Sunday, December 11, 2016

Review – I’egoisme (Chapter 2)


l'égoïsme (keegoisan) | Part 2/3 | Ashley Hwang

l'égoïsme (keegoisan) 2/3

Cast:

- Kim Sunggyu

- Nam Woohyun

- Kim Ki Bum (Key)

- Jung Byunghee (G.O)

Rate: PG-15

Summary : Cinta butuh keegoisan.. Ani, cinta adalah hal paling tulus di dunia.. dan Keegoisan tidak seharusnya ikut camput di dalamnya.

Chap 1:



Kim Sunggyu’s POV


“hyung, apakah ini bagus?”

Senyum simpul terkembang di bibirku ketika mendengar suara adikku. Perlahan aku mendongak dan mendapati Key sedang tersenyum senang sambil melihat bayangan dirinya di cermin besar yang ada di butik gaun ini.

Benar, meskipun Key adalah namja, Key harus tetap memakai gaun karena bagaimanapun Key ada di posisi ‘wanita’ dalam pernikahan ini. Aku hanya mengangguk pelan dan kembali memfokuskan diriku pada iphone 5 ku yang lebih menarik perhatianku dibandingkan semua urusan pernikahan Key dengan –sialnya, mantan kekasihku Nam Woohyun.

Well, sebagai seorang kakak yang baik aku seharusnya bahagia bukan? Siapa bilang aku tidak bahagia? Aku sangat bahagia Key akhirnya bisa menikah, tapi bukan dengan Woohyun. Bukan dengan namja yang sudah aku tunggu selama 12 tahun belakangan ini.

“belle (cantik)”, suara cempreng seseorang membuatku menoleh dengan perlahan. “kau”, desisku pelan sambil kembali menatap Key yang masih sibuk dengan gaunnya. “mal (jahat)”, yeoja disampingku itu perlahan menggembungkan pipinya dan mengikuti arah pandanganku. “was that hurt? betrayed by your lover?”, suara itu kembali mengusikku.

Oh baiklah aku lupa jika gadis ini memang tidak bisa diam. “Kim Taeyeon ssi, if you came home just to make fun of me, you better not.”, kupalingkan wajahku menghadapnya dan menatap Taeyeon tajam. 

“oh come on dude, we are twins. Its really a bullshit if i can’t understand your heart as well as i understand mine.”, Taeyeon menatapku tajam dengan manik mata yang –sayangnya sangat mirip dengan manik mataku. Satu lagi kenyataan pahit yang kumiliki. Aku memiliki seorang kembaran yang –sialnya seorang wanita.

Selama ini Taeyeon menetap di America karena pekerjaannya sebagai model yang mengharuskannya menetap disana dan juga melanjutkan kuliahnya disana. Jujur saja, aku menyembunyikan fakta ini dari kalian karena aku malu mengakuinya.

“if you understand, then you better shut that mouth and pretend that you didn’t know anything”, ujarku pelan. Memang aku kembar dengannya. Tapi aku bisa dibilang keras pada Taeyeon. Bukan karena aku membencinya. Hanya saja aku merasa aneh jika harus terlalu bermanja-manja dengan kembaranku yang cerewet ini.

“okay then”, Taeyeon mengendikkan bahunya dengan pelan dan berjalan menghampiri Key. Memang, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa berbohong pada Taeyeon. Dia mengerti aku, terlalu mengerti bahkan. Hanya dengan menatap kedalam manik mataku dia bisa mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Munafik memang jika aku mengatakan aku tidak membutuhkan Taeyeon karena bagaimanapun dia adalah kembaranku. Seseorang yang ditakdirkan menjadi temanku, lebih dari belahan jiwaku itu sendiri.

Kuhembuskan nafasku perlahan dan memperhatikan acara pelukan Taeyeon dan Key, well bagaimanapun Key adalah adikku. Adikku secara biologis maupun secara hati. Aku menyayangi Key begitu juga aku mencintai Woohyun.

Benar, cinta yang tulus adalah saat dimana kita membuang semua sifat dasar kita sebagai manusia. Dalam hal ini, aku harus membuang jauh-jauh keegoisanku atas hasrat untuk memiki Woohyun selamanya. Meskipun Woohyun bukan milikku, setidaknya hatiku masih dapat merasakan kehadirannya disekitarku, masih dapat mencintainya sebagai kakak ipar, sebatas kakak ipar yang harus dihormatinya.

Mungkin, mediaku untuk menyalurkan cinta kepadanya memang terbatas. Tapi keinginanku untuk terus mencintainya tidak akan pernah terbatas.

Aku adalah namja berusia 25 tahun yang memiliki prinsip yang harus kupegang kuat dalam hatiku, aku pasti bisa mempertahankan prinsipku itu. Apapun yang terjadi nantinya padaku.

Perlahan kupejamkan mataku dan menghembuskan nafas berat yang sedari tadi tercekat di saluran pernafasanku. Berat memang bahkan sangat berat dan terlalu berat untuk bernafas disaat seperti ini. Luka mengagah yang ada dihatiku ini bahkan terlalu sakit dan terlalu berat untuk dirasakan.

“hyung gwaechana?”, perlahan sebuah tepukan ringan di pundakku membangunkanku dari duniaku yang sedari tadi terus berkelebat di otakku. Kutolehkan wajahku perlahan dan mendapati Myungsoo sedang duduk di sampingku bersama Sungyeol kekasihnya.

Namja tinggi itu sudah terlebih dahulu berlari kearah Taeyeon dan memberondong Taeyeon dengan banyak pertanyaan. Aku bahkan hampir lupa bahwa Sungyeol adalah salah satu penggemar berat Taeyeon. Kepalaku refleks hanya menggeleng perlahan melihat kehebohan namja tinggi itu dan tersenyum kearah Myungsoo.

“hyung, kau kenapa? Apa kau tidak enak badan?”, Myungsoo menaikkan satu alisnya perlahan dan lagi menepuk pundakku. Bibir ku tertarik pelan dan membentuk senyuman simpul bersamaan dengan gelengan yang dilakukan kepalaku.

“aku tidak apa”, ujarku pelan. Myungsoo hanya mengangguk mengerti dan mulai memperhatikan kehebohan yang ada di hadapannya sambil menghela nafas berat. “orang-orang ini ramai sekali”. Tawa pelan keluar dari mulutku mendengar pernyataan Myungsoo barusan. Memang benar, mereka bertiga sangat heboh seperti seluruh gedung ini akan runtuh karena kehebohan mereka.

Sungyeol,Taeyeon dan Key sedang sibuk berselca ria saat seorang namja tampan dengan tubuh tegap dan kekar berdiri di samping tempat Myungsoo duduk. Namja asing, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Apa dia kekasih Taeyeon? Tapi kurasa dia bukan tipe lelaki idaman Taeyeon.

“Jio oppa”, Taeyeon seketika melebarkan matanya melihat namja itu. Oke, dia kekasih Taeyeon.

“Jio hyung datang bersamaku tadi”, Sungyeol langsung menyahut tanpa dosa sambil memperhatikan layar iphone nya. Kurasa itu adalah jawaban dari pertanyaan yang belum sempat diucapkan Taeyeon.

“ah, jadi begitu”, Taeyeon menganggukkan kepalanya mengerti dan langsung menatap kearahku yang –mungkin, terlihat seperti orang bodoh karena tidak tahu apa yang terjadi disini.

“oh iya hampir lupa.. kenalkan ini Kim Sunggyu”, Taeyeon menarik lenganku perlahan dan membuatku berdiri tepat dihadapan namja bernama Jio itu. Well, dia memang tampan atau mungkin sangat tampan. Tipe lelaki sejati atau yang mungkin kebanyakan orang bilang macho, dan entahlah dia sangat maskulin.

“jadi ini.. manis”, ujar namja itu pelan. Masih katanya?? “aku Jung Byunghee, tapi orang-orang lebih sering memanggilku Jio”, namja itu tersenyum kearahku dan mengulurkan tangannya.

Perlahan kujabat tangannya dan tesenyum “Sunggyu, senang berkenalan denganmu Jio ssi”, bibirku dengan perlahan membalas senyuman tulus namja itu juga dengan senyum tulus yang memang ingin kuberikan pada namja yang sudah memberiku kesan pertama yang baik. Well, kurasa aku tidak akan keberatan memiliki saudara ipar sepertinya.

“Jio oppa adalah oppa sahabatku Jessica”, Taeyeon berujar senang sembil memeluk lenganku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk perlahan.

“dia yang nanti akan menjadi calon suami mu hyung”, ucapan polos Key dari belakang sana seketika membawa sebuah pisau yang juga meluncur bersamaan dengan ucapannya untuk menusuk hatiku dari belakang. Calon..suamiku?

“ne. Bagaimana? Dia tampan kan?”, Taeyeon tersenyum senang dan mengguncang tubuhku perlahan. Tubuhku terus saja membeku dan menatap kosong kearah namja tampan itu.

“ya sunggyu ah”, Taeyeon menepuk pundakku keras dan bersamaan dengan itu, kakiku kembali berpijak ke bumi. Tanpa berfikir panjang otakku mulai memerintahkan kakiku untuk segera pergi dari tempat itu. Aku mulai mengayunkan kakiku dengan cepat dan meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah aku keluar dari ruangan itu, namja itu. Nam Woohyun sudah berdiri di depanku dan menatapku bingung.

“hyung, kau kenapa? Kau mau kemana?”, ujarnya lembut.

Oh baiklah, bukankah ini adalah momen yang sangat bahagia? Perlahan hatiku bergetar dan air mata mulai menetes menuruni pelupuk mataku. Aku segera berlari meninggalkan tempat menyakitkan ini dan menuju basement secepat yang ku bisa.


Aku sedang duduk di jendela di ruang kerjaku sambil menyesap kopiku dengan perlahan. Pernikahan Key seminggu lagi dan itu artinya aku tidak mempunyai kesempatan untuk setidaknya berharap memiliki Woohyun.

Jadi seperti ini akhirnya, semua penantianku selama 12 tahun ini adalah sia-sia. Semua perasaan yang kuserahkan padanya semata-mata hanyalah sampah yang dapat dibuang dengan mudah olehnya.

Jujur, aku belum siap dengan semua ini. Ditambah lagi dengan hadirnya namja tampan yang tanpa kuketahui memiliki status sebagai calon suamiku.

Keegoisan, benar kan apa kataku.

Aku lahir dan dibesarkan dengan sebuah keegoisan orang-orang disekitarku. Aku menjalani hidupku dengan keegoisan yang dimiliki orang-orang disekitarku terhadapku. Tidakkah sekali saja dalam hidupku aku bisa bahagia dengan pilihanku sendiri?

Bagaimanapun aku juga hanyalah seorang manusia seperti mereka semua dengan keegoisan yang mengalir bersama darahku dan berdegub kencang bersama jantungku.

Aku sakit, aku sakit karena terlalu lama memendam semua sifat dasarku demi kebahagiaan orang-orang disekitarku. Apakah aku salah? Apakah aku seorang namja yang lemah hingga semua orang di dunia ini dengan mudah menindasku begitu saja?

Entahlah, tapi aku yakin aku hanyalah salah satu dari banyak ‘mangsa’ di dunia ini.

“kau memikirkan apa manis?”, aku menghembuskan nafas perlahan mendengar suara itu. Suara calon suamiku. Bagaimanapun dia juga tidak bisa disebut namja yang tidak baik, dia adalah namja yang sangat baik. Dia dapat membuatku dengan nyaman berada di sekitarnya, dia membuatku bercerita banyak tentang masa laluku padanya. Dan dia membuatku hangat dengan pelukannya.

Tapi, aku belum bisa menyebut ini cinta. Aku hanya merasa nyaman berada di sampingnya, dan aku berharap jika saja takdirku bisa berubah, dia adalah kakakku.

“sunggyu hyung tidak bisakah kau..menerima permintaan maafku”, suara lelaku lain tiba-tiba memenuhi ruangan ini. Tanpa menolehpun aku tau kalau dia adalah Woohyun.

Akhir-akhir ini Woohyun terus saja menghubungiku dan meminta maaf kepadaku. Aku heran, kenapa dia bisa tiba-tiba menjadi seperti itu padaku? Kukira dia sudah tidak peduli padaku?

“woohyun? Sedang apa kau disini?”, Woohyun seketika tercekat begitu melihat ada Jio hyung di sampingku. Well, aku tidak bisa membaca pikirannya tapi ekspresinya tidak terlihat baik.

“ah, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Key untuk Sunggyu hyung karena dari tadi pagi Sunggyu Hyunng tidak satupun membalas pesan Key”, Mata teduh Woohyun menatapku tajam dan menusuk manik mataku yang bersembunyi dibalik mata kecilku. Aku hanya tersenyum sinis dan membalikkan badanku menatap jendela.

“gyu ah, kenapa kau tidak membalas pesan Key?”, Kali ini Jio hyung menatapku dengan tatapan bertanya. Lagi senyum sinis terukir di bibirku. “aku sedang sibuk dan pesan Key tidak penting”, ujarku singkat dan kembali menyesap kopiku.

“Key menunggu balasan Hyung setiap detiknya dan dia merasa seperti akan mati!”, perlahan suara Woohyun meninggi dan dapat kurasakan mata Woohyun menatap tajam kearahku.

Jio Hyung sepertinya menyadari suasana tidak enak yang tergambar jelas diantara kami berdua, tangan besarnya perlahan menepuk pundakku pelan. “aku ke toilet sebentar ne”, sebuah ciuman lembut mendarat di kepalaku sebelum Jio hyung berlalu meninggalkan ruangan.

“hyung, maafkan aku”, Woohyun kembali mengeluarkan suaranya yang kali ini lebih melembut.

“minta maaf? Untuk apa? Apakah kau memiliki salah terhadapku?”, aku berbicara dengan pelan dan menahan suaraku yang bergetar agar Woohyun tidak menyadarinya.

Tubuhku enggan berbalik menatap wajah tampan itu demi menahan cairan bening yang mungkin akan menetes mengaliri pipiku jika melihat wajah tampan Woohyun dengan mataku.

“hyung jangan seperti ini? Tidak bisakah setidaknya aku menjalin hubungan baik denganmu sebagai kakak dan adik ipar? Hyung, aku sangat mencintai Key. Aku hanya tidak ingin ada satu orang pun yang merasa tersakiti karena pernikahan ini. Aku ingin hidup bahagia dengan Key tanpa memiliki rasa bersalah terhadapmu”,

Perkataan itu membuat duniaku berhenti.

Jadi, semua itu hanya karena kau ingin bahagia dengan Key?

Semudah itukah kau melupakanku?

Setetes air mata berhasil lolos menuruni mataku. Sakit, ketika aku mengetahui kau akan menikah dengan adikku sendiri, dan semakin sakit ketika mengetahui bahwa aku tidak pernah berharga bagimu Nam Woohyun.

Perlahan kuusap air mata itu dan menahan buliran-buliran yang akan menetes selanjutnya. Aku berdiri dan membalikkan badanku menatap Woohyun yang masih setia menatapku. Senyum simpul terukir di bibirku.

“kau tidak perlu merasa bersalah terhadapku Woohyun ssi, kita tidak penah mengenal sebelum ini kan?”, ujarku pelan dan menatap tajam mata Woohyun dengan senyuman sinis yang terukir di bibir ku.

“ah dan satu lagi, lebih baik kau menjaga adikku dengan baik atau aku akan membunuhmu”, ujarku lagi. Woohyun tersenyum dan mengangguk pelan.

“aku sangat mencintai Key dan aku akan menjaganya dengan baik Hyung. Masa lalu kita dulu, aku sudah menghapusnya bahkan sebelum kita bertemu lagi. Jadi kau tidak perlu khawatir hyung”, Woohyun tersenyum tanpa dosa dan terus menatapku.

Lagi hatiku bergetar mendengar kalimatnya. Dia, lebih jahat dari yang pernah kukira selama ini.

“tenang saja Woohyun ssi, dan sebaiknya sekarang kau pergi karena aku akan makan siang dengan calon suamiku”, lagi, kubalikkan badanku dan membiarkan air mata lolos dari pipiku.

“terimakasih hyung, dan cincin kita, aku ingin mengembalikannya. Agar aku tidak teringat lagi padamu. Aku hanya mencintai Key sekarang”, ujarnya lagi.

“taruh di mejaku dan segera pergi dari ruanganku!”, aku membentak nya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku membentak namja yang sangat kucintai dengan sepenuh hatiku. 

“ah, n..ne hyung”, kurasakan Woohyun meletakkan sesuatu di mejaku dan selanjutnya aku mendengar pintu di buka lalu ditutup lagi.

Aku berbalik dan mendapati sebuah kotak merah yang aku yakin berisi cincin itu tergeletak di mejaku.

Perlahan kuambil cincin itu, mataku seolah tidak mau terlepas dari benda merah itu bersamaan dengan kenangan masa laluku dengan Woohyun yang terus berkelebat di otakku.

Kupejamkan mataku dengan erat dan

PRANGGGG!!

Aku terduduk di lantai dengan air mata yang masih menetes menuruni mataku bersamaan dengan bunyi pecahan kaca akuarium besar yang menempel di tembok ruangan kerjaku.

Air yang ada di akuarium itu mulai membasahi tubuhku beserta seluruh bagian di ruangan kerjaku dan ikan-ikan yang ada di dalamnya berserakan di sekitarku.

Aku terbatuk-batuk perlahan karena air yang keluar dari akuarium itu. Well, ruang kerjaku terlihat seperti kolam renang sekarang.

Gila memang jika aku memecahkan akuarium raksasa itu hanya karena masa laluku yang bahkan tidak pernah memikirkan perasaanku.

Gila memang jika aku melemparkan iphone mahalku kearah akuarium itu hanya karena masa laluku yang telah membuatku seperti ini.

Tapi memang itulah nyatanya.

Aku gila karenamu Nam Woohyun.

Tidak puaskah kau melihatku sakit hanya dengan menerima fakta bahwa kau adalah calon suami adikku?

Tidak puaskah kau melihatku tersiksa karena melihatmu yang dengan mudah melupakanku?

Kenapa?

Kenapa kau malah menambahkan luka di hatiku dengan melakukan semua ini kepadaku?

“SUNGGYU YA”, suara teriakan Jio hyung membuatku terkesiap dan mendongak untuk melihat namja yang sudah sangat baik padaku itu.

Aku tersenyum simpul sebelum membiarkan tubuhku ambruk di lantai dan merasakan sakit hati yang dengan perlahan membunuhku ini.

“akuariumnya pecah! Sunggyu terluka! Cepat panggil ambulan!”, suara orang-orang panik yang berada di sekitarku terus memenuhi pendengaranku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melangkah kedalam kegelapan.


“Sunggyu ya ireona”,

suara lembut eommaku perlahan menarikku kembali ke dunia nyata.

Kubuka mataku perlahan dan mengerjap berkali-kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba tertangkap oleh mataku.

“eomma”, ujarku pelan.

Raut khawatir seketika sirna dan eomma langsung menggenggam tanganku dengan erat.

“ya! Kau gila eoh! Bagaimana kau bisa memecahkan akuarium raksasa itu?? Apa kau ingi mati? YA kim sunggyu jawab eomma”, eomma ku terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaannya dan aku hanya tersenyum simpul.

“aku hanya penasaran bagaimana jadinya jika akuarium itu pecah dan aku tidak tau akan terjadi tsunami kecil di ruangan ku karena akuarium besar itu”, ujarku pelan.

“aish anak ini!”, perlahan jitakan surga eomma ku mengenai kepalaku.

“kau jangan pernah melakukan itu lagi Kim Sunggyu, untung saja kau tidak terluka”, eommaku memelukku hangat dan aku balas memeluknya dengan erat.

Entah kenapa aku merasa lebih baik, seolah hal nekat yang kulakukan tadi menyadarkanku untuk segera bangkit dan melupakan Woohyun.

Aku tersenyum di dalam pelukan eomma ku dan kurasakan tangan hangat menggenggam tanganku erat.

Kulihat Jio hyung berdiri di belakang eomma ku dan tersenyum lalu mencium tanganku dengan lembut.

Benar, aku hanya harus melupakan Woohyun dan berusaha mencintai namja baik yang ada dihadapanku ini kan?


TBC

Keegoisan part 2 J sebenernya mau end disini tapi kepanjangan u,u semoga ga bosen ya bacanya. Maaf kalau banyak typo bertebaran J hehe enjoy reading. Next part? Comment ya J kalau ff ini reaksinya ga bagus, terpaksa ga aku lanjut T_T mianhaee.. hehe thanks buat yang udah mau baca  saya pergi dlu babayy *ngilang*


No comments: