Saturday, December 10, 2016

Review - Intimidation (Chapter 6)

Intimidation Part 6

Cast : 
1. Kim Sunggyu
2. Nam Woohyun
3. Jinsol
4. Cho Kyuhyun
5. Other Infinite member
Genre : School life, drama, angst. 
Rated : 17+
Annyeong~ Apa ada yang masih terjaga... kekeke. Ini aku bawakan ff yang telah kalian tunggu (Kata siapa ditunggu?)
Baiklah, ditunggu tak ditunggu. Happy reading!!
“Jangan lupa, seminggu lagi kita akan mengikuti ujian nasional. Banyak usaha dan berdo’a semoga kalian berhasil”, pesan terakhir Guru. 
“Hyun, ayo kita main sepak bola!”, ajak Dongwoo dengan suara lantang. Sunggyu yang mendengarnya langsung melihat ke arah mereka. Dia khawatir. Melihat tadi Woohyun tampak sedikit demam.
Woohyun mengangguk dan tersenyum. 
“Assa!!”, Dongwoo merangkul Woohyun dan mereka menuju lapangan sekolah bersama beberapa teman yang lain. 
Sunggyu ingin menghentikannya, tapi mereka keduluan menghilang dari pintu kelas.
“Kau tampak aneh, Gyu”
“Aaah... Myungsoo, kau tidak ikut sepak bolla?”, tanya Sunggyu. 
“Iyaaa... kau juga mau ikut?”, tanya Myungsoo. 
“B-baiklah, aku ikut”, ujar Sunggyu sedikit ragu. 
“Benarkah? Sunggyu ikut?? Yeeeaaaayy~~”, Hoya tampak semangat. Ia segera merangkul Sunggyu dan mengajaknya bermain.
#‎INTIMIDATION#
Sunggyu tidak bermain dengan baik, dia hanya berlari mengejar bola. Tapi satupun bola tidak pernah ada ia sentuh. 
DUAK!
Sunggyu merasakan rasa ‘nyut-nyut’an di area wajahnya
“YAK! SIALAN!!”
“Hahahahahahha~”, Seluruh siswa disana menertawakannya. Sunggyu kesal. Ia berhenti main. Dan menuju pinggir lapangan. Meneguk minumannya dan mengabaikan teman-temannya.
“Sunggyu, ayo bermain lagi”
Sunggu menatap tajam orang yang menyapanya. Ia ingin menendang bokong pemuda itu, setelah apa yang ia lakukan barusan sekarang ia hanya tertawa tanpa merasa bersalah.
“Ayolah gyu... kenapa kau sensitif sekali?”
“Ck! Kau menyebalkan!”, Sunggyu memukul lengan Woohyun, tak begitu keras bagi badan laki-laki yang kuat seperti Woohyun. Tapi lihat ekspresinya, itu sangat menyebalkan. 
“Aduh! Sakit Gyu... Awww~”
Sunggyu tertawa, kenapa ada orang bodoh seperti dia.
“Hei, kalian tak ikut bermain lagi?”, tanya Dongwoo. 
“Biarkan mereka, namanya juga kasmaran”, sindir Myungsoo jahil. 
“Cieeeeee~”
Baiklah, sekarang mereka tampak lebih sering menggoda dua insan di pinggir lapangan tersebut.
Woohyun dan Sunggyu memilih untuk melihat teman-temannya bermain. Mungkin bagi Sunggyu, ini lebih baik daripada ia berlari mengejar bola tetapi tak pernah dapat. Dan bagi Woohyun, ini jauh dari kata baik baginya, ini pengalaman ‘LANGKA’.
“Kau baik-baik saja?”
“Maksudmu?”
“Kau tadi sedikit demam”, ujar Sunggyu khawatir. 
“Kau pikir aku anak kecil? Mungkin karena pengaruh suhu udara”, ujar Woohyun enteng. 
