l'égoïsme (keegoisan) | Part 2/3 | Ashley Hwang
l'égoïsme (keegoisan) 2/3
Cast:
- Kim Sunggyu
- Nam Woohyun
- Kim Ki Bum (Key)
- Jung Byunghee (G.O)
Rate: PG-15
Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani,
cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut
camput di dalamnya.
Chap 1:
Kim Sunggyu’s POV
“hyung, apakah ini bagus?”
Senyum simpul terkembang di bibirku
ketika mendengar suara adikku. Perlahan aku mendongak dan mendapati Key sedang
tersenyum senang sambil melihat bayangan dirinya di cermin besar yang ada di
butik gaun ini.
Benar, meskipun Key adalah namja, Key
harus tetap memakai gaun karena bagaimanapun Key ada di posisi ‘wanita’ dalam
pernikahan ini. Aku hanya mengangguk pelan dan kembali memfokuskan diriku pada
iphone 5 ku yang lebih menarik perhatianku dibandingkan semua urusan pernikahan
Key dengan –sialnya, mantan kekasihku Nam Woohyun.
Well, sebagai seorang kakak yang baik
aku seharusnya bahagia bukan? Siapa bilang aku tidak bahagia? Aku sangat
bahagia Key akhirnya bisa menikah, tapi bukan dengan Woohyun. Bukan dengan
namja yang sudah aku tunggu selama 12 tahun belakangan ini.
“belle (cantik)”, suara cempreng
seseorang membuatku menoleh dengan perlahan. “kau”, desisku pelan sambil
kembali menatap Key yang masih sibuk dengan gaunnya. “mal (jahat)”, yeoja
disampingku itu perlahan menggembungkan pipinya dan mengikuti arah pandanganku.
“was that hurt? betrayed by your lover?”, suara itu kembali mengusikku.
Oh baiklah aku lupa jika gadis ini
memang tidak bisa diam. “Kim Taeyeon ssi, if you came home just to make fun of
me, you better not.”, kupalingkan wajahku menghadapnya dan menatap Taeyeon
tajam.
“oh come on dude, we are twins. Its
really a bullshit if i can’t understand your heart as well as i understand
mine.”, Taeyeon menatapku tajam dengan manik mata yang –sayangnya sangat mirip
dengan manik mataku. Satu lagi kenyataan pahit yang kumiliki. Aku memiliki
seorang kembaran yang –sialnya seorang wanita.
Selama ini Taeyeon menetap di America
karena pekerjaannya sebagai model yang mengharuskannya menetap disana dan juga
melanjutkan kuliahnya disana. Jujur saja, aku menyembunyikan fakta ini dari
kalian karena aku malu mengakuinya.
“if you understand, then you better
shut that mouth and pretend that you didn’t know anything”, ujarku pelan.
Memang aku kembar dengannya. Tapi aku bisa dibilang keras pada Taeyeon. Bukan
karena aku membencinya. Hanya saja aku merasa aneh jika harus terlalu
bermanja-manja dengan kembaranku yang cerewet ini.
“okay then”, Taeyeon mengendikkan
bahunya dengan pelan dan berjalan menghampiri Key. Memang, aku tidak bisa dan
tidak akan pernah bisa berbohong pada Taeyeon. Dia mengerti aku, terlalu
mengerti bahkan. Hanya dengan menatap kedalam manik mataku dia bisa mengerti
apa yang sebenarnya aku rasakan. Munafik memang jika aku mengatakan aku tidak
membutuhkan Taeyeon karena bagaimanapun dia adalah kembaranku. Seseorang yang
ditakdirkan menjadi temanku, lebih dari belahan jiwaku itu sendiri.
Kuhembuskan nafasku perlahan dan
memperhatikan acara pelukan Taeyeon dan Key, well bagaimanapun Key adalah
adikku. Adikku secara biologis maupun secara hati. Aku menyayangi Key begitu
juga aku mencintai Woohyun.
Benar, cinta yang tulus adalah saat
dimana kita membuang semua sifat dasar kita sebagai manusia. Dalam hal ini, aku
harus membuang jauh-jauh keegoisanku atas hasrat untuk memiki Woohyun
selamanya. Meskipun Woohyun bukan milikku, setidaknya hatiku masih dapat merasakan
kehadirannya disekitarku, masih dapat mencintainya sebagai kakak ipar, sebatas
kakak ipar yang harus dihormatinya.
Mungkin, mediaku untuk menyalurkan
cinta kepadanya memang terbatas. Tapi keinginanku untuk terus mencintainya
tidak akan pernah terbatas.
Aku adalah namja berusia 25 tahun yang
memiliki prinsip yang harus kupegang kuat dalam hatiku, aku pasti bisa
mempertahankan prinsipku itu. Apapun yang terjadi nantinya padaku.
Perlahan kupejamkan mataku dan
menghembuskan nafas berat yang sedari tadi tercekat di saluran pernafasanku.
Berat memang bahkan sangat berat dan terlalu berat untuk bernafas disaat
seperti ini. Luka mengagah yang ada dihatiku ini bahkan terlalu sakit dan
terlalu berat untuk dirasakan.
“hyung gwaechana?”, perlahan sebuah tepukan
ringan di pundakku membangunkanku dari duniaku yang sedari tadi terus
berkelebat di otakku. Kutolehkan wajahku perlahan dan mendapati Myungsoo sedang
duduk di sampingku bersama Sungyeol kekasihnya.
Namja tinggi itu sudah terlebih dahulu
berlari kearah Taeyeon dan memberondong Taeyeon dengan banyak pertanyaan. Aku
bahkan hampir lupa bahwa Sungyeol adalah salah satu penggemar berat Taeyeon.
Kepalaku refleks hanya menggeleng perlahan melihat kehebohan namja tinggi itu
dan tersenyum kearah Myungsoo.
“hyung, kau kenapa? Apa kau tidak enak
badan?”, Myungsoo menaikkan satu alisnya perlahan dan lagi menepuk pundakku.
Bibir ku tertarik pelan dan membentuk senyuman simpul bersamaan dengan gelengan
yang dilakukan kepalaku.
“aku tidak apa”, ujarku pelan. Myungsoo
hanya mengangguk mengerti dan mulai memperhatikan kehebohan yang ada di
hadapannya sambil menghela nafas berat. “orang-orang ini ramai sekali”. Tawa
pelan keluar dari mulutku mendengar pernyataan Myungsoo barusan. Memang benar,
mereka bertiga sangat heboh seperti seluruh gedung ini akan runtuh karena
kehebohan mereka.
Sungyeol,Taeyeon dan Key sedang sibuk
berselca ria saat seorang namja tampan dengan tubuh tegap dan kekar berdiri di
samping tempat Myungsoo duduk. Namja asing, aku tidak pernah melihatnya
sebelumnya. Apa dia kekasih Taeyeon? Tapi kurasa dia bukan tipe lelaki idaman
Taeyeon.
“Jio oppa”, Taeyeon seketika
melebarkan matanya melihat namja itu. Oke, dia kekasih Taeyeon.
“Jio hyung datang bersamaku tadi”,
Sungyeol langsung menyahut tanpa dosa sambil memperhatikan layar iphone nya.
Kurasa itu adalah jawaban dari pertanyaan yang belum sempat diucapkan Taeyeon.
“ah, jadi begitu”, Taeyeon
menganggukkan kepalanya mengerti dan langsung menatap kearahku yang –mungkin,
terlihat seperti orang bodoh karena tidak tahu apa yang terjadi disini.
“oh iya hampir lupa.. kenalkan ini Kim
Sunggyu”, Taeyeon menarik lenganku perlahan dan membuatku berdiri tepat
dihadapan namja bernama Jio itu. Well, dia memang tampan atau mungkin sangat
tampan. Tipe lelaki sejati atau yang mungkin kebanyakan orang bilang macho, dan
entahlah dia sangat maskulin.
“jadi ini.. manis”, ujar namja itu
pelan. Masih katanya?? “aku Jung Byunghee, tapi orang-orang lebih sering
memanggilku Jio”, namja itu tersenyum kearahku dan mengulurkan tangannya.
Perlahan kujabat tangannya dan
tesenyum “Sunggyu, senang berkenalan denganmu Jio ssi”, bibirku dengan perlahan
membalas senyuman tulus namja itu juga dengan senyum tulus yang memang ingin
kuberikan pada namja yang sudah memberiku kesan pertama yang baik. Well, kurasa
aku tidak akan keberatan memiliki saudara ipar sepertinya.
“Jio oppa adalah oppa sahabatku
Jessica”, Taeyeon berujar senang sembil memeluk lenganku. Aku hanya tersenyum
sambil mengangguk perlahan.
“dia yang nanti akan menjadi calon
suami mu hyung”, ucapan polos Key dari belakang sana seketika membawa sebuah
pisau yang juga meluncur bersamaan dengan ucapannya untuk menusuk hatiku dari
belakang. Calon..suamiku?
“ne. Bagaimana? Dia tampan kan?”,
Taeyeon tersenyum senang dan mengguncang tubuhku perlahan. Tubuhku terus saja
membeku dan menatap kosong kearah namja tampan itu.
“ya sunggyu ah”, Taeyeon menepuk
pundakku keras dan bersamaan dengan itu, kakiku kembali berpijak ke bumi. Tanpa
berfikir panjang otakku mulai memerintahkan kakiku untuk segera pergi dari
tempat itu. Aku mulai mengayunkan kakiku dengan cepat dan meninggalkan tempat
itu. Baru beberapa langkah aku keluar dari ruangan itu, namja itu. Nam Woohyun
sudah berdiri di depanku dan menatapku bingung.
“hyung, kau kenapa? Kau mau kemana?”,
ujarnya lembut.
Oh baiklah, bukankah ini adalah momen
yang sangat bahagia? Perlahan hatiku bergetar dan air mata mulai menetes
menuruni pelupuk mataku. Aku segera berlari meninggalkan tempat menyakitkan ini
dan menuju basement secepat yang ku bisa.
Aku sedang duduk di jendela di ruang
kerjaku sambil menyesap kopiku dengan perlahan. Pernikahan Key seminggu lagi
dan itu artinya aku tidak mempunyai kesempatan untuk setidaknya berharap
memiliki Woohyun.
Jadi seperti ini akhirnya, semua
penantianku selama 12 tahun ini adalah sia-sia. Semua perasaan yang kuserahkan
padanya semata-mata hanyalah sampah yang dapat dibuang dengan mudah olehnya.
Jujur, aku belum siap dengan semua
ini. Ditambah lagi dengan hadirnya namja tampan yang tanpa kuketahui memiliki
status sebagai calon suamiku.
Keegoisan, benar kan apa kataku.
Aku lahir dan dibesarkan dengan sebuah
keegoisan orang-orang disekitarku. Aku menjalani hidupku dengan keegoisan yang
dimiliki orang-orang disekitarku terhadapku. Tidakkah sekali saja dalam hidupku
aku bisa bahagia dengan pilihanku sendiri?
Bagaimanapun aku juga hanyalah seorang
manusia seperti mereka semua dengan keegoisan yang mengalir bersama darahku dan
berdegub kencang bersama jantungku.
Aku sakit, aku sakit karena terlalu
lama memendam semua sifat dasarku demi kebahagiaan orang-orang disekitarku.
Apakah aku salah? Apakah aku seorang namja yang lemah hingga semua orang di
dunia ini dengan mudah menindasku begitu saja?
Entahlah, tapi aku yakin aku hanyalah
salah satu dari banyak ‘mangsa’ di dunia ini.
“kau memikirkan apa manis?”, aku
menghembuskan nafas perlahan mendengar suara itu. Suara calon suamiku.
Bagaimanapun dia juga tidak bisa disebut namja yang tidak baik, dia adalah
namja yang sangat baik. Dia dapat membuatku dengan nyaman berada di sekitarnya,
dia membuatku bercerita banyak tentang masa laluku padanya. Dan dia membuatku
hangat dengan pelukannya.
Tapi, aku belum bisa menyebut ini
cinta. Aku hanya merasa nyaman berada di sampingnya, dan aku berharap jika saja
takdirku bisa berubah, dia adalah kakakku.
“sunggyu hyung tidak bisakah
kau..menerima permintaan maafku”, suara lelaku lain tiba-tiba memenuhi ruangan
ini. Tanpa menolehpun aku tau kalau dia adalah Woohyun.
Akhir-akhir ini Woohyun terus saja
menghubungiku dan meminta maaf kepadaku. Aku heran, kenapa dia bisa tiba-tiba
menjadi seperti itu padaku? Kukira dia sudah tidak peduli padaku?
“woohyun? Sedang apa kau disini?”,
Woohyun seketika tercekat begitu melihat ada Jio hyung di sampingku. Well, aku
tidak bisa membaca pikirannya tapi ekspresinya tidak terlihat baik.
“ah, aku hanya ingin menyampaikan
pesan dari Key untuk Sunggyu hyung karena dari tadi pagi Sunggyu Hyunng tidak
satupun membalas pesan Key”, Mata teduh Woohyun menatapku tajam dan menusuk
manik mataku yang bersembunyi dibalik mata kecilku. Aku hanya tersenyum sinis
dan membalikkan badanku menatap jendela.
“gyu ah, kenapa kau tidak membalas
pesan Key?”, Kali ini Jio hyung menatapku dengan tatapan bertanya. Lagi senyum
sinis terukir di bibirku. “aku sedang sibuk dan pesan Key tidak penting”,
ujarku singkat dan kembali menyesap kopiku.
“Key menunggu balasan Hyung setiap
detiknya dan dia merasa seperti akan mati!”, perlahan suara Woohyun meninggi
dan dapat kurasakan mata Woohyun menatap tajam kearahku.
Jio Hyung sepertinya menyadari suasana
tidak enak yang tergambar jelas diantara kami berdua, tangan besarnya perlahan
menepuk pundakku pelan. “aku ke toilet sebentar ne”, sebuah ciuman lembut
mendarat di kepalaku sebelum Jio hyung berlalu meninggalkan ruangan.
“hyung, maafkan aku”, Woohyun kembali
mengeluarkan suaranya yang kali ini lebih melembut.
“minta maaf? Untuk apa? Apakah kau
memiliki salah terhadapku?”, aku berbicara dengan pelan dan menahan suaraku yang
bergetar agar Woohyun tidak menyadarinya.
Tubuhku enggan berbalik menatap wajah
tampan itu demi menahan cairan bening yang mungkin akan menetes mengaliri
pipiku jika melihat wajah tampan Woohyun dengan mataku.
“hyung jangan seperti ini? Tidak
bisakah setidaknya aku menjalin hubungan baik denganmu sebagai kakak dan adik
ipar? Hyung, aku sangat mencintai Key. Aku hanya tidak ingin ada satu orang pun
yang merasa tersakiti karena pernikahan ini. Aku ingin hidup bahagia dengan Key
tanpa memiliki rasa bersalah terhadapmu”,
Perkataan itu membuat duniaku
berhenti.
Jadi, semua itu hanya karena kau ingin
bahagia dengan Key?
Semudah itukah kau melupakanku?
Setetes air mata berhasil lolos
menuruni mataku. Sakit, ketika aku mengetahui kau akan menikah dengan adikku
sendiri, dan semakin sakit ketika mengetahui bahwa aku tidak pernah berharga
bagimu Nam Woohyun.
Perlahan kuusap air mata itu dan
menahan buliran-buliran yang akan menetes selanjutnya. Aku berdiri dan
membalikkan badanku menatap Woohyun yang masih setia menatapku. Senyum simpul
terukir di bibirku.
“kau tidak perlu merasa bersalah
terhadapku Woohyun ssi, kita tidak penah mengenal sebelum ini kan?”, ujarku
pelan dan menatap tajam mata Woohyun dengan senyuman sinis yang terukir di bibir
ku.
“ah dan satu lagi, lebih baik kau
menjaga adikku dengan baik atau aku akan membunuhmu”, ujarku lagi. Woohyun
tersenyum dan mengangguk pelan.
“aku sangat mencintai Key dan aku akan
menjaganya dengan baik Hyung. Masa lalu kita dulu, aku sudah menghapusnya
bahkan sebelum kita bertemu lagi. Jadi kau tidak perlu khawatir hyung”, Woohyun
tersenyum tanpa dosa dan terus menatapku.
Lagi hatiku bergetar mendengar
kalimatnya. Dia, lebih jahat dari yang pernah kukira selama ini.
“tenang saja Woohyun ssi, dan
sebaiknya sekarang kau pergi karena aku akan makan siang dengan calon suamiku”,
lagi, kubalikkan badanku dan membiarkan air mata lolos dari pipiku.
“terimakasih hyung, dan cincin kita,
aku ingin mengembalikannya. Agar aku tidak teringat lagi padamu. Aku hanya
mencintai Key sekarang”, ujarnya lagi.
“taruh di mejaku dan segera pergi dari
ruanganku!”, aku membentak nya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku
membentak namja yang sangat kucintai dengan sepenuh hatiku.
“ah, n..ne hyung”, kurasakan Woohyun
meletakkan sesuatu di mejaku dan selanjutnya aku mendengar pintu di buka lalu
ditutup lagi.
Aku berbalik dan mendapati sebuah
kotak merah yang aku yakin berisi cincin itu tergeletak di mejaku.
Perlahan kuambil cincin itu, mataku
seolah tidak mau terlepas dari benda merah itu bersamaan dengan kenangan masa
laluku dengan Woohyun yang terus berkelebat di otakku.
Kupejamkan mataku dengan erat dan
PRANGGGG!!
Aku terduduk di lantai dengan air mata
yang masih menetes menuruni mataku bersamaan dengan bunyi pecahan kaca akuarium
besar yang menempel di tembok ruangan kerjaku.
Air yang ada di akuarium itu mulai
membasahi tubuhku beserta seluruh bagian di ruangan kerjaku dan ikan-ikan yang
ada di dalamnya berserakan di sekitarku.
Aku terbatuk-batuk perlahan karena air
yang keluar dari akuarium itu. Well, ruang kerjaku terlihat seperti kolam
renang sekarang.
Gila memang jika aku memecahkan
akuarium raksasa itu hanya karena masa laluku yang bahkan tidak pernah
memikirkan perasaanku.
Gila memang jika aku melemparkan
iphone mahalku kearah akuarium itu hanya karena masa laluku yang telah
membuatku seperti ini.
Tapi memang itulah nyatanya.
Aku gila karenamu Nam Woohyun.
Tidak puaskah kau melihatku sakit
hanya dengan menerima fakta bahwa kau adalah calon suami adikku?
Tidak puaskah kau melihatku tersiksa
karena melihatmu yang dengan mudah melupakanku?
Kenapa?
Kenapa kau malah menambahkan luka di
hatiku dengan melakukan semua ini kepadaku?
“SUNGGYU YA”, suara teriakan Jio hyung
membuatku terkesiap dan mendongak untuk melihat namja yang sudah sangat baik
padaku itu.
Aku tersenyum simpul sebelum
membiarkan tubuhku ambruk di lantai dan merasakan sakit hati yang dengan
perlahan membunuhku ini.
“akuariumnya pecah! Sunggyu terluka!
Cepat panggil ambulan!”, suara orang-orang panik yang berada di sekitarku terus
memenuhi pendengaranku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melangkah kedalam
kegelapan.
“Sunggyu ya ireona”,
suara lembut eommaku perlahan menarikku
kembali ke dunia nyata.
Kubuka mataku perlahan dan mengerjap
berkali-kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba tertangkap
oleh mataku.
“eomma”, ujarku pelan.
Raut khawatir seketika sirna dan eomma
langsung menggenggam tanganku dengan erat.
“ya! Kau gila eoh! Bagaimana kau bisa
memecahkan akuarium raksasa itu?? Apa kau ingi mati? YA kim sunggyu jawab
eomma”, eomma ku terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaannya dan aku
hanya tersenyum simpul.
“aku hanya penasaran bagaimana jadinya
jika akuarium itu pecah dan aku tidak tau akan terjadi tsunami kecil di ruangan
ku karena akuarium besar itu”, ujarku pelan.
“aish anak ini!”, perlahan jitakan
surga eomma ku mengenai kepalaku.
“kau jangan pernah melakukan itu lagi
Kim Sunggyu, untung saja kau tidak terluka”, eommaku memelukku hangat dan aku
balas memeluknya dengan erat.
Entah kenapa aku merasa lebih baik,
seolah hal nekat yang kulakukan tadi menyadarkanku untuk segera bangkit dan
melupakan Woohyun.
Aku tersenyum di dalam pelukan eomma
ku dan kurasakan tangan hangat menggenggam tanganku erat.
Kulihat Jio hyung berdiri di belakang
eomma ku dan tersenyum lalu mencium tanganku dengan lembut.
Benar, aku hanya harus melupakan
Woohyun dan berusaha mencintai namja baik yang ada dihadapanku ini kan?
TBC
Keegoisan part 2 J sebenernya mau end
disini tapi kepanjangan u,u semoga ga bosen ya bacanya. Maaf kalau banyak typo
bertebaran J hehe enjoy reading. Next part? Comment ya J kalau ff ini reaksinya
ga bagus, terpaksa ga aku lanjut T_T mianhaee.. hehe thanks buat yang udah mau
baca saya pergi dlu babayy *ngilang*
No comments:
Post a Comment