu,
berbahagialah, ujarku pada diri sendiri.
Kupejamkan mataku
dan saat itulah Ayahku masuk dan tersenyum.
“sudah waktunya”,
aku tersenyum dan mengangguk. Ayahku berjalan mendekatiku dan memelukku dengan
erat.
“ayah
menyayangimu, maafkan ayah”, kurasakan suara ayahku bergetar. Kutatap wajah
beliau dan tanganku menghapus air mata yang mengaliri pipiku.
“aku bahagia jika
appa dan eomma bahagia”, ujarku pelan. Ayahku mengangguk dan menggandeng
tanganku perlahan.
Yah inilah
saatnya..
Aku berjalan
dengan ayahku mnuju altar dengan pelan. Semua mata tertuju padaku. Gugup, yah
aku sangat gugup. Decak kagum beberapa orang sampai di indera pendengaranku.
Membuat senyum terpancar di bibirku dan mengucapkan terimakasih dalam hatiku.
Dan sedikit lagi.
Kulihat Punggung Jio hyung yang terbalut tuxedo putih.
Jio hyung
membelakangiku.
Dan entahlah,
kurasa Jio hyung
sedikit lebih pendek dari biasanya. Ayahku berhenti dan Jio hyung berbalik..
aku tercekat
melihat wajah itu.
Wajah itu..
itu bukan jio
hyung..
dia..
“w..woohyun”,
ujarku pelan.
Woohyun tersenyum
dan menggenggam tanganku dengan erat.
“t..tunggu, apa
maksudnya ini, mana calon suamiku?”, aku memberontak pelan dan menarik tanganku
dari genggaman tangan Woohyun.
Otakku sungguh
tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Pendeta yang ada di hadapanku tersenyum
seolah mengerti apa yang terjadi disini.
“dia calon
suamimu Sunggyu ssi”, ujarnya berwibawa.
“n..ne?? aniyo!!
Dia suami adikku”, dan kata-kataku barusan mmbuat gelak tawa seluruh orang yang
ada di gereja.
Aku berbalik dan
melihat Jio hyung duduk disebelah Key dengan Key yang bergelayut manja di
lengannya apa ini mimpi?
Eomma, appa,
Myungsoo,Taeyeon, Sungyeol semuanya tersenyum lebar seolah sesuatu baru saja
terjadi. Kurasakan tangan Woohyun menggenggam tanganku lembut.
“bisakah kita
menikah sekarang dan aku akan menjelaskan semuanya?”, ujarnya lembut.
Kutatap wajahnya
tidak mengerti. Woohyun tersenyum dan mengangguk kearah pendeta.
“t..tapi ini
mimpi kan?”, ujarku pelan.
“sunggyu ssi,
focus”, ujar pendeta itu berwibawa. Kuhembuskan nafas perlahan. Sungguh otakku
tidak bisa menangkap apa yang terjadi.
Setelah
mengucapkan janji, aku dan well, Woohyun resmi menjadi suami istri.
Suami istri
dengan Woohyun sebabagai suami Key?
Perlahan Woohyun
menarik pinggangku dengan pelan dan mengusap pipiku dengan lembut.
“demi tuhan, aku
mencintaimu Kim Sunggyu.. sangat mencintaimu”, itu yang dia ucapkan sebelum
bibirku menyatu dengan bibirnya.
Kupejamkan mataku
pelan dan mendengar sorak sorai orang-orang dibelakang kami. Tuhan, ini mimpi
yang sangat indah.
------------------------------------------------------
Disinilah aku
sekarang, duduk di tepi tempat tidurku dengan Woohyun yang masih berada di
kamar mandi. Seharian ini aku tidak berhenti mengacuhkan orang-orang yang
terlibat dalam rencana ini.
Benar, RENCANA
INI!
Woohyun dan Key
tidak pernah menikah, itu hanya acara palsu. Mereka bahkan tidak mengucapkan
janji saat itu.
Benar, aku tidak
tahu karena Jio Hyung mengajakku keluar dari gereja tepat sebelum Woohyun dan
Key mengucapkan janji sebagai suami istri.
Aish dan ternyata
jio hyung adalah CALON SUAMI KEY.
Astaga mereka
tega sekali mengkhianatiku seperti ini.
Dan tentu saja,
semua kemesraan Key dan Woohyun itu palsu. Hanya untuk menjebakku. Aish kenapa
aku merasa sangat bodoh saat ini?
Apalagi saat
Sungyeol dan Taeyeon tertawa puas ketika membantuku berganti baju untuk pesta
tadi.
Sedangkan
Myungsoo dan Key, jangan Tanya. Mereka saling membahas taruhan siapa yang
menang dan siapa yang tidak dengan Key memegang ‘sunggyu hyung akan tertipu’.
Mereka benar-benar keterlaluan. Dan ketika aku bertanya apa tujuan mereka,
mereka mengatakan padaku semua jawaban ada pada suamiku.
Otak dari rencana
jahat dan sadis ini.
Kuhembuskan nafasku
perlahan dan merebahkan tubuhku di kasur. Kudengar suara pintu terbuka dan
kurasakan Woohyun berjalan kearahku. Kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya.
Tangan nya dengan lembut memeluk pinggangku dan mencium pundakku.
“jangan sentuh
aku”, ujarku dingin. Woohyun terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
“kalau kau marah
aku tidak akan cerita”, bisiknya tepat ditelingaku. Membuatku bergidik.
“baiklah katakan
padaku sekarang sebelum aku berubah pikiran”, kubalikkan badanku menghadapnya
dan senyum lembut terkembang di bibirnya.
Woohyun mencium
lembut keningku dan tersenyum.
“kau
mengacuhkanku selama kau di Paris”, ujarnya pelan.
“m..mwo?”, kuatatap
matanya, mencari kejelasan di dalamnya.
“aku satu kelas
denganmu tapi kau tidak mengenaliku”, ujarnya lembut.
“t..tunggu, kau
Nam Woohyun itu?? Nam Woohyun yang misterius dengan kaca mata itu??”, tanyaku
langsung.
Woohyun
mengangguk dan tersenyum.
Yah, aku memang
pernah memiliki teman sekelas bernama Woohyun ketika kuliah dulu. Dia jarang
berbicara dan tatapan tajamnya membuat semua orang takut, bahkan ada gossip
bahwa Woohyun adalah pembunuh berdarah dingin. Yah, bagaimana mungkin aku bisa
mengenalinya. Melihatnya saja aku takut.
“aku menyamar,
karena ingin mengawasimu.. calon istriku”, ujarnya lembut.
Kurasakan pipiku
memerah. Kutundukkan wajahku dan Woohyun mengusap pipiku dengan hidungnya
dengan lembut. Kudongakkan wajahku lagi dan Woohyun tersenyum.
“tapi aku kecwa
bagaimana kau bisa tidak mengenaliku.. maka itu, aku menemui ayahmu dan ibumu,
berkata bahwa aku akan menikahimu dengan cara yang tidak biasa. Lalu
seteletahnya semuanya berkumpul untuk saling memberikan ide dan sukses. Semuanya
berjalan dengan baik. Kami menyewa seorang actor untuk berpura-pura menjadi
pendeta saat pernikahanku dan Key lalu meminjam calon suami Key untuk
berpura-pura menjadi calon suamimu.. aku cemburu melihatnya dengan begitu mudah
mendapat perhatianmu”, ujar Woohyun lembut.
Kulingkarkan
lenganku di lehernya dan memeluknya erat. Menyalurkan perasaan yang selalu
terpendam dalam diriku.
“maafkan aku
sudah menamparmu”, ujarku pelan.
“andai kau tau
apa yang terjadi saat itu”, ujar Woohyun pelan.
Kuusap pipi
Woohyun pelan dan Woohyun tersenyum penuh arti.
Flashback
(Woohyun POV)
Kutatap punggung
Sunggyu yang mulai berjalan menjauh dengan lemah. Air mataku mengalir menuruni
pipiku.
Maafkan aku Gyu
Maafkan aku Gyu..
Kuhembuskan nafas
perlahan dan melemparkan kerang-kerang disekitarku kembali ke laut.
“kau bisa
mengatasinya?”, sebuah suara mengiterupsiku dari lamunanku. Kulihat Myungsoo
berdiri di sampingku.
“hyung,
bertahanlah. Dua hari lagi”, ujar Myungsoo, tangannya menepuk pundakku.
“aku melukainya
lagi”, ujar ku.
Myungsoo
tersenyum dan mengangguk.
“aku mengerti,
gwaechana.. kau harus berjanji untuk menjaga hyungku seumur hidupmu dan
bersumpah tidak akan menyakitinya lagi sebagai permintaan maafmu”, kuanggukkan
kepalaku.
Well, Myungsoo
terlihat dingin dan tidak serius, tapi sebenarnya dia sangat dewasa dan penuh
perasaan. Bahkan lebih dari yang aku tau.
“SUNGGYU HYUNG
PINGSAN!”,
suara lumba-lumba
sungyeol membuyarkan kami dan aku segera berlari menuju kamar Sunggyu. Kulihat Taeyeon
ada disana dan duduk di samping tubuh Sunggyu yang tergeletak di lantai. Aku
berlari dan merengkuh tubuh calon istri sahku dan menggendongnya. Kupapah tubuh
lemah itu dan kuletakkan di kasur sebelum menyelimutinya.
“mianhae..
mianhae”, kuhapus pelan sisa air mata yang menempel di pipi dan sekitar
matanya. “gyu hyung, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu..”, bisikku
lembut sebelum mencium keningnya dan bibir merahnya dengan lembut.
Perlahan tangan
Taeyeon menginterupsiku dan Taeyeon mulai membersihkan wajah dan leher Sunggyu
dengan handuk dan air hangat. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya
erat. Sesekali kuusap pipinya lembut dan mencium wajah manisnya.
Maafkan aku gyu,
maafkan aku.. tidak seharusnya aku berkata begitu. Tapi kau mengatakan kau
menyesal mencintaiku.. aku sakit mendengarnya..
kuhembuskan
nafasku perlahan dan tanpa kusadari aku tertidur sambil memeluk hamster besarku
dengan erat.
End of flashback
(Sunggyu POV)
Kurasakan air
mataku menetes mendengar cerita Woohyun.
Well, aku
bersalah karena menyakiti hatinya dengan kata-kataku. Kupeluk tubuh kekar itu
dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada bidangnya. Kurasakan Woohyun
tersenyum dan mengusap pipiku lembut sambil sesekali mencium keningku.
“aku mencintaimu”,
ujarnya pelan. Aku terisak dan mengangguk.
“aku juga
mencintaimu”, kurasakan Woohyun mengangkat daguku lembut dan menempelkan
bibirnya di bibirku sebelum menjelajahi bibirku semakin dalam.
Kueratkan pelukan
ku dan Woohyun semakin mengintenskan ciumannya. Perlahan Woohyun melepaskan
ciumannya dengan nafas yang tidak teratur. Woohyun menatapku nakal dan aku
menangkap aura kemesuman disana.
“gyu, ini malam
pertama kita”, ujarnya pelan.
“MWO?!! SETELAH
MENGERJAIKU HABIS-HABISAN KAU MASIH BERANI MEMINTA MALAM PERTAMAA?”, suaraku
meninggi dan mencubit abs Woohyun dengan pelan lau berlari keluar kamar.
Woohyun mendecak
sebal dan kudengar dia mulai mengerjarku. Aku tersenyum sambil berlari. Senyum
yang nyata. Senyum kebahagiaan.
Nam Woohyun
gomawo.. dan beginilah akhirnya. Tuhan mendegarkan doaku. Tuhan memberikan
Woohyunku kembali.
Aku tersenyum dan
berhenti di balkon kamar hotel ku. Kurasakan Woohyun memeluk pinggangku dengan
erat.
“aku mencintaimu..
jangan pergi dariku, jangan pernah”, ujarnya berbisik lembut di telingaku.
Aku tersenyum dan
mengangguk. Perlahan Woohyun menarikku kembali kedalam sebuah ciuman hangat dan
intens yang menyalurkan semua hasrat dan cinta yang selama ini terpendam dalam
diri kami.
------------------------------------------------------
“YAK KIM MYUNGSOO
SUDAH KUBILANG KALAU MENGINTIP JANGAN DISINI! BANYAK NYAMUK KAU TAHU!”,
Sungyeol berteriak dengan kesal kearah kekasihnya.
“sudah kubilang
ini tempat yang bagus untuk mengintip mereka. Lihatlah mereka melakukannya di
balkon”, Myungsoo kembali mendekatkan teropong jarak jauhnya dan menyaksikan
kedua hyungnya sedang melakukan sesuatu di balkon kamar hotel mereka yang
terletak di lantai 15.
Senyum jahil terkembang
di bibirnya.
“tapi banyak
nyamuk”, ujar Sungyeol kesal menatap kekasihnya.
Bagaimana tidak,
ia terpaksa diseret menuju tempat ini di tengah malam untuk mengintip seseorang
melakukan ini dan itu.
“YAK KALIAN
SEDANG APA?”, sampai tangan seseorang melayang dengan mulus di kepala Myungsoo.
“aa..appaa”,
k..kami sedang melihat bintang”, ujar Myungsoo dengan wajah super cutenya.
“bintang? Di
lantai 15?”, Jio yang berada di samping calon mertuanya hanya bisa tersenyum
jahil.
“aa..abeonim kami
ke kamar sekarang”, Sungyeol yang gugup dengan kejam langsung menarik
kekasihnya menjauh.
Meninggalkan
teropong jarah jauhnya yang tergeletak di rerumputan .
Jio menatap ayah
mertuanya penuh arti sebelum akhirnya mereka mengambil teropong itu dan berbagi
satu sama lain melihat bintang di lantai 15 yang dimaksud Myungsoo tadi sambil
tertawa jail satu sama lain.
THE END
Annyeonggg sudah
tamat nih xD hahaha maaf kalau jelek aneh dan kata-katanya ancur. Semoga enjoy
bacanya dan jangan lupa RCL nee J dengan ini saya mengundurkan diri
sebagai penulis dan turun jabatan menjadi pembaca *curhat* soalnya saya ngerasa
ga bisa nulis cerita yg emejing dan Lain-Lain gomawo yang udah mau
baca dan comment ff saya selama ini. Dan ff yang terkahir ini juga jangan lupa
RCL ne J semoga saya bisa kembali menjadi penulis suatu hari lagi. *eaaaa*
babayyy see youuuuuuuuuu *chuu
Note : WANJEEEEEEEEEER
T_T T_T T_T T_T T_T WAT DE HELL, GUE HAMPIR NANGIS DI KAMPUS GARA2
NI FF SIALAN. OMGT, GILA DAEBAK BANGEEEEEEEEEET T_T
T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T HELL,
DAMN AUTHORNIM !!!
------------------------------------------------------------------------------------
l'égoïsme
(keegoisan) 3/3 | Ashley Hwang
l'égoïsme (keegoisan) 3/3
Cast:
- Kim Sunggyu
- Nam Woohyun
- Kim Ki Bum
(Key)
- MBLAQ GO (Jio)
Rate: PG-15
Summary : Cinta
butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan
tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.
Chap 1:
Chap 2:
Kim Sunggyu POV
“aigoo mereka
sangat serasi bukan??”, aku tersenyum simpul mendengar kometar-komentar itu
ketika Key berjalan menuju altar dengan gaun mewahnya.
Perlahan
kupalingkan pandanganku kearah namja tampan yang berdiri tegap dengan tuxedo
hitam yang membalut tubuh atletisnya. Helaan nafas pelan lolos dari bibirku.
Dengan berat
kupalingkan pandanganku kearah hal-hal yang menurutku tidak penting untuk
diperhatikan, seperti eommaku yang menangis terharu di barisan terdepan.
Barisan terdepan?
Benar seharusnya
disanalah aku berada sebagai kakak kandung Key. Tapi, sayangnya hatiku tidak
sekuat itu untuk berada disitu. Melihat Key dan Woohyun berciuman, menyalurkan
kebahagiian dengan jarak lebih dekat bias saja membuat ku menangis lagi kan?
Jadi disinilah
aku sekarang.
Di barisan
belakang ditemani oleh Jio hyung yang selalu berada di sampingku sejak kejadian
akuarium pecah itu.
Well, omong-omong
soal kejadian itu, aku harus pindak ke ruangan kerja yang baru –dengan akuarium
raksasa lain di dalamnya. Baiklah aku memang bukan pecinta ikan atau apa, hanya
saja ayahku selalu saja menginginkan akuarium di ruangan kerja dengan alasan agar
aku bisa rileks setelah mengurus banyak dokumen. Dan yah kurasa beliau benar.
Aku sealu tersenyum melihat ikan-ikan itu berkejar-kejaran atau berenang dengan
bebas seolah hidup mereka adalah bersenang-senang tiap harinya.
(contoh
aquariumnya semacam inihttp://st.houzz.com/fimgs/22b1e19f002f56d4_9702-w406-h406-b0-p0--tropical-bedroom.jpg tapi
bedanya itu kamar ini ruang kerja xD mari berimajinasi)
Tidak seperti
hidupku yang sepertinya tidak pernah bahagia, baiklah mungkin aku berlebihan.
Aku memiliki segalanya, semua yang aku inginkan akan langsung ada di tanganku
tanpa menunggu lama. Tapi hanya satu hal yang tidak kumiliki. Keputusanku
sendiri. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui semua masalah yang membelitku
selama ini kan?
“Gyu ya,
gwaechana?”, aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam erat tanganku.
Membuatku kembali ke dunia tempatku berpijak. Kutolehkan kepalaku pelan dan
mendapati Jio hyung menatap khawatir kearahku. Kuhembuskan nafas perlahan dan
mengangguk pelan
“gwaechana
Byungie ya”, senyum tipis mengembang di bibirku. Jio hyung mengangguk dan
menatap kearah altar dan kembali menatapku lagi setelah beberapa saat.
“waeyo byungie?”,
ujarku berbisik. Aku melihat kesekeliling dan semua orang yang ada di gereja
ini terdiam dan focus kearah Woohyun dan Key.
“ikut aku”,
perlahan Jio hyung berdiri dan menarik tanganku.
“kemana?
Pernikahannya akan dimulai”, ujarku pelan. Jio hyung tersenyum penuh arti dan
menarikku meninggalkan gereja. Entah ini baik atau tidak, tapi aku
berterimakasih pada Jio hyung karena aku tidak harus menahan emosiku ketika
melihat mereka berciuman nanti. Kakiku dengan pelan mengikuti langkah Jio
hyung.
“byungie kita
kemana eoh?”, tanyaku lagi, lelah dengan kehenigan yang menyelimuti kami.
“ikut aku puffy
cheeks”, Jio hyung terkekeh pelan dan terus menarikku ke Ferrari hitamnya yang
terparkir di pelataran gereja. Ku majukan bibirku pelan sambil menggembungkan
pipiku.
“puffy cheeks??”,
ujarku kesal. Alih-alih mendapatkan respon, aku justru didorong pelan masuk kedalam
mobil sebelum akhirnya Jio hyung masuk dan duduk di kursi pengemudi.
“ya ya JUNG
BYUNGHEE ahjussi, ini pernikahan adikku dan kau malah menculikku seperti
ini??”, kusilangkan kedua tanganku kesal sambil menggembungkan pipiku. Jio
hyung terkekeh pelan dan mendekatiku lalu memasangkan sabuk pengamanku.
Kurasakan tangan besarnya mengusap lembut pipiku sebelum menciumnya.
“tidak bisakah
sekali saja kau menurut dengan calon suamimu tanpa memberontak puffy cheeks?”,
Jio hyung tersenyum lembut kearahku. Kurasakan pipiku memanas dan perlahan
kupalingkan wajahku dari wajah Jio hyung yang hampir menempel.
“arasseo, dan
jangan panggil aku puffy cheeks”, ujarku kesal.
“arraseo,
chubby”, Jio hyung tertawa pelan dan mulai menyalakan mesin mobil.
“itu sama saja”,
kumajukan bibirku pelan dan Jio hyung masih saja tertawa tanpa dosa
disampingku.
Kusandarkan
punggungku dan mulai menatap keluar jendela. Yah, ini yang terbaik. Aku tidak
harus semakin terluka dengan memaksakan diri disana dan juga, calon suami ku
bukan orang yang jahat. Dia tidak mungkin membuangku di tengah laut begitu saja
kan.
Kurasa ini
bukanlah ide yang buruk.
Entah kenapa
namja disampingku ini sangat mengerti perasaanku meskipun aku tidak pernah
memberitahukan padanya. Selalu saja membuatku nyaman dengan perlakuan
lembutnya. Membuatku tercengang dengan semua kejutan yang diberikannya padaku.
Jujur, dalam
hatiku yang terdalam aku sangat ingin mencintainya. Apakah aku egois
mengharapkan cinta seseorang lain dan mengkhianati janjiku pada Nam Woohyun?
Well, kurasa aku ingin menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku ingin mencintai
seseorang yang juga mencintaiku, aku ingin bahagia tanpa keegoisan orang lain
yang memenuhi hati dan perasaanku. Jujur, aku masih sangat mencintai Woohyun
dan akan menjadi suatu yang mustahil jika aku bisa melupakannya dengan cepat.
Tapi Jio hyung,
tidakkah dia juga
seseorang yang pantas mendapatkan sebuah cinta karena ketulusannya?
Karena kebaikan
hatinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya?
Di suatu tempat
di hatiku yang terdalam, aku sangat ingin mencintai Jio hyung.
Bahagia
bersamanya tanpa mengingat Woohyun yang lebih dahulu membuangku dan
membiarkanku terluka dalam diam tanpa bisa berbuat apapun. Sampai Jio hyung
datang dengan senyum lembutnya yang seolah menghipnotisku agar aku selalu
tenang dan merasa nyaman disekitarnya.
Yah aku tau,
sangat jelas bahwa saat ini aku belum siap untuk memberikan hatiku pada orang
lain tapi di lubuk hatiku yang terdalam, Jio hyung sudah memiliki tempatnya
sendiri. Terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Dan aku
berjanji,
meskipun saat ini
aku belum mencintainya, tapi aku berjanji aku akan mencintainya suatu saat
nanti. Helaan nafas pelan keluar dari bibirku.
Kupejamkan mataku
pelan dan mendengarkan suara mesin mobil yang sedari tadi menjadi satu-satunya
suara yang ditangkap indera pendengaraku. Well, sungguh. Hari ini tidak terlalu
buruk. Kukira hari ini akan menjadi hari kiamat nasional bagiku. Tapi entahlah,
dengan adanya namja disampingku ini semuanya terasa.. lebih ringan untuk
dilalui.
Byungie, Gomawo..
------------------------------------------------------------------------
“sunggyu hyung
eotte? Apakah menurutmu villa ini bagus untukku dan Woohyun?”, Key tersenyum
senang sambil bergelayut manja di lengan Woohyun.
Woohyun tersenyum
lembut melihat sikap manja istrinya sambil sesekali mencium kepala Key tanpa
menghiraukan keberadaan ku disini sebagai orang yang pernah menantinya selama
12 tahun.
“bagus, kalian
akan betah disini aku jamin”, ujarku pelan sebelum mengeluarkan iphone ku dan
mulai mengutak-atiknya.
“hyung 3 hari
lagi kau juga akan resmi seperti kami, benar kan hyunnie?”, Key menatap Woohyun
dengan ceria dan Woohyun hanya mengangguk pelan sambil mencium pipinya, membuat
namja bermata kucing itu mengeluarkan semburat merah di pipinya.
“hyunnie tidak di
depan hyungku!”, Tangan key memukul pelan dada Woohyun dan Woohyun lagi hanya
tertawa senang dan menggenggam tangan Key lalu menciuminya berkali-kali.
“sunggyu hyung
tidak akan keberatan sayang, benarkan hyung?”, Mata Woohyun menatap kedalam
mataku dengan lembut. Kutatap mata itu dengan tajam sebelum mengalihkan
pandanganku.
“aku ada urusan
setelah ini. Selamat bersenang-senang”, ujarku pelan sambil berlalu
meninggalkan Villa mewah ini. Bahkan, Nam Woohyun brengsek itu tidak memikirkan
perasaanku sedikitpun.
Entahlah, kurasa
dia memang sudah menghapusku dari otaknya. Sudah menggantikannya dengan Key
yang polos ceria dan menyenangkan. Yah aku tau itu, sangat jelas malah. Tapi
apakah dia tidak berusaha menjaga perasaanku? Dia tau kalau aku masih sangat
mencintainya. Dia tau itu, tapi bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun.
Seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita dan bersikap layaknya kakak
dan adik ipar. Yah, dia pernah mengatakan itu kan padaku sebelumnya? Dan
harusnya aku paham bukan?
Kuhempaskan
tubuhku di pasir dan menatap ke lautan luas yang terhampar di hadapanku.
Andai saja aku
bukan Kim Sunggyu, apakah hidupku bahagia?
Andai saja aku
orang lain, apakah aku juga tetap merasakan rasa sakit yang menderaku tiap
harinya?
Apakah hal ini
hanya terjadi pada ku?
Pada Kim Sunggyu?
Perlahan buliran
air mata jatuh menuruni pipiku.
Aku merindukan
Woohyun yang dulu.
Woohyun yang
berlarian dalam hujan untuk menjemputku.
Woohyun yang
semalaman menemaniku tertidur karena tubuhku yang lemah membutuhkannya.
Woohyun yang
terbangun tengah malam dan berlari ke rumahku hanya karena aku mimpi buruk,
Woohyun yang 12
tahun lalu berjanji akan kembali dari America dan menikah denganku.
Woohyun yang
mengerti perasaanku,
dan
Woohyun yang
mencintaiku.
Tanpa sadar air
mata mengalir deras menuruni pipiku.
Kupejamkan pelan
mataku dan membiarkan sakit hati ini mengalir keseluruh tubuhku. Membawaku
kedalam jurang keputus asaan yang dalam. Yah biarkan semuanya seperti ini.
Hanya untuk saat ini, hanya untuk diriku sendiri. Kuhembuskan nafasku perlahan
bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Membuatku merasa sedikit
lebih tenang.
“Sunggyu hyung”,
suara itu. Suara Woohyun. Perlahan kubuka mataku pelan dan mendapati Woohyun
duduk disampingku sambil tersenyum.
Kupalingkan
wajahku pelan dan menatap ke lautan lepas yang ada di hadapanku.
“gomawo, sudah
melepaskanku untuk Key” ujarnya.
Kupejamkan mataku
perlahan dan membiarkan kata-kata Woohyun memenuhi pendengaranku.
“kau mau apa? Aku
mengacaukan pernikahanmu? Aku punya hati Nam Woohyun, aku tdak akan menyakiti
hati adikku. Seperti kau menyakiti hatiku”, suaraku terdengar dingin bahkan di
telingaku sendiri.
Benar, karena
memang itulah yang sebenarnya kurasakan.
“haha aku tau
Hyung, gomawo. Kau adalah namja terbaik yang pernah kutemui. Kau tau? Kau
sangat murah hati dan kadang terlihat mudah ditindas”, Woohyun tertawa pelan
bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
Dia bercanda?
Dengan kata-kata semacam
itu?
12 tahun adalah
waktu yang cukup lama untuk merubah seseorang ternyata.
“kau, bagaimana
kau bisa bercanda dengan perasaan orang lain?”, ujarku pelan, mataku dengan
tajam menatap kedalam matanya.
“aku menyesal
karena mencintaimu Woohyun, aku menyesal karena menghabiskan 12 tahun hidupku
demi seorang namja yang bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku
menyesal aku bertemu denganmu Nam Woohyun. Kau, hiduplah bahagia dengan Key
tanpa mengganggu hidupku. Kau hiduplah dengan tenang bersama Key tanpa harus
menganggapku sebagai kakak iparmu. Karena aku bersumpah. Seumur hidupku aku
tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai adik iparku.”
Tatapan Woohyun
menajam, seolah menyalurkan sakit hati yang begitu dalam atas kata-kataku.
Woohyun menatapku tajam dan kekecewaan terpancar jelas disana. Kupalingkan
wajahku dan membiarkan air mata mengalir menuruni pipiku.
“hyung, tidakkah
kau terlalu pendendam?”, suara Woohyun terdengar sinis.
“bukankah ini
hakku untuk mencintai siapapun yang aku mau? Bukankah ini semua hakku untuk
mencintai Key? Kau jangan egois dengan perasanmu sendiri hyung. Aku menyesal
karena mengira kau namja yang baik dan dewasa, nyatanya. Kau hanya namja besar
dengan keegoisan dan kekanakan yang memenuhi otakmu”, setiap kata yang meluncur
dari mulut Woohyun seolah menusukku.
Kutatap tajam
wajah tampan itu dan tanpa kusadari tanganku melayang pelan dan menampar wajah
tampannya.
“jahat..”, air
mata mengalir deras menuruni pipiku.
Well, aku tidak
peduli apakah Woohyun melihatnya dan menganggapku cengeng lemah memalukan atau
apapun. Aku hanya ingin, dia tidak seenaknya berbicara tentang orang lain
seperti itu.
“kau berubah Nam
Woohyun, 12 tahun waktu yang cukup untuk mengubah sifat seseorang ne.. kau
bahkan tidak sadar tiap detiknya aku melewati hidupku dengan luka kronis di
hatiku karena menyerahkanmu kepada adikku. Menyerahkan orang yang sangat
berharga dalam hidupku demi adikku. Neo, haruskah kau berada di posisiku untuk
merasakan yang aku rasakan? Kemana Nam Woohyun yang mengerti perasaan orang
lain? Kemana Nam Woohyun yang mencintaiku? Kemana Nam Woohyun yang bersikap
lembut kepadaku? Woohyun ah, setidak berguna itukah aku dimatamu? Serendah
itukah arti dari perasaanku terhadapmu selama ini? Semenjijikkan itukah aku dimatamu
jika dibandingkan dengan Key? Woohyun ah neo, aku tidak menyangka kau berubah
menjadi seperti ini”, perlahan kuhapus air mataku dan berdiri.
Kulangkahkan
kakiku menjauhi Woohyun sebelum sebuah kata yang meluncur dari bibirnya
menghentikan langkahku.
“mianhae”.
Kutundukkan
kepalaku pelan dan berjalan menjauh. Sakit, kuremas perlahan dadaku. Merasakan
sakit hati yang seolah membunuhku tiap detiknya. Air mata terus mengalir deras
menuruni pipiku.
Tuhan kumohon,
ambil nyawaku. Aku tidak kuat lagi menahan semua ini.
Kubanting pintu
kamar hotelku dan tubuhku merosot ke lantai dengan pelan seolah kakiku sudah
tidak mampu menahan beban sakit hatiku yang semakin menganga karena tiap kata
tajam Woohyun yang terdengar langsung di telingaku. Kusandarkan punggungku di
tembok dan menangis tanpa suara sampai kurasakan tubuhku lemas dan aku
tertidur.
-------------------------------------------------------------------
“hyung”,
kurasakan sebuah
tangan menepuk pipiku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan dan mendapati
Sungyeol, Myungsoo, Key, Taeyeon, dan Woohyun berdiri di sekelilingku. Aku
tidak ingat kalau aku sudah berda di kasur ketika aku tertidur tadi.
“hyung
gwaechana??”, Sungyeol langsung memeluk tubuh lemahku dengan erat dan menangis
di pelukanku. Senyum simpul terukir di bibirku.
“gwaechana yeol”,
ujarku pelan.
Sungyeol
mengangguk pelan sebelum Taeyeon menghambur dan memelukku erat.
Kulingkarkan
lenganku dan memeluk pinggang kembaranku yang cantik ini. Well, aku tau dia
sangat khawatir dan gelisah. Saat itulah mata kecilku menangkap Woohyun yang
sedang memeluk Key.
Woohyun
memalingkan wajah datarnya dan menatap kearah lantai.
Dia terlihat
sedih.
Haha hanya
perasaan bersalah mungkin?
“kau tidurlah,
kau harus segera sehat agar pernikahanmu berjalan lancar ne?”, Taeyeon mengusap
rambutku pelan dan aku hanya mengangguk.
“jja tidurlah
hamster baby”, Taeyeon mencium keningku dan menyelimutiku. Kuhembuskan nafas
pelan dan mengangguk. Kupejamkan mataku perlahan. Dan lagi, alam mimpi
membawaku pergi dari dunia tempatku berpijak.
Hari ini adalah
hari yang besar untukku.
Aku akan menikah
dengan Jio Hyung.
Aku menatap
pantulan diriku di kaca dengan gaun yang membalit tubuhku. Gaun? Yah setelah
berdebat dengan lama dan alot akhirnya aku menyerah dengan keputusan memakai
gaun dan rambut panjang yang berwarna hitam yang di bentuk sedemikian rupa.
Cantik
Itu yang semua
orang bilang ketika melihatku tadi.
Benarkah?
Senyum simpul
terukir di bibirku. Pernikahanku akan dimulai 15 menit lagi. Dan itu tandanya
aku akan dengan resmi menjadi milik Jio hyung dan saat itulah, aku akan
membuang Nam Woohyun dari hati dan otakku. Aku harus melupakannya.
Perlahan aku
bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pelan menuju meja. Gaun panjang ini
menyusahkan ruang gerakku.
Kuraih iphoneku
dengan pelan dan mendial nomor seseorang yang bertengkar hebat denganku 2 hari
yang lalu. Kuhembuskan nafas pelan dan menempelkan benda kotak panjang itu
ditelingaku.
Kekecewaan
menghantam hatiku begitu mengetajui nomor woohyun tidak aktif. Mungkin dia
sibuk diluar sana.
Well, aku belum
melihatnya seharian ini. Aku hanya bertemu Key yang keluar masuk ruangan riasku
untuk membantuku.
Perlahan jariku
mengetik pesan untuk Woohyun. Kutahan air mataku agar tidak merusak dandanan
wajahku.
‘aku mencintaimu’
tanganku bergetar
dan mengirimkan pesan itu.
Kuletakkan iphone
ku kembali dan menatap kaca.
Kim Sunggyu,
berbahagialah, ujarku pada diri sendiri.
Kupejamkan mataku
dan saat itulah Ayahku masuk dan tersenyum.
“sudah waktunya”,
aku tersenyum dan mengangguk. Ayahku berjalan mendekatiku dan memelukku dengan
erat.
“ayah
menyayangimu, maafkan ayah”, kurasakan suara ayahku bergetar. Kutatap wajah
beliau dan tanganku menghapus air mata yang mengaliri pipiku.
“aku bahagia jika
appa dan eomma bahagia”, ujarku pelan. Ayahku mengangguk dan menggandeng
tanganku perlahan.
Yah inilah
saatnya..
Aku berjalan
dengan ayahku mnuju altar dengan pelan. Semua mata tertuju padaku. Gugup, yah
aku sangat gugup. Decak kagum beberapa orang sampai di indera pendengaranku.
Membuat senyum terpancar di bibirku dan mengucapkan terimakasih dalam hatiku.
Dan sedikit lagi.
Kulihat Punggung Jio hyung yang terbalut tuxedo putih.
Jio hyung
membelakangiku.
Dan entahlah,
kurasa Jio hyung
sedikit lebih pendek dari biasanya. Ayahku berhenti dan Jio hyung berbalik..
aku tercekat
melihat wajah itu.
Wajah itu..
itu bukan jio
hyung..
dia..
“w..woohyun”,
ujarku pelan.
Woohyun tersenyum
dan menggenggam tanganku dengan erat.
“t..tunggu, apa
maksudnya ini, mana calon suamiku?”, aku memberontak pelan dan menarik tanganku
dari genggaman tangan Woohyun.
Otakku sungguh
tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Pendeta yang ada di hadapanku tersenyum
seolah mengerti apa yang terjadi disini.
“dia calon
suamimu Sunggyu ssi”, ujarnya berwibawa.
“n..ne?? aniyo!!
Dia suami adikku”, dan kata-kataku barusan mmbuat gelak tawa seluruh orang yang
ada di gereja.
Aku berbalik dan
melihat Jio hyung duduk disebelah Key dengan Key yang bergelayut manja di
lengannya apa ini mimpi?
Eomma, appa,
Myungsoo,Taeyeon, Sungyeol semuanya tersenyum lebar seolah sesuatu baru saja
terjadi. Kurasakan tangan Woohyun menggenggam tanganku lembut.
“bisakah kita
menikah sekarang dan aku akan menjelaskan semuanya?”, ujarnya lembut.
Kutatap wajahnya
tidak mengerti. Woohyun tersenyum dan mengangguk kearah pendeta.
“t..tapi ini
mimpi kan?”, ujarku pelan.
“sunggyu ssi,
focus”, ujar pendeta itu berwibawa. Kuhembuskan nafas perlahan. Sungguh otakku
tidak bisa menangkap apa yang terjadi.
Setelah
mengucapkan janji, aku dan well, Woohyun resmi menjadi suami istri.
Suami istri
dengan Woohyun sebabagai suami Key?
Perlahan Woohyun
menarik pinggangku dengan pelan dan mengusap pipiku dengan lembut.
“demi tuhan, aku
mencintaimu Kim Sunggyu.. sangat mencintaimu”, itu yang dia ucapkan sebelum
bibirku menyatu dengan bibirnya.
Kupejamkan mataku
pelan dan mendengar sorak sorai orang-orang dibelakang kami. Tuhan, ini mimpi
yang sangat indah.
------------------------------------------------------
Disinilah aku
sekarang, duduk di tepi tempat tidurku dengan Woohyun yang masih berada di
kamar mandi. Seharian ini aku tidak berhenti mengacuhkan orang-orang yang
terlibat dalam rencana ini.
Benar, RENCANA
INI!
Woohyun dan Key
tidak pernah menikah, itu hanya acara palsu. Mereka bahkan tidak mengucapkan
janji saat itu.
Benar, aku tidak
tahu karena Jio Hyung mengajakku keluar dari gereja tepat sebelum Woohyun dan
Key mengucapkan janji sebagai suami istri.
Aish dan ternyata
jio hyung adalah CALON SUAMI KEY.
Astaga mereka
tega sekali mengkhianatiku seperti ini.
Dan tentu saja,
semua kemesraan Key dan Woohyun itu palsu. Hanya untuk menjebakku. Aish kenapa
aku merasa sangat bodoh saat ini?
Apalagi saat
Sungyeol dan Taeyeon tertawa puas ketika membantuku berganti baju untuk pesta
tadi.
Sedangkan
Myungsoo dan Key, jangan Tanya. Mereka saling membahas taruhan siapa yang
menang dan siapa yang tidak dengan Key memegang ‘sunggyu hyung akan tertipu’.
Mereka benar-benar keterlaluan. Dan ketika aku bertanya apa tujuan mereka,
mereka mengatakan padaku semua jawaban ada pada suamiku.
Otak dari rencana
jahat dan sadis ini.
Kuhembuskan nafasku
perlahan dan merebahkan tubuhku di kasur. Kudengar suara pintu terbuka dan
kurasakan Woohyun berjalan kearahku. Kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya.
Tangan nya dengan lembut memeluk pinggangku dan mencium pundakku.
“jangan sentuh
aku”, ujarku dingin. Woohyun terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
“kalau kau marah
aku tidak akan cerita”, bisiknya tepat ditelingaku. Membuatku bergidik.
“baiklah katakan
padaku sekarang sebelum aku berubah pikiran”, kubalikkan badanku menghadapnya
dan senyum lembut terkembang di bibirnya.
Woohyun mencium
lembut keningku dan tersenyum.
“kau
mengacuhkanku selama kau di Paris”, ujarnya pelan.
“m..mwo?”, kuatatap
matanya, mencari kejelasan di dalamnya.
“aku satu kelas
denganmu tapi kau tidak mengenaliku”, ujarnya lembut.
“t..tunggu, kau
Nam Woohyun itu?? Nam Woohyun yang misterius dengan kaca mata itu??”, tanyaku
langsung.
Woohyun
mengangguk dan tersenyum.
Yah, aku memang
pernah memiliki teman sekelas bernama Woohyun ketika kuliah dulu. Dia jarang
berbicara dan tatapan tajamnya membuat semua orang takut, bahkan ada gossip
bahwa Woohyun adalah pembunuh berdarah dingin. Yah, bagaimana mungkin aku bisa
mengenalinya. Melihatnya saja aku takut.
“aku menyamar,
karena ingin mengawasimu.. calon istriku”, ujarnya lembut.
Kurasakan pipiku
memerah. Kutundukkan wajahku dan Woohyun mengusap pipiku dengan hidungnya
dengan lembut. Kudongakkan wajahku lagi dan Woohyun tersenyum.
“tapi aku kecwa
bagaimana kau bisa tidak mengenaliku.. maka itu, aku menemui ayahmu dan ibumu,
berkata bahwa aku akan menikahimu dengan cara yang tidak biasa. Lalu
seteletahnya semuanya berkumpul untuk saling memberikan ide dan sukses. Semuanya
berjalan dengan baik. Kami menyewa seorang actor untuk berpura-pura menjadi
pendeta saat pernikahanku dan Key lalu meminjam calon suami Key untuk
berpura-pura menjadi calon suamimu.. aku cemburu melihatnya dengan begitu mudah
mendapat perhatianmu”, ujar Woohyun lembut.
Kulingkarkan
lenganku di lehernya dan memeluknya erat. Menyalurkan perasaan yang selalu
terpendam dalam diriku.
“maafkan aku
sudah menamparmu”, ujarku pelan.
“andai kau tau
apa yang terjadi saat itu”, ujar Woohyun pelan.
Kuusap pipi
Woohyun pelan dan Woohyun tersenyum penuh arti.
Flashback
(Woohyun POV)
Kutatap punggung
Sunggyu yang mulai berjalan menjauh dengan lemah. Air mataku mengalir menuruni
pipiku.
Maafkan aku Gyu
Maafkan aku Gyu..
Kuhembuskan nafas
perlahan dan melemparkan kerang-kerang disekitarku kembali ke laut.
“kau bisa
mengatasinya?”, sebuah suara mengiterupsiku dari lamunanku. Kulihat Myungsoo
berdiri di sampingku.
“hyung,
bertahanlah. Dua hari lagi”, ujar Myungsoo, tangannya menepuk pundakku.
“aku melukainya
lagi”, ujar ku.
Myungsoo
tersenyum dan mengangguk.
“aku mengerti,
gwaechana.. kau harus berjanji untuk menjaga hyungku seumur hidupmu dan
bersumpah tidak akan menyakitinya lagi sebagai permintaan maafmu”, kuanggukkan
kepalaku.
Well, Myungsoo
terlihat dingin dan tidak serius, tapi sebenarnya dia sangat dewasa dan penuh
perasaan. Bahkan lebih dari yang aku tau.
“SUNGGYU HYUNG
PINGSAN!”,
suara lumba-lumba
sungyeol membuyarkan kami dan aku segera berlari menuju kamar Sunggyu. Kulihat Taeyeon
ada disana dan duduk di samping tubuh Sunggyu yang tergeletak di lantai. Aku
berlari dan merengkuh tubuh calon istri sahku dan menggendongnya. Kupapah tubuh
lemah itu dan kuletakkan di kasur sebelum menyelimutinya.
“mianhae..
mianhae”, kuhapus pelan sisa air mata yang menempel di pipi dan sekitar
matanya. “gyu hyung, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu..”, bisikku
lembut sebelum mencium keningnya dan bibir merahnya dengan lembut.
Perlahan tangan
Taeyeon menginterupsiku dan Taeyeon mulai membersihkan wajah dan leher Sunggyu
dengan handuk dan air hangat. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya
erat. Sesekali kuusap pipinya lembut dan mencium wajah manisnya.
Maafkan aku gyu,
maafkan aku.. tidak seharusnya aku berkata begitu. Tapi kau mengatakan kau
menyesal mencintaiku.. aku sakit mendengarnya..
kuhembuskan
nafasku perlahan dan tanpa kusadari aku tertidur sambil memeluk hamster besarku
dengan erat.
End of flashback
(Sunggyu POV)
Kurasakan air
mataku menetes mendengar cerita Woohyun.
Well, aku
bersalah karena menyakiti hatinya dengan kata-kataku. Kupeluk tubuh kekar itu
dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada bidangnya. Kurasakan Woohyun
tersenyum dan mengusap pipiku lembut sambil sesekali mencium keningku.
“aku mencintaimu”,
ujarnya pelan. Aku terisak dan mengangguk.
“aku juga
mencintaimu”, kurasakan Woohyun mengangkat daguku lembut dan menempelkan
bibirnya di bibirku sebelum menjelajahi bibirku semakin dalam.
Kueratkan pelukan
ku dan Woohyun semakin mengintenskan ciumannya. Perlahan Woohyun melepaskan
ciumannya dengan nafas yang tidak teratur. Woohyun menatapku nakal dan aku
menangkap aura kemesuman disana.
“gyu, ini malam
pertama kita”, ujarnya pelan.
“MWO?!! SETELAH
MENGERJAIKU HABIS-HABISAN KAU MASIH BERANI MEMINTA MALAM PERTAMAA?”, suaraku
meninggi dan mencubit abs Woohyun dengan pelan lau berlari keluar kamar.
Woohyun mendecak
sebal dan kudengar dia mulai mengerjarku. Aku tersenyum sambil berlari. Senyum
yang nyata. Senyum kebahagiaan.
Nam Woohyun
gomawo.. dan beginilah akhirnya. Tuhan mendegarkan doaku. Tuhan memberikan
Woohyunku kembali.
Aku tersenyum dan
berhenti di balkon kamar hotel ku. Kurasakan Woohyun memeluk pinggangku dengan
erat.
“aku mencintaimu..
jangan pergi dariku, jangan pernah”, ujarnya berbisik lembut di telingaku.
Aku tersenyum dan
mengangguk. Perlahan Woohyun menarikku kembali kedalam sebuah ciuman hangat dan
intens yang menyalurkan semua hasrat dan cinta yang selama ini terpendam dalam
diri kami.
------------------------------------------------------
“YAK KIM MYUNGSOO
SUDAH KUBILANG KALAU MENGINTIP JANGAN DISINI! BANYAK NYAMUK KAU TAHU!”,
Sungyeol berteriak dengan kesal kearah kekasihnya.
“sudah kubilang
ini tempat yang bagus untuk mengintip mereka. Lihatlah mereka melakukannya di
balkon”, Myungsoo kembali mendekatkan teropong jarak jauhnya dan menyaksikan
kedua hyungnya sedang melakukan sesuatu di balkon kamar hotel mereka yang
terletak di lantai 15.
Senyum jahil terkembang
di bibirnya.
“tapi banyak
nyamuk”, ujar Sungyeol kesal menatap kekasihnya.
Bagaimana tidak,
ia terpaksa diseret menuju tempat ini di tengah malam untuk mengintip seseorang
melakukan ini dan itu.
“YAK KALIAN
SEDANG APA?”, sampai tangan seseorang melayang dengan mulus di kepala Myungsoo.
“aa..appaa”,
k..kami sedang melihat bintang”, ujar Myungsoo dengan wajah super cutenya.
“bintang? Di
lantai 15?”, Jio yang berada di samping calon mertuanya hanya bisa tersenyum
jahil.
“aa..abeonim kami
ke kamar sekarang”, Sungyeol yang gugup dengan kejam langsung menarik
kekasihnya menjauh.
Meninggalkan
teropong jarah jauhnya yang tergeletak di rerumputan .
Jio menatap ayah
mertuanya penuh arti sebelum akhirnya mereka mengambil teropong itu dan berbagi
satu sama lain melihat bintang di lantai 15 yang dimaksud Myungsoo tadi sambil
tertawa jail satu sama lain.
THE END
Annyeonggg sudah
tamat nih xD hahaha maaf kalau jelek aneh dan kata-katanya ancur. Semoga enjoy
bacanya dan jangan lupa RCL nee J dengan ini saya mengundurkan diri
sebagai penulis dan turun jabatan menjadi pembaca *curhat* soalnya saya ngerasa
ga bisa nulis cerita yg emejing dan Lain-Lain gomawo yang udah mau
baca dan comment ff saya selama ini. Dan ff yang terkahir ini juga jangan lupa
RCL ne J semoga saya bisa kembali menjadi penulis suatu hari lagi. *eaaaa*
babayyy see youuuuuuuuuu *chuu
Note : WANJEEEEEEEEEER
T_T T_T T_T T_T T_T WAT DE HELL, GUE HAMPIR NANGIS DI KAMPUS GARA2
NI FF SIALAN. OMGT, GILA DAEBAK BANGEEEEEEEEEET T_T
T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T T_T HELL,
DAMN AUTHORNIM !!!
------------------------------------------------------------------------------------
l'égoïsme
(keegoisan) 3/3 | Ashley Hwang
l'égoïsme (keegoisan) 3/3
Cast:
- Kim Sunggyu
- Nam Woohyun
- Kim Ki Bum
(Key)
- MBLAQ GO (Jio)
Rate: PG-15
Summary : Cinta
butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan
tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.
Chap 1:
Chap 2:
Kim Sunggyu POV
“aigoo mereka
sangat serasi bukan??”, aku tersenyum simpul mendengar kometar-komentar itu
ketika Key berjalan menuju altar dengan gaun mewahnya.
Perlahan
kupalingkan pandanganku kearah namja tampan yang berdiri tegap dengan tuxedo
hitam yang membalut tubuh atletisnya. Helaan nafas pelan lolos dari bibirku.
Dengan berat
kupalingkan pandanganku kearah hal-hal yang menurutku tidak penting untuk
diperhatikan, seperti eommaku yang menangis terharu di barisan terdepan.
Barisan terdepan?
Benar seharusnya
disanalah aku berada sebagai kakak kandung Key. Tapi, sayangnya hatiku tidak
sekuat itu untuk berada disitu. Melihat Key dan Woohyun berciuman, menyalurkan
kebahagiian dengan jarak lebih dekat bias saja membuat ku menangis lagi kan?
Jadi disinilah
aku sekarang.
Di barisan
belakang ditemani oleh Jio hyung yang selalu berada di sampingku sejak kejadian
akuarium pecah itu.
Well, omong-omong
soal kejadian itu, aku harus pindak ke ruangan kerja yang baru –dengan akuarium
raksasa lain di dalamnya. Baiklah aku memang bukan pecinta ikan atau apa, hanya
saja ayahku selalu saja menginginkan akuarium di ruangan kerja dengan alasan agar
aku bisa rileks setelah mengurus banyak dokumen. Dan yah kurasa beliau benar.
Aku sealu tersenyum melihat ikan-ikan itu berkejar-kejaran atau berenang dengan
bebas seolah hidup mereka adalah bersenang-senang tiap harinya.
(contoh
aquariumnya semacam inihttp://st.houzz.com/fimgs/22b1e19f002f56d4_9702-w406-h406-b0-p0--tropical-bedroom.jpg tapi
bedanya itu kamar ini ruang kerja xD mari berimajinasi)
Tidak seperti
hidupku yang sepertinya tidak pernah bahagia, baiklah mungkin aku berlebihan.
Aku memiliki segalanya, semua yang aku inginkan akan langsung ada di tanganku
tanpa menunggu lama. Tapi hanya satu hal yang tidak kumiliki. Keputusanku
sendiri. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui semua masalah yang membelitku
selama ini kan?
“Gyu ya,
gwaechana?”, aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam erat tanganku.
Membuatku kembali ke dunia tempatku berpijak. Kutolehkan kepalaku pelan dan
mendapati Jio hyung menatap khawatir kearahku. Kuhembuskan nafas perlahan dan
mengangguk pelan
“gwaechana
Byungie ya”, senyum tipis mengembang di bibirku. Jio hyung mengangguk dan
menatap kearah altar dan kembali menatapku lagi setelah beberapa saat.
“waeyo byungie?”,
ujarku berbisik. Aku melihat kesekeliling dan semua orang yang ada di gereja
ini terdiam dan focus kearah Woohyun dan Key.
“ikut aku”,
perlahan Jio hyung berdiri dan menarik tanganku.
“kemana?
Pernikahannya akan dimulai”, ujarku pelan. Jio hyung tersenyum penuh arti dan
menarikku meninggalkan gereja. Entah ini baik atau tidak, tapi aku
berterimakasih pada Jio hyung karena aku tidak harus menahan emosiku ketika
melihat mereka berciuman nanti. Kakiku dengan pelan mengikuti langkah Jio
hyung.
“byungie kita
kemana eoh?”, tanyaku lagi, lelah dengan kehenigan yang menyelimuti kami.
“ikut aku puffy
cheeks”, Jio hyung terkekeh pelan dan terus menarikku ke Ferrari hitamnya yang
terparkir di pelataran gereja. Ku majukan bibirku pelan sambil menggembungkan
pipiku.
“puffy cheeks??”,
ujarku kesal. Alih-alih mendapatkan respon, aku justru didorong pelan masuk kedalam
mobil sebelum akhirnya Jio hyung masuk dan duduk di kursi pengemudi.
“ya ya JUNG
BYUNGHEE ahjussi, ini pernikahan adikku dan kau malah menculikku seperti
ini??”, kusilangkan kedua tanganku kesal sambil menggembungkan pipiku. Jio
hyung terkekeh pelan dan mendekatiku lalu memasangkan sabuk pengamanku.
Kurasakan tangan besarnya mengusap lembut pipiku sebelum menciumnya.
“tidak bisakah
sekali saja kau menurut dengan calon suamimu tanpa memberontak puffy cheeks?”,
Jio hyung tersenyum lembut kearahku. Kurasakan pipiku memanas dan perlahan
kupalingkan wajahku dari wajah Jio hyung yang hampir menempel.
“arasseo, dan
jangan panggil aku puffy cheeks”, ujarku kesal.
“arraseo,
chubby”, Jio hyung tertawa pelan dan mulai menyalakan mesin mobil.
“itu sama saja”,
kumajukan bibirku pelan dan Jio hyung masih saja tertawa tanpa dosa
disampingku.
Kusandarkan
punggungku dan mulai menatap keluar jendela. Yah, ini yang terbaik. Aku tidak
harus semakin terluka dengan memaksakan diri disana dan juga, calon suami ku
bukan orang yang jahat. Dia tidak mungkin membuangku di tengah laut begitu saja
kan.
Kurasa ini
bukanlah ide yang buruk.
Entah kenapa
namja disampingku ini sangat mengerti perasaanku meskipun aku tidak pernah
memberitahukan padanya. Selalu saja membuatku nyaman dengan perlakuan
lembutnya. Membuatku tercengang dengan semua kejutan yang diberikannya padaku.
Jujur, dalam
hatiku yang terdalam aku sangat ingin mencintainya. Apakah aku egois
mengharapkan cinta seseorang lain dan mengkhianati janjiku pada Nam Woohyun?
Well, kurasa aku ingin menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku ingin mencintai
seseorang yang juga mencintaiku, aku ingin bahagia tanpa keegoisan orang lain
yang memenuhi hati dan perasaanku. Jujur, aku masih sangat mencintai Woohyun
dan akan menjadi suatu yang mustahil jika aku bisa melupakannya dengan cepat.
Tapi Jio hyung,
tidakkah dia juga
seseorang yang pantas mendapatkan sebuah cinta karena ketulusannya?
Karena kebaikan
hatinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mencintainya?
Di suatu tempat
di hatiku yang terdalam, aku sangat ingin mencintai Jio hyung.
Bahagia
bersamanya tanpa mengingat Woohyun yang lebih dahulu membuangku dan
membiarkanku terluka dalam diam tanpa bisa berbuat apapun. Sampai Jio hyung
datang dengan senyum lembutnya yang seolah menghipnotisku agar aku selalu
tenang dan merasa nyaman disekitarnya.
Yah aku tau,
sangat jelas bahwa saat ini aku belum siap untuk memberikan hatiku pada orang
lain tapi di lubuk hatiku yang terdalam, Jio hyung sudah memiliki tempatnya
sendiri. Terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Dan aku
berjanji,
meskipun saat ini
aku belum mencintainya, tapi aku berjanji aku akan mencintainya suatu saat
nanti. Helaan nafas pelan keluar dari bibirku.
Kupejamkan mataku
pelan dan mendengarkan suara mesin mobil yang sedari tadi menjadi satu-satunya
suara yang ditangkap indera pendengaraku. Well, sungguh. Hari ini tidak terlalu
buruk. Kukira hari ini akan menjadi hari kiamat nasional bagiku. Tapi entahlah,
dengan adanya namja disampingku ini semuanya terasa.. lebih ringan untuk
dilalui.
Byungie, Gomawo..
------------------------------------------------------------------------
“sunggyu hyung
eotte? Apakah menurutmu villa ini bagus untukku dan Woohyun?”, Key tersenyum
senang sambil bergelayut manja di lengan Woohyun.
Woohyun tersenyum
lembut melihat sikap manja istrinya sambil sesekali mencium kepala Key tanpa
menghiraukan keberadaan ku disini sebagai orang yang pernah menantinya selama
12 tahun.
“bagus, kalian
akan betah disini aku jamin”, ujarku pelan sebelum mengeluarkan iphone ku dan
mulai mengutak-atiknya.
“hyung 3 hari
lagi kau juga akan resmi seperti kami, benar kan hyunnie?”, Key menatap Woohyun
dengan ceria dan Woohyun hanya mengangguk pelan sambil mencium pipinya, membuat
namja bermata kucing itu mengeluarkan semburat merah di pipinya.
“hyunnie tidak di
depan hyungku!”, Tangan key memukul pelan dada Woohyun dan Woohyun lagi hanya
tertawa senang dan menggenggam tangan Key lalu menciuminya berkali-kali.
“sunggyu hyung
tidak akan keberatan sayang, benarkan hyung?”, Mata Woohyun menatap kedalam
mataku dengan lembut. Kutatap mata itu dengan tajam sebelum mengalihkan
pandanganku.
“aku ada urusan
setelah ini. Selamat bersenang-senang”, ujarku pelan sambil berlalu
meninggalkan Villa mewah ini. Bahkan, Nam Woohyun brengsek itu tidak memikirkan
perasaanku sedikitpun.
Entahlah, kurasa
dia memang sudah menghapusku dari otaknya. Sudah menggantikannya dengan Key
yang polos ceria dan menyenangkan. Yah aku tau itu, sangat jelas malah. Tapi
apakah dia tidak berusaha menjaga perasaanku? Dia tau kalau aku masih sangat
mencintainya. Dia tau itu, tapi bersikap seolah dia tidak mengetahui apapun.
Seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kita dan bersikap layaknya kakak
dan adik ipar. Yah, dia pernah mengatakan itu kan padaku sebelumnya? Dan
harusnya aku paham bukan?
Kuhempaskan
tubuhku di pasir dan menatap ke lautan luas yang terhampar di hadapanku.
Andai saja aku
bukan Kim Sunggyu, apakah hidupku bahagia?
Andai saja aku
orang lain, apakah aku juga tetap merasakan rasa sakit yang menderaku tiap
harinya?
Apakah hal ini
hanya terjadi pada ku?
Pada Kim Sunggyu?
Perlahan buliran
air mata jatuh menuruni pipiku.
Aku merindukan
Woohyun yang dulu.
Woohyun yang
berlarian dalam hujan untuk menjemputku.
Woohyun yang
semalaman menemaniku tertidur karena tubuhku yang lemah membutuhkannya.
Woohyun yang
terbangun tengah malam dan berlari ke rumahku hanya karena aku mimpi buruk,
Woohyun yang 12
tahun lalu berjanji akan kembali dari America dan menikah denganku.
Woohyun yang
mengerti perasaanku,
dan
Woohyun yang
mencintaiku.
Tanpa sadar air
mata mengalir deras menuruni pipiku.
Kupejamkan pelan
mataku dan membiarkan sakit hati ini mengalir keseluruh tubuhku. Membawaku
kedalam jurang keputus asaan yang dalam. Yah biarkan semuanya seperti ini.
Hanya untuk saat ini, hanya untuk diriku sendiri. Kuhembuskan nafasku perlahan
bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Membuatku merasa sedikit
lebih tenang.
“Sunggyu hyung”,
suara itu. Suara Woohyun. Perlahan kubuka mataku pelan dan mendapati Woohyun
duduk disampingku sambil tersenyum.
Kupalingkan
wajahku pelan dan menatap ke lautan lepas yang ada di hadapanku.
“gomawo, sudah
melepaskanku untuk Key” ujarnya.
Kupejamkan mataku
perlahan dan membiarkan kata-kata Woohyun memenuhi pendengaranku.
“kau mau apa? Aku
mengacaukan pernikahanmu? Aku punya hati Nam Woohyun, aku tdak akan menyakiti
hati adikku. Seperti kau menyakiti hatiku”, suaraku terdengar dingin bahkan di
telingaku sendiri.
Benar, karena
memang itulah yang sebenarnya kurasakan.
“haha aku tau
Hyung, gomawo. Kau adalah namja terbaik yang pernah kutemui. Kau tau? Kau
sangat murah hati dan kadang terlihat mudah ditindas”, Woohyun tertawa pelan
bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
Dia bercanda?
Dengan kata-kata semacam
itu?
12 tahun adalah
waktu yang cukup lama untuk merubah seseorang ternyata.
“kau, bagaimana
kau bisa bercanda dengan perasaan orang lain?”, ujarku pelan, mataku dengan
tajam menatap kedalam matanya.
“aku menyesal
karena mencintaimu Woohyun, aku menyesal karena menghabiskan 12 tahun hidupku
demi seorang namja yang bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku
menyesal aku bertemu denganmu Nam Woohyun. Kau, hiduplah bahagia dengan Key
tanpa mengganggu hidupku. Kau hiduplah dengan tenang bersama Key tanpa harus
menganggapku sebagai kakak iparmu. Karena aku bersumpah. Seumur hidupku aku
tidak akan pernah mau menganggapmu sebagai adik iparku.”
Tatapan Woohyun
menajam, seolah menyalurkan sakit hati yang begitu dalam atas kata-kataku.
Woohyun menatapku tajam dan kekecewaan terpancar jelas disana. Kupalingkan
wajahku dan membiarkan air mata mengalir menuruni pipiku.
“hyung, tidakkah
kau terlalu pendendam?”, suara Woohyun terdengar sinis.
“bukankah ini
hakku untuk mencintai siapapun yang aku mau? Bukankah ini semua hakku untuk
mencintai Key? Kau jangan egois dengan perasanmu sendiri hyung. Aku menyesal
karena mengira kau namja yang baik dan dewasa, nyatanya. Kau hanya namja besar
dengan keegoisan dan kekanakan yang memenuhi otakmu”, setiap kata yang meluncur
dari mulut Woohyun seolah menusukku.
Kutatap tajam
wajah tampan itu dan tanpa kusadari tanganku melayang pelan dan menampar wajah
tampannya.
“jahat..”, air
mata mengalir deras menuruni pipiku.
Well, aku tidak
peduli apakah Woohyun melihatnya dan menganggapku cengeng lemah memalukan atau
apapun. Aku hanya ingin, dia tidak seenaknya berbicara tentang orang lain
seperti itu.
“kau berubah Nam
Woohyun, 12 tahun waktu yang cukup untuk mengubah sifat seseorang ne.. kau
bahkan tidak sadar tiap detiknya aku melewati hidupku dengan luka kronis di
hatiku karena menyerahkanmu kepada adikku. Menyerahkan orang yang sangat
berharga dalam hidupku demi adikku. Neo, haruskah kau berada di posisiku untuk
merasakan yang aku rasakan? Kemana Nam Woohyun yang mengerti perasaan orang
lain? Kemana Nam Woohyun yang mencintaiku? Kemana Nam Woohyun yang bersikap
lembut kepadaku? Woohyun ah, setidak berguna itukah aku dimatamu? Serendah
itukah arti dari perasaanku terhadapmu selama ini? Semenjijikkan itukah aku dimatamu
jika dibandingkan dengan Key? Woohyun ah neo, aku tidak menyangka kau berubah
menjadi seperti ini”, perlahan kuhapus air mataku dan berdiri.
Kulangkahkan
kakiku menjauhi Woohyun sebelum sebuah kata yang meluncur dari bibirnya
menghentikan langkahku.
“mianhae”.
Kutundukkan
kepalaku pelan dan berjalan menjauh. Sakit, kuremas perlahan dadaku. Merasakan
sakit hati yang seolah membunuhku tiap detiknya. Air mata terus mengalir deras
menuruni pipiku.
Tuhan kumohon,
ambil nyawaku. Aku tidak kuat lagi menahan semua ini.
Kubanting pintu
kamar hotelku dan tubuhku merosot ke lantai dengan pelan seolah kakiku sudah
tidak mampu menahan beban sakit hatiku yang semakin menganga karena tiap kata
tajam Woohyun yang terdengar langsung di telingaku. Kusandarkan punggungku di
tembok dan menangis tanpa suara sampai kurasakan tubuhku lemas dan aku
tertidur.
-------------------------------------------------------------------
“hyung”,
kurasakan sebuah
tangan menepuk pipiku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan dan mendapati
Sungyeol, Myungsoo, Key, Taeyeon, dan Woohyun berdiri di sekelilingku. Aku
tidak ingat kalau aku sudah berda di kasur ketika aku tertidur tadi.
“hyung
gwaechana??”, Sungyeol langsung memeluk tubuh lemahku dengan erat dan menangis
di pelukanku. Senyum simpul terukir di bibirku.
“gwaechana yeol”,
ujarku pelan.
Sungyeol
mengangguk pelan sebelum Taeyeon menghambur dan memelukku erat.
Kulingkarkan
lenganku dan memeluk pinggang kembaranku yang cantik ini. Well, aku tau dia
sangat khawatir dan gelisah. Saat itulah mata kecilku menangkap Woohyun yang
sedang memeluk Key.
Woohyun
memalingkan wajah datarnya dan menatap kearah lantai.
Dia terlihat
sedih.
Haha hanya
perasaan bersalah mungkin?
“kau tidurlah,
kau harus segera sehat agar pernikahanmu berjalan lancar ne?”, Taeyeon mengusap
rambutku pelan dan aku hanya mengangguk.
“jja tidurlah
hamster baby”, Taeyeon mencium keningku dan menyelimutiku. Kuhembuskan nafas
pelan dan mengangguk. Kupejamkan mataku perlahan. Dan lagi, alam mimpi
membawaku pergi dari dunia tempatku berpijak.
Hari ini adalah
hari yang besar untukku.
Aku akan menikah
dengan Jio Hyung.
Aku menatap
pantulan diriku di kaca dengan gaun yang membalit tubuhku. Gaun? Yah setelah
berdebat dengan lama dan alot akhirnya aku menyerah dengan keputusan memakai
gaun dan rambut panjang yang berwarna hitam yang di bentuk sedemikian rupa.
Cantik
Itu yang semua
orang bilang ketika melihatku tadi.
Benarkah?
Senyum simpul
terukir di bibirku. Pernikahanku akan dimulai 15 menit lagi. Dan itu tandanya
aku akan dengan resmi menjadi milik Jio hyung dan saat itulah, aku akan
membuang Nam Woohyun dari hati dan otakku. Aku harus melupakannya.
Perlahan aku
bangkit dari dudukku dan berjalan dengan pelan menuju meja. Gaun panjang ini
menyusahkan ruang gerakku.
Kuraih iphoneku
dengan pelan dan mendial nomor seseorang yang bertengkar hebat denganku 2 hari
yang lalu. Kuhembuskan nafas pelan dan menempelkan benda kotak panjang itu
ditelingaku.
Kekecewaan
menghantam hatiku begitu mengetajui nomor woohyun tidak aktif. Mungkin dia
sibuk diluar sana.
Well, aku belum
melihatnya seharian ini. Aku hanya bertemu Key yang keluar masuk ruangan riasku
untuk membantuku.
Perlahan jariku
mengetik pesan untuk Woohyun. Kutahan air mataku agar tidak merusak dandanan
wajahku.
‘aku mencintaimu’
tanganku bergetar
dan mengirimkan pesan itu.
Kuletakkan iphone
ku kembali dan menatap kaca.
Kim Sunggyu,
berbahagialah, ujarku pada diri sendiri.
Kupejamkan mataku
dan saat itulah Ayahku masuk dan tersenyum.
“sudah waktunya”,
aku tersenyum dan mengangguk. Ayahku berjalan mendekatiku dan memelukku dengan
erat.
“ayah
menyayangimu, maafkan ayah”, kurasakan suara ayahku bergetar. Kutatap wajah
beliau dan tanganku menghapus air mata yang mengaliri pipiku.
“aku bahagia jika
appa dan eomma bahagia”, ujarku pelan. Ayahku mengangguk dan menggandeng
tanganku perlahan.
Yah inilah
saatnya..
Aku berjalan
dengan ayahku mnuju altar dengan pelan. Semua mata tertuju padaku. Gugup, yah
aku sangat gugup. Decak kagum beberapa orang sampai di indera pendengaranku.
Membuat senyum terpancar di bibirku dan mengucapkan terimakasih dalam hatiku.
Dan sedikit lagi.
Kulihat Punggung Jio hyung yang terbalut tuxedo putih.
Jio hyung
membelakangiku.
Dan entahlah,
kurasa Jio hyung
sedikit lebih pendek dari biasanya. Ayahku berhenti dan Jio hyung berbalik..
aku tercekat
melihat wajah itu.
Wajah itu..
itu bukan jio
hyung..
dia..
“w..woohyun”,
ujarku pelan.
Woohyun tersenyum
dan menggenggam tanganku dengan erat.
“t..tunggu, apa
maksudnya ini, mana calon suamiku?”, aku memberontak pelan dan menarik tanganku
dari genggaman tangan Woohyun.
Otakku sungguh
tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Pendeta yang ada di hadapanku tersenyum
seolah mengerti apa yang terjadi disini.
“dia calon
suamimu Sunggyu ssi”, ujarnya berwibawa.
“n..ne?? aniyo!!
Dia suami adikku”, dan kata-kataku barusan mmbuat gelak tawa seluruh orang yang
ada di gereja.
Aku berbalik dan
melihat Jio hyung duduk disebelah Key dengan Key yang bergelayut manja di
lengannya apa ini mimpi?
Eomma, appa,
Myungsoo,Taeyeon, Sungyeol semuanya tersenyum lebar seolah sesuatu baru saja
terjadi. Kurasakan tangan Woohyun menggenggam tanganku lembut.
“bisakah kita
menikah sekarang dan aku akan menjelaskan semuanya?”, ujarnya lembut.
Kutatap wajahnya
tidak mengerti. Woohyun tersenyum dan mengangguk kearah pendeta.
“t..tapi ini
mimpi kan?”, ujarku pelan.
“sunggyu ssi,
focus”, ujar pendeta itu berwibawa. Kuhembuskan nafas perlahan. Sungguh otakku
tidak bisa menangkap apa yang terjadi.
Setelah
mengucapkan janji, aku dan well, Woohyun resmi menjadi suami istri.
Suami istri
dengan Woohyun sebabagai suami Key?
Perlahan Woohyun
menarik pinggangku dengan pelan dan mengusap pipiku dengan lembut.
“demi tuhan, aku
mencintaimu Kim Sunggyu.. sangat mencintaimu”, itu yang dia ucapkan sebelum
bibirku menyatu dengan bibirnya.
Kupejamkan mataku
pelan dan mendengar sorak sorai orang-orang dibelakang kami. Tuhan, ini mimpi
yang sangat indah.
------------------------------------------------------
Disinilah aku
sekarang, duduk di tepi tempat tidurku dengan Woohyun yang masih berada di
kamar mandi. Seharian ini aku tidak berhenti mengacuhkan orang-orang yang
terlibat dalam rencana ini.
Benar, RENCANA
INI!
Woohyun dan Key
tidak pernah menikah, itu hanya acara palsu. Mereka bahkan tidak mengucapkan
janji saat itu.
Benar, aku tidak
tahu karena Jio Hyung mengajakku keluar dari gereja tepat sebelum Woohyun dan
Key mengucapkan janji sebagai suami istri.
Aish dan ternyata
jio hyung adalah CALON SUAMI KEY.
Astaga mereka
tega sekali mengkhianatiku seperti ini.
Dan tentu saja,
semua kemesraan Key dan Woohyun itu palsu. Hanya untuk menjebakku. Aish kenapa
aku merasa sangat bodoh saat ini?
Apalagi saat
Sungyeol dan Taeyeon tertawa puas ketika membantuku berganti baju untuk pesta
tadi.
Sedangkan
Myungsoo dan Key, jangan Tanya. Mereka saling membahas taruhan siapa yang
menang dan siapa yang tidak dengan Key memegang ‘sunggyu hyung akan tertipu’.
Mereka benar-benar keterlaluan. Dan ketika aku bertanya apa tujuan mereka,
mereka mengatakan padaku semua jawaban ada pada suamiku.
Otak dari rencana
jahat dan sadis ini.
Kuhembuskan nafasku
perlahan dan merebahkan tubuhku di kasur. Kudengar suara pintu terbuka dan
kurasakan Woohyun berjalan kearahku. Kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya.
Tangan nya dengan lembut memeluk pinggangku dan mencium pundakku.
“jangan sentuh
aku”, ujarku dingin. Woohyun terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
“kalau kau marah
aku tidak akan cerita”, bisiknya tepat ditelingaku. Membuatku bergidik.
“baiklah katakan
padaku sekarang sebelum aku berubah pikiran”, kubalikkan badanku menghadapnya
dan senyum lembut terkembang di bibirnya.
Woohyun mencium
lembut keningku dan tersenyum.
“kau
mengacuhkanku selama kau di Paris”, ujarnya pelan.
“m..mwo?”, kuatatap
matanya, mencari kejelasan di dalamnya.
“aku satu kelas
denganmu tapi kau tidak mengenaliku”, ujarnya lembut.
“t..tunggu, kau
Nam Woohyun itu?? Nam Woohyun yang misterius dengan kaca mata itu??”, tanyaku
langsung.
Woohyun
mengangguk dan tersenyum.
Yah, aku memang
pernah memiliki teman sekelas bernama Woohyun ketika kuliah dulu. Dia jarang
berbicara dan tatapan tajamnya membuat semua orang takut, bahkan ada gossip
bahwa Woohyun adalah pembunuh berdarah dingin. Yah, bagaimana mungkin aku bisa
mengenalinya. Melihatnya saja aku takut.
“aku menyamar,
karena ingin mengawasimu.. calon istriku”, ujarnya lembut.
Kurasakan pipiku
memerah. Kutundukkan wajahku dan Woohyun mengusap pipiku dengan hidungnya
dengan lembut. Kudongakkan wajahku lagi dan Woohyun tersenyum.
“tapi aku kecwa
bagaimana kau bisa tidak mengenaliku.. maka itu, aku menemui ayahmu dan ibumu,
berkata bahwa aku akan menikahimu dengan cara yang tidak biasa. Lalu
seteletahnya semuanya berkumpul untuk saling memberikan ide dan sukses. Semuanya
berjalan dengan baik. Kami menyewa seorang actor untuk berpura-pura menjadi
pendeta saat pernikahanku dan Key lalu meminjam calon suami Key untuk
berpura-pura menjadi calon suamimu.. aku cemburu melihatnya dengan begitu mudah
mendapat perhatianmu”, ujar Woohyun lembut.
Kulingkarkan
lenganku di lehernya dan memeluknya erat. Menyalurkan perasaan yang selalu
terpendam dalam diriku.
“maafkan aku
sudah menamparmu”, ujarku pelan.
“andai kau tau
apa yang terjadi saat itu”, ujar Woohyun pelan.
Kuusap pipi
Woohyun pelan dan Woohyun tersenyum penuh arti.
Flashback
(Woohyun POV)
Kutatap punggung
Sunggyu yang mulai berjalan menjauh dengan lemah. Air mataku mengalir menuruni
pipiku.
Maafkan aku Gyu
Maafkan aku Gyu..
Kuhembuskan nafas
perlahan dan melemparkan kerang-kerang disekitarku kembali ke laut.
“kau bisa
mengatasinya?”, sebuah suara mengiterupsiku dari lamunanku. Kulihat Myungsoo
berdiri di sampingku.
“hyung,
bertahanlah. Dua hari lagi”, ujar Myungsoo, tangannya menepuk pundakku.
“aku melukainya
lagi”, ujar ku.
Myungsoo
tersenyum dan mengangguk.
“aku mengerti,
gwaechana.. kau harus berjanji untuk menjaga hyungku seumur hidupmu dan
bersumpah tidak akan menyakitinya lagi sebagai permintaan maafmu”, kuanggukkan
kepalaku.
Well, Myungsoo
terlihat dingin dan tidak serius, tapi sebenarnya dia sangat dewasa dan penuh
perasaan. Bahkan lebih dari yang aku tau.
“SUNGGYU HYUNG
PINGSAN!”,
suara lumba-lumba
sungyeol membuyarkan kami dan aku segera berlari menuju kamar Sunggyu. Kulihat Taeyeon
ada disana dan duduk di samping tubuh Sunggyu yang tergeletak di lantai. Aku
berlari dan merengkuh tubuh calon istri sahku dan menggendongnya. Kupapah tubuh
lemah itu dan kuletakkan di kasur sebelum menyelimutinya.
“mianhae..
mianhae”, kuhapus pelan sisa air mata yang menempel di pipi dan sekitar
matanya. “gyu hyung, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu..”, bisikku
lembut sebelum mencium keningnya dan bibir merahnya dengan lembut.
Perlahan tangan
Taeyeon menginterupsiku dan Taeyeon mulai membersihkan wajah dan leher Sunggyu
dengan handuk dan air hangat. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya
erat. Sesekali kuusap pipinya lembut dan mencium wajah manisnya.
Maafkan aku gyu,
maafkan aku.. tidak seharusnya aku berkata begitu. Tapi kau mengatakan kau
menyesal mencintaiku.. aku sakit mendengarnya..
kuhembuskan
nafasku perlahan dan tanpa kusadari aku tertidur sambil memeluk hamster besarku
dengan erat.
End of flashback
(Sunggyu POV)
Kurasakan air
mataku menetes mendengar cerita Woohyun.
Well, aku
bersalah karena menyakiti hatinya dengan kata-kataku. Kupeluk tubuh kekar itu
dengan erat dan menyembunyikan wajah ku di dada bidangnya. Kurasakan Woohyun
tersenyum dan mengusap pipiku lembut sambil sesekali mencium keningku.
“aku mencintaimu”,
ujarnya pelan. Aku terisak dan mengangguk.
“aku juga
mencintaimu”, kurasakan Woohyun mengangkat daguku lembut dan menempelkan
bibirnya di bibirku sebelum menjelajahi bibirku semakin dalam.
Kueratkan pelukan
ku dan Woohyun semakin mengintenskan ciumannya. Perlahan Woohyun melepaskan
ciumannya dengan nafas yang tidak teratur. Woohyun menatapku nakal dan aku
menangkap aura kemesuman disana.
“gyu, ini malam
pertama kita”, ujarnya pelan.
“MWO?!! SETELAH
MENGERJAIKU HABIS-HABISAN KAU MASIH BERANI MEMINTA MALAM PERTAMAA?”, suaraku
meninggi dan mencubit abs Woohyun dengan pelan lau berlari keluar kamar.
Woohyun mendecak
sebal dan kudengar dia mulai mengerjarku. Aku tersenyum sambil berlari. Senyum
yang nyata. Senyum kebahagiaan.
Nam Woohyun
gomawo.. dan beginilah akhirnya. Tuhan mendegarkan doaku. Tuhan memberikan
Woohyunku kembali.
Aku tersenyum dan
berhenti di balkon kamar hotel ku. Kurasakan Woohyun memeluk pinggangku dengan
erat.
“aku mencintaimu..
jangan pergi dariku, jangan pernah”, ujarnya berbisik lembut di telingaku.
Aku tersenyum dan
mengangguk. Perlahan Woohyun menarikku kembali kedalam sebuah ciuman hangat dan
intens yang menyalurkan semua hasrat dan cinta yang selama ini terpendam dalam
diri kami.
------------------------------------------------------
“YAK KIM MYUNGSOO
SUDAH KUBILANG KALAU MENGINTIP JANGAN DISINI! BANYAK NYAMUK KAU TAHU!”,
Sungyeol berteriak dengan kesal kearah kekasihnya.
“sudah kubilang
ini tempat yang bagus untuk mengintip mereka. Lihatlah mereka melakukannya di
balkon”, Myungsoo kembali mendekatkan teropong jarak jauhnya dan menyaksikan
kedua hyungnya sedang melakukan sesuatu di balkon kamar hotel mereka yang
terletak di lantai 15.
Senyum jahil terkembang
di bibirnya.
“tapi banyak
nyamuk”, ujar Sungyeol kesal menatap kekasihnya.
Bagaimana tidak,
ia terpaksa diseret menuju tempat ini di tengah malam untuk mengintip seseorang
melakukan ini dan itu.
“YAK KALIAN
SEDANG APA?”, sampai tangan seseorang melayang dengan mulus di kepala Myungsoo.
“aa..appaa”,
k..kami sedang melihat bintang”, ujar Myungsoo dengan wajah super cutenya.
“bintang? Di
lantai 15?”, Jio yang berada di samping calon mertuanya hanya bisa tersenyum
jahil.
“aa..abeonim kami
ke kamar sekarang”, Sungyeol yang gugup dengan kejam langsung menarik
kekasihnya menjauh.
Meninggalkan
teropong jarah jauhnya yang tergeletak di rerumputan .
Jio menatap ayah
mertuanya penuh arti sebelum akhirnya mereka mengambil teropong itu dan berbagi
satu sama lain melihat bintang di lantai 15 yang dimaksud Myungsoo tadi sambil
tertawa jail satu sama lain.
THE END
Annyeonggg sudah
tamat nih xD hahaha maaf kalau jelek aneh dan kata-katanya ancur. Semoga enjoy
bacanya dan jangan lupa RCL nee J dengan ini saya mengundurkan diri
sebagai penulis dan turun jabatan menjadi pembaca *curhat* soalnya saya ngerasa
ga bisa nulis cerita yg emejing dan Lain-Lain gomawo yang udah mau
baca dan comment ff saya selama ini. Dan ff yang terkahir ini juga jangan lupa
RCL ne J semoga saya bisa kembali menjadi penulis suatu hari lagi. *eaaaa*
babayyy see youuuuuuuuuu *chuu
.
No comments:
Post a Comment