“Aaaah... begitu”
“Ahahahaha.... Kerja bagus Dongwoo!!”, Woohyun tertawa keras dan menunjuk-nunjuk Dongwoo yang bermain curang, ia menyandung Hoya hingga teman sebangku Sunggyu itu terjatuh dengan tidak baik. Wajahnya tepat mengenai pasir-pasir, Sehingga tampak luka-luka lecet kecil di wajahnya.
“Aaaa~ Wajah tampanku!”, Teriak Hoya histeris sambil memegang wajahnya. 
Suasana cukup hangat disana, mereka menertawai sikap berlebihan Hoya. Sunggyu sangat menikmati wajah merengut Hoya dan hampir menangis.
“Hahahahahaha”
“Gyu?”
“Ya?”
“Aku serius dengan ucapanku waktu itu?”
Sunggyu merasa janggal, pikirannya terpikirkan ke suatu hal yang ia sendiri sebenarnya mengetahuinya. 
“Ucapan yang mana?”, tanya Sunggyu gugup. Meyakinkah bahwa pikiran anehnya yang baru saja terlintas itu salah. 
“Sebelum kau pulang, dan waktu itu aku mengatakan sesuatu padamu”, Woohyun tampak serius. Kali ini ia tak boleh jadi pengecut. 
“Yang mana, hahahaha. Kau tahu aku pelupa”, ujar Sunggyu tertawa.... kaku.
“Aku akan mengatakannya dengan jelas sekarang”
“M-mengatakan apa?”, baiklah... jantung Sunggyu berpacu dengan cepat sekarang. 
“Aku mencin....”
“AYO KITA PULAAANG!!!”, suara Dongwoo menginterupsi.
Drap-drap-drap
Semua siswa remaja penggemar sepakbola tersebut menuju pinggir lapangan. Bersama Sunggyu dan Woohyun. 
“Wajahmu merah, Gyu”, ujar Hoya mendekat. 
“Benarkah? Ahahaha.... mungkin karena hari ini panas sekali”, jelas Sunggyu.
“Hey hyun, kau curang! Karena kau tak ikut bermain , tim kita sulit untuk mencetak gol”, ujar Dongwoo tidak terima. 
“Hahahaha... mian. Aku sedang tidak enak badan”, uajr Woohyun.
“Ck! Alasan!”, ujar Myungsoo mengejek.
Entah mengapa Woohyun selalu tidak bisa menyatakan perasaannya. Tapi seharusnya Sunggyu sudah mengerti bagaimana perasaan Woohyun. Dia sudah cukup dewasa, cukup tahu apa maksud Woohyun mengatakan itu. 
Tapi pikiran bodohnya itu membuatnya mengabaikan pemikiran-pemikiran yang menurutnya aneh.
“A-aku kembali ke kelas. Ada barangku yang ketinggalan”
Dan Sunggyu langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Jangan tanyakan bagaimana Woohyun saat ini, wajahnya tampak sangat murung. 
“Hei bro, kau benar-benar sakit?”
#INTIMIDATION#
Sunggyu berjalan menuju kelasnya. Saat perjalanan ia melihat Jinsol memasuki ruang guru matematika. Sunggyu cukup kenal dengan Jinsol, dia gadis manis jangkung memiliku kulit putih dan rambut hitam lebat. Banyak yang mengagumi gadis sepertinya. Tetapi, apa yang dia lakukan saat seluruh murid sudah pulang?
“Maaf pak, saya mau mengumpulkan tugas saya” ujar gadis itu sambil memberi lembaran tugas miliknya. 
“Kenapa kau terlambat?”
“M-maf pak, saya tidak tahu kalau tugasnya sudah dikumpulkan. Tadi saya sedang tidak enak badan dan istirahat di ruang UKS saat kelas saya mengumpulkan tugas ini”, jelas Jinsol tanpa adanya kebohongan. Dia termasuk anak yang rajin saat disekolah, tetapi ia memiliki kelemahan karena ia tak cukup akrab dengan siswa lainnya. 
“Sebaiknya kau duduk dulu”
Jinsol duduk dengan gelisah. Namun guru tersebut hanya tersenyum penuh arti. 
“Aaaah... bagaimana ya?”, Kyuhyun tampak menggantungkan harapan Jinsol. Ia memandang wajah Jinsol yang penuh kecemasan.
Sreeet~
“Kau tahu, saat kau tersenyum itu sangat manis”
DEG!
Jinsol membeku, saat tangan songsaenimnya menyentuh wajah miliknya.
“Kau tidak usah cemas, aku tak akan menyakitimu”. Ujarnya tersenyum, dan itu cukup membuat Jinsol semakin ketakutan.
“Cekrek!”
Suara kamera terdengar di ruangan ber-AC tersebut. Kyuhyun melihat siapa pelaku tersebut. Namun sang pelaku sudah keluar dahulu. 
“Dasar guru br*sek! Kau tidak kapok melakukan hal keji ini”, ujar Sunggyu marah. 
“Apa yang kau lakukan! Beraninya kamu...”
Sunggyu segera menarik Jinsol dari sana dan kabur meninggalkan ruangan itu. Kyuhyun mengejar mereka. Aksi kejar-kejaran berlangsung selama beberapa menit membuat mereka semua kelelahan. 
“Hhhh.... Sunggyu-ssi, aku lelahhhh....”, Ujar Jinsol ngos-ngosan.
Sunggyu harus menjari jalan keluar, Jinsol sepertinya sudah tidak kuat lagi.
Sunggyu segera menarik Jinsol menuju ruang kelas miliknya. Dan mengajaknya untuk bersembunyi di bawah meja bagian pojok belakang. Nafas mereka tidak teratur, hingga terdengar satu sama lain.
Drap-drap-drap!
Suara langkah kaki mendekati mereka. Sunggyu menempelkan telunjuknya di bibir Jinsol sebagai isyarat untu diam. Jinsol menurut, ia mengangguk dan matanya tampak berair sekarang. Dengan segerap usahanya, ia menelan salivanya berat dan menahan nafas beratnya.
Duak!
Kaki Sunggyu tak sengaja menendang meja di dekat mereka. Membuat Kyuhyun tahu dimana mereka sekarang.
Kyuhyun tersenyum sinis dan memasuki ruang kelas, 
“Kalian pikir aku tak tahu dimana kalian”
Bibir Jinsol bergetar, menahan isakan. Air matanya menetes dengan deras, Ia benar-benar takut sekarang. 
Sunggyu yang tidak tega melihat gadis manis sepertinya menangis, ia segera memeluknya. Sekaligus merendam isakannya agar tidak terdengar.
Suara langkah kaki semakin keras menandakan bahwa sang pemilik kaki semakin dekat dengan mereka. 
Hingga.... 
“Kyuhyun songsaenim!”
.
.
.
“Apa yang bapak lakukan di kelasku?”, tanya orang disana. 
“Tidak, hanya ingin mencari bulpenku yang hilang”. Ujar Kyuhyun dan tertawa renyah. 
“Aaah begitu....”, ujar Woohyun mengangguk. Sunggyu benar-benar harus berterimakasih padanya karena ia telah membantunya dua kali. (Yang pertama waktu ditelpon oleh Woohyun saat Sunggyu belajar dengan kyuhyun).
“Ada apa Woohyun?”
“Aaah.... saya sedang mencari Sunggyu. Apa bapak melihatnya?”, tanya Woohyun. 
“Tadi saya sempat melihat, tetapi tak tahu sekarang dimana”. 
“Aaaah... begitu...”
“Bapak permisi dulu, sepertinya bulpen yang bapak cari tidak ketemu”
Sebenarnya Woohyun merasa janggal dengan tingkah songsaenimnya. Bukankah harga bulpen itu tak begitu mahal? Jika hilang kan beliau bisa membelinya lagi?
Setelah Kyuhyun songsaenim beranjak pergi, Woohyun mencari akal. Akan lebih baik jika mencoba menelpon handphone milik Sunggyu, daripada mencarinya di seluruh sudut sekolah.
Terdengar suara dering handphone itu tak jauh darinya, Woohyun yakin bahwa itu adalah suara handphone milik Sunggyu. 
“Apa handphonenya ia tinggal?”, Woohyun menduga-duga.
Ia pun mengecek keberadaan handphone milik Sunggyu. Ia mengikuti suara tersebut dan berjalan menuju pojok ruangan kelas. 
Sunggyu memiliki perasaan yang tidak enak, ia tidak ingin Woohyun menemuinya sekarang. 
Tapi...
Tap!
Saat Woohyun berjongkok, ia meihat Sunggyu sedang memeluk gadis.
Ia mematikan telepon. Menatap Sunggyu tanpa ekspresi, dan itu membuat perasaan Sunggyu tidak karuan. 
“Maaf aku mengganggu kalian”, nadanya sangat dingin. Ia segera kembali berdiri dan hendak meninggalkan mereka. 
“T-tunggu Woohyun!”, Sunggyu berteriak. Ia bangun dari tempat persembunyiannya, Jinsol menyusulnya untuk berdiri. 
“M-maaf, ak-aku bisa menjelaskannya”, ujar Sunggyu gugup. 
“Hahahaha... Kau kenapa Sunggyu? Itu hakmu berhubungan dengan siapa saja. “, Ujar Woohyun sambil tertawa. Tapi Sunggyu tahu, itu bukan tawa yang biasa ia tunjukkan.
“Anggap saja aku tidak melihat apa-apa. Kau tak usah khawatir, aku tak akan membocorkannya kepada yang lain”, Ujar Woohyun dan pergi begitu saja. Sunggyu hanya menatap kepergian Woohyun, ia bisa melihat bagaimana tubuh atletis itu tampak lemah saat berjalan.
“S-sunggyu-ssi...”
“Aaah... kau tidak apa-apa?”
Jinsol mengangguk.
“T-terimakasih sudah menolongku”
“Itu tidak gratis”
“M-maksudmu?”, Jinsol tampak gugup. 
“Besok kita harus laporkan hal ini ke Yuri songsaenim. Guru itu tidak boleh terus berada disini”, Sunggyu menatap sengit. 
“A-aku tak berani, Sunggyu-ssi”.
GREB!
Sunggyu menggenggam tangan Jinsol. 
“Kita harus melakukannya, kau tak ingin kan ada korban lagi atas kelakuan buruknya”. 
“...”, Jinsol tampak ragu. 
“A-aku takut jika terjadi sesuatu”
“Aku bisa menjamin semuanya baik-baik saja”, ujar Sunggyu meyakinkan. 
“B-bagaimana jika Aku bertemu Kyuhyun Songsaenim besok?”, Jinsol kembali ingin menangis. Membayangkan hal barusan membautnya takut. 
“Aku akan menjemputmu!”
“Nde?”
“Besok aku akan menjemputmu dan kita segera ke ruang BK untuk mengatakannya”.
Sunggyu memegang kedua pundak Jinsol, menatapnya serius untuk meyakinkannya. 
“Kuharap kau bisa menolongku”
Jinsol termasuk anak yang polos, ia tak pernah akrab dengan lelaki sebelumnya kecuali kakak laki-lakinya dan ayahnya. 
Seperti seorang gadis di dalam komik jepang. Wanita seperti jinsol pasti akan mudah jatuh hati dengan sikap baik Sunggyu terhadapnya.
#INTIMIDATION#
“H-halo nyonya”
“Ada apa, Bi? Saya mau rapat dengan suami saya untuk...”
“Woohyun sakit!”
“Mwo?”
Pikiran wanita itu langsung buruk saat mendengar berita mengenai anaknya yang sakit. 
“Setelah pulang sekolah ia terus berada di dalam kamarnya, saat jam makan malam pun ia tak keluar. Saat saya menemuinya, ia masih memakai seragam sekolahnya. Wajahnya pucat dan suhu badannya cukup tinggi”
“Baiklah.. akan segera pulang, kau panggilkan dokter pribadi segera”
“Baik nyonya”
Bip~
Ini yang membuat wanita itu tak suka berpisah dengan anaknya. Ia bekerja di perusahaan bersama suaminya, sebagai asisten dari suaminya. Meski ia termasuk orang yang sangat sibuk, tetapi peran ibu masih sangat melekat di dalam dirinya. Dan ia sangat khawatir jika mendengar, anak semata wayangnya sedang sakit. 
.
.
“Suamiku, maaf aku tidak bisa menemanimu rapat”
“Ada apa, istriku?”
“Woohyun sakit, aku harus kembali ke korea sekarang”
“Apa dia baik-baik saja?”, mendengar berita anaknya sakit. Membuat rauh wajah ayah sepertinya khawatir. 
“Aku tidak tahu, kuharap dia baik-baik saja”, ujar Ibu Woohyun berharap. Ia pun segera menelpon organisasi travel kenalannya, dan segera meminta tiket menuju korea secepatnya.
#INTIMIDATION#
Jam 2 dini hari, yaitu saat nyonya Nam memasuki rumahnya. Keadaan rumah sangat gelap, menandakan penghuni rumah sudah tertidur. 
Setelah membuka pintu dengan kunci duplikat yang ia miliki. Ia masuk dan langsung menaiki tangga menuju ruangan kamar salah satu di lantai dua. 
“Nggghhh...”, suara erangan terengar saat sang ibu membuka pintu kamar. Woohyun terlihat tidak tenang saat tidur, ia berkeringat dingin, dan sangat pusing.
“Kau membuat ibu cemas saja”, ujarnya sambil membelai surai anaknya yang basah oleh keringat.
“...”
“Sudah minum obat”
“Hm’m”, jawab Woohyun singkat mengiyakan. Ia memang tidak tidur, kepala yang sangat pusing adalah penyebab utamanya ia tak bisa tidur. 
“Gantilah baju, bajumu sudah basah. Nanti masuk angin”.
Nyonya nam menghela nafas, ia yang ia khawatirkan jika ia tidak jauh dengan anaknya. Mendengar anaknya sakit demam ia tak tenang dan ingin bertemu anaknya. Tapi entah mengapa Woohyun tak begitu mengerti kecemasan orang tuanya dan tetap keras kepala untuk menetap di korea.
#INTIMIDATION#
Pagi harinya Woohyun sudah cukup membaik, meski sebenarnya ia sedikit pusing. Tapi ia sudah memiliki tenaga yang kuat untuk berangkat ke sekolah.
Sebenarnya ia sempat diomeli ibunya sebelum sang ibu harus kembali ke China. Namun bukan Woohyun namanya kalau suka ngebantah.
Setelah sang ibu pamit berangkat. Ia segera bergegas mengganti baju rumahnya dengan seragam sekolah. Tuh, tidak masalah. Sampai hari ulangan nasional nanti mereka tidak ada pelajaran sekolah. Jadi Woohyun tak perlu pusing dengan pelajaran sulit maupun tugas yang harus dikumpulkan. Ia pun tak perlu pusing jika takut terlambat. Itulah kebebasan yang diberikan siswa tahun akhir di SMA. Bahkan banyak siswa yang memilih bolos sekolah.
Setiba di sekolah, ia melihat beberapa laki-laki tampak sibuk berbicara satu sama lain. Ia ingin tahu apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah ini?
“WOOHYUN!!”
Seseorang berlari dan merangkulnya dari belakang, Woohyun harus bersusah payah untuk menahan beban berat bersuara lantang temannya tersebut. 
“Wajahmu terlihat pucat, kau tak apa?”
“Tak apa, aku hanya demam semalam”
“Seharusnya kau tidak usah masuk, pabo”. Ujar Dongwoo. 
“Baiklah, aku akan pulang.”, ujar Woohyun langsung membalikkan badan. Berpura-pura untuk kembali ke rumah. 
“Eeeeey~ aku hanya bercanda. Kalau kau sudah baik-baik saja, syukurlah”
“TUH KAN BENAR!”
“MALDO ANDWAE!”
“Bagaimana bisa, Kim Sunggyu?”
“Apa yang ia lakukan hingga Jinsol mau dengannya??”
Suara heboh para lelaki yang penuh kekecewaan memenuhi pendengaran Dongwoo dan Woohyun di pagi hari yang sunyi itu. Mereka membalikkan badan, melihar ke objek yang diamati oleh beberapa siswa yang baru saja membicarakannya.
“Makasih sudah mengantarku”, ujar Jinsol. 
“Tak masalah.”
“Hmmm... apa kita ke ruang BK sekarang?”
“Ayo!”, ujar gadis itu sambil tersenyum. Menunjukkan mata indah bulan sabitnya.
Mereka berbelok, dan saat itu Woohyun dan Dongwoo tidak melihat mereka lagi.
“W-woohyun?”
“Ayo kita kembali ke kelas”, Woohyun tidak menggubris ucapan Dongwoo. Ia tahu sahabat cerewetnya itu akan bicara panjang lebar mengenai kejadian barusan.
.
.
.
“Ughh...”, Woohyun sedikit mengeluh akan kepalanya yang tiba-tiba rasanya mau pecah. Tak hanya itu, Dari pelajaran pertama hingga istirahat Sunggyu tidak ada di kelas.
Apa mereka kencan?
Bukankah itu bukan sifat Sunggyu, dia tidak mungkin membolos karena masalah sepele.
Beberapa murid mulai bosan di sekolah, dan mereka mulai pulang duluan. 
Anak tahun terakhir memang bebas.
@Other Side
Tok-tok-tok!
“Selamat siang...”
...
“!!!”
Guru matematika itu sedikit tercekat, saat melihat Sunggyu dan Jisol disana. Yang ia tahu, bahwa Yuri memanggilnya di ruangan.
“A-ada apa Yuri?”, suara lelaki umur 30 tahunan itu tampak bergetar sejenak. 
“Sunggyu dan Jisol melaporkan sesuatu mengenai sikapmu pada mereka”
“?!!!”
“Mereka mengatakan kau melakukan pelecehan kepada beberapa murid. Dan mereka adalah salah satu korban”. 
“M-mereka tidak ada bukti”
“Aku punya fotonya!”, Sunggyu mengelak. Menatap sengit guru matematikanya tersebut.
Sunggyu menunjukkan foto yang ia dapatkan kemarin. 
“Saya juga sudah menghubungi Min-ah sebagai saksi, Bu. Anda bisa menghubunginya. Seharusnya dia tidak dikeluarkan dari sekolah. Ini sungguh tidak adil, karena beberapa murid disini harus mendapatkan hukuman yang seharusnya tidak mereka dapatkan”
“Dan anda, Pak. Jangan menggunakan jabatan anda sebagai guru untuk mengelabui para murid sebagai pemuas nafsu anda!”
Sunggyu merasa ada remasan di tangan kirinya, ia melihat Jisol menahan tangisnya. 
“Jinsol, ada apa?”, tanya Sunggyu lembut. Ia tidak tega melihat gadis polos itu menangis.
“Saya takut, bu. Tolong selamatkan saya, dan juga murid-murid lainnya....”, Jinsol menghentikan bicaranya. Ia menghapus air matanya 
“Tolong, Bu. Beri kebijaksanaan agar masalah ini selesai...”, lanjutnya.
“Kerja bagus, Jinsol”, bisik Sunggyu sambil tersenyum.
Dan ternyata usaha mereka berdua tidak sia-sia. Yuri songsaenim meminta maaf sebesar-besarnya, ia bertanggung jawab atas korban yang sudah dilakukan semena-mena. Sunggyu, jinsol, Min-ah, dan beberapa korban lainnya. Disisi lain, Kyuhyun diberhentikan menjadi guru disana. Ia juga tidak dapat berkesempatan untuk mengajar di sekolah lain.
Sunggyu bernafas lega. Jinsol dan Sunggyu berjalan menuju kelas Jinsol dahulu, mereka berhenti saat berada di kelas Jinsol. 
“Terimakasih Jinsol atas kerjasamanya!”
“Aku juga Sunggyu-ssi.”, ujarnya tersenyum. 
“Aku balik ke kelas dulu”
Jinsol mengangguk, dan menggerakkan telapak tangannya keatas untuk mengucapkan selamat tinggal.
#INTIMIDATION#
Sunggyu memasuki kelasnya, ia meliha tinggal beberapa murid disana. Salah satunya Woohyun, ia melihat dirinya tertidur dengan menatap jendela luar. 
Dongwoo, Hoya, Myungsoo, dan kawan-kawannya sudah pulang. Tinggal sebuah geng cewek di kelasnya yang masih ingin berbincang-bincang. 
“Kau tidak pulang, Woohyun?”, tanya Sunggyu.
Sang empu bangun. Matanya masih terlihat mengantuk. 
“Kau datang juga”, ujarnya. 
“kau menungguku?”, tanya Sunggyu heran. Woohyun mengangguk. 
“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu.”, ujarnya. 
“A-apa?”, oke. Lagi-lagi Sunggyu harus kembali gugup. Wajah Woohyun tidak setegas kemarin, kini manik matanya tampak sayu.
“Apa yang sebaiknya kulakukan setelah ujian nanti? Ikut orang tuaku di china atau menetap disini”
“Kenapa kau tanyakan itu padaku?”,
“Aku minta pendapatmu. Kalau... uhuk-uhuk”, Woohyun terbatuk. 
“Kau sakit???”, Sunggyu mengecek suhu tubuh Woohyun.
“Astaga, kau panas sekali. Ayo segera pulang. Apa perlu aku antar?”, tanya Sunggyu.
Tanpa perlu diijinkan oleh Woohyun. Sunggyu langsung meminta kunci motor milik Woohyun. Dan dengan kemauan Sunggyu sendiri, ia mengantar Woohyun pulang dengan motor miliknya. 
“Kalau kau sakit, sebaiknya tak usah masuk!!”, ujar Sunggyu dengan nada meninggi. Mereka sekarang menaiki motor, dengan Woohyun yang bersandar pada punggung Sunggyu. Ia mencium aroma tubuh Sunggyu, itu membuatnya nyaman, dan ia menyukainya.
“Kenapa dengan Nak Woohyun??”, Itu adalah kata yang disambut oleh Sunggyu. 
“Sepertinya demam”, jawab Sunggyu. 
“Astaga, apa saya harus menghubungi Nyonya Nam lagi?”, ujar sang Bibi cemas. 
“Tak usah, eomma sudah mendatangiku kemarin. Aku tak mau membuatnya repot”, ujar Woohyun dan berjalan menaiki kamar lantai dua.
Tapi sang Bibi tetap menelpon Ibu dari Woohyun, ia memang didapatkan pesan untuk mengabari Woohyun saat terjadi sesuatu. 
“Hallo, Nyonya...”
“...”
“Woohyun sakit”
“...”
“Dia baru saja pulang dari temannya”
“...”
“Iya nyonya”
“...”
“Sebentar nyonya.”
Sunggyu yang hendak menyusul Woohyun terhenti saat sang bibi menyuruhnya untuk memegang telepon. Ia bingung. 
“Nyonya nam ingin berbicara dengan tuan”
Sunggyu mengangguk, dan ia pun memulai pembicaraan. 
“Hallo?”
“Apa kau yang mengantar anakku?”
“Iyaa”
“Aaah... terimakasih banyak. Anak itu selalu membuat ibu cemas. Seandainya Woohyun mau tinggal di China bersama kami, kami bisa menjaganya dengan baik”
“...”
“Nama kamu siapa nak?”
“Ah, nee... saya Sunggyu”
“Sunggyu-ssi, bisakah kau membujuk Woohyun untuk tinggal di China. Kau tahu betapa kawatirnya Ibu melihatnya sakit dari jarak jauh seperti ini”
Sunggyu tampak ragu, apa dia bisa?
“N-nde... Akan saya usahakan”
“terimakasih Sunggyu-ssi”
Sunggyu menghela nafas berat, ia mengembalikan telepon pada sang bibi. Lalu ia ke atas untuk menyusul Woohyun.
“Kau sudah minum obatmu?”, tanyanya saat memasuki kamar. Woohyun masih memakai seragam, dan sepatu masih bertengger di kakinya. Tas punggungnya diletakkan begitu saja di sebelahnya. Ia tertidur sambil lengannya menutup matanya, tampaknya ia pusing.
Sunggyu merapikan tas teman tampannya itu, lalu ia melepaskan sepatu dan kaos kaki. Woohyun masih sadar, tapi dia hanya terdiam membiarkan sunggyu melakukannya.
Sunggyu menarik tangan Woohyun untuk duduk. 
“Kau harus minum obat dulu baru tidur”, ujar Sunggyu mengambil obat di meja samping tempat tidur.
“Obat ini dimakan setelah makan, kau sudah makan?”
“belum”
“Astaga, kau disini saja. Aku akan kembali”, ujar Sunggyu dan bergerak cepat menuruni tangga menuju dapur. Mengambil nasi dan beberapa lauk di lemari dan membawakannya kepada Woohyun. Ia sudah pernah menginap di rumah Woohyun, jadi dia paham dimana letak makanan di rumah ini.
“Ayo makan!”, perintah Sunggyu. 
“Tidak mau”, ujar Woohyun menarik selimut dan tidur
Sunggyu menarik kembali tangan Woohyun, Woohyun merengut. Sunggyu terkekeh, ternyata Woohyun bisa bertingkah seperti anak kecil jika sedang sakit. 
“Nih makan!”, Sunggyu memberi suapan kepada Woohyun. Woohyun membuka matanya yang sedari terpejam. Ia menatap objek Sunggyu dengan mata sayu miliknya.
Ia membuka mulutnya kecil, Sunggyu harus sabar memasukkan makanan ke mulutnya karena cukup sulit. 
“Sudah gyu..”, heol... baru satu suap ia tak ingin.
“Baiklah, setidaknya kau sudah makan. Ayo minum obat!”, perintah Sunggyu.
Seperti barusan, Woohyun hanya terdiam tidak bergerak. Membuat Sunggyu sedikit kesal dan berakhir mengambil obat dan kembali menyuapi Woohyun. 
Baiklah, Woohyun sangat dimanja kali ini oleh Sunggyu.
Woohyun kembali tidur setelah semuanya beres. Sunggyu pun merasa tugasnya disini sudah selesai. Ia pun hendak pergi, sebelum tangannya ditarik oleh seseorang. 
“Kau belum menjawab pertanyaanku”
“Yang mana?”
“Apa kau menyuruhku untuk ke China atau mempertahankanku disini?”, tanya Woohyun.
Sunggyu tidak sanggup melihat wajah Woohyun, apalagi mata sayu miliknya. Dengan memunggungi Woohyu ia sekuat tenaga menjawab. 
“Kalau aku ke jadi kamu, Aku akan ikut orang tuaku ke China. Bukankah itu sangat keren!”, ujar Sunggyu. 
“Meski harus berpisah dengan teman-teman dan... kau”, suara Woohyun melemah. 
“Bagiku tak masalah, aku bisa mendapatkan banyak teman disana”, ujar Sunggyu enteng. Ia pun melepaskan genggaman tangan Woohyun.
“Aku pulang”, Sunggyu pamit dan meninggalkan seseorang disana begitu saja. Tanpa peduli bahwa orang yang menggenggamnya barusan telah menangis, entah tak tahu... ini karena ia demam atau karena apa.
.
.
.
TBC
Aku comeback, mana suaranyaaa? Wkwkwkw
Terimakasih untuk para reader yang mau menungguku melanjutkan ff ini. Meski setiap part Cuma seuprit aja yang muncul, kekeke *sadar diri
Kali ini aku membawakan ff yang lebih panjang dari sebelumnya. 
Jangan lupa, RCL ya? ^^


No comments